3 hari berlalu sejak pembacaan surat wasiat papi, Jihan masih belum bisa menerima kondisinya.
“Mami kenapa nggak protes soal wasiat papi ?”
“Kamu nggak dengar ucapan Pak Bonar kalau keputusan papi itu tidak bisa diganggu gugat ?”
“Selama ini papi udah bekerja keras untuk membangun perusahaan, tapi apa hasilnya selain gaji yang didapat ? Mereka memperlakukan kita seperti pengemis, Mi ! Bahkan rumah ini pun hanya pinjaman, baru akan diberikan untuk Mami setelah anak durhaka itu berumur 21 tahun, itupun dengan banyak persyaratan.”
“Masalah rumah ini, papi sudah pernah bilang ke mami sebelum kami menempatinya.”
“Kalau seperti itu sejak awal, kenapa Mami masih mau merawat dan membesarkannya seperti anak sendiri ? Mami lihat sekarang ? Dia tidak peduli dengan kebaikan Mami, bahkan hanya memberikan satu rumah ini saja dia tidak mau. Dia tidak akan jatuh miskin hanya dengan memberikan rumah ini sebagai balas budi pada Mami !”
“Jihan, kendalikan emosimu. Kita hanya tinggal bertahan kurang dari 4 tahun. Mami tidak ingin penantian panjang ini akan jadi sia-sia. Kamu tidak lupa dengan syarat yang dibacakan kemarin, kan ? Gaby bisa dengan mudah membatalkannya karena bisa saja dia menunjukkan bekas luka di tubuhnya sebagai bentuk penganiayaan Mami.”
“Kenapa ? Mami takut soal itu ? Mami pikir dia akan mudah menuduh Mami dengan bukti luka yang ada tanpa saksi atau bukti rekaman untuk menunjukkan kalau Mami yang melakukannya ? Tidak segampang itu, Mi, jadi jangan khawatir,” sahut Jihan sambil tersenyum licik.
“Jangan gegabah, Ji. Sabarlah sampai situasi mereda. Mami tidak mau kuliahmu berantakan dan Lisa akan kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikannya sampai SMA. Setidaknya biaya pendidikan kalian masih ditanggung sampai selesai.”
“Dan biaya hidup kita dipotong sampai 50% ? Apa Mami yakin dengan uang yang ada, kita bisa mencukupi kebutuhan rumah ini ? Membayar listrik, air dan biaya para pelayan ?”
“Rencananya Mami akan mengurangi beberapa pelayan.”
“Apa Mami tidak merasa kalau kita sudah dianggap pengemis yang hidup dari rasa kasihan dia ? Aku tidak bisa terima, Mi. Papi sudah berjuang dan mencurahkan seluruh hidup dan tenaganya untuk perusahaan itu dan sekarang, tidak ada sedikit pun penghargaan yang diterima Papi untuk anak-anaknya.”
“Semua itu karena Papi tidak bisa melepakan rasa bersalahnya karena kembali pada Mami, Ji,” ujar Mama Gina dengan wajah sendu.
“Mami, orang bilang tidak ada asap kalau tidak ada api. Mami sendiri bilang kan kalau Papi terpaksa menerima pernikahannya dengan Tante Anna karena hutang budi ? Papi pasti tidak bahagia makanya papi kembali pada mami.”
“Ji, Mami benar-benar berharap kamu menggunakan akal sehat daripada emosi.”
“Kenapa Mami tidak minta Papi menceraikan Tante Anna saat tahu kalau Mami sedang hamil aku ?”
“Tidak semudah itu Papi menceraikan tante Anna. Sejak awal, pernikahannya terikat dengan banyak perjanjian.”
Mama Gina menghela nafas, merasa bersalah telah berbohong pada putrinya. Bukan karena tidak mau, tapi dirinyalah yang mencegah keinginan papi Hendri untuk bercerai karena tidak mau kehilangan sumber pendapatan.
“Masa lalu Mami tidak bisa diperbaiki lagi, tapi aku tidak akan pernah menerima kalau masa depanku dan Lisa dibuat seperti pengemis pada anak durhaka itu. Lagipula bukankah pernikahannya juga karena perjodohan, jadi aku yakin kalau Pak Nathan tidak pernah mencintai dia.
Cerita lama terulang lagi, nasibnya sama seperti Tante Anna. Kali ini akan aku buat lebih buruk lagi dari Tante Anna hingga akhirnya dia memohon padaku dan Lisa untuk menolongnya.”
“Jangan libatkan Lisa, Mami mohon. Lagipula hubungan Lisa dan Gaby cukup baik. Jangan sampai kamu terpecah dengan Lisa hanya karena adikmu lebih memilih kakak tirinya.”
Jihan mengangguk-angguk, tatapannya masih penuh dengan rasa marah dan benci. Senyuman licik kembali terlihat di wajahnya. Pikirannya sudah dipenuhi dengan rencana untuk menjatuhkan Gabriela.
*****
“Gab, elo lagi berantem sama Mister Handsome ?” tanya Mimi sambil merangkul lengan sahabatnya menuju kantin.
“Nggak, memangnya kenapa ?” Gabriela mengerutkan dahinya.
“Elo nggak lihat mukanya gahar kayak macan belum makan daging.”
“Bukannya memang begitu tampang Pak Nathan sejak awal ngajar ?”
Mimi mengetuk-ngetuk dagunya sambil mengerutkan dahi.
“Udah agak jinak sejak menikah tapi 2 hari ini balik mode senggol bacok lagi. Apa jangan-jangan Mister Handsome cemburu ? 2 hari ini elo duduk sama Doni, kan ?”
“Cemburu dari Jupiter !” Gabriela menoyor kening Mimi. “Cemburu itu buat orang yang saling cinta sementara Pak Nathan nggak punya perasaan sama gue. Cintanya hanya buat mantan.”
“Mantan siapa ?”
“Ya ampun, Pak Nathan,” Mimi sampai terhuyung karena terkejut. “Kenapa bisa tiba-tiba ada di sini ?”
“Kaki saya masih napak,” Jonathan menunjuk ke bawah. “Kalian pasti lagi gibahin orang sampai nggak sadar siapa aja yang ada di dekat kalian.”
Gabriela mengernyit, menelisik wajah Jonathan yang sedang jutek, sesuai dengan ucapan Mimi.
“Lapar, Pak, jadi kurang fokus,” sahut Mimi sambil nyengir kuda.
“Duluan, Pak,” Gabriela berinistiatif pamit ke kantin. “Nanti nggak keburu makan.”
“Handphone kamu buat pajangan doang ?” ketus Jonathan sebelum Gabriela melangkah.
“Saya jarang buka handphone kalau lagi di sekolah, Pak,” sahut Gabriela dengan wajah santai, tidak berinisiatif memeriksa handphonenya.
“Permisi, Pak,” Gabriela kembali pamit.
“Gabriela !” bentak Jonathan sedikit keras membuat Mimi kembali terkejut dan beberapa siswa yang melintas ikut menoleh.
Gabriela memutar bola matanya dan berbalik badan, menatap Jonathan dengan malas.
“Ikut saya !” Mata Jonathan melotot, ucapan tegasnya tidak bisa dibantah.
“Tapi saya lapar, Pak.”
Jonathan semakin membelalakan matanya tanpa menjawab apa-apa.
“Udah elo ikut aja daripada satu kelas kena efeknya. Nanti gue beliin roti biar elo nggak kelaparan.” bisik Mimi sambil mendorong-dorong tubuh Gabriela.
Gabriela menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
Jonathan memberi isyarat supaya Gabriela berjalan di sampingnya.
“Bapak takut saya kabur ?” ejek Gabriela sambil mencibir.
“Bukannya itu memang kesukaan kamu ? Kabur dari kenyataan ?” balas Jonathan sambil tersenyum sinis.
“Kemana ?” tanya Gabriela saat melihat Jonathan jalan ke arah belakang sekolah.
“Cari tempat mesum,” ketus Jonathan.
“Ya ampun, Pak, ternyata otak bapak isinya bukan cuma rumus matematika tapi pikiran mesum juga.”
“Kenapa ?” Jonathan mendadak berhenti di depan Gabriela hingga gadis itu menabrak punggungnya.
Jonathan pun membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke depan Gabriela yang sedang meringis mengusap keningnya.
“Saya pria dewasa, sudah menikah juga, jadi wajar saja kalau punya otak mesum sama istri sendiri.”
Gabriela spontan memundurkan wajahnya namun badannya tidak siap hingga terhuyung dan hampir jatuh. Dengan sigap, tangan Jonathan menahan pinggang gadis itu.
“Kamu sengaja ya ? Pingin merasakan lagi pelukan suami ?” ledek Jonathan sambil menyeringai saat Gabriela tidak langsung berdiri dan melepaskan pelukan Jonathan.
“Jangan ge-er suami kontrak,” ketus Gabriela dengan wajah memerah dan posisinya kembali berdiri tegak namun karena tangan Jonathan masih memeluk pinggangnya, wajah Gabriela malah menempel di dada pria itu.
“Hangatnya pelukan suami,” ledek Jonathan sambil tertawa.
Untung saja mereka sudah berada di halaman belakang sekolah yang jarang didatangi guru atau siswa.
“Sebetulnya Bapak mau ngapain ngajak saya kemari ?”
Belum sempat Jonathan menjawab, bel sudah berbunyi lagi hingga Gabriela bernafas lega.”
“Saya harus kembali ke kelas,” Gabriela berniat meninggalkan Jonathan.
Wajahnya kembali memerah saat perutnya berbunyi, tanda minta diisi. Jonathan langsung tertawa saat mendengarnya.
“Nyebelin !” gerutu Gabriela, menatap Jonathan dengan wajah ketus.
“Gaby !”
“Kenapa lagi ?”
“Mulai besok kamu harus pindah tempat duduk ! Ini perintah dari suami bukan wali kelas. Jangan memberi harapan palsu pada cowok yang jatuh cinta sama kamu. Kalau kamu nggak bisa, saya yang akan cerita kalau kamu sudah bersuami.”
Gabriela menautkan alisnya, menatap Jonathan yang menyeringai dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.
”Benar-benar aneh !” gerutu Gabriela melengos kesal lalu berjalan meninggalkan Jonathan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
R_3DHE 💪('ω'💪)
ini mahluk kurang bersyukur
2023-10-11
2