Kaivan sudah menunggu saat-saat ini. Sekolah sedang libur, jadi dia memilih untuk pergi jalan-jalan saja. Kaivan ingin melihat villa barunya. Karena itu dia harus pergi sendirian.
Kebetulan keluarga Dania akan pergi ke pulau Jeju untuk liburan, kata paman Mark sekalian bertemu dengan klien bisnisnya. Tentu saja Kaivan diajak, namun Kaivan bilang dia akan tetap di rumah. Kaivan sudah mengatakan pada Hanbin jika dia akan jalan-jalan sendiri bersama teman. Hanbin tentu mengijinkan, karena dia tahu Kaivan itu sangat kuat.
Hanbin mulai mempercayai Kaivan untuk pergi sendiri sejak terakhir kali melawan preman di jalan saat menolong Vicky. Jelas Hanbin tahu meski tidak diberitahu, karena polisi yang datang di tempat kejadian adalah teman Hanbin sendiri.
Hanbin juga meminjamkan sepeda untuk Kaivan jika bocah itu mau menggunakannya.
Jadilah Kaivan memasak bekal untuk piknik. Dia memasak tempe mendoan, tahu isi dan risoles. Untuk minumannya cukup lemon tea dingin saja, dimasukkan tumbler 600 ml yang tahan dingin atau panas seharian.
Tumbler itu Kaivan beli dari toko sistem, karena dari toko sistem langsung, jelas kualitasnya ajaib. Misalnya minuman yang dimasukkan ada es batunya, es batu itu tidak akan mencair bahkan setelah satu hari ditinggal.
Rasanya Kaivan ingin menjual Tumbler ajaib itu. Padahal bentuk tumblernya tidak seperti Tumbler termos, yang ada besi dan ruang hampa. Untuk desain pasti cantik sekali, ada berbagai warna juga, tapi Kaivan memilih warna hitam yang elegan dan mewah. Kaivan pernah melihat di website, Tumbler dengan desain mirip seperti itu, tapi harganya dua juta rupiah. Website yang Kaivan kunjungi berbahasa Indonesia, agar dia cepat paham saja.
Cukup tentang Tumbler, karena Hanbin tiba-tiba datang, hanya untuk melihat apakah Kaivan baik-baik saja ditinggal sendirian.
"Aku baik paman, oh iya, ini sabun dan shampoo untuk paman, ku pikir aku harus memberi hadiah juga, paman polisi sangat baik padaku, meski hadiahnya tidak seberapa -"
Belum juga Kaivan selesai berbicara, Hanbin sudah merangkul bahu bocah itu.
"Kamu ngomong apa sih? Hadiah kecil pun sangat berharga bagiku, karena yang memberinya adalah orang yang berharga juga. Makasih ya, kebetulan sabun dan shampoo mau habis."
Kaivan berharap banyak pada Hanbin, tentang khasiat sabunnya. Karena Hanbin cukup berisi untuk ukuran tinggi tubuhnya, kira-kira tingginya 178 cm dengan berat badan 88 kg. Disebelah Hanbin, Kaivan merasa seperti lidi, karena dia kurus.
Tapi pasti butuh seminggu atau lebih untuk mengetahui khasiatnya.
"Kamu masak apa nih? Kemarin buat pancake pisang ya? Kamu suka masak?" Tanya Hanbin, dia duduk di depan Kaivan, lalu mencomot satu tempe mendoan.
"Aku merindukan makanan di negaraku dulu, jadi buat sendiri aja, itu juga buat bekal jalan-jalan, aku mungkin piknik juga" ucap Kaivan.
"Oh, aku boleh ambil nih?"
Kaivan mengangguk, dia membekalkan dua tempe mendoan, tiga tahu isi dan tiga risoles untuk Hanbin di tempat bekal. Tempat bekal itu juga dia beli sendiri, tapi itu bekal biasa, dia beli dari toko online setempat, tapi dikirim sistem, biar cepat. Sama seperti beli makanan di delivery, ada berbagai barang sehari-hari juga, misalnya bantal, selimut, mangkuk, sampai tempat bekal.
"Itu untuk paman polisi, bisa dimakan saat bertugas."
"Wah, kamu baik banget, ini enak lho, kayaknya lebih enak pakai saus tomat atau saus cabai" ucap Hanbin, dia menambahkan saus tomat pedas pada tempenya.
"Di negaraku, penduduk memakan dengan cabai mentah, langsung digigit, seperti ini," Kaivan mencontohkan caranya makan tahu isi sambil mengigit cabai mentah.
Hanbin terkejut melihatnya, "apa gak pedas?"
"Justru yang dicari rasa pedasnya, orang Indonesia kebanyakan suka pedas, ku rasa itu lebih pedas dari masakan sini, rasa pedasnya juga beda."
"Pantas kamu merindukan makanan negaramu ya?"
"Iya, tapi lidahku cocok dengan masakan disini, aku suka pedas manis."
"Syukurlah, aku akan pergi, terimakasih makanannya, nanti hati-hati ya!" Hanbin mengusap kepala Kaivan sambil mengacak rambutnya.
Setelah Hanbin pergi, Kaivan pun mandi dan bersiap-siap. Kali ini Rose akan ikut, peri itu sudah membuat pakaian yang cocok dengan orang moderen. Yaitu gaun sederhana dari chiffon warna pink.
Rose terlihat sangat lucu, menggemaskan dan manis. Apalagi tubuhnya yang seperti anak kecil itu.
Sepeda yang Kaivan pakai adalah sepeda dengan boncengan di belakangnya, karena dia juga membonceng Rose di belakang. Rose sendiri menampakkan dirinya.
Sepanjang perjalanan mereka dipandangi oleh orang-orang, dikira kakak beradik. Bahkan ada ibu-ibu yang menghentikan mereka hanya untuk memberi kue pada Rose.
