Pencitraan

Jonathan mencibir diam-diam saat mendengar mama dan adiknya memuji masakan Gaby pagi ini.

Pasti hanya untuk menyenangkan hati anak kecil doang, batin Jonathan.

Tadi pagi ia sempat mengutuki dirinya sendiri yang lupa kalau sudah memiliki istri. Kegiatan lari paginya di setiap akhir pekan atau libur nasional tertunda 10 menit karena saat keluar kamar, Jonathan melipir ke dapur untuk memastikan siapa yang sudah menebar wangi masakan di jam 5.30 pagi !

Untung saja dia tidak langsung menyapa seperti biasa karena Jonathan tidak yakin kalau mama yang sedang masak sepagi ini di hari libur.

“Gimana Nathan, cocok dengan masakan istrimu ?” tanya mama membuyarkan lamunnanya.

Perut Jonathan mendadak mual lagi mendengar mama mengucapkan kata istrimu, tapi tangannya bergerak juga memasukkan nasi goreng yang sudah ada di sendoknya.

Ketiga wanita yang duduk di meja makan fokus menatap Jonathan, menunggu reaksi saat nasi goreng menyentuh lidahnya untuk kedua kalinya. Tanpa sadar Jonathan malah mengangguk dan mengucapkan kata yang pantang dilontarkannya.

”Enak.”

Ketiganya menarik nafas lega dan tiga detik kemudian mata Jonathan membola karena baru sadar otak dan lidahnya tidak sejalan. Ia sudah bersiap-siap mencela dan mencari gara-gara untuk menjatuhkan Gaby tapi malah pujian keluar dari mulutnya.

S**hit ! maki Jonathan dalam hatinya.

“Ini telor mata sapi setengah matang kesukaan Mas Nathan. Gaby juga taunya dari Mama.”

Mata Jonathan kembali membola menatap Gaby yang duduk di sebelahnya. Sepotong telor mata sapi sudah pindah ke atas piringnya.

”Mas Nathan ?” Jonathan mengulang ucapan Gaby dengan dahi berkerut. Di seberang Gaby, Jenny sudah cekikikan melihat ekspresi kakaknya.

”Mama yang suruh. Gaby kan sudah jadi istrimu yang sah jadi selain di sekolah, Mama melarangnya memanggil kamu bapak. Dia kan nggak selamanya jadi muridmu.”

“Kalau Gaby panggil bapak terus bisa-bisa Kak Nathan disangka sugar daddy tapi kere,” ledek Jenny sambil tertawa.

Mama ikut tersenyum melihat Jonathan melirik adiknya dengan wajah ditekuk.

“Awas jangan kelepasan kalau di sekolah !” tegas Jonathan sambil mengangkat telunjuk kanannya. Gaby mengangguk sambil tersenyum.

Pencitraan, gerutu Jonathan dalam hati.

Kalau bukan dipaksa mama, Jonathan ingin kabur dan memilih jajan bubur ayam di taman yang ada dekat pintu masuk komplek. Perutnya lapar dan nasi goreng buatan Gaby memang enak tapi hati masih gengsi untuk mengakuinya apalagi menunjukkan kalau Jonathan menyukai masakan istrinya.

Usai sarapan, Jonathan langsung ke belakang, siap-siap mencuci pakaian yang sudah jadi tugas rutinnya seminggu sekali. Tapi ia kembali dikejutkan saat melihat jemuran dipenuhi pakaian yang sudah dicuci, wangi pula. Pakaian dalam miliknya juga sudah digantung dengan jemuran khusus digabung dengan milik wanita-wanita yang ada di rumah itu.

“Gaby yang cuci pakaian,” ujar Jenny sambil bersandar di pintu belakang.

“Sambil nunggu Kak Nathan mandi, aku dan Gaby menjemur pakaian yang sudah dia cuci tadi pagi.”

”Yakin bersih ?” sindir Jonathan.

”Cium aja masih bau ketek kakak nggak,” ledek Jenny sambil tertawa. Jonathan melotot sambil menggerutu.

Tidak perlu dicium langsung, wangi pelembut pakaian sudah terasa di hidungnya.

