Pada akhirnya, Kaivan pun rela membuang satu juta poin untuk kelas dari guru bernama Sidarta. Pelajaran yang diajarkan adalah menyatu dengan alam, bersemedi, dan beberapa nasihat baik yang menenangkan hati. Awalnya Kaivan tidak paham, namun dia terus mendengarkan saja, lama-lama menyenangkan juga.
Kaivan mendengarkan kelas online itu saat pagi hari jam empat. Hasilnya cukup memuaskan meski satu kali kelas, hati Kaivan terasa damai dan plong saja rasanya.
Dia sudah mencoba melihat orang bercumbu di drama dan dia tidak merasa aneh seperti sebelumnya. Sepertinya Kaivan harus membeli kelas selanjutnya, tapi nanti saja, pelan-pelan, tidak perlu terburu-buru.
Sebelum berangkat olahraga, Kaivan mengecek game tap and be rich, dia sudah membeli toko baru, yaitu perhiasan brand terkenal dunia cabang Korea. Itu artinya dia dapat lagi saham 30%, dia harus mengeluarkan uang 10 juta poin untuk semua itu. Akan tetapi, Kaivan memiliki tiket gratis toko baru dari hadiah menolong Dasha, jadinya gratis.
Kaivan yang penasaran pun mencari informasi di internet, berapa harga saham asli toko perhiasan Cartire.
Ternyata setelah dihitung-hitung dengan otak Kaivan, Kaivan hemat sekitar 10% dari harga asli, jika memang membeli dengan sepuluh juta poin. Padahal 10 juta poin jika diuangkan menjadi sekitar 1.000.000.000.000 won. Waduh, banyak sekali nol-nya, Kaivan pusing melihat semua angka nol itu, tidak berani dia menghitung berapa rupiahnya, bisa sesak dia.
Untung gratis.
Namun brand perhiasan Cartire memang semewah itu, laku keras dan menjadi tren bagi orang-orang kaya. Tidak heran harga sahamnya sebanyak itu, apalagi punya Kaivan 30%, itu banyak sekali.
Belum lagi keuntungan asli dari memiliki saham, uang keuntungan dikirim perusahaan ke rekening milik Kaivan.
Intinya, uang Kaivan banyak sekali, apa sudah kuadriliun jika poin juga dihitung? Entahlah, Kaivan tidak mau shock, jadi tidak berani menghitung.
Jika terus seperti itu, dia bisa menganggur selamanya dan uangnya tidak akan habis tujuh turunan - tidak bahkan sembilan turunan mungkin masih ada.
Oke, itu berlebihan.
Kaivan pun memeriksa statusnya lewat ponsel setelah mendapatkan poin offline dari game tap and be rich.
*-*
Nama: Kaivan ?
Umur: 16 tahun
Status: level 3
Pemandu: Roseta
Poin: 78.780.968
*-*
Ngomong-ngomong, Kaivan belum naik level juga, dia belum menamatkan game baru. Tap and be rich tidak bisa untuk menaikkan level sistem. Setelah fruit crush, Kaivan memutuskan untuk memainkan game buble bomb. Itu game santai untuk memecahkan gelembung. Susah juga karena ada 100 level untuk tamat dan Kaivan masih level 10. Dia mulai malas main game, lebih suka belajar sekarang.
Sebelum olahraga seperti biasa, Kaivan membeli penguatan tubuh level dua, dia baru ingat harus membeli itu. Tidak ada perasaan lain setelah membelinya, mungkin karena kelas guru Sidarta, tadi, dia merasa semakin enteng, ringan seakan bisa terbang. Walau tentu dia tidak bisa.
Kali ini Kaivan hanya olahraga di basement, tempat gym berada. Rumah itu sepi sekali, masih jam lima pagi sih.
Bahkan setelah Kaivan selesai olahraga, masih sepi juga.
