Tidak terasa sudah sore hari, Kaivan seharian memainkan game bernama fruit crush sampai level 200 dan poinnya sudah bertambah 750.000 jadi kini poinnya sudah ada 2.499.995.
Saat dia bangun, dia langsung merasa kewarasannya bangkit kembali.
"Aku ingin mandi," gumamnya. Padahal selama ini untuk mandi saja dia harus dipaksa pria pemilik rumah atau pak polisi. Kaivan bisa mandi tiga sampai lima hari sekali saking susahnya.
Dan sekarang saat dia mulai merasa pulih, dia ingin mandi dan ganti pakaian, dia juga ingin keluar kamar lagi. Sekarang Dania sekolah dan Dasha kuliah. Kaivan berharap dia bertemu pak polisi lagi, sudah dua hari pak polisi tidak datang.
Mungkin sudah saatnya dia bercerita pada pak polisi apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak boleh menjadi beban di keluarga baik itu.
Dia pun beranjak untuk mandi, setelahnya mengenakan pakaian bersih bekas pak polisi saat muda dulu. Badan Kaivan lebih tinggi tapi lebih kurus dari pak polisi, jadi muat saja.
Meski Kaivan selama ini kurang gizi, ajaibnya dia memiliki tubuh yang cukup tinggi untuk ukuran negara asalnya, Indonesia, yaitu sekitar 176 cm. Tapi yah, dia sangat kurus, jadi terlihat sekali kurang gizinya. Meski sekarang sudah lebih baik sejak tinggal di rumah itu, dia merasa badannya lebih berisi sedikit.
Biasanya Dania akan datang setelah pulang sekolah, jadi Kaivan duduk saja di kursi tepi jendela, melihat pemandangan luar.
Pemandangannya sangat bagus, yaitu kota moderen Seoul, mengingat tempat itu juga daerah yang elit.
Kaivan bisa melihat sungai besar di luar sana, sangat indah.
"Halo, aku Dania, mau makan - OH! Astaga!" Dania memekik tidak percaya melihat Kaivan duduk di kursi dalam keadaan sudah mandi dan ganti baju. Apalagi saat Kaivan menoleh dan menatapnya.
Kali ini tatapan Kaivan memancarkan kehidupan, tidak seperti sebelumnya.
Dania buru-buru meletakkan nampan makanan yang dia bawa, lalu duduk di tepi ranjang.
Bahkan meski tidak ada pelayan, ranjang juga rapi.
Apa yang terjadi?
Dania pikir, Kaivan akan tetap saja meski tadi pagi sudah pergi jalan-jalan. Karena Kaivan pernah juga keluar kamar dan makan bersama yang lain, tapi setelah itu tetap saja mengurung diri di kamar lagi.
Dania ini seumuran dengan Kaivan, Dania masih kelas satu SMA. Kaivan sendiri satu tahun lebih cepat masuk sekolahnya, jadi dia harusnya kelas dua SMA, tapi jika seumuran dia ya harusnya masih satu SMA seperti Dania.
"Kau...." Kata-kata Dania tercekat dan belum bisa keluar, dia sangat terkejut dengan perubahan itu.
Kaivan tersenyum canggung, "halo?"
Dania menjerit senang mendengar sapaan halo dari Kaivan.
"Aku tidak percaya ini, aku panggilkan pamanku ya? Dia mau bertemu denganmu. Kamu makan dulu, oke?"
Kaivan mengangguk pelan lalu Dania pun pergi.
Tepat setelah Kaivan menyelesaikan makannya, Dania datang lagi bersama pamannya, pak polisi.
Pak polisi itu terlihat lebih ramah dari polisi lain yang pernah Kaivan temui, orangnya juga tersenyum dengan ramah.
Dania mengambil piring dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana perasaan mu sekarang? Kau sudah merasa lebih baik? Apa kau memahami ucapanku?" Tanya pak polisi, yang Kaivan belum ketahui namanya.