Peri itu senang sekali menjadi perhatian.
"Kai, kamu tadi sudah mendengarkan kelas kedua guru Sidarta kan? Bagaimana sekarang?"
"Hmm, ku rasa aku merasa lebih tenang dari sebelumnya, memang trauma itu masih ada, tapi ku rasa sudah lebih baik. Kau tidak berharap aku berubah drastis kan?"
"Tidak, aku tahu semua butuh proses."
Mereka sudah sampai di perumahan mewah, ada berbagai keamanan yang menjaga tempat itu. Tentu saja Kaivan banyak ditanyai, tapi setelah menunjukkan jika dia memiliki villa disana, akhirnya salah satu keamanan mengantarkan Kaivan pada villa miliknya.
"Itu villanya, aku tidak menyangka unit mahal ini terjual juga, apa kamu idol? Kalian terlihat cantik dan tampan, pokoknya hati-hati ya, jika butuh apa-apa kalian bisa bertanya, selamat siang!"
"Terimakasih, selamat siang!"
Setelah keamanan pergi, Kaivan pun mendatangi villanya, ada pengurus villa yang menyambutnya. Dia terlihat seperti lelaki tua yang sabar, ada juga wanita paruh baya di sampingnya.
"Selamat datang, tuan ini pemilik baru villa ini?" Tanya pria tua itu.
"Benar, saya Kaivan, pemilik villa ini."
"Mari saya antar ke dalam."
Kaivan tidak percaya dia memiliki villa semewah itu. Ada kolam renang juga, pemandangan dari lantai atas juga bagus sekali. Seperti ucapan Vicky sebelumnya, ada pemandangan sungai Han dan gunung Namsan.
Kaivan duduk santai di balkon, sambil memakan bekalnya.
"Tahu isi ini enak juga, tapi kebanyakan makan gorengan gak baik."
Kaivan melirik kesal setelah mendengar komentar Rose, buru-buru dia menambahkan.
"Tapi karena tidak sering, jadinya tidak masalah, Hehe."
"Padahal aku gak maksa kamu buat makan, kalo gak suka ya gak masalah, bisa ku makan sendiri."
"Jangan ngambek! Ngomong-ngomong, kebanyakan pemilik rumah sekitar sini selebriti, gimana kalo kamu jadi selebriti juga?"
"Gak, makasih." Kaivan menjawab dengan cepat, baginya menjadi orang terkenal justru akan merepotkan. Kaivan bukan orang yang suka perhatian, dia malah risih dengan perhatian, jadi jelas dia menolak.
"Kamu gak asyik banget!"
"Kamu bisa mencari tuan lain yang lebih asyik!"
Rose yang ngambek pun hanya diam dan makan. Kaivan sendiri lanjut memainkan game bubble bomb, dia harus cepat menamatkan permainan sulit itu. Padahal harusnya permainan itu sangat simple dan santai, tapi makin naik level, makin sulit saja.
Setelah sampai level tiga puluh dengan susah payah, Kaivan yang lelah memilih untuk keluar dan membuka aplikasi hiburan lain saja.
Pilihannya adalah salah satu aplikasi terkenal yang menyajikan Vidio, termasuk media sosial juga.
Ada banyak Vidio random dalam aplikasi tersebut, tergantung algoritmanya. Mungkin aplikasi mengetahui Kaivan orang Indonesia, maka Vidio yang muncul pun Vidio dari negara asalnya.
Awalnya asyik saja, sampai satu Vidio berita muncul.
Vidio penangkapan ibu kandung Kaivan. Dalam Vidio itu, Kaivan baru tahu jika ibunya itu dulu anak orang kaya yang bangkrut. Bahkan ibunya pernah menjadi sekretaris perusahaan Axve Group.
Masih ingat Axve Group? Itu adalah perusahaan milik Harlan, pria yang menolong dan membiayai Kaivan.
Tidak heran ibunya bisa mengenal Harlan dan menjebaknya segala.
Memang ibu Kaivan itu cantik, tubuhnya bagus juga, meski terakhir yang Kaivan ingat sudah cukup berisi.
Ibu Kaivan ditangkap karena sudah terbukti memiliki hubungan dengan sindikat penjualan organ ilegal. Bahkan ibunya sudah biasa menculik bayi dan anak-anak kecil. Jadi selain Kaivan, semua bayi itu diculik oleh ibunya. Adik Kaivan yang asli tidak sampai ke dunia sudah diaborsi. Kakak Kaivan itu asli kakak kandung, tapi sungguhan meninggal dunia.
Bahkan Kaivan juga disebutkan, meski tidak diberitahu nama, dan foto Kaivan pun juga di blur.
"Wanita ini juga menjual anak satu-satunya pada sindikat penjual organ ilegal tersebut, tidak diketahui apakah masih hidup atau tidak." Begitu kata beritanya.
Kaivan tidak bisa berkata-kata, haruskah dia mengubah identitasnya? Pasti Hanbin dan Harlan bisa membantu kan? Memiliki hubungan darah dengan ibunya membuat Kaivan merasa tidak tenang.
"Kaivan!" Rose memaksa duduk di pangkuan Kaivan, lalu memeluk Kaivan erat.
"Sudahlah, jangan menengok masa lalu, itu hanya akan menyakitimu. Ayo kita keluar dari villa ini dan jalan-jalan saja!"
Kaivan tersenyum kecil lalu mengangguk, "baiklah, ayo!"
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
dee
Sidarta Gautama kah?
2023-09-22
1
Sak. Lim
mc naiiiiif goblokkkk lebaaaay trouma aneh msa ngeliat org brcinta bisa trouma 😅😅😅
2023-09-16
1
Benny
lanjutkan
2023-09-11
0