“Kalian berlima yang dari tadi bikin heboh, jangan kembali dulu !”
Suara Pak Arif menggelegar membuat Danu dan keempat temannya urung meninggalkan balai desa.
”Maksud Bapak kami berlima yang mana. ?” tanya Joni dengan tampang sok lugunya.
“Ya kamu bertiga si pemeran utama dan kamu berdua yang tadi mau jadi bodyguardnya Gaby,” sahut Pak Arif sambil menunjuk Danu dan Mimi juga.
Tidak lama Raina dan Bimbim ikut bergabung untuk membantu merapikan sisa-sisa kegiatan.
”Kalian berdua mau ngapain ikutan juga ?”
“Kami satu tim kesebelasan, Pak, jadi harus ikut juga,” sahut Bimbim dengan mimik lucunya.
“Terserah, pokoknya, jangan meninggalkan tempat ini sebelum bersih !”
Ketujuhnya mengangguk dan mulai bekerja melipat tikar, memungut sampah yang tercecer dan merapikan bangku-bangku lipat yang tadi digunakan oleh para guru dan pamong desa.
“Gab, laki lo kayaknya sengaja ditahan sama Pak Arif tuh,” bisik Mimi di samping Gaby sambil memunguti sampah.
“Biarin aja. Seharusnya nggak perlu sampai orang lain yang mengingatkan.”
“Elo cemburu, Gab ?”
“Bukan cemburu, Mimi. Sebagian guru di sekolah tahu kalau gue dan Pak Nathan udah nikah sah dan direstui orang tua. Nggak masalah dia tidak menganggap gue istrinya tapi kelakuannya hari ini sama aja tidak menghargai orangtua terutama orangtua gue.”
Mimi merangkul bahu Gaby yang matanya mulai berkaca-kaca tapi pantang untuk mengeluarkan air mata.
”Kalau memang udah sangat kelewatan, lebih baik elo bicara terus terang sama bokap lo aja, Gab, jangan sampai malah mengacaukan semuanya.”
”Gue pasti bisa mengatasinya, Mi, cuma 4 tahun. Hidup dalam kekejaman Tante Gina dan Jihan selama 10 tahun aja berhasil gue lewati dan nggak bikin gue gila, kalau cuma Pak Nathan doang, kecil,” Gaby menjentikkan ujung kelingkingnya.
“Gue hanya berharap papi nggak tahu soal ini supaya nggak kepikiran terus stres dan kankernya makin cepat menyebar.”
“Gue tahu elo pasti bisa, Gab !” Mimi menepuk-nepuk bahu sahabatnya sambil tertawa.
***
“Gabriela !”
Gaby dan Mimi menghentikan langkah mereka dan membalikkan badan. Terlihat Maya berdiri agak jauh dengan wajah sombong dan kedua tangannya terlipat di depan dada.
Dari ketujuh siswa yang membersihkan balai desa, hanya Mimi dan Gaby yang tinggal di satu dusun, lima lainnya tinggal di dusun sebelah.
“Aku mau bicara padamu.”
“Silakan.”
Maya melirik Mimi, dari tatapannya memberi isyarat kalau ia hanya ingin bicara berdua dengan Gaby.
”Dia sahabat saya. Sekarang atau nanti dia akan tahu apa yang Mbak Maya bicarakan dengan saya, jadi kalau Mbak Maya mau ngomong, silakan saja.”
”Mbak Maya ? Sejak kapan kita bersaudara ? Nggak sopan !”
”Saya hanya mengikuti Kak Jenny.”
Maya memutar bola matanya lalu tersenyum mengejek. Tatapannya kembali fokus pada Mimi dan terlihat sangat tajam hingga membuat Mimi akhirnya mengalah.
“Gab, gue duluan aja biar elo lebih leluasa ngomongnya lagian gue enek banget lihat tuh cewek,” bisik Mimi.
“Ya udah,” sahut Gaby sambil mengangguk.
“Di sini nggak ada kafe, banyaknya kolam ikan, Mbak Maya mau bicara dimana ?”
Maya menggerutu lalu mengajak Gaby ke satu tempat yang agak sepi dan jarang dilewati penduduk di jam sibuk seperti sekarang.
“Kamu pasti sudah tahu kalau aku adalah kekasih Jojo sejak 2 tahun lalu dan kehadiranmu dengan pernikahan konyol itu sangat mengganggu tapi tidak membuat hubungan kami kandas begitu saja.”
Gaby mengerutkan dahi menatap wanita di depannya sedang tersenyum sombong dan ekspresi wajahnya sejahat penyihir di film-film,
“Apakah Mbak Maya tahu kalau perempuan yang hadir di antara pasangan suami istri yang sah disebut pelakor ?”
“Berhenti memanggil saya mbak !” bentak Maya. “Dan sekarang kamu berani mengatai saya pelakor ?”