“Mama aja nggak nyangka kalau Gaby ternyata biasa kerja. Menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh keluarganya adalah tugas Gaby setiap hari. Mulanya karena kewajiban dari ibu tirinya tapi lama-lama Om Hendri hanya mau sarapan yang disiapkan Gaby bukan istri atau anaknya yang lain.”

“Kamu yakin cerita dia bukan hoax hanya untuk menarik simpati ?” ejek Jonathan sambil tersenyum sinis.

“Bukan Gaby yang cerita tapi om Hendri yang cerita sama mama. Om Hendri bilang ia pasti akan sering kangen masakan Gaby.”

Jonathan hanya mencebik sambil melewati Jenny.

”Kamu balik naik kereta atau bus ? Harus sampai stasiun jam berapa ?” tanya Jonathan.

Jenny memang khusus pulang ke Jakarta sejak Kamis malam demi pernikahan kakak satu-satunya. Sayangnya Jonathan dan Gaby tidak menikah di liburan semester hingga Jenny harus kembali ke Semarang di hari Minggu ini.

“Gaby membelikan tiket pesawat sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah khusus datang sampai bolos segala.”

“Dia memang paling pintar cari simpati orang !” gerutu Jonathan dengan wajah kesal.

Jonathan bergegas naik ke atas meninggalkan Jenny yang berdiri di ujung tangga menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sampai di kamar ternyata Gaby baru selesai memindahkan isi kopernya ke dalam lemari.

“Jangan berlagak sok kaya pada keluarga saya !” tegas Jonathan dengan nada galak dan berdiri di dekat Gaby sambil bertolak pinggang.

“Maksud Mas… eh… Pak Nathan ?” Gaby mengerutkan dahi.

“Ngapain kamu beliin Jenny tiket pesawat ?”

“Tiket bus tinggal yang malam begitu juga dengan kereta api. Ada yang siang tapi harganya lebih mahal daripada pesawat jadi saya hanya berpikir ekonomis, lagipula dengan naik pesawat Kak Jenny bisa menghemat waktu dan tenaga juga.”

Jonathan mengerutkan dahi, cara bicara Gaby sangat berbeda dengan di kelas saat berdebat dengannya. Jonathan tersenyum smirk, ia berpikir kalau ancaman surat cerai itu ampuh juga untuk menjinakkan Gaby.

”Kak Jenny bilang kalau besok nggak ada ujian, tidak masalah ia bolos sehari lagi dan bisa ambil kereta malam.”

“Mau kemana ?” tanya Jonathan saat Gaby melewatinya.

”Mau simpan koper ini di gudang.”

“Nggak usah ngadu sama mama kalau kita nggak tidur seranjang !”

Gaby menghentikan langkah dan berbalik berhadapan dengan Jonathan.

“Saya bukan perempuan tukang ngadu apalagi sama mertua. Saya hanya mau ijin membeli sofa untuk saya tidur di kamar ini. Tidak mungkin selama 4 tahun saya tidur di lantai menggunakan gulungan karpet dan bed cover. Kalau saya mati mendadak, bapak nggak bakalan pusing, akan jadi masalah kalau saya pakai acara koma dulu, berbulan-bulan sakit karena masuk angin.”

“Lebay ! Mana ada orang masuk angin sampai koma. Saya tidak mengijinkan kamu menambah sofa . Sekarang saja kamar saya mendadak terasa sempit apalagi kamu tambahkan sofa segala.”

“Kalau begitu ijinkan saya beli kasur lipat karena lantai kamar ini dingin banget saat subuh. Saya sendiri tidak terlalu kuat tidur pakai AC.”

“Kamu memang paling pintar cari simpati orang dengan cerita-cerita melow,” sinis Jonathan.

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk mendengarkan drama kehidupan saya,” sahut Gaby sambil tersenyum sinis juga. Ia berjalan ke arah pintu, malas berbalas sinis dengan Jonathan.

“Mama pasti nanya untuk apa beli kasur gulung apalagi untuk ditaruh di kamar.”

“Saya akan membeli dan membawanya kemari tanpa sepengetahuan Mama. Mulai saat ini tidak ada yang membersihkan kamar Pak Nathan selain saya dengan alasan status saya, jadi tidak usah khawatir mama akan tahu.”

“Kamu benar-benar lihai menarik simpati orang dengan sikap sok polos, sok rajin dan sok pintar. Saya akan memastikan kalau Mama dan Jenny akan melihat kepribadianmu yang sebenarnya dalam waktu dekat.”

“Silakan aja ! Bukankah itu yang bapak inginkan ? Semakin cepat orang bisa melihat keburukan saya berarti jalan untuk menceraikan saya semakin mudah. Sesuai kesepakatan, kita punya kebebasan dengan hidup masing-masing. Silakan bapak berusaha menjatuhkan saya dan jangan melarang saya membuat bapak bertahan dengan pernikahan ini sampai saya cukup umur. Kalau tidak terpaksa, saya juga tidak mau melakukan ini pada Pak Nathan. Tapi tenang saja, saya yakin papi sudah menyiapkam imbalan untuk kesediaan bapak menikahi saya.”

“Kamu kira saya menerima pernikahan ini karena harta ? Kamu lupa dengan sandiwaramu yang membuat semua orang percaya kalau saya berniat memperkosamu ?”

Gaby hanya tersenyum tipis sambil mengangkat mengangkat kedua bahunya.

Ia membuka pintu kamar, membawa kopernya keluar karena tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Jonathan.

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

SERU BANGETTT biasa karakter yang begini2 mah pasti jodoh ya😍😍❤️‍🔥

2023-08-06

4

lihat semua
Episodes
1 Nikah dan Surat Cerai
2 Pencitraan
3 Kedatangan Pelakor
4 Belum Putus
5 Jangan Berharap
6 Inikah Alasannya ?
7 Jangan Kepo
8 Wali dan Istri
9 Ketahuan
10 Rasa yang Tidak Biasa
11 Hamil ?
12 Liburan
13 Efek Kamar Hotel
14 Sebatas Sandiwara
15 Tantangan
16 Ketahuan
17 Cemburukah ?
18 Kepergian Papi
19 Wasiat
20 Tidak Terima
21 Kencan
22 Sepupu
23 Saingan
24 Wali Bukan Suami
25 Saya Cemburu
26 Mulai Panas
27 Tambah Panas
28 Dia Istriku
29 Sakit
30 I Love You
31 Yang Pertama
32 Undur Diri
33 Cinta dan Benci
34 Pamitan
35 Kencan Pertama
36 Bukan Sepupu
37 Serba Emosi
38 Perkebunan Kopi
39 I Love You
40 Serangan Pertama
41 Rubah Betina
42 Kebohongan
43 Membahas Masalah
44 Masalah Baru
45 Unjuk Gigi
46 Tak Terduga
47 Cerita Lalu
48 Rencana Awal
49 Baik dan Buruk
50 Kebohongan dan Niat Baik
51 Segala Kemungkinan
52 Semakin Dekat
53 Belum Usai
54 Cinta dan Racun
55 Musibah Lain
56 Belajar Fokus
57 Masih Berlanjut
58 Mencari Fakta
59 Mulai Bohong
60 Para Pelaku
61 Luka dan Dendam
62 Terluka
63 Ujian yang Sebenarnya
64 Faktanya
65 Bicara Jujur
66 Takdir dan Karma
67 Tak Tergoyahkan
68 Buang Dendammu !
69 Tak Terduga
70 Permintaan Sulit
71 Susah Menolak
72 Istri dan Mantan Kekasih
73 Undangan Reuni
74 Tidak Akan Diam
75 Berpikir Jernih
76 Mencintaimu
77 Salah Tingkah
78 Nasehat Sahabat
79 Indahnya Persahabatan
80 Permintaan Maaf
81 Yang Pertama
82 Manis dan Pahit
83 Yang Terburuk
84 Belajar Dewasa
85 Berakhir
86 Kekecewaan Orangtua
87 Membesuk Mama
88 Hati yang Galau
89 Hati yang Mengeras
90 Rasa yang Tak Biasa
91 Pria Beristri
92 Perseteruan Dua Pria
93 Rahasia Hati
94 Pria Baru
95 Wanita Misterius
96 Ungkapan Terima Kasih
97 Pria-pria Melow
98 Upaya Perdamaian
99 Istrinya Pak Nathan
100 Cemburunya Gaby
101 Bukan Mantan
102 Pertengkaran
103 Yang Sebenarnya
104 Bertemu Maya
105 Wanita Penuh Sandiwara
106 Dua Kejutan
107 Cinta yang Indah
108 Menjelang Tahun Baru
109 Cerita di Malam Tahun Baru
110 Fakta yang Menyakitkan
111 Bertemu Leo
112 Kedatangan Maya
113 Mereka yang Terluka
114 Hati yang Galau
115 Keraguan Hati
116 Gosip Baru
117 Pisah
118 Bad Mood
119 Hari Terakhir
120 Kesempatan Kedua
121 Kebahagiaan
122 Bahagia yang Sederhana
123 Rilis Novel Baru
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Nikah dan Surat Cerai
2
Pencitraan
3
Kedatangan Pelakor
4
Belum Putus
5
Jangan Berharap
6
Inikah Alasannya ?
7
Jangan Kepo
8
Wali dan Istri
9
Ketahuan
10
Rasa yang Tidak Biasa
11
Hamil ?
12
Liburan
13
Efek Kamar Hotel
14
Sebatas Sandiwara
15
Tantangan
16
Ketahuan
17
Cemburukah ?
18
Kepergian Papi
19
Wasiat
20
Tidak Terima
21
Kencan
22
Sepupu
23
Saingan
24
Wali Bukan Suami
25
Saya Cemburu
26
Mulai Panas
27
Tambah Panas
28
Dia Istriku
29
Sakit
30
I Love You
31
Yang Pertama
32
Undur Diri
33
Cinta dan Benci
34
Pamitan
35
Kencan Pertama
36
Bukan Sepupu
37
Serba Emosi
38
Perkebunan Kopi
39
I Love You
40
Serangan Pertama
41
Rubah Betina
42
Kebohongan
43
Membahas Masalah
44
Masalah Baru
45
Unjuk Gigi
46
Tak Terduga
47
Cerita Lalu
48
Rencana Awal
49
Baik dan Buruk
50
Kebohongan dan Niat Baik
51
Segala Kemungkinan
52
Semakin Dekat
53
Belum Usai
54
Cinta dan Racun
55
Musibah Lain
56
Belajar Fokus
57
Masih Berlanjut
58
Mencari Fakta
59
Mulai Bohong
60
Para Pelaku
61
Luka dan Dendam
62
Terluka
63
Ujian yang Sebenarnya
64
Faktanya
65
Bicara Jujur
66
Takdir dan Karma
67
Tak Tergoyahkan
68
Buang Dendammu !
69
Tak Terduga
70
Permintaan Sulit
71
Susah Menolak
72
Istri dan Mantan Kekasih
73
Undangan Reuni
74
Tidak Akan Diam
75
Berpikir Jernih
76
Mencintaimu
77
Salah Tingkah
78
Nasehat Sahabat
79
Indahnya Persahabatan
80
Permintaan Maaf
81
Yang Pertama
82
Manis dan Pahit
83
Yang Terburuk
84
Belajar Dewasa
85
Berakhir
86
Kekecewaan Orangtua
87
Membesuk Mama
88
Hati yang Galau
89
Hati yang Mengeras
90
Rasa yang Tak Biasa
91
Pria Beristri
92
Perseteruan Dua Pria
93
Rahasia Hati
94
Pria Baru
95
Wanita Misterius
96
Ungkapan Terima Kasih
97
Pria-pria Melow
98
Upaya Perdamaian
99
Istrinya Pak Nathan
100
Cemburunya Gaby
101
Bukan Mantan
102
Pertengkaran
103
Yang Sebenarnya
104
Bertemu Maya
105
Wanita Penuh Sandiwara
106
Dua Kejutan
107
Cinta yang Indah
108
Menjelang Tahun Baru
109
Cerita di Malam Tahun Baru
110
Fakta yang Menyakitkan
111
Bertemu Leo
112
Kedatangan Maya
113
Mereka yang Terluka
114
Hati yang Galau
115
Keraguan Hati
116
Gosip Baru
117
Pisah
118
Bad Mood
119
Hari Terakhir
120
Kesempatan Kedua
121
Kebahagiaan
122
Bahagia yang Sederhana
123
Rilis Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!