“Kenapa kamu bisa sampai nggak tahu kalau istrimu jatuh sampai terkilir ?” omel Mama Hani saat Gaby pulang menggunakan kruk.
“Bukan salah Mas Nathan kok, Ma. Gaby yang nggak hati-hati makanya jatuh di dekat kolam. Tadinya sempat mau dipanggilin tukang urut, tapi dokter melarang karena yang terkilir dekat mata kaki.”
“Kamu nggak langsung bilang Nathan pas baru jatuh ?”
“Bilang Ma, tapi Gaby dan Mas Nathan menempati rumah di dusun yang bebeda. Mama nggak usah khawatir, dokter bilang paling 5 hari juga bisa lepas kruk.”
Tidak disangka kalau urusan ribut dengan Maya yang membuat Gaby jatuh berbuah panjang karena malam harinya kaki Gaby sempat bengkak dan membiru. Untung saja kegiatan di pedesaan tinggal sehari tapi Gaby tidak bisa turun saat kunjungan ke Candi Borobudur sebelum kembali ke Jakarta.
Arif yang kesal dengan sikap Jonathan akhirnya menyuruh Doni dan Joni membantu Gaby selama perjalanan pulang ditemani Mimi dan Raina.
“Biar Gaby tidur sama mama sampai sembuh !”
“Terserah Mama aja.”
Mama Hani mengerutkan dahi menatap putranya yang terlihat acuh dengan istrinya, padahal kondisi Gaby sangat membutuhkan perhatian dari Jonathan. Mama Hani menghela nafas, iba dengan situasi yang harus dihadapi menantunya.
*****
“Elo mau ngomong apa ?” tanya Doni saat mereka berdua sudah sampai di kafe.
Sudah 3 hari Gaby melepas kruknya dan tanpa terduga 2 hari lalu Doni menembaknya di kelas, saat cukup banyak teman-teman mereka baru saja kembali dari kantin saat istirahat pertama.
Awalnya Gaby menganggap Doni hanya bercanda dan sempat mengundang ledekan dari teman-teman sekelas tapi Doni mengulangi ucapannya dan menegaskan kalau ia serius berniat menjadi kekasih Gaby.
Bisa dibayangkan bagaimana hebohnya murid kelas XI SOS-2 yang mengharapkan mereka jadian dan hanya Joni yang menggerutu di depan pintu kelas karena mendapat saingan yang tidak bisa disepelekan.
”Gue mau berterima kasih banget atas perhatian dan bantuan yang udah elo berikan sejak gue jatuh sampai sekarang.”
“Sama-sama,” sahut Doni tersenyum dan mengangguk dengan wajah cool-nya.
“Terima kasih juga atas ucapan elo 2 hari yang lalu saat istirahat, tapi mohon maaf….”
“Jadi elo lebih suka sama Joni daripada gue ?” Alis Doni menaut dan kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Eh nggak…. Bukan begitu…. Gue lebih suka sama elo daripada Joni. Beneran.”
“Terus kenapa minta maaf ?” ledek Doni sambil tertawa dan mencondongkan tubuhnya ke arah Gaby yang memukuli kepalanya sendiri karena merasa sudah salah bicara.
Doni, pria yang pendiam dan sering jaim di kelas tampak berbeda. Saat berdua dengan Gaby yang serba canggung, Doni lebih banyak senyum dan tertawa membuat jantung Gaby sedikit berdebar. Jujur ia memang pernah menyukai Doni saat mereka jadi teman sekelas di kelas 8. Saat itu Doni seperti cowok anti bergaul dan sulit dijangkau meski beberapa kali Gaby berusaha mendapatkan perhatiannya.
“Gue sudah punya calon suami,” sahut Gaby cepat dan tangannya langsung meraih gelas jus mangganya lalu meneguk hingga setengah.
“Alasan yang… Hmmm…,” Doni mengetuk dagunya dengan telunjuk, wajahnya seolah sedang berpikir serius.
“Sangat tidak masuk diakal !” Tiba-tiba Doni mencondongkan wajahnya ke depan Gaby membuat mata gadis itu membola lalu spontan mundur ke belakang.
Untung saja posisi bangku Gaby dekat tembok hingga ia tidak sampai terjengkang ke belakang.
“Gue serius Doni !” Doni tertawa melihat wajah Gaby yang terlihat lucu saat cemberut. Doni pun menyodorkan selembar tisu untuk membesihkan jus yang tumpah di sudut bibir Gaby.
Jangan terlalu banyak senyum dan tertawa, Don. Lesung pipit elo bikin badan gue kayak nggak bertulang. Lemes besties !
“Baru calon kan, bukan suami ?” ledek Doni di sela tawanya.
Gaby menggerutu sambil meraih gelas jusnya lagi dan tanpa sadar meneguknya sampai habis.
Belum saatnya gue mengaku kalau udah menikah, sama Pak Nathan. Elo nggak bakalan percaya apalagi melihat kelakukan Pak Nathan saat bersama kekasihnya.
“Mau gue pesenin lagi ? Jus mangga juga .?”
“Nggak usah, gue udah kenyang. Gue serius udah punya calon suami dan keluarga gue nggak menerima penolakan jadi jangan bikin pengakuan yang aneh-aneh lagi di depan anak-anak yang lain !”
“Aneh darimananya ? Kalau perlu gue ketemuin orangtua elo dan bilang kalau gue siap lahir batin untuk menjadi calon suami atau langsung jadi suami elo juga.”
“Jangan gila ! Susah deh ngomong serius sama elo. Gue balik duluan,” Gaby beranjak bangun dan mengeluarkan uang untuk membayar jusnya.
“Eh mau kemana ?” Doni menahan tangan Gaby.
“Males gue ngomong sama elo, nggak bisa diajak serius. Keputusan orangtua gue bersifat mutlak jadi biar elo bawa emas sekarung, lamaran elo bakal ditolak. Gue balik dulu.”
“Iya, iya, gue nggak akan bikin heboh lagi di sekolah, tapi nggak ada cerita pergi sama gue, pulang sendirian apalagi hari ini elo nggak bawa motor. Ayo gue anter pulang.”
“Eh nggak usah.”
“Gue nggak bakal turun dan nemuin orangtua lo. Nggak hari ini,” ledek Doni sambil beranjak bangun. Satu tangannya masih memegang pergelangan tangan Gaby.
Mampos dia mau anter pulang ! Nggak mungkin banget kasih alamat rumah Pak Nathan, bisa langsung geger satu sekolah.
“Beneran nggak usah Don, ojol banyak.”
Doni tidak menggubris permintaan Gaby. Tangannya semakin kuat menggenggam Gaby yang berusaha melepaskan diri. Bahkan Doni tidak membiarkan Gaby mencari celah saat ia membayar pesanan mereka di kasir.
“Pak Nathan ?”
Doni menganggukan kepala sambil tersenyum saat berpapasan dengan Jonathan di pintu kafe.
“Kalian belum pulang ? Ngapain di sini ?”
“Pacaran, Pak,” sahut Doni sambil terkekeh.
Gaby membuang muka, tidak menyapa Jonathan yang datang bersama Maya dan sengaja ia membiarkan Doni memegang pergelangan tangannya.
Jonathan sendiri agak kaget bertemu dengan Gaby di tempat ini, padahal letak kafe cukup jauh dari sekolah dan kedua muridnya masih mengenakan seragam.
“Kakimu sudah sembuh, Gabriela ?” Maya yang melihat wajah kesal Gaby sengaja mendekati gadis itu.
“Ibu punya mata kan ? Kalau belum sembuh mana bisa saya jalan sendiri ?” ketus Gaby dengan mata melotot menatap Maya yang tersenyum mengejek.
“Gaby ! Bicara yang sopan pada yang lebih tua. Nggak malu dengan seragam yang kamu pakai ?”
Gaby memutar bola matanya sambil melengos sebal.
“Kita balik, Don. Permisi.”
Gaby mendorong bahu Doni supaya melewati Jonathan dan Maya.
“Kami duluan, Pak, Bu.” Doni menganggukan kepala sambil tersenyum,
Jonathan bergeming bahkan menghela nafas. Ia pun berjalan mencari meja dekat jendela yang bisa melihat ke arah parkiran.
Doni nampak sedang membujuk Gaby yang masih cemberut dan beberapa kali menghentakkan kakinya karena kesal. Doni terus tertawa dan sekali-kali menjahili Gaby, entah menoel dagunya atau menyentuh pucuk kepala Gaby yang tingginya hanya sebatas ketiak Doni.
Sampai di dekat motor pun Doni masih terlihat membujuk Gaby hingga akhirnya gadis mungil itu mengangguk dan membiarkan Doni memakaikan helm untuknya.
Sisi lain Doni yang tidak pernah Jonathan lihat selama menjadi gurunya sejak kelas 10 menyita perhatiannya. Cowok itu biasa cuek pada teman-teman cewek di sekolah padahal Doni punya banyak penggemar. Selain tampan, Doni juga pintar dan Jonathan dengar berasal dari keluarga berada pula.
“Jo !”
Panggilan Maya yang cukup keras dan tangannya yang memukul jemari Jonathan membuat pria itu terkejut dan berhenti memperhatikan Gaby yang sudah meninggalkan kafe dibonceng motor Doni.
“Kamu mau pesan apa ?” tanya Maya.
“Americano aja dan croissant plain.”
Maya melirik Jonathan yang kembali menatap keluar jendela sambil menghela nafas beberapa kali. Sinyal-sinyal persaingan sepertinya akan dimulai antara dirinya dan bocah ingusan itu. Ego Maya terusik, merasa dirinya tidak pantas dibandingkan dengan Gaby karena dari sisi manapun, pria akan lebih dulu menoleh padanya.
Wanita dengan usia matang yang cantik, pintar dan memiliki karir bagus serta berasal dari keluarga yang tidak perlu diragukan bibit,bebet dan bobotnya.
“Jo.”
Jonathan menoleh. Tatapannya memang sudah berubah pada Maya tapi pria itu tidak bisa menolak setiap kali Maya mengajaknya bertemu.
“Aku tidak mau kita putus. Aku akan menunggumu menceraikannya.”
Dahi Jonathan berkerut, tidak bereaksi saat tangan Maya menyentuh jemarinya yang ada di atas meja.
“Apa kamu bersedia menungguku sampai 4 tahun ?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Anonymous
gaby berani banget😭
2023-10-21
1