Sudah beberapa hari berlalu sejak Kaivan mulai sekolah. Dia disibukkan dengan belajar dan bermain game, oh iya, tentunya dia olah raga juga, meski hanya bisa di pagi hari.
Namun karena ini adalah weekend, dia bebas dari sekolah. Bisa saja dia memilih belajar, tapi dia butuh refreshing juga.
Kaivan bangun pagi sekali, sekitar jam empat. Dia mandi dengan bathbomb karena sudah ketagihan, rasanya menyenangkan, aromanya lembut dan membuat tenang, membuatnya merasa segar segera setelah mandi.
Karena langit masih gelap, Kaivan hanya duduk saja di kursi dekat jendela, kemudian memeriksa statusnya di tablet.
*-*
Nama: Kaivan ?
Umur: 16 tahun
Status: level 3
Pemandu: Roseta
Poin: 50.980.950
*-*
Tidak terasa poin yang terkumpul sudah ada sebanyak itu. Game tap and be rich sangat luar biasa, karena game itu bisa mengumpulkan poin saat offline. Masih hanya dua toko yang Kaivan miliki di game itu, dia bisa saja membeli lagi, tapi dia pikir masih cukup untuk sekarang. Memang Kaivan ini susah untuk dibuat serakah, anaknya sederhana dan apa adanya. Dia selalu bersyukur dengan apapun yang dia miliki, meski dia tersiksa, dia masih bisa tersenyum dan bersyukur. Itulah kenapa juga Kaivan bisa mendapatkan sistem di tablet ajaib.
Rose yang memandu Kaivan saja heran dengan bocah itu, anaknya sangat sederhana. Apa yang dia punya dia syukuri saja, tidak peduli meski dia sekarang bisa mendapatkan banyak sekali poin yang bisa diuangkan.
"Kamu mengumpulkan banyak poin untuk apa?" Tanya Rose, dia datang dengan mengenakan gaun agak tebal, dengan bulu-bulu halus yang cantik, seperti pakaian di wilayah salju dan es.
"Untuk Sekarang hanya mengumpulkannya, suatu saat aku akan kembali lagi bukan? Mungkin aku akan membantu anak-anak lain yang kurang beruntung seperti aku, karena kenyataannya banyak anak lain sepertiku. Aku ingin seperti tuan Harlan, yang bisa membantu orang lain, itu sangat keren!"
Rose bisa melihat raut kekaguman di wajah Kaivan saat membicarakan Harlan.
"Orang itu punya banyak uang, banyak perusahaan, sangat cerdas, dia juga memiliki fisik kuat sekuat tentara, kakek dia tentara, dia pernah menjadi lelaki super baik yang suka menolong orang, tapi berubah sejak ditipu ibumu" ucap Rose.
"Kamu tahu darimana?" Tanya Kaivan kaget.
Rose memasang wajah bangga dengan dirinya sendiri, "iya dong! Sebagai peri, aku memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu atau keadaan masa kini seseorang, hanya saja aku tak bisa melihat masa depan, bisa sih kalau dipaksa, tapi butuh banyak sihir untuk itu, aku mungkin akan kesulitan."
"Tidak perlu melihat masa depan, aku tidak ingin kamu melakukannya, karena jika tahu duluan, itu tidak seru, aku merasa seperti menyalahi aturan, jika melihat masa lalu atau masa sekarang itu masih mending."
Rose sudah menduga Kaivan akan berpikir seperti itu, dia tidak serakah sama sekali.
"Aku bahkan bisa mengetahui siapa ayahmu, Kaivan, kamu gak penasaran?"
Kaivan tersenyum kecil lalu menggeleng pelan, "tidak perlu untuk saat ini Rose, aku masih belum siap, aku juga berpikir itu tidak terlalu diperlukan, iya kan? Sekarang aku punya kamu, keluarga di rumah ini, dan tuan Harlan yang membantuku, ada banyak orang baik di sekeliling ku saat ini, aku tidak butuh ayahku."
Rose hanya diam menatap Kaivan. Selanjutnya tidak ada pembicaraan lagi, Kaivan sudah melakukan pemanasan di dalam kamarnya, bocah itu sudah melakukan misi olahraga dengan sendirinya.
Melihat fisik Kaivan, Rose bersyukur dia menyarankan penguatan fisik pada Kaivan, padahal masih level satu, sudah sebagus itu . Berbeda dengan penguatan mental yang sudah membeli level tiga tapi trauma Kaivan masih tetap disana.
"Aku siap untuk olahraga, ayo! Hari ini Dania tidak akan ikut" ucap Kaivan, dia keluar kamar dan Rose terbang mengikutinya. Kaivan juga membawa tablet yang kini dia ubah menjadi smartphone, agar lebih ringkas.
Oh iya, Kaivan dibelikan ponsel dan simcard oleh Hanbin, ponsel itu diserap oleh tablet dan menjadi satu. Kaivan bisa dengan mudah mengubah tablet menjadi smartphone. Tapi akhir-akhir ini dia lebih suka menjadikan tablet sebagai smartphone, karena lebih simple.
"Memang kenapa tidak ikut? Kalau Dasha? Tidak ikut juga?" Tanya Rose.
"Dania semalam pergi dengan Dasha, kamu belum tahu ya?"
"Kau tidak membahas itu, aku tidak terlalu mencari tahu tentang mereka karena kan tidak penting!"
"Sstt!"
Kaivan pun mencoba untuk tenang dan tidak berisik saat keluar rumah. Orang-orang rumah sudah biasa dengan Kaivan yang pergi untuk olahraga, jadi tidak ada yang bertanya, kecuali satpam yang menyapa sebentar.
"Ku pikir kau tahu segalanya, Rose" ucap Kaivan saat sudah ada di luar rumah. Keadaan di luar rumah sangat sepi, itu adalah perumahan elit yang penghuni disana rata-rata orang kaya, jika tidak kaya ya selebriti atau konglomerat.
"Mana mungkin, aku tahu jika mencari tahu, memangnya kau ingin tahu sesuatu tentang Dania? Atau Dasha mungkin?"
Kaivan menggeleng pelan, "tidak, kamu bisa cari tahu jika aku minta saja, mengetahui semuanya juga tidak baik."
"Aku mengerti maksudmu, kamu kan tidak serakah."
"Kamu mengatakannya seakan aku yang tidak mau serakah itu hal yang buruk!"
"Padahal kamu bisa memperkaya diri, menjadikanmu populer atau jadi pahlawan, tapi kamu - hah, sudahlah!"
Rose terbang menjauh saat Kaivan sampai di tempat dia biasanya olahraga.
Kaivan mendongak menatap langit yang sudah mulai terang meski matahari belum muncul.
Mungkin Rose belum tahu, Kaivan begitu karena bahkan niat untuk hidup saja baru muncul, dia butuh proses. Selama ini menjalani hidup yang keras dan kelam, membuat Kaivan susah menginginkan sesuatu yang besar. Dia tahu batasannya sendiri, dimana dia harus berhenti.
Rasa insecure tidak bisa dihapus begitu saja dengan skill penguatan mental, terlalu banyak trauma yang dia alami, dia mau menjalani hidup yang lebih baik dan mau berbicara tentang masalahnya saja sudah sangat bagus.
Tapi, disatu sisi, Kaivan mengerti juga kenapa Rose berpikir seperti itu, dia telah punya kesempatan, harus dimanfaatkan, bukan?
Tidak terasa sambil berpikir, Kaivan pun menyelesaikan olahraganya, yang sudah bertambah. Kini dia harus pemanasan, push up 50 kali, sit up 50 kali, squat 50 kali dan juga lari 50 meter. Namun karena Kaivan mampu lebih banyak berlari, tidak terasa dia sudah lari 100 meter.
Setelah lari, dia masih terus berjalan tak tentu arah. Kaivan bertemu gelandangan yang terlihat kedinginan. Kaivan pun mengeluarkan ponsel pintarnya, membeli selimut dan makanan di toko sistem, lalu memberikan pada gelandangan tersebut.
(Anda mendapatkan 500 poin karena kebaikan anda!)
(Teruslah berbuat baik pada orang lain yang membutuhkan!)
Ternyata berbuat baik pun dibayar poin.
"Itu bukan bayaran, tapi hadiah, bedakan itu!" Tiba-tiba Rose datang, Kaivan pikir dia ngambek.
"Aku gak ngambek! Udahlah, beliin makanan disana! Ada yang jual pizza dan sandwich."
Rose menunjuk pada tempat yang cukup ramai karena banyak pembeli, mungkin baru buka dan promo. Karena penasaran, Kaivan pun menghabiskan waktunya untuk mengantri juga, dia membeli pizza, sandwich dan minuman hangat. Dia dan Rose lalu memakannya sambil duduk manis di tepi sungai.
Karena weekend, ada banyak orang mulai berdatangan. Semoga tidak ada yang melihat makanan habis dengan ghaib karena habis dimakan Rose.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, mentari mulai muncul menyapa dunia. Cuaca yang sangat cerah untuk memulai hari.
Setibanya Kaivan di rumah, dia disambut oleh Hanbin, dia bilang akan jalan-jalan dengan Kaivan hari ini, jadi Kaivan senang sekali.
Jam tujuh pagi mereka berangkat, naik mobil pribadi Hanbin, bukan mobil patroli.
Hanbin menyerahkan rekening atas nama Kaivan sendiri, ada kartu ATM juga disana. Menurut Hanbin, itu kartu bisa digunakan di negara manapun, termasuk Indonesia. Di dalam rekening sudah ada uang dari Harlan, digunakan untuk membeli kebutuhan Kaivan.
"Aku tahu aku yang dimintai untuk mengurusi mu, tapi kau tahu kan kau akan ku lepas setelah lulus sekolah? Aku ingin mulai sekarang kau belajar mengelola uangmu sendiri, tentu dengan pengawasanku. Kamu harus bisa membatasi diri sendiri. Harlan bilang akan mengirim satu juta won tiap bulan, itu cukup bukan?" Ucap Hanbin.
Kaivan mengangguk pelan, "itu lebih dari cukup."
Kaivan pikir, uang itu sangat banyak, meski bagi Dania atau Dasha uang segitu untuk satu bulan mungkin pas-pasan. Kaivan dan mereka jelas berbeda.
"Terimakasih paman polisi, aku akan menggunakannya dengan baik."
"Kamu bebas menggunakannya, untuk hari ini, aku ingin kamu belanja pakaian, sepatu dan lainnya, bisa kan? Pakaianmu sedikit sekali."
Kaivan baru sadar, dia hanya menggunakan pakaian bekas saja selama ini, meski pakaiannya bagus, pasti menyedihkan Dimata orang lain.
"Baiklah."
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Benny
lanjutt
2023-09-11
1
Ompangky
berarti klo point di jadiin duit totalnya 5 triliun won
2023-09-02
1
Ven
buat visualnya thor
2023-08-24
0