Sudah lima buku yang Kaivan baca, tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Dania yang sudah menyelesaikan pr-nya pun tertidur lelap dengan berbantalkan bahu Kaivan. Terpaksa Kaivan menggendongnya lalu menidurkannya dengan perlahan, agar tidak terbangun.
"Hmmm~"
Kaivan terkejut saat Dania bergumam dalam tidurnya, tapi rupanya gadis itu masih tidur, Kaivan pun menghela nafas lega.
"Kaivan... Aku akan melindungi mu.... Hhzz"
Kaivan bingung mendengar gumaman Dania, kenapa gadis itu mau melindungi dia? Padahal Dania juga tidak kuat.
"Jangan khawatir, aku akan melindungi diriku sendiri, jadi kau tidak perlu melakukannya" gumam Kaivan.
Segera Kaivan pergi dari kamar Dania, setelah mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur remang-remang. Yang Kaivan tahu, tidur dengan lampu terang menyala itu tidak baik.
"Kamu habis ngapain?"
Hampir saja Kaivan menjatuhkan semua buku yang dia pinjam dari Dania, Dasha datang dan mengejutkannya.
"Aku habis belajar dan Dania ketiduran, jadi aku akan kembali ke kamarku."
Dasha melongok pada kamar Dania untuk melihat keadaan adiknya, setelah melihat adiknya tidur dengan nyaman, dia pun menutup pintu.
"Kau tidak macam-macam kan?"
Kaivan menggeleng pelan untuk menjawabnya.
"Oke kalo gitu, ayo ikut aku! Temani aku minum lagi, aku bosan, kali ini kita ke balkon aja biar gak dimarahin."
Tanpa meminta persetujuan Kaivan, Dasha pun menarik lengan Kaivan menuju balkon utama. Itu balkon yang luas, ada sofa dan meja, pemandangan dari sana juga bagus sekali. Di atas meja sudah ada minuman dan makanan pendamping minuman tersebut. Bahkan minuman yang aman dikonsumsi juga ada, rupanya Dasha memang sudah berniat mengajak Kaivan.
"Kenapa mengajakku?" Tanya Kaivan.
Dasha melirik Kaivan sebentar lalu terkekeh, "tumben kamu nanya gitu, aku cuma ingin ditemani, aku tahu kamu besok sekolah tapi... Maaf karena aku egois."
"Ada masalah?"
Dasha menghela nafasnya berat, "manusia selalu memiliki masalah, Kai, meski kau sudah menghindarinya, tetap masalah akan datang. Sudahlah, kamu makan dan minum itu, makan jam segini memang gak bagus tapi bisa menaikkan mood, itu minuman mu sudah ku belikan, kamu suka minumannya?"
"Iya, baiklah, aku bukan orang yang suka pilih-pilih makanan, jadi kak Dasha tidak perlu khawatir."
Dasha terkekeh lagi, "kamu lucu banget, andaikan kamu seumuran ku pasti akan ku pacari."
"Eh? Ke-kenapa aku?" Tanya Kaivan dengan terbata, dia agak terkejut meskipun Dasha cuma bercanda.
"Ya kamu ganteng, pengertian, mudah belajar, ku rasa gadis manapun pasti menginginkan mu, hanya saja mungkin penampilan mu harus dirubah sedikit. Bukannya apa, hanya saja kamu kurang terawat, untuk wajah dan badan kamu sudah bagus sekali, sangat tipeku."
Sebagai lelaki normal, susah sekali untuk tidak salah tingkah, apalagi Kaivan baru kali ini digoda perempuan cantik dan sexy.
"Apa Kaivan suka perempuan yang lebih tua?" Dasha mendekatkan wajahnya pada Kaivan, dengan tatapan menggoda, membuat Kaivan makin gugup.
Akhirnya Kaivan pun mengalihkan perhatian dengan mengambil minuman dan meneguknya hingga habis. Sedangkan Dasha hanya terkekeh senang.
"Aku harus kembali ke kamar" ucap Kaivan.
"Ayolah, temani aku!"
"Ma-maaf ak-aku gak bisa!"
Kaivan pun kabur dari sana.
Dasha yang melihat itu tersenyum senang, "dia memang sangat menarik, lucu sekali. Kenapa dia harus seumuran adikku sih? Aku merasa aneh jika menyukainya."
***
Kaivan tidak bisa tidur gara-gara Dasha. Dia mencoba untuk membaca buku tapi tidak bisa konsentrasi juga. Akhirnya dia kembali mengingat tablet miliknya yang belum dia sentuh sejak pulang sekolah.
Kaivan terkejut dia miliki poin sepuluh juta, kemudian dia ingat dia mendapatkan semua poin itu dari game tap tap jadi kaya. Dia pun memilih untuk kembali main game, mendapatkan banyak uang atau poin.
Sekitar jam dua belas baru dia bosan, dia sudah mengumpulkan tiga puluh juta poin.
Karena belum mengantuk, dia pun membuka toko sistem, membeli penguatan mental lagi yang level dua. Dia memilih untuk membeli penguatan mental sedikit demi sedikit, jika langsung beli level besar nanti dia merasa aneh, dia juga takut dengan efeknya. Rose bilang juga gawat jika langsung level tinggi, harus sedikit-sedikit.
"Hmm? Aku bahkan bisa beli skill bela diri? Wah, ada banyak pilihan, taekwondo itu dari negara ini bukan? Aku beli lah, penasaran" gumamnya.
Dia pun membeli skill taekwondo seharga tiga juta poin.
"Apa ada sesuatu yang bisa membantuku tidur lelap ya?"