Gaby hanya tersenyum tipis dan kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Mbak Maya adalah wanita yang cantik, pintar, kaya dan seorang eksekutif yang disegani banyak orang. Apa Mbak sanggup mendapat cap pelakor dari banyak orang ? Saya tahu kalau Mas Nathan bukanlah satu-satunya pria dalam hidup Mbak Maya, saya pernah melihat langsung dan menyimpannya sebagai bukti. Tapi tenang saja, saya nggak akan pernah memberitahu Mas Nathan karena saya akan membuatnya jatuh cinta pada saya bukan karena ancaman tapi karena Mas Nathan sendiri yang menginginkannya.”
“Kamu mengancamku ?”
Mata Maya membelalak, ia mencengkram lengan Gaby cukup kuat dan sepertinya kukunya yang panjang ada yang menancap hingga Gaby meringis lalu berusaha menepisnya
“Lepaskan saya ! Saya bukan perempuan seperti Mbak Maya yang suka menekan orang dengan ancaman. Saya hanya mempertahankan hak saya sebagai istri Mas Nathan yang sah. Saya tahu kalau Mas Nathan tidak memenuhi standar Mbak Maya sebagai suami idaman, jadi berhenti mempermainkan perasaan suami saya.”
“Suami ? Istri yang sah ?” sinis Maya sambil tersenyum mengejek dan mendekati Maya.
“Jadi kamu lebih tahu standar pria yang saya cari ?” Maya mencengkram kaos Gaby namun ekspresi gadis mungil di depannya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
“Saya punya koleksi foto pria-pria yang pernah jadi teman kencan Mbak Maya. Pria-pria kaya yang hanya menikmati hubungan fisik bukan hati.”
“Dasar anak kecil sok tahu !”
Gaby langsung menahan tangan Maya yang berusaha menamparnya. Ia sudah terbiasa membaca gerakan semacam ini sejak tinggal bersama Tante Gina dan Jihan.
“Jangan coba-coba menyentuh saya dengan cara seperti ini !” tegas Gaby dengan tatapan tajam.
“Baru menyandang gelar istri Jonathan, tingkahmu sudah kayak jagoan !”
Maya menjambak rambut Gaby hingga kuncirannya terlepas dan spontan Gaby melawannya, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Maya hingga tanpa sengaja Maya terdorong masuk ke dalam kolam ikan yang ada dekat situ sedangkan Gaby tersungkur ke tanah dan kakinya sempat terantuk batu hingga terluka.
Pekikan Maya membuat Jonathan dan Arif yang sedang melintas langsung mencari sumber suara. Melihat Maya di sedang berdiri di kolam dengan tubuh basah kuyup dan bajunya kotor, spontan Jonathan menghampirinya dan langsung mengulurkan tangan untuk membantu Maya keluar dari kolam.
Arif yang melihat Gaby masih duduk di atas tanah sambil meringis menggelengkan kepala lalu bergegas mendekati muridnya itu.
“Kamu nggak apa-apa ?” tanya Arif.
“Tersandung batu, Pak.”
“Nathan, Gaby terluka.”
“Tolong bantu obati, saya urus Bu Maya dulu.”
Arif beranjak bangun dan mendekati Jonathan yang sedang memapah Maya.
“Nathan, dia istrimu ! Darahnya cukup banyak sedangkan Bu Maya hanya basah kuyup !”
“Saya juga cedera Pak Arif dan murid bapak jugalah yang menyebabkan saya begini, dia mendorong saya ke kolam ikan lalu pura-pura terluka biar tidak dianggap salah.”
“Nathan…”
Jonathan mengabaikan ucapan rekan gurunya dan berencana membawa Maya ke rumah penduduk terdekat sambil menghubungi salah satu karyawan Maya yang tadi ikut membantu di balai desa untuk membawakan pakaian ganti.
Arif menghela nafas kesal dan mendahului mereka ke jalan utama.
“Doni !”
Arif langsung memanggil Doni yang sedang berjalan dengan Danu entah mau kemana.
“Tolong bantu gendong Gaby. Dia baru saja terjatuh dan kakinya terkilir,” Arif sengaja mengeraskan suaranya.
Danu dan Doni sempat melirik Jonathan yang masih memapah Maya. Guru matematika itu pun sempat melirik kedua muridnya namun akhirnya memilih melanjutkan perjalanan membawa Maya yang tersenyum penuh kemenangan di sampingnya.
Doni bergegas mencari Gaby dan benar dugaan Arif kalau kaki Gaby bukan hanya terluka tapi juga terkilir.
“Tidak usah digendong, gue masih bisa jalan pakai kaki sebelah. Tolong bantu gue bangun aja.”
Doni tidak menyahut. Ia melepaskan bandana yang terikat di kepalanya untuk menutupi luka di dekat mata kaki Gaby.
“Ehem… ehem… “ ledek Danu saat Doni tetap menggendong Gaby sampai ke rumah keluarga yang ditempatinya.
“Awas sebar gosip !” ancam Gaby. Danu hanya senyum-senyum sedangkan Arif menatap muridnya itu dengan iba sekaligus kesal pada Jonathan.
Sepertinya tanpa perlu Danu berbicara, berita Doni menggendong Gaby yang terkilir karena jatuh akhirnya benar-benar menyebar karena dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan beberapa murid yang baru kembali dari kebun atau kolam untuk makan siang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments