“Sudah selesai, Gab ?”
Gaby mendongak, menatap Pak Arif, guru pengawas ulangan semester hari ini sudah berdiri di dekat mejanya.
“Sedang diperiksa ulang, Pak.”
“Bisa dipercepat ? Kalau sudah selesai, segera rapikan meja dan turun ke bawah sambil membawa tasmu. Pak Liman sudah menunggu di dekat gerbang.”
Gaby menautkan alisnya namun menuruti perintah Pak Arif dan menyerahkan lembar jawabannya pada guru fisika itu. Usai berpamitan, Gaby langsung melesat dan melihat sudah ada Jonathan sedang berbincang dengan Pak Liman, kepala sekolah SMA.
“Ada apa dengan papi, Pak ?”
Bukannya bertanya pada Jonathan, Gaby malah menghampiri Pak Liman. Melihat keberadaan mobil papi di depan gerbang, Gaby yakin kalau kepulangannya di luar jam sekolah pasti ada hubungannya dengan papi.
“Jonathan akan menjelaskannya padamu di mobil. Sekarang lebih baik kalian bergegas.”
Pak Liman tersenyum dan memberi isyarat supaya Jonathan membawa istrinya naik ke mobil.
“Sebetulnya ada apa, Pak ?” tanya Gaby saat Jonathan membukakan pintu penumpang belakang.
Pria itu tidak menyahut, hanya memberi isyarat supaya Gaby bergegas masuk. Begitu melihat Jihan sudah duduk di dalam, Gaby menghela nafas dan wajahnya terlihat kesal.
“Om Sofian memberi kabar kalau papi tadi pingsan saat mengikuti rapat di kantor,” ujar Jonathan saat mobil sudah melaju, meninggalkan halaman sekolah.
“Lalu ?”
“Belum ada kabar lagi dari Om Sofian.”
Gaby kembali menghela nafas dan menyenderkan kepala ke pintu sambil menatap keluar, enggan membuka percakapan dengan Jihan.
“Jadi sekarang elo lagi dekat sama Doni ? Belum puas berusaha merebut Mario dan membuatnya hampir meniduri elo ? Lupa kalau sekarang status elo udah bersuami ?”
Jihan sengaja mengeraskan suaranya untuk memanasi Jonathan yang memang langsung bereaksi. Pria yang duduk di kursi penumpang depan itu menggerakan kepalanya sedikit, membuat Jihan tersenyum smirk.
“Ternyata elo masih suka jadi lambe turah, ya ? Hobi banget kepoin hidup orang dan menyebarkan isu yang nggak penting,” sahut Gaby sambil tersenyum sinis.
“Bukan kepo tapi menjaga jangan sampai nama baik gue tercemar karena kelakuan elo, apalagi mereka menganggap kita benar-benar bersaudara.”
Gaby menoleh sambil mengernyit, tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. Jihan selalu menyangkal fakta kalau mereka memang bersaudara karena berasal dari satu ayah meski dilahirkan oleh dua ibu yang berbeda.
“Apa perlu gue peringati Doni ?”
“Sejak kapan elo perlu pendapat gue ?” sahut Gaby dengan wajah acuh.
Tidak peduli dengan ancaman Jihan, Gaby kembali menyandarkan kepalanya di pintu sambil menatap keluar. Di saat seperti ini bukannya khawatir dengan keadaan papi, Jihan malah sengaja mengacaukan hidup Gaby di depan Jonathan.
Gaby bergegas turun sambil membawa tas ranselnya saat mobil berhenti di lobi rumah sakit. Ia tidak menunggu Jonathan apalagi Jihan dan mengajak mereka masuk bersama.
“Hati-hati Bapak jadi korban berikutnya,” ujar Jihan dengan senyuman smirknya pada Jonathan yang berdiri di sampingnya saat mereka sudah berada di dalam lift.
Jonathan hanya menoleh sekilas tanpa ekspresi. Ia malah mendahului gadis itu keluar dari lift saat mereka tiba di lantai 2.
Bahu Gaby tampak bergerak naik turun dan kepalanya menunduk saat Jonathan berjalan ke arahnya. Gadis itu tengah berbincang dengan dokter Dharma dan Om Sofian di depan ruang ICU.
Belum sempat Jonathan sampai di dekatnya, Gaby sudah meninggalkan dokter Dharma dan Om Sofian, menjauh dari ruang ICU.
“Biarkan dia menenangkan diri dulu,” cegah Om Sofian saat melihat Jonathan berniat menyusul istrinya.
“Sebetulnya ada masalah apa dengan Papi ? Terakhir bertemu, Papi hanya bercerita masalah Tante Gina dan perusahaan milik mami Anna.”
Om Sofian dan dokter Dharma saling menatap sebelum menceritakan kondisi papi Hendri pada menantunya ini.