Kaivan pun mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan agar bisa tidur, sampai akhirnya dia menemukan pilihan 'ramuan'. Tadinya Kaivan tidak paham dengan ramuan, dan juga takut jika ada ramuan yang aneh.
Ternyata sungguhan ada.
Ramuan agar dapat kualitas tidur yang baik, klaimnya juga bisa membantu melancarkan peredaran darah, meningkatkan peremajaan kulit. Kaivan tidak peduli dengan manfaat lain, yang pasti dia bisa tidur nyenyak.
Segera saja setelah minum ramuan itu, dia bisa tidur nyenyak.
Pagi harinya Kaivan bangun dengan keadaan segar. Seperti biasa, dia olahraga dulu sampai jam enam, kemudian membantu ahjuma memasak, baru kemudian mandi dan bersiap untuk sekolah.
"Hmm?" Kaivan menatap pantulan wajahnya di cermin dengan lekat.
Ada yang aneh, biasanya wajah Kaivan itu putih pucat dan seperti mayat hidup. Kini menjadi lebih berseri.
"Apa ini hanya pikiranku saja ya? Mana mungkin aku jadi lebih ganteng gini."
Apa mungkin berkat Kaivan sudah memakai bathbomb emas tiga kali ya? Kaivan memakai itu tidak setiap hari, tapi hanya tiga hari sekali. Apa mungkin karena ramuan semalam juga? Baru saja Kaivan ingin memanggil Rose untuk bertanya, tapi tiba-tiba dia mendengar pintu kamarnya dibuka.
Dasha muncul lagi tepat saat Kaivan mengenakan kemejanya, Kaivan yang terkejut refleks menutup tubuhnya dengan tangan. Dasha bukannya kabur malah semakin mendekat.
"Hey, apa ini! Kamu udah punya abs? Kok bisa?"
"Ja-jangan lihat!"
"Kok malu-malu gini sih?"
"Pokoknya jangan lihat!"
Dasha terkekeh puas, lalu berbalik, "oke, gak lihat!"
Kaivan buru-buru mengancingkan kancing kemejanya.
Dasha kembali berbalik setelah Kaivan bilang 'sudah'.
"Aku kesini ingin membantumu siap-siap, sini ku rapihkan rambutmu! Oh! Kenapa wajahmu jadi bagus gini, kamu pake skincare?"
Ternyata Dasha juga berpikir yang sama.
"Aku cuma minum ramuan biar tidur nyenyak kok," jawab Kaivan jujur.
"Beneran? Aku minta juga dong! Aku susah tidur nih."
Kaivan menunjuk botol kaca yang berjejer di meja sebelah tempat tidur, "aku beli banyak untuk jaga-jaga, kakak bisa ambil sesuka kakak."
Berhubung harga ramuan itu satu poin dapat dua, jadi Kaivan sekalian beli banyak.
"Oke, aku ambil dua, sekarang kita ikat rambutmu aja ya? Biar rapi, kamu tahu manbun? Rambut bagian atas akan ku ikat, yang bawah biarkan tergerai."
"Aku percayakan pada kak Dasha aja."
Seketika bibir merah alami Dasha menyeringai, "hehe, kalau gitu, aku akan membuatmu tampan kayak idol!"
"Idol?"
"Iya, idol! Udah kamu diem aja, percayakan padaku!"
Yah, Kaivan tidak punya pilihan lain.
Beberapa menit berlalu, Kaivan harus turun untuk sarapan bersama Dania. Dasha sendiri bilang dia mau tidur saja setelah meminum ramuan dari Kaivan, karena dia belum bisa tidur dari semalam.
Dania dan ibunya melongo melihat penampilan Kaivan, membuat Kaivan gugup karena takut dia terlihat aneh.
"Apa aku aneh?" Tanya Kaivan.
"Kamu ganteng banget! Siapa yang rapihin rambutmu?" Tanya ibunya Dania, yang Kaivan belum tahu namanya.
"Kak Dasha."
Dania terlihat tidak senang mendengar nama kakaknya, tapi dia tidak bisa protes karena Kaivan jadi tampan. Memang benar Kaivan cocok dengan rambut sedikit panjang. Untungnya di sekolah mereka tidak mempermasalahkan rambut mau dipanjangkan atau diwarnai.
"Kamu diem terus, ada apa?" Kaivan yang tidak tahan dengan kesunyian diantara dia dan Dania pun akhirnya bertanya.
Mereka sudah sampai di sekolah, sementara sekolah masih sepi, jadi mereka duduk di taman sepi sambil diam saja tidak ada obrolan apapun. Karena itu Kaivan merasa tidak nyaman.
"Kamu suka di dandanin kakak ku?" Tanya Dania.
"Iya, karena aku tidak bisa dandan, aku biasa cuek dengan penampilan. Kemarin saja aku sudah pakai krim rambut tapi tetap berantakan."
Dania menoleh dan mendongak menatap Kaivan. Beberapa hari ini tinggi badan Kaivan juga bertambah, maklum saja dia masih 16 tahunan, masih tumbuh.
"Kaivan yang berantakan juga sangat tampan lho, aku suka, terutama saat kamu selesai mandi - mak-maksudku... Haha, lupakan!"
Dania membuang wajahnya ke arah lain, dia malu telah mengatakan hal semacam itu.
"Wah, makasih, Dania juga cantik setelah selesai mandi," jawab Kaivan apa adanya, yang malah membuat Dania semakin malu dan wajahnya memerah tak karuan.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
ardikyezt
muehehehe apanya yalg tumbuh/Grin//Grin/
2024-04-29
1
•°SYU°•{malaysia} ฅ^•ﻌ•^ฅ
hahahaha aku pun jadi tersenyum
2024-02-17
1
Benny
lanjut
2023-09-11
0