Itu bukan hari tanpa Kaivan kan? Bisa saja mereka balas dendam karena kemarin Kaivan mengurung diri. Meski rasanya tidak mungkin.
Sudahlah, Kaivan sudah lapar, jadi dia memilih untuk memasak sesuatu yang mudah saja, seperti pancake pisang, dia mendapat resep dari internet.
"Haruskah aku membeli skill memasak sebelum membuatnya? Apa itu curang?" Gumam Kaivan gelisah.
Tapi bodo amatlah curang atau tidak, dia makan sendiri ini, bukan seperti dia akan ikut kontes masak, jika untuk kontes, baru itu curang membeli skill semacam itu.
Jadilah sudah empat juta poin dia keluarkan pagi itu. Tiga juta untuk penguatan tubuh level dua, satu juta untuk skill memasak.
Berkat skill belajar cepat juga, Kaivan hanya butuh sekali lihat resep untuk menguasai resep.
Daftar Skill Kaivan seperti ini.
*-*
Skill penguatan mental level 3
Skill penguatan tubuh level 2
Skill belajar cepat dan tepat
Skill beladiri taekwondo
Skill memasak
*-*
Beberapa skill tidak ada levelnya.
Harum wangi pancake pisang buatan Kaivan membuat beberapa penghuni rumah terbangun. Merekapun makan bersama dan memuji masakan Kaivan.
Agak canggung rasanya, entah kenapa. Mungkin hanya perasaan Kaivan saja, tapi kecanggungan itu serasa bisa membunuhnya, jadi dia segera berpamitan, setelah menyimpan satu pancake dan dia bawa ke kamarnya.
Pancake itu untuk Rose, masih hangat dengan madu di atasnya.
"Kamu sudah masak saja pagi-pagi begini" komentar peri itu, yang masih memakai piyama dan memeluk bantal. Tumben sekali Rose masih mengantuk jam segitu, biasanya sudah ribut menemani Kaivan olahraga.
"Kamu tumben baru bangun?" Kaivan malah bertanya balik.
Rose menatap Kaivan dengan muka bantalnya, "aku capek banget nemenin kamu begadang semalam, masih ngantuk nih!"
"Ya udah, tidur aja. Tadi aku masak sarapan karena lapar, kemudian paman Mark dan Tante Jihyo datang, aku jadi masak untuk semuanya, ayo dicoba dulu pancake-nya."
Rose mengangguk pelan, lalu memakan pancake itu.
"Enak! Sering-seringlah masak, udah beli skill juga kan?"
"Kok tahu?"
"Jelas lah, aku pemandumu! Apa mereka mengatakan sesuatu padamu saat sarapan? Dasha misalnya?" Tanya Rose, sambil menikmati sarapannya.
Kaivan duduk di tepi ranjangnya, sambil melepas kaos yang dia kenakan, karena sudah basah kena keringat.
Rose memalingkan muka melihat tubuh bagus Kaivan, sejak kapan sudah terbentuk sebagus itu sih? Rose jadi malu melihatnya, tapi dia mau lihat lagi, tapi malu, gimana ya?
"Enggak, mereka berlaku seperti gak ada sesuatu, mungkin tidak ingin menyinggung ku? Entahlah, aku merasa canggung, Dasha dan Dania seperti menahan perilaku mereka, aku merasa bersalah."
"Gak usah dipikirin lah, biarin aja, cepetan mandi dan sekolah!"
Kaivan pun pergi ke kamar mandi, meninggalkan Rose yang lega Kaivan pergi.
"Gawat sekali bocah itu, otot tubuhnya seksi - astaga, aku mikir apa sih?" Rose memukul kepalanya sendiri karena berpikir yang tidak-tidak.
***
Hari ini ada pelajaran olahraga, yang dinilai adalah sepakbola. Kaivan tidak pernah main sepakbola sebelumnya, dia selalu tersisihkan jika teman-teman lelaki di sekolahnya main. Alhasil dia hanya duduk diam dan memperhatikan, kadang dia tidak paham kenapa anak laki-laki menyukai permainan itu. Tidak ada pelajaran olahraga yang Kaivan sukai, dulu dia lemah, jadi mudah capek.
Kaivan tahu jika dia ikut main, sepakbola misalnya, dia hanya akan jadi beban.
Karena itu, dia khawatir sekali sekarang, takut tidak bisa dan merusak permainan mereka. Namun, ketua kelas datang padanya dan tersenyum dengan manis.
Ketua kelas itu yang paling baik pada Kaivan, dia bahkan bertanya apakah Kaivan baik-baik saja saat di pagi hari Kaivan baru datang. Orangnya perhatian sekali, terlihat pintar, tegas dan disiplin.
Namanya Kim Dohyun, laki-laki. Dibandingkan Kaivan, Dohyun lebih pendek dan lebih kecil, tapi percaya dirinya jauh lebih besar dari Kaivan. Anak dokter dia itu, dan ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah Dania, komplek orang kaya.
"Kamu masuk di tim ku, Kaivan, kamu baik-baik saja kan? Jika tidak bisa, kamu boleh istirahat saja," ucap Dohyun.
Di sekolahnya dulu, ada beberapa anak baik seperti itu juga, tapi entah kenapa di negara ini agak susah menemukan sebaik dia. Indonesia cukup ramah, yang memandang sebelah mata tidak terlalu banyak, beda dengan negara ini. Tingkat pembullian tinggi sekali, meski belum menemukan di sekolah itu, Kaivan dengar ada kelompok murid sok preman yang suka membully juga disana. Semoga Kaivan tidak menemukan pembully.
"Aku baik-baik saja kok, bukankah harus ikut agar dapat nilai, aku harus dapat nilai."
Mendengar jawaban Kaivan, Dohyun tersenyum.
"Di kelas, aku pikir hanya aku yang ambisius, ternyata ada kamu juga ya, ku dengar kamu rajin sekali belajarnya."
"Iya, jika tidak begitu aku akan ketinggalan pelajaran, disini dengan tempat lamaku sangat berbeda."
Untuk informasi, anak-anak di sekolah itu tidak ada yang tahu asal Kaivan darimana, karena memang tidak diinformasikan, untuk privasi. Sekolah sudah maklum dengan hal itu, dan bersedia melindungi privasi Kaivan.
"Kamu bukan dari negara ini kan?"
Kaivan hanya diam mendengar pertanyaan itu, dia tidak boleh banyak mengatakan tentang dirinya, bisa jadi itu bahaya.
"Baiklah jika tidak mau mengatakannya, aku mengerti kok, pasti ada alasannya kan? Tapi bahasa Korea mu bagus, ayo main!"
Kaivan agak gugup saat dia mendekati yang lain untuk mulai.
"Kau kelihatannya kuat, tapi aku tidak berharap banyak" kata salah satu siswa, yang Kaivan tidak tahu namanya karena memang tidak penting.
"Kau lihat kulitnya seputih itu, sudah jelas anak rumahan, kayaknya gak pernah main" untuk yang satu ini, Kaivan setuju juga. Tapi itu bukan alasan dia tidak bisa main kan? Mengingat permainan itu wajib demi mendapat nilai?
Mereka membuat Kaivan makin mengkhawatirkan nilai olahraganya.
Tidak masalah karena nilai lain bisa dikejar, tapi Kaivan tidak akan puas.
'Aku pasti bisa' ucapnya dalam hati.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Arie Lestari
jadian ma rose aja klo tubuh'y sdh 100%, dongyun semoga bukan salah satu anggota sindikat perdagangan manusia mengingat dia anak dokter !!
2024-01-18
0
『Ebe亗Haan』
thor namanya ganti jadi kavian aja thor gw salah mulu baca namanya dari kaivan jadi kavian
2023-09-30
1
Benny
next
2023-09-11
0