Jonathan menyugar rambutnya dan menghela nafas beberapa kali saat mendengar cerita dari kedua pria di depannya. Setelah 2 bulan menikah, Jonathan menyesal baru tahu soal kondisi kesehatan mertuanya.
Kanker di tubuh papi sudah menyebar dan tidak ada yang bisa dilakukan selain pasrah. Tindakan operasi bisa memperparah keadaan karena beberapa organ vital papi seperti ginjal, lambung dan paru-paru sudah bermasalah.
Jonathan sempat melirik Tante Gina dan kedua putrinya yang sedang duduk di ruang tunggu depan ICU. Hanya Lisa, adik tiri Gaby yang kelas 8, terlihat paling tulus khawatir dengan kondisi papi Hendri.
“Saya permisi dulu, Om,” pamit Jonathan pada Om Sofian sedangkan dokter Dharma sudah kembali bertugas sekitar 5 menit yang lalu.
“Nathan, tangga darurat. Sejak dulu Gaby paling suka menyembunyikan diri di sana,” ujar Om Sofian sebelum Jonathan berlalu.
Jonathan mengikuti ucapan Om Sofian dan menemukan Gaby di tangga darurat lantai 3. Gadis bertubuh mungil itu tengah menelungkupkan wajahnya di antara kedua kaki yang ditekuk.
“Ternyata kamu suka lari dari masalah dan memilih menyembunyikan diri.”
Gaby bergeming dalam posisinya meskipun ia bisa mendengar dan mengenali suara pria itu.
“Jadi hari itu kamu menimpakan perbuatan Mario pada saya ? Atau jangan-jangan kamu memang sengaja merayunya ?”
Jonathan tersenyum sekilas saat Gaby bereaksi. Gadis itu mendongak, dengan alis menaut ia menatap pria tampan yang sudah duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat tidak suka mendengar pertanyaan Jonathan meski nada suara pria itu biasa saja.
“Jadi ini alasan kamu memaksa saya untuk menikahimu secepatnya ? Khawatir setelah papi tiada, Tante Gina akan mengambil alih semuanya sebagai wali sahmu ?”
Gaby masih diam bahkan ia beranjak bangun, malas menanggapi ucapan Jonathan karena suasana hatinya sedang buruk.
“Mau kemana lagi ?” Jonathan menahan lengan Gaby.
“Maaf saya sudah merusak mimpi-mimpi Bapak untuk hidup bahagia dengan Bu Maya dengan pernikahan kita. Saya akan mencari jalan keluarnya supaya Pak Nathan tidak perlu terikat dengan saya sampai 4 tahun.”
“Kamu belum menjawab pertanyaan saya yang pertama.”
“Untuk apa ? Bapak berniat membela saya atau malah menggunakan kejadian itu sebagai alasan untuk mengajukan permohonan cerai yang sudah saya tandatangani ?”
Mata Gaby membola saat Jonathan bangun dan mendesaknya hingga menempel ke dinding kaca.
“Selama belum bercerai, kamu masih istri sah saya dan sebagai suami, saya berhak mengetahui kejadian yang sebenarnya.”
Gaby tersenyum kecut dan membuang muka ke arah lain. Sapuan hangat nafas Jonathan dan ucapannya soal suami dan istri seharusnya bisa membuat jantung Gaby berdebar, tapi yang dirasakannya justru sebaliknya.
“Saya tidak tahu bagaimana dia bisa menenggak obat perangsang, menurut cerita Mario, Jihan lah yang sengaja memberikan padanya.”
Gaby membalas tatapan Jonathan dengan perasaan marah sedangkan pria itu menatapnya dengan wajah datar.
“Maaf kalau saya sudah memanfaatkan kondisi saat itu untuk menjebak bapak, tapi semua itu sungguh di luar rencana dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Saya tidak tahu harus lari kemana dan yang terlintas dalam benak saya hanya Pak Nathan.”
“Jadi selama ini diam-diam saya sudah memenuhi pikiranmu ? Jangan-jangan perdebatan di kelas sengaja kamu ciptakan untuk menarik perhatian saya ?”
Mata Gaby membola menatap Jonathan yang menarik satu sudut bibirnya. Sepertinya ucapan Gaby sudah disalahartikan oleh Jonathan !
”Dari seluruh siswi SMA Dharma Bangsa, saya menempati urutan pertama sebagai haters Pak Nathan.”
“Dan Doni adalah pria yang kamu suka ?” ejek Jonathan.
Gaby mendorong pria itu dan secepatnya menjauh, ke arah pintu darurat lantai 2.
“Saya memang sudah suka pada Doni sejak kelas 8.”
Jonathan terkejut mendengar jawaban Gaby dan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Gaby sudah meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Anonymous
triple kill aku jadi jonathan malu banget…..
2023-10-21
2
ike sihab
sabar gebby semangat yaaa,,,demi cita2 mu,,,ayoo thooorr but musuh geby klepek2😀😀
2023-08-03
2
shafana
lanjut Thor .
2023-08-03
2