Kaivan mengangguk dua kali, kemudian menjawab "aku paham."
Pak polisi tertegun mendengar Kaivan sudah bisa menjawab dengan bahasa Korea, padahal sudah jelas bocah itu dari Indonesia. Pertama kali bertemu, bocah itu hanya diam dan tidak paham dengan ucapan mereka.
Kaivan dibawa oleh sindikat kejam yang berasal dari berbagai negara, namun ketuanya adalah penjahat kelas kakap dari Korea. Itulah kenapa Kaivan masih ada di Korea, belum dipulangkan. Lagipula pihak Indonesia juga sudah setuju untuk membiarkan Kaivan agar merasa lebih tenang. Biaya pengobatan dan terapi Kaivan juga akan ditanggung pemerintah Korea, jadi tidak ada alasan Indonesia untuk mendesak Kaivan dipulangkan. Lagipula hubungan dua negara juga sudah sangat baik.
Bisa jadi selama delapan bulan Kaivan bersama sindikat itu dia diajari bahasa Korea.
Sebenarnya ada juga yang berpendapat bahwa Kaivan adalah salah satu sindikat tersebut, namun pendapat itu banyak dibantah mengingat keadaan Kaivan yang sangat buruk.
"Boleh saya tahu darimana kamu belajar bahasa Korea? Kami pikir kamu tidak bisa, makanya saya berencana untuk mengundang penerjemah" ucap pak polisi.
Kaivan menggeleng pelan, "tidak perlu, saya memahami ucapan anda pak polisi. Empat bulan ini saya banyak melihat acara televisi, saya banyak belajar dari sana, saya juga mempelajari percakapan orang lain, di gudang pengap itu, mereka mengumpat dengan berbagai bahasa, mereka juga berbicara dengan bahasa Korea, Vietnam, Thailand, Filipina dan Indonesia. Saya memang berusaha terlihat bodoh agar mereka menganggap saya tidak paham ucapan mereka, dengan begitu saya tidak cepat dieksekusi. Karena saya bisa mengetik dengan cepat, mereka membutuhkan saya disana. Saya juga biasa memasak untuk mereka karena mereka tidak bisa memasak, dengan begitu saya bisa bertahan selama delapan bulan. Selama itu, saya banyak melihat mereka membawa banyak korban, entah itu anak-anak, perempuan bahkan pria juga pernah. Mereka melecehkan korban terutama jika korban melawan, aku cukup trauma melihatnya, takut aku diperlakukan seperti itu. Aku karena masih berguna dan tidak melawan, hanya dipukuli saja jika mereka mabuk, tempat itu adalah tempat yang mengerikan."
Pak polisi hanya bengong mendengar ucapan Kaivan yang bahasanya sudah bagus sekali dan detail. Bagaimana bisa hanya dengan menonton televisi bisa sepandai itu. Bocah itu memang bukan bocah biasa. Pak polisi tidak takut dia tidak mendengar ucapan Kaivan, karena dia sudah merekam percakapan mereka dari awal, menggunakan kamera Vidio. Bukti tidak boleh hanya suara, takutnya suara bisa dipalsukan, zaman sudah canggih sekarang.
"Bahasa korea mu sangat bagus, Kaivan. Oh iya, namaku Hanbin, panggil saja paman Hanbin ya."
"Baik, paman polisi."
Hanbin hanya meringis mendengar Kaivan masih memanggil dia dengan 'polisi'.
"Aku masih ada banyak pertanyaan, tapi ku rasa kamu tidak akan nyaman ngobrol di dalam kamar begini, mau keluar?"
Kaivan mengangguk dengan cepat, dia juga ingin keluar melihat dunia. Dia juga lelah dikurung di kamar terus.
Pada akhirnya Hanbin mengajak Kaivan dan Dania jalan-jalan di sekitar jalanan Hongdae, sudah seperti paman yang mengajak dua keponakannya bermain.
