Firasat Gabriela langsung tidak enak saat Jonathan berdiri di depan kelas dan Pak Anjas memanggil namanya lalu meminta Gabriela keluar dan membawa tas sekolahnya.
“Ada apa lagi ?” bisik Mimi yang duduk persis di belakang Gabriela.
“Papi mungkin,” lirih Gabriela sambil bergegas merapikan tasnya.
Setelah pamit pada Pak Anjas, Gabriela pun seger mengikuti Jonathan yang sudah jalan duluan.
“Papi kenapa, Pak ?”
“Tadi pingsan saat rapat pagi di kantor dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit.”
Jonathan langsung menggandeng Gabriela yang berjalan ke arah parkiran motor.
“Sudah ada yang jemput.” Jonathan menunjuk ke arah gerbang sekolah dengan gerakan kepalanya.
Gabriela menghela nafas dan sempat melirik tangan Jonathan yang menggandengnya namun bukan saatnya untuk berdebat.
Jonathan memberi isyarat supaya Gabriela masuk duluan saat ia sudah membuka pintu mobil.
“Apa ada berita dari Om Dharma, Pak ?”
“Belum.”
Gabriela menghela nafas dan menyandarkan kepala pada pintu sambil melihat keluar. Jonathan pun ikut menghela nafas, hatinya merasa iba dengan gadis belia di sampingnya. Seharusnya Jonathan tidak membohonginya kalau ia sudah menerima kabar dari Om Sofian. Papi dinyatakan koma oleh dokter.
Gabriela bergegas turun dan langsung menuju lift sementara Jonathan menyusul di belakangnya. Mata Gabriella mengernyit saat pria itu menekan angka 2 padahal ia sudah menekan angka 5.
“Ayo turun,” Jonathan menggandeng tangan Gabriela yang trelihat ragu. “Papi ada di ruang ICU.”
Langkah Gabriela terhenti dan tubuhnya terasa kaku membuat Jonathan menghentikan langkahnya.
“Apa Papi tidak sadar ?” Jonathan mengangguk.
“Jangan takut, aku akan selalu bersamamu.”
Untuk pertama kalinya Jonathan tersenyum tulus tanpa diminta apalagi dipaksa. Gabriela pun menurut dan membiarkan pria itu menuntunnya.
Sampai di depan ruang ICU sudah ada Mama Gina dan kedua putrinya. Lisa segera menghampiri Gabriela dan memeluknya.
“Papi, Kak,”’lirihnya.
“Doakan yang terbaik untuk Papi, Lis.” Gabriela mengusap-usap punggung Lisa padahal hatinya sendiri cemas dan takut tidak menentu.
“Gaby !” dokter Dharma yang baru keluar dari ruang ICU memanggilnya untuk mendekat. Jonathsn puj ikut menemani.
“Papi mau bertemu denganmu, tapi tolong jangan ajak bicara yang terlalu berat.” Gabriela mengangguk dan tanpa diminta Jonathan ikut menemani istrinya.
Bulu kuduk Gabriela meremang karena tegang. Suara bunyi berbagai alat bantu membuat hatinya berdebar hingga keningnya sempat basah oleh peluh.
“Jangan takut, ada aku yang akan selalu menemanimu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian.”
Jonathan menghapus peluh dengan tisu yang ada di tempat ganti pakaian khusus ruang ICU. Gabriela menarik nafas dalam lalu mendongak menatap Jonathan sambil tersenyum lalu kepalanya mengangguk.
Jonathan mengulurkan tangannya, menggandeng Gabriela menemui Papi.
“Papi,” bisik Gabriela.
Pria baya itu membuka matanya perlahan dan tersenyum di balik masker oksigennya. Jemari tangannya bergerak lemah dan matanya mengerjap beberapa kali. Gabriela meraih tangan yang semakin kurus itu dan menggenggamnya.
Seorang perawat mendekat setelah dipanggil Jonathan, berdiri di sisi lain dan membantu membuka masker oksigen sejenak.
Gabriela membungkuk dan mendekatkan telinganya ke bibir Papi.
“Maaf.”
Hanya satu kata iti yang terucap dan perawat tadi kembali memakaikan masker oksigen.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan, Pi. Gaby malah berterima kasih karena Papi sudah membesarkan Gaby bahkan mempersiapkan masa depan Gaby dengan Pak Nathan.”
Papi kembali mengerjapkan matanya dan menarik nafas panjang sebelum akhirnya monitor berbunyi.
Jonathan langsung mengajak Gabriela menepi saat 2 orang perawat mencoba memberikan pertolongan pertama dan seorang perawat lainnya memanggil Dokter Dharma yang masih berdiri di depan ruang ICU, tengah berbincang dengan Om Sofyan.
Jonathan pun membawa Gaby keluar dan tidak sampai 5 menit, Dokter Dharma pun ikut keluar.
“Maaf,” ujarnya dengan wajah sedih.
Mama Gina langsung menangis histeris, berpelukan dengan Jihan dan Lisa yang ikut menangis.
“Yang tabah, Gab,” Dokter Dharma menepuk-neluk pundak Gabriela yang mulai menangis.
Jonathan langsung memeluk tubuh mungil itu dan mengusap-usap punggung Gabriela. Meskipun belum ada cinta di hatinya tapi hati nuraninya tidak akan membiarkan gadis yang berstatus istrinya itu menanggung kesedihan sendirian.
***
Tubuh Papi sudah terbaring menyatu dengan bumi. Semua pelayat sudah meninggalkan pemakaman termasuk Mama Gina, Jihan dan Lisa.
Hanya Gabriela yang masih betah bersimpuh di samping makam Papi, seolah tidak ingin meninggalkan Papi sendirian.
“Kita pulang,” ajak Jonathan yang masih setia menemani.
Gabriela mendongak, tersenyum sambil mengangguk. Tubuhnya limbung karena terlalu lama bersimpuh dan dengan sigap, Jonathan langsung menahannya.
“Terima kasih,” ujar Gabriela sambil tersenyum.
Tatapannya kembali ke makam Papi yang dipenuhi taburan bunga.
“Menangislah kalau kamu ingin menangis, hanya ada aku di sini. Jangan ditahan, hari ini aku tidak akan menertawakanmu sekalipun kamu akan menangis tersedu-sedu,” ujar Jonathan dengan nada santai, berniat ingin membuat hati Gabriela lebih baik.
“Aku ?” Gabriela mendongak dengan dahi berkerut. “Sepertinya hubungan kita tidak sedekat itu.”
“Kamu tidak sadar kalau 2 hari ini aku sudah berusaha menempatkan diri menjadi suami yang baik ?” Jonathan hanya melirik membuat Gabriela malah tertawa pelan.
“Suami kontrak kalau itu maksud Pak Nathan. Terima kasih sudah memerankan suami yang baik dalam 2 hari ini, tapi saya tidak akan pernah lupa kalau bagi Bapak pernikahan kita hanya sekedar di atas kertas dan akan expired saat saya berumur 21 tahun.”
Gabriela menoleh lagi ke arah makam Papi Hendri, menghela nafas dan tersenyum.
“Gaby pulang dulu, Pi. Gaby janji akan baik-baik saja . Semoga papi akan lebih bahagia saat bertemu mami lagi.”
Gabriela melewati Jonathan namun tangan pria itu menahannya.
“Tidak sopan meninggalkan suami sendirian.”
Tanpa minta persetujuan, Jonathan menggandeng Gabriela menuju parkiran mobil.
“Jangan memaksa diri, Pak Nathan. Saya berterima kasih karena Bapak masih bertahan sampai saat ini, tapi tidak usah memaksa diri untuk menerima saya sebagai istri beneran. Papi sudah pergi dengan tenang dan saya pun sudah bisa menerimanya, jadi berhenti pura-pura menjadi suami yang baik.”
Gabriela memasang sabuk pengaman lalu menyenderkan kepalanya pada pintu sambil menatap ke luar jendela.
“Jangan pura-pura tegar, tidak masalah kalau kamu jadi gadis cengeng sementara waktu. Saya bisa meminjamkan bahu untuk tempatmu bersandar.”
Gabriela langsung menoleh, matanya melirik ke atas dimana tangan Jonathan sedang mengusap-usap kepalanya.
“Bapak lupa dengan ucapan sendiri kalau gadis seumur saya mudah baper kalau diperlakukan spesial ?”
“Saya kasih dispensasi khusus karena kejadian luar biasa ini. Jadi tidak ada perdebatan selama masa dispensasi berlaku.”
“Saya tidak perlu dispensasi apapun karena dengan Bapak membiarkan saya tetap tinggal di rumah dan membantu saya menjalankan perusahaan, bagi saya itu sudah lebih dari cukup.”
“Semuanya tidak akan ada yang berubah.”
“Tapi tangan Bapak sebaiknya diangkat dari kepala saya. Sepeti Bapak bilang kalau mungkin saja saya mulai suka sama Pak Nathan. Diperlakukan seperti ini akan membuat saya merasa istimewa dan bisa bikin baper, jadi tolong berhenti jadi aktor suami yang baik di depan saya.”
Gabriela mengangkat tangan Jonathan dari atas kepalanya.
“Bapak akan kesal kalau saya semakin menyukai Pak Nathan dan saya pun akhirnya hanya akan sakit hati karena cinta bapak hanya untuk Ibu Maya.”
Gabriela kembali menyandarkan kepala di pintu dan menatap keluar jendela sementara Jonathan masih menatapnya sambil tersenyum tipis.
Sejujurnya Jonathan sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri sejak pertama kali kembali masuk kelas. Rasanya ada yang terasa berbeda dalam hatinya dan perasaanya mulai menyatu dengan yang dirasakan oleh Gabriela.”
Entahlah, Jonathan belum berani memastikannya. Ia menyalakan mobil dan perlahan meninggalkan area pemakaman.
Selamat tinggal Papi, Gaby pasti akan sering-sering datang kemari. Doakan semoga Gaby bisa menjalankan semua wasiat papi dan mami dengan baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Santhie Adm Ajj Santie
😭😭😭mewek tor
2023-10-26
1
R_3DHE 💪('ω'💪)
😭😭😭😭😭😭
2023-10-11
1