“Gaby, kamu nggak boleh duduk di situ !”
Pak Arif, guru fisika menyuruhnya pindah padahal posisi yang ditempati Gaby adalah tempat favoritnya di dalam bus.
Hari ini seluruh kelas 11 akan berangkat ke Muntilan hingga 4 hari ke depan. Mereka akan tinggal di rumah-rumah penduduk di kawasan pedesaan dimana masing-masing rumah akan menerima 2-3 siswa.
Mereka akan belajar tentang kehidupan, kebiasaan dan membantu pekerjaan sehari-hari para keluarga yang menampungnya.
“Tapi saya biasa duduk di sini, Pak.”
”Gaby, kali ini perjalanannya cukup jauh, badan kamu terlalu kecil dan tidak ada sabuk pengaman yang bisa memastikan kamu tidak akan tergelincir ke bawah.”
“Makanya tinggin tuh badan,” ledek Joni sambil tertawa.
“Perlu makan galah kayak elo ?” ketus Gaby.
Danu yang ada di samping Joni ikut tertawa. Sudah biasa mendengar Joni adu mulut dengan Gaby, gadis yang ditaksirnya.
Melihat tatapan mata Pak Arif yang tidak bisa dibantah akhirnya Gaby mengalah.
“Kamu mau ngapain ?” tanya Pak Arif saat melihat Joni beranjak dari kursinya.
”Mau duduk di situ, jagain Gaby,” sahutnya sambil menunjuk kursi yang tadi ditempati Gaby.
“Gue nggak butuh babysitter !” tolak Gaby sambil mendorong Joni supaya kembali duduk.
“Biar Pak Nathan yang duduk di situ.”
“What ?”
Mata Gaby langsung membola lalu ia menggerutu kesal. Sudah pasti rencana ini adalah konspirasi karena Pak Arif adalah salah satu guru yang tahu soal status Jonathan dan Gaby.
Pak Arif sendiri terlihat acuh, tidak peduli dengan kekesalan Gaby. Dan benar saja, begitu Jonathan masuk ke dalam bus, tidak ada pilihan lain selain duduk di sebelah Gaby.
Jonathan sendiri terlihat tidak peduli, tidak menyapa Gaby apalagi menunjukkan wajah bahagia kalau bisa duduk di samping istrinya, malah ia tengah berpikir kalau Gaby-lah yang sengaja menyiapkan tempat untuknya.
Gaby menghela nafas tapi sudah tidak bisa pindah karena bangku lainnya sudah terisi penuh dan di sisi kanan Pak Arif juga digunakan untuk meletakkan berbagai perlengkapan.
(MIMI) Asyiknya bisa sebelahan sama si guru ganteng sekalian suami. Jangan lupa pura-pura tidurnya jatuh ke kiri, jangan ke kanan. 😘😘😘
(GABY) Mau tukeran tempat ? Gratis !
(MIMI) No, thanks 😄😄😄
Gaby menghela nafas karena yakin masalah ini akan jadi bahan hinaan baru untuk Jonathan yang menganggap dirinya sebagai cewek gampangan.
*****
“Pacarnya Pak Nathan datang kemari. Katanya sih nggak sengaja lagi ada kerjaan di dekat sini.”
Mimi dan Gaby yang sedang asyik memetik cabai saling menatap. Beberapa anak mencari alasan untuk melihat wanita yang disebut “pacarnya Pak Nathan”
“Elo tau darimana kalau yang datang itu pacarnya Pak Nathan ?” tanya Mimi pada Chika yang tadi datang membawa informasi terkini itu.
“Ibu Farah. Bibirnya langsung nyinyir soalnya kalah cakep sama pacarnya Pak Nathan. Demi menutupi minder, langsung deh cari-cari kejelekan orang,” sahut Chika sambil tertawa.
Tidak lama hanya tersisa sekitar 8 orang termasuk Mimi dan Gaby yang masih setia memetik cabai.
“Elo mau lihat juga ?” tanya Mimi.
“Nggak usah, paling juga Mbak Maya yang datang.”
“Elo nggak cemburu ?”
“Helow Mimi, gue menerima pernikahan sama Pak Nathan karena kondisi papi bukan cinta jadi jangan harap ada kata cemburu.”
“Siapa tahu aja,” ujar Mimi sambil cekikikan.
Mereka pun kembali asyik memetik cabai sambil ngobrol dan sesekali berbincang dengan yang lainnya.
“Woi pemetik cabe, kalian semua disuruh berhenti dulu, ada undangan makan-makan di balai desa.”
”Beneran Nu ? Kok tumben banget ?” tanya Mimi dengan wajah tidak percaya.
“Beneran sih, ngapain gue khusus kemari buat isengin elo pada.”
“Rejeki anak soleh, Mi,” celetuk Irma yang ada di kebun cabe itu juga.
Akhirnya usai meletakkan bakul-bakul cabe di gubuk bambu yang ada di dekat situ, semua anak yang ada di kebun pergi ke balai desa.
