Pada akhirnya Kaivan dan Rose memesan banyak makanan lain, karena salah satu cafe sedang promo. Mereka membeli ayam madu, ceker pedas, minuman, onion ring, dan banyak lagi sampai tidak terasa sudah 120.000 won dan satu poin lenyap.
Setelah makan dan kenyang pun si Rose pergi lagi ke dunianya, dia bilang mau membuat gaun lagi yang lebih cantik. Kaivan sih mendukung saja, karena Rose ada bakat membuat gaun, Rose juga bilang dia akan membuat untuk temannya. Ternyata ada peri lain selain Rose.
Ugh, tiba-tiba Kaivan merasa tenggorokannya kering, tidak ada minuman di kamarnya, jadi dia pun keluar kamar untuk mendapatkan air.
"Hei kau!"
Kaivan terperanjat saat ternyata ada Dasha duduk lesehan di ruang tengah. Saat itu semua orang sudah tidur, tinggal Dasha yang minum minuman keras dan terlihat depresi disana.
Kaivan takut dengan orang mabuk, karena sepengetahuannya saat ibunya atau suami ibunya mabuk, mereka akan memukul Kaivan. Jadi Kaivan buru-buru ke dapur dan minum.
Tak!
"Aku memanggilmu, bocah!" Dasha menarik Kaivan dan menyeret bocah laki-laki itu agar duduk bersamanya di ruang tengah.
Kaivan takut sekali jika dia dipaksa minum juga. Namun anehnya rasa takut Kaivan sudah tidak separah sebelumnya. Mungkin penguatan mental level satu berpengaruh. Meski pengaruhnya tidak signifikan.
"Makan disini denganku, minum ini juga!"
Kaivan menatapi kaleng minuman yang diberikan Dasha. Kaivan sendiri sudah berusaha belajar tulisan Hangul secara otodidak, jadi dia bisa membaca kaleng minuman tersebut. Melihat bahannya non alkohol, Kaivan pun merasa lega. Itu hanya minuman rasa persik.
Ada sekotak ayam bumbu pedas manis disana, Dasha meminta Kaivan ikut makan. Padahal Kaivan sudah kenyang sekali, tapi kalau minum masih sanggup.
"Kamu sangat kurus, bocah! Padahal dirimu tampan begini, apa kau tidak pernah olahraga? Makan banyak dan olahraga! Ada gym di basement, besok pagi aku akan mengajarimu!"
Kaivan hanya diam dan memakan ayamnya dengan terpaksa, dia bingung harus bereaksi seperti apa. Baru tahu dia ada gym di basement, biasanya Kaivan hanya olahraga di tepi sungai Han dengan Rose atau Dania.
Dasha ini cantik sekali, baru lulus SMA dan sekarang kuliah di universitas ternama yang hanya bisa dimasuki orang pandai. Dasha mengubah warna rambut hitamnya menjadi pirang, dan itu sangat cocok dengan wajahnya yang mix Australia dan Korea.
Tiba-tiba saja Dasha menangis sesenggukan, membuat Kaivan heran.
"Hiks! Apa yang kurang dari aku, Kai? Cowok brengsek itu! Aku sudah memberikan banyak hal padanya, dia tidak punya pulsa aku belikan, dia kesusahan uang aku berikan uang, dia sulit membayar biaya kos aku bayarkan! Tapi saat dia kini memiliki pekerjaan bagus, dia malah selingkuh dengan wanita murahan! Aku - aku... Hiks! Apakah ini karena aku menolak tidur dengannya? Apa salah jika aku tidak siap? Mungkin dia menganggap ku murahan ya? Apa dia pikir karena aku keturunan bule, jadi dia pikir aku gampangan? Maksudku, kita baru kencan satu bulan saja, belum kenal dekat satu sama lain, mungkin aku salah karena menerima dia hanya karena tampangnya yang tampan itu, huwaaaa! Apa semua lelaki sejahat itu? Hiks!"
Kaivan hanya diam bingung saat Dasha memeluknya erat dan menangis di bahunya.
Ternyata perempuan super cantik dan kaya raya seperti Dasha masih bisa dikhianati, Kaivan tidak percaya.
Padahal Dasha sangat baik, pernah tiga bulan lalu teman-teman Dasha datang dan mengatai Kaivan bocah gila dan takut dengan Kaivan, tapi Dasha memarahi mereka semua.
Perempuan sebaik ini, kenapa dikhianati?
"Sa-sabarlah, kamu tidak pantas menangis untuknya" gumam Kaivan.
Dasha yang mendengar itu melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah pucat Kaivan, "kamu benar, untuk apa aku menangisinya! Ugh, aku bodoh sekali, aku akan buktikan jika aku wanita yang kuat, makasih Kai udah menghiburku."
Kaivan tersenyum kecil melihat Dasha sudah kembali seperti biasa.
"Ya udah, kamu balik ke kamarmu sana!" Dan dia kembali jutek seperti biasa. Tapi Kaivan tidak bisa membencinya, Dasha baik meski bicaranya jutek begitu.
***
Kaivan tidak percaya Dasha sungguhan membantunya olahraga di pagi hari dan sore hari. Meski hal itu membuat Dania kesal, karena tiba-tiba kakaknya mendekati Kaivan, tapi akhirnya Dania setuju juga.
Selain olahraga, Kaivan juga diberi banyak makanan berprotein. Kaivan diberitahu caranya nge-gym.
Hanya dalam tiga hari, tubuh Kaivan mulai berubah. Kaivan pikir itu berkat dia membeli penguatan tubuh level satu. Rose menyarankannya, karena Rose pikir Kaivan olahraga tapi tidak terlihat hasilnya, dia tidak sabaran. Tapi setelah tubuhnya berubah begitu, Kaivan bersyukur dia membeli penguatan tubuh level satu.
Lima hari berlalu, kini Kaivan harus masuk sekolah, dia merasa gugup. Pasti anak-anak di Korea dan Indonesia itu berbeda, tapi biasanya anak remaja cenderung memandang rendah anak miskin seperti Kaivan.
Kaivan hanya bisa berharap tidak ada yang membully nya nanti. Bukannya tidak mau melawan, dia hanya tidak mau repot.
Level Kaivan juga sudah bertambah menjadi tiga, hadiahnya adalah satu game bernama tap and be rich.
Pagi itu Kaivan bangun pagi, mengenakan seragamnya, mematut diri di cermin.
Rambut Kaivan sudah agak panjang, tapi dia tidak begitu peduli penampilan. Biasanya akan dihukum jika di sekolah Indonesia, tapi bahkan Dania terus memuji rambutnya yang dia bilang cocok dengannya. Semalam Dania dan Dasha datang untuk merapihkan rambut Kaivan, tapi tetap kepanjangan. Jika Kaivan mengibas sedikit saja akan ada rambut yang menutupi matanya.
Karena itu, Kaivan pun memutuskan membeli semacam krim untuk merapihkan rambutnya, dia tidak tahu apa namanya, yang pasti bagus untuk rambutnya. Kini rambut itu menjadi lebih rapi, wangi dan indah.
Kaivan sendiri memiliki kulit putih pucat sejak lahir, entah itu gen atau karena Kaivan jarang keluar rumah. Yang pasti ibu Kaivan sendiri kulitnya kuning Langsat khas orang Indonesia. Berkat kulit itu, gadis-gadis di sekolah dulu iri dengannya, tapi sebagian lain malah mengatainya mayat hidup. Kaivan biasanya insecure dengan kulit putih pucatnya.
Setelah sarapan dengan yang lain, Kaivan dan Dania berangkat sekolah diantar oleh Dasha dengan mobil pribadi Dasha yang warna pink.
"Kalian sekolah yang benar, Kaivan jika tidak mengerti, tanya saja pada Dania. Oh iya, kamu gak punya ponsel ya? Tapi kamu kan ada tablet, sepertinya kamu butuh kartu sim, nanti aku belikan deh ya" ucap Dasha.
"Terimakasih kak."
Dania segera menyeret Kaivan memasuki area sekolah.
"Sekarang tubuhmu sudah sangat berisi dan berotot! Padahal baru olahraga beberapa hari kan? Hebat banget!" Ucap Dania dengan ceria.
"Aku sendiri terkejut," timpal Kaivan dengan singkat.
"Kamu selalu mengejutkan kami tahu! Kamu bisa bahasa Korea dengan cepat, menguasai huruf Hangul dengan cepat juga! Sampai rasanya gak masuk akal! Hehe, kamu mungkin jenius lho!"
Entah mengapa Kaivan merasa malu-malu dengan ucapan Dania, dia jarang dipuji, jadi itu agak membuat tidak biasa.
Sayang sekali kelas Kaivan dan Dania itu berbeda, namun Dania mengantarkan Kaivan sampai ke kelasnya.
"Kamu tunggu disini ya, nanti akan ada guru yang datang, jika ada anak nakal jangan digubris, oke?" Ucap Dania.
Kaivan tersenyum kecil dan mengangguk.
Ada beberapa menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi, jadi Kaivan memilih untuk bermain tabletnya. Dia tidak bermain game namun hanya melihat-lihat menu bantuan.
Ternyata ada mode yang bisa dipilih, yaitu mode tablet dan mode smartphone.
Apa jika memilih mode smartphone bisa berubah ya? Kaivan ingin tahu tapi takut ada yang melihat, akhirnya dia masukkan tabletnya lagi ke dalam tas.
"Hei kau! Dengar-dengar kamu ini numpang di rumah Dania ya?"
"Parasit dong?"
Kaivan pun menoleh pada gerombolan anak yang membicarakan dia. Anehnya gerombolan itu terlihat ketakutan setelah Kaivan menoleh.
"Hiiy! Apa sih, serem banget tatapannya!"
"Kayak mayat hidup gak sih?"
"Tapi dia ganteng tau!"
"Serem!"
Kaivan pun memilih untuk tidak menghiraukan mereka lagi.
Tidak penting.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
🇳🇴🇻🇪🇱 🇮🇩
cekmek
2025-02-19
0
Benny
lanjut
2023-09-11
1
Nurul
Npc numpang lewat🤣🤣🤣
2023-09-08
0