“Gabriela !”
Langkah Gaby terhenti dan matanya membola saat melihat sosok Mario berdiri di dekat gerbang.
Suasana sekolah sudah mulai sepi karena semua anak pulang lebih pagi sementara Gaby mengikuti susulan ulangan karena selama 2 hari Gaby ijin tidak masuk untuk menemani papi di rumah sakit.
“Gaby.”
Reflek Gaby mundur saat Mario berjalan mendekatinya. Meskipun kejadian itu sudah berlalu hampir 3 bulan yang lalu tapi trauma yang Gaby rasakan belum bisa dilupakan begitu saja.
”Gaby !”
Satu panggilan lain kembali menyebut namanya membuat Gaby langsung menarik nafas lega saat melihat Doni berdiri di belakang Mario. Ia pun melambaikan tangan, menyuruh Doni mendekat.
“Udah selesai susulannya ?” tanya Doni dengan suara yang sedikit di dramatisir karena paham dengan ekspresi wajah Gaby.
”Udah. Gue kira elo nggak jadi nungguin.”
Doni semakin yakin kalau Gaby pun sedang bermain drama karena sebelumnya tidak ada perjanjian kalau ia akan menunggu Gaby.
“Jadi dong, Sayang. Jalan sekarang yuk, kayaknya mulai mendung.”
Tanpa sungkan Doni melanjutkan aktingnya dengan menggenggam jemari Gaby. Merasa perlakuan Doni sangat membantu, Gaby pun balas menggenggam jemari Doni.
“Duluan Kak,” pamit Gaby saat melewati Mario yang datang tanpa memakai seragam.
Semua siswa kelas 12 sudah mengakhiri masa pembelajaran mereka di sekolah, hanya tinggal menunggu ijazah keluar.
”Gaby tunggu ! Gue minta waktu sebentar aja. Bukan sekedar minta maaf tapi ada hal lain yang mau gue sampaikan. Please.”
Mario menangkup tangannya di depan wajah dengan nada memohon tapi Gaby sudah menegaskan hatinya untuk menghindari Mario.
”Maaf Kak, saya udah ada janji,” tolak Gaby sambil melepaskan tangan Mario yang memegang lengannya.
”Hanya sebentar, Gab,” pinta Mario kembali memegang lengan Gaby.
“Saya nggak bisa !” suara Gaby sedikit meninggi dan matanya melotot menatap Mario.
“Tolong lepaskan tangan kakak !”
“Gaby udah bilang nggak mau, Bro, tolong jangan maksa.”
Doni yang sejak tadi diam saja akhirnya memegang tangan Mario dan berusaha melepaskannya dari lengan Gaby.
“Gue mau bilang kalau udah lama gue suka sama elo dan itu beneran, jadi nggak mungkin gue sengaja ingin menodai dan menyakiti orang yang gue cinta.”
Mata Gaby membola mendengar pernyataan cinta Mario. Sebetulnya bukan yang pertama kalinya Mario mengungkapkannya tapi kali ini sedikit gila karena ada Doni di antara mereka.
“Gab,” ujar Doni sambil menatap Gaby yang langsung menggeleng pasti.
Doni pun menepis tangan Mario lebih keras dan menarik Gaby menjauhi kakak kelasnya itu.
“Elo hutang cerita sama gue,” ujar Doni membawa Gaby ke parkiran motor.
Sementara dari lantai 2, Jonathan memperhatikan adegan ketiga muridnya itu dengan wajah datar. Selama ini Gaby tidak pernah menonjol di antara kaum pria tapi ternyata istrinya itu punya penggemar fanatik yang perlu diperhitungkan sebagai saingan.
“Jangan sampai menyesal karena sudah mengabaikan wanita yang ternyata menjadi rebutan pria-pria tampan,” ujar Pak Arif sambil menepuk bahu rekan kerjanya itu.
“Saya menyesal karena baru tahu soal ini setelah kami menikah. Pak Arif tahu sendiri alasan kami harus menikah cepat-cepat dan status saya dengan Maya saat itu. Kalau sebelumnya saya tahu Gaby punya banyak penggemar, saya pasti akan bicara pada keluarga kami untuk membatalkan perjodohan konyol itu dan menyuruh keluarga Gaby memilih salah satu di antara mereka.”
”Yakin Pak Nathan akam mengambil keputusan begitu ? Hati-hati Pak Nathan, terkadang mulut tidak bisa sejalan dengan hati,” ujar Pak Arif sambil tertawa pelan dan masuk ke dalam ruang guru.
***
“Tadi Gaby langsung pulang setelah ulangan susulan, Ma. Aku lihat sendiri dia meninggalkan sekolah naik motor.”