“Gab,” Mimi langsung menyenggol lengan sahabatnya.
Gaby yang sedang ngobrol dengan Danu menoleh dan mengikuti isyarat mata Mimi. Ternyata sponsor acara pagi ini bukan kepala desa tapi “kekasih Pak Nathan” yang khusus datang membawa aneka kue kekinian.
Bukan hanya murid yang tinggal di desa Menayu diundang ke balai desa tapi para guru dan beberapa pamong desa ikut hadir. Gaby langsung membuang muka saat matanya tidak sengaja bertemu dengan Jonathan yang tengah menatapnya sambil tersenyum mengejek.
Ini baru namanya pencitraan, Pak Nathan, batin Gaby.
Melihat sikap Maya yang sedikit berlebihan mencari simpati murid-murid rasanya Gaby enggan antri mengambil makanan, apalagi ada Jonathan berdiri di samping wanita itu dengan muka songongnya.
“Gab !”
Gaby menoleh dan mendapati Joni mengangkat piring sambil menunjuk kue-kue yang ada di atasnya.
“Udah gue ambilin.” lanjut Joni dengan gerakan bibir tanpa suara.
Gaby terlihat ragu tapi tanpa terduga Mimi malah mendorongnya untuk keluar barisan dan menghampiri Joni. Sejak tadi Mimi juga melihat kegelisahan Gaby karena harus berhadapan dengan suami dan “mantan kekasihnya” itu. Mimi langsung jijik melihat sikap Maya yang over acting dan tidak malu disebut kekasih Pak Nathan di depan guru-guru, pamong desa dan teman-temannya.
“Udah sana !”
Mimi mengibaskan tangannya saat Gaby menoleh ke arahnya.
“Jadi Gaby doang nih yang diambilin ?” ledek Mimi yang sengaja berbicara cukup keras hingga menarik perhatian semua yang ada di situ.
Teman-teman mereka yang sudah tahu soal Joni yang naksir Mimi langsung riuh, bercie-cie dan mulai terdengar celetukan di sana sini.
“Elo juga boleh, Mimi sayang, soalnya gue yakin baby Gaby nggak bakalan habis juga.”
Joni yang suka membanyol itu malah menanggapi ledekan Mimi dengan kalimat yang semakin mengundang kehebohan.
”Langsung 2 istri, Jon ?” ledek Yadi yang duduk dekat mereka.
”1 istri, 1 selir atuh,” sahut Joni sambil menaikturunkan alisnya menatap Gaby.
Candaan Joni tambah membuat suasana semakin ramai sementara Gaby memutar bola matanya sambil geleng-geleng.
Hampir saja Gaby melipir tapi begitu teringat dengan situasi yang sedang dihadapinya soal Jonathan dan Maya, dengan gaya cueknya, Gaby malah mendekati Joni sambil tersenyum.
“Doni mana Doni….Hati elo kebakaran nggak ?” celetuk Mega kawan sekelas mereka.
Doni, pria berkacamata yang cukup tampan itu juga sudah lama naksir Gaby tapi belum berani mengungkapkan perasaannya langsung seperti Joni.
“Tenang, gue bukan tipe penyabot, jadi biar Gaby aja yang menentukan mau yang mana.”
Wajah Gaby langsung merona saat Joni berdiri dan menggandeng lengannya, mengajak duduk di dekat Doni.
“Elo apaan sih, Jon ?”
“Biar elo bisa merasakan di antara gue dan Doni, mana yang bikin jantung elo berdebar-debar.”
“Huuuu…”
Gaby sudah mau menolak dan duduk di dekat Raina dan Bimbim tapi Danu dan Mimi keburu mendekati mereka dan mendorong Gaby yang sempat bergeming.
”Kita berdua jadi penengahnya, Gab, elo tenang aja. Siapapun pilihan elo, nggak bakal ada perang saudara di kelas XI SOS-2,” ujar Danu dengan wajah sok wibawa sebagai ketua kelas.
Murid-murid yang lain langsung tepuk tangan sambil berceletuk sana-sini
“Jangan lupa PJ nya undang kelas lain,” celetuk Handi dari kelas XI IPA-1.
”Kalau soal itu, tenang aja, yang pasti lebih mewah dari makanan hari ini,” sahut Mimi sengaja dengan suara keras untuk menyindir Maya yang sejak tadi memperhatikan tingkah para murid itu.
“Asseekk !”
“Ditunggu undangannya, Gab.”
Mimi melirik Jonathan yang sudah duduk lagi bersama para guru dan lagi-lagi Maya “nempel” duduk di sampingnya persis kayak ulat bulu, hama pelakor.
Wajah Jonathan terlihat biasa saja, berbincang dengan Pak Gusti dan Pak Arif sambil menikmati kue yang dibawa Maya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Anonymous
cinta terhalang status sosial ya jon hahaha
2023-08-06
1