Kaivan masih berwajah datar, tapi sudah terlihat jelas dia lebih baik dan penasaran dengan segala hal. Dania menunjukkan berbagai hal pada Kaivan juga, misalnya makanan jalanan yang sedang banyak digandrungi. Hanbin membelikan mereka mochi berisi buah, ada yang strawberry ada pula yang isi kiwi. Selain itu Hanbin juga membelikan minuman manis, yaitu Boba milk tea.
Setelah kelelahan mereka pun pergi ke cafe di sekitar sana. Di cafe itu, Kaivan mulai diinterogasi lagi. Hanbin memilih tempat yang agak privat agar tidak ada yang menggangu atau mencuri dengar.
Kaivan merasakan kehangatan pada hatinya. Ia sudah yakin bahwa Pak Polisi adalah sosok yang tepat untuk tempatnya bercerita membagikan kisah-kisah pahit yang ia telan sendirian selama ini. Dia sudah yakin untuk memercayai pak polisi.
Kaivan pun menceritakan tentang keluarganya, ibu dan suami ibunya yang kejam, bagaimana adiknya satu persatu menghilang, bagaimana dia dijual pada sindikat tersebut. Dia juga menceritakan apa yang dia alami di dalam markas sindikat tersebut, bagaimana suasana di sana, Kaivan mengatakan semuanya dengan jujur.
Dania yang ikut mendengarkan sudah berkali-kali menghapus air mata dan ingusnya dengan tisu.
Dengan keterangan dari Kaivan, Hanbin merasa semuanya akan semakin jelas. Hanbin juga menunjukkan beberapa foto, Kaivan mengenali mereka semua dan bercerita tentang mereka dengan detail.
Hanbin tidak salah lagi, Kaivan itu bocah yang cerdas.
"Aku sudah mengatakan semuanya, apa aku akan dipulangkan?" Tanya Kaivan, dengan nada yang cukup aneh. Bocah itu terdengar sedih, seolah tidak mau dipulangkan ke negara asalnya.
"Ehem! Begini Kaivan, dari keterangan mu, orangtuamu atau ibu dan suami-suami ibumu sebelumnya akan mendapatkan sangsi yang berat, saya yakin pihak negaramu akan menghukum mereka. Oh iya, yang aku dengar, kamu anak satu-satunya ibumu, jadi adikmu sudah tidak ada, aku mengetahui ini dari laporan yang dibawa pihak negaramu, sekitar dua bulan yang lalu."
Hati Kaivan sakit mendengarnya, dia tahu ibunya kejam, tapi tidak menyangka akan sekejam itu.
Hanbin melanjutkan, karena kelihatannya Kaivan masih belum puas.
"Ada pria konglomerat yang membantu kami menyelidiki kasus ini, beliau yakin ibumu ada sangkut pautnya, dengan keterangan mu, ibumu akan semakin berat lagi, kau tidak keberatan? Maksudku dia ibumu."
Kaivan menggeleng, "dia ibu yang kejam, menjual semua anaknya demi harta dan kesenangan, dia juga melakukan kekerasan pada kami, aku trauma karena memiliki ibu seperti itu, bagaimana aku bisa keberatan dia dihukum? Beri dia hukuman yang setimpal, aku tidak mau jadi anaknya lagi, ku mohon...."
Ucapan menyedihkan bocah laki-laki itu membuat Hanbin maupun Dania tidak tega. Gadis itu sudah mendekat dan memeluk lengan Kaivan.
"Hidupmu sangat berat! Aku.... Aku - huwaaaaaa!!" Kini Kaivan yang harus menenangkan Dania, dia memberikan tisu pada gadis itu.
"Aku sekarang baik-baik saja, kalian jangan khawatir."
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Scurity MT
👍233 (jisamsu) KW
2024-05-17
0
Benny
next
2023-09-11
1
Nurul
Kekuatan dari author
2023-09-08
0