“Tapi sampai sekarang Gaby belum pulang Nathan dan handphonenya tidak bisa dihubungi karena sedang tidak aktif.”
Jonathan menghela nafas kesal karena harus membatalkan janji bertemu dengan Kendra, sahabatnya. Padahal Jonathan ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak yang sedang penuh mempersiapkan nilai murid-muridnya untuk kenaikan kelas.
Rasanya pasti aneh kalau Jonathan tiba-tiba menghubungi Danu dan minta tolong pada ketua kelas itu untuk menanyakan Doni soal Gaby karena posisi Jonathan bukanlah walikelas mereka.
Baru saja tangan Jonathan menekan nomor Arif untuk minta bantuan, matanya menangkap sosok yang sedang dicari sedang berjalan keluar dari halaman gedung.
Jonathan melambatkan laju mobilnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah kaca depan untuk membaca tulisan yang terpampang di depan gedung.
Apartemen ? Jonathan mengerutkan dahinya. Dilihatnya Gaby sedang berdiri di pinggir jalan masih mengenakan seragam dan menyandang tas ranselnya. Wajah Gaby terlihat ceria dan bibirnya masih menyunggingkan senyum.
Jonathan semakin melambatkan mobilnya untuk memastikan dengan siapa Gaby akan pulang. Ternyata tidak lama sebuah motor dengan helm hijau berhenti di depannya dan Gaby langsung naik usai memakai helm.
Jonathan kembali mengerutkan dahi memikirkan bagaimana Gaby bisa memesan ojek online sedangkan mama bilang kalau handphone bocah itu tidak bisa dihubungi.
Gerimis mulai turun membuat Jonathan tanpa sadar memacu mobilnya lebih cepat berusaha mengikuti motor yang ditumpangi Gaby namun lalu lintas Jakarta di sore hari tidak memungkinkan.
Hingga 30 menit kemudian, mata Jonathan kembali menangkap sosok Gaby sedang berteduh di depan toko karena hujan semakin deras. Jarak ke rumah masih lumayan jauh hingga akhirnya Jonathan pun memutuskan untuk mengajak Gaby pulang bersamanya.
“Pak Nathan.”
Gaby nampak terkejut saat sosok pria itu sudah berdiri di depannya membawa payung. Sejak tadi kepala Gaby memang tertunduk, membalas pesan wa yang sempat diabaikannya saat di apartemen.
“Ayo pulang, sejak tadi mama mencarimu.”
“Maaf.”
Gaby menurut saat Jonathan memberi isyarat supaya Gaby berlindung di bawah satu payung menuju mobil yang parkir di depan ruko.
“Kenapa tidak membalas pesan mama ?”
“Kehabisan daya, Pak, semalam lupa di charge dan nggak bawa powerbank.”
Jonathan tidak berbicara apa-apa lagi meski hatinya masih penasaran ingin bertanya kenapa Gaby keluar dari parkiran apartemen.
“Kamu kehujanan ?” tanya Jonathan saat melihat tubuh Gaby mengigil.
“Sedikit.”
Jonathan kembali menepikan mobilnya dan mengambil jaket yang biasa dibawanya dari jok penumpang belakang.
“Lain kali langsung pulang ke rumah apalagi langit sudah mendung sejak siang tadi. Malah kamu nggak kasih kabar mama, bikin orang khawatir.”
“Iya, maaf. Selain mati, nggak dapat sinyal juga, Pak.”
“Memangnya kamu kemana sampai nggak dapat sinyal ? Terus gimana caranya bisa hidup lagi ?” tanya Jonathan dengan nada curiga, niatnya ingin membuat Gaby bercerita soal apartemen.
“Pinjam chargeran orang,” sahut Gaby sambil menatap ke jendela samping.
“Siapa ?”
Gaby tidak menjawab hanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Kok diam ?”
“Bukannya kita udah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing ? Saya tidak pernah melarang bapak pergi berduaan sama Mbak Maya dan membiarkan orang-orang berpikir kalau kalian adalah sepasang kekasih, jadi saya juga punya hak untuk tidak memberitahu bapak kemana dan dengan siapa saya pergi hari ini.”
“Kalau kamu tidak membuatku susah karena ditanya-tanya mama, buat apa aku kepo ngurusin hidup kamu !” sahut Jonathan dengan ketus.
“Lain kali saya pasti tidak akan lupa memberi kabar pada mama supaya nggak merepotkan bapak.”
Jonathan mendengus kesal. Kalau tidak ingat mama, rasanya ingin menyuruh bocah ini turun lagi di tengah jalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
ike sihab
ada apa dgn gabyy
2023-08-04
2