Untuk pertama kalinya Gabriela bisa pergi ke mal sebagai remaja yang bebas. Selama ini, Mama Gina selalu punya seribu alasan untuk melarangnya pergi bersama Mimi atau teman-temannya hingga akhirnya mereka tidak pernah lagi mengajaknya pergi.
Jumat pagi, setelah minta ijin pada mama tapi tanpa memberitahu Jonathan, Gabriela pergi bertemu Mimi untuk menghabiskan sisa liburan yang tinggal 3 hari lagi.
“Tambah cantik aja nih istrinya pak guru,” ledek Mimi sambil cipika cipiki saat bertemu di depan pintu mal.
“Istri kontrak, “ sahut Gabriela sambil terkekeh.
“Tapi beneran Gab, elo kelihatan agak beda padahal baru 4 mingguan nggak ketemu gue, Jangan bilang karena elo dan Pak Nathan…. “
“Dasar cewek mesum,” Gabriela mencibir sambil memutar bola matanya. “Seharusnya elo udah tahu jawabannya. Gue tambah cakep bukan karena Pak Nathan tapi karena 4 minggu nggak ketemu sama elo yang biasanya bikin gue stress.”
“Asem lo, Gab. Bestie lucu dan menggemaskan gini mana mungkin bisa bikin elo stress.”
Gabriela tertawa dan keduanya pun masuk ke dalam mal. Suasana hati Gabriela benar-benar bahagia dan merasa hidupnya merdeka dari rasa tertekan meskipun hidup perkawinannya dengan Jonathan penuh sandiwara, tapi setidaknya pria berstatus suaminya itu tidak pernah melakukan kekerasan fisik dan verbal.
“Gimana kabarnya Pak Ganteng ?” tanya Mimi saat keduanya memutuskan langsung makan dulu untuk menghindari antrian panjang saat jam makan siang.
“Tiga hari lagi juga elo ketemu. Dia masih tetap jadi guru matematika di SMA Dharma Bangsa, jutek dan sok galak tapi sepertinya bakal nambah penggemar dari kelas 10 yang baru masuk lalu sisanya nggak ada yang nambah atau kurang,” ujar Gabriela dengan wajah seperti sedang berpikir.
“Kalau masalah statusnya sebagai guru nggak penting buat gue. Yang gue maksud gimana sikapnya sebagai suami ? Udah ada kemajuan ? Kan banyak kesempatan untuk bonding time selama liburan.”
Gabriela tertawa getir mendengar pertanyaan Mimi dan membiarkan pelayan menyajikan pesanan mereka sebelum menjawab.
“Bonding time dari Jupiter,” Gabriela mencebik lalu tertawa. “Sejak libur, Pak Nathan malah hampir setiap hari pulang malam, Sabtu juga kerja. Sempat liburan 4 hari ke Semarang, tapi jauh dari kata indah karena selama 4 hari itu kita berdua hanya jadi pemain sinetron yang harus menjalankan peran sesuai skenario di depan Papi, Mama dan Jenny.”
“Beneran Pak Nathan nggak menunjukkan sikap gimana gitu sebagai suami biarpun hanya sekedar suami kontrak ?”
Gabriela menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengingat banyak kejadian dalam 3 bulan terakhir ini. Yang berkesan hanya saat Jonathan mengobati jarinya yang terluka karena terkena pisau.
“Nggak ada,” tegas Gabriela sambil menggeleng.
Keduanya sempat terdiam dan menarik piring makanan pesanan mereka.
“Elo sendiri gimana liburan ke Jepang ? Udah berhasil membobol kartu kredit nyokap ?”
“Berkesan suasana Jepang-nya tapi harus gigit jari soal belanjanya,” dumel Mimi sambil mengunyah sisa spagethi di dalam mulutnya.
“Kali ini gue nggak dikasih pegang kartu kredit, setiap kali belanja harus ajak nyokap dan barang yang mau dibeli pun harus melewati tahap seleksi soalnya bayarnya pakai kartu kredit nyokap.”
Gabriela tertawa melihat wajah kesal sahabatnya yang gagal mewujudkan impiannya saat diajak berlibur ke Jepang bersama keluarganya.
“Herannya kalau lagi pergi ke toko, Mami tuh pinginnya malah beliin elo terus. Tuh hasilnya ada di kantong yang tadi gue kasih. Tapi gue senang karena kali ini pemberian gue nggak bakal kena pajak Mama Gina dan Jihan.”
Gabriela mengangguk-angguk sambil tertawa, membenarkan ucapan Mimi. Selama ini semua barang yang dimiliki oleh Gabriela diambil tanpa ijin oleh Mama Gina atau Jihan.
Selesai makan, keduanya lanjut berkeliling mal yang cukup ramai meski di siang hari. Sepertinya banyak orang yang memanfaatkan hari-hari terakhir liburan sekolah.
“Nggak terasa kita udah kelas 12 aja. Gab. Sebentar lagi jadi anak kuliah dan…”
Mimi baru sadar kalau ia bicara sendiri karena Gabriela tidak ada di sampingnya. Ia langsung menoleh ke belakang dan melihat sahabatnya bergeming sambil menatap ke arah restoran khas Jepang yang ada di sisi kanan mereka.
“Gab,” panggil Mimi begitu berdiri di dekatnya. Mimi tahu apa yang membuat Gabriela berