Seminggu berlalu dan libur panjang kenaikan kelas sudah di depan mata. Hari ini semua siswa SMA Dharma Bangsa akan menerima laporan hasil belajar mereka.
”Kenapa ?” tanya Mimi saat melihat Gaby menghela nafas usai membaca pesan di handphonenya.
“Papi nggak bisa datang dan Tante Gina nggak dibolehin papi buat ambil raport gue.”
“Terus elo ambil sendiri ?”
“Pak Nathan.” Mimi langsung tergelak.
“Kok ketawa ?”
“Membayangkan Pak Nathan berhadapan dengan Pak Dimas membahas soal gimana elo di kelas. Bukan Pak Dimas yang kasih laporan tapi Pak Nathan yang curhat gimana dia suka berantem sama elo di kelas.”
“Asem lo ! Udah seminggu ini kita lagi gencatan senjata,” ujar Gaby dengan wajah cemberut.
“Udah unboxing ?”
Gaby langsung melotot mendengar pertanyaan Mimi membuat sahabatnya kembali tergelak.
“Jadi belum unboxing juga ? Pak Nathan kuat juga menahan diri padahal kalian sudah 3 bulan tidur sekamar. Jangan-jangan….”
Mimi sengaja menggantung ucapannya dan melirik Gaby dengan mata menyipit dan senyuman smirk.
“Nggak usah dipikirin, nggak penting juga. Toh pernikahan kita berdua hanya sekedar di atas kertas.”
”Siapa yang nikah ?”
Kedua gadis itu langsung diam dengan mata membola, berharap Doni yang ada di belakang mereka tidak mendengar pembahasan soal Jonathan dan unboxing.
“Elo udah dikejar deadline suruh nikah sekarang ?” tanya Doni kembali dengan posisinya sudah berada di depan Gaby dan Mimi.
Ternyata cowok itu tidak datang sendirian, ada Danu dan Raina yang menghampiri mereka.
“Memang Gaby udah punya calon suami ?” tanya Raina dengan alis menaut.
Doni melirik Gaby sambil memberi isyarat dengan gerakan mulutnya membuat Danu dan Raina fokus menanti jawaban dari Gaby.
“Iya, gue udah dijodohin.”
“Ya ampun, serius lo Gab ? Jangan bilang kalau jodoh elo seumur Pak Liman.”
“Asal !” Gaby menoyor kening Raina.
“Gue langsung patah hati begitu Gaby memberikan kabar buruk itu,” ujar Doni dengan wajah sedih.
“Lebay deh !” gerutu Gaby.
”Eh beneran Gab ? Kenalin dong ke kita-kita,” ledek Danu.
“Bukan selebritis, jadi nggak perlu publikasi,” sahut Gaby.
“Jangan-jangan beneran udah aki-aki cowok yang mau dinikahin sama elo,” ledek Danu sambil tertawa.
“Siapa yang mau nikah ?”
Kelimanya langsung menoleh dan melihat Jonathan berdiri dengan wajah galaknya.
“Gaby mau nikah pas liburan ini, Pak,” sahut Danu
“Gosip !” sahut Gaby sambil menyikut perut Danu hingga cowok itu meringis.
Jonathan tidak menanggapi dan mengalihkan pandangannya ke arah Gaby.
“Temui Pak Dimas sekarang, orangtua kamu nggak bisa datang dan Pak Liman minta saya yang mewakili mereka.”
“Kenapa Bapak ?” tanya Doni spontan dengan mata membola.
“Kamu tanya langsung aja sama Pak Liman,” sahut Jonathan acuh dan memberi isyarat pada Gaby supaya mengikutinya menemui Pak Dimas.
***
“Mau liburan ke Semarang sama mama ? Jenny nggak bisa pulang karena mau PKL, jadi mama yang akan ke sana.”
Malam ini seperti biasanya Jonathan tidak ikut makan malam karena belum sampai di rumah. Entah kemana dan urusan apa, Gaby tidak pernah bertanya karena sudah kesepakatan mereka tidak akan mencampuri urusan masing-masing.
“Mas Nathan ikut juga, Ma ?”
“Mama sudah ajak tapi bilangnya nggak bisa karena lagi sibuk dengan pekerjaannya.”
Gaby terdiam sambil mengunyah makanannya. Tidak mungkin bertanya pada mama pekerjaan yang Jonathan maksud karena mama pasti akan balik bertanya kenapa sebagai istri Gaby tidak tahu apa-apa.
Kegiatan di sekolah sudah libur semua tapi suami Gaby itu masih pergi pagi pulang malam mengenakan pakaian kerja lengkap.
Pikiran Gaby langsung tertuju pada Maya karena mantan kekasih Jonathan sepertinya belum menyerah malah semakin agresif berusaha merebut kembali Jonathan dari Gaby.
Gaby menghela nafas usai menelan makanannya. Tidak lama terdengar suara gerbang dibuka, berarti Jonathan sudah pulang. Lebih awal dari biasanya.
Usai merapikan meja makan dan mencuci piring, Gaby pamit pada mama untuk naik ke kamarnya. Sampai di ujung tangga Gaby mendengar suara gemericik dari dalam kamar mandi hingga Gaby pun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar merapikan pakaian yang baru disetrika hari ini.
“Pak Nathan.”
Jonathan yang sedang berdiri di depan lemari hanya menggerakan kepalanya sekilas tanpa menoleh ke arah Gaby.
“Mama ngajak saya liburan ke Semarang, Pak Nathan ikutan juga ?”
“Kenapa memangnya ? Kamu nggak bakal pergi kalau aku nggak pergi ?”
“Pak Nathan kan lagi sibuk kerja, tiap hari pergi pagi dan pulang sampai malam, kalau saya pergi sama mama, siapa yang akan ngurus rumah.”
“Jangan sok peduli dan bersikap seperti seorang istri karena saya nggak pernah menganggap pernikahan kita sungguhan.”
“Saya tahu tapi…”
“Tidak perlu minta ijin padaku untuk pergi dengan siapa dan kemana kecuali ada hubungannya dengan mama !” tegas Jonathan sambil menatap Gaby dengan muka galaknya.
“Ya, saya nggak akan lupa !” sahut Gaby dengan ketus karena kesal pada Jonathan yang tidak bisa diajak bicara baik-baik.
Pria itu keluar entah kemana, meninggalkan handphonenya yang terus berbunyi di atas nakas. Awalnya Gaby tidak mau peduli tapi bunyi deringnya tidak mau berhenti.
Gaby mendekat dan langsung menghela nafas melihat nama Maya terpampang di layar.
Apa mereka belum puas setelah seharian bersama-sama ? gerutu Gaby.
“Halo.”
Gaby memberanikan diri mengangkat panggilan Maya setelah mencabut handphone Jonathan yang sedang tersambung dengan pengisi daya.
“Kenapa kamu yang angkat telepon Jonathan ?”
Pekikan Maya membuat Gaby menjauhkan posisi handphone karena suara Maya benar-benar memekakkan telinga dan memancing emosi.
“Jam kantor sudah lewat jauh, Mbak dan saya istri sahnya Mas Nathan jadi wajar saja kalau saya mengangkat handphone suami sendiri.”
“Jangan terlalu percaya diri dengan statusmu, bocah tengik !”
“Tolong jangan mengganggu suami orang malam-malam ! Apa tidak malu perempuan seperti Mbak Maya mengemis cinta pada suami orang, pria yang pernah Mbak Maya anggap hanya mainan ?”
“Kamu..”
“Ngapain kamu !”
Suara bentakan Jonathan dari belakangnya membuat Gaby langsung menutup panggilan telepon Maya. Di tempatnya Maya tersenyum licik, merasa senang dan yakin kalau Gaby akan dimarahi habis-habisan oleh Jonathan karena ia sempat mendengar suara pria itu membentak istrinya.
“Angkat telepon dari Mbak Maya,” sahut Gaby sambil menyodorkan handphone Jonathan.
“Berisik ! Mengganggu orang mau tidur. Lain kali matikan deringnya kalau sudah malam apalagi sudah waktunya orang tidur,” lanjut Gaby masih dengan nada ketus.
Gaby melewati Jonathan yang sudah mengambil handphonenya.
“Ngomong apa kamu sama Maya ?” tanya Jonathan menahan lengan Gaby.
“Tanyakan langsung pada kekasih Pak Nathan karena percuma kalau saya yang bicara. Sekalipun saya bilang apa adanya, Pak Nathan pasti tetap lebih percaya dengan cerita Mbak Maya.”
Gaby menghentakkan tangannya dengan kasar dan berjalan menjauhi Jonathan yang menatapnya dengan alis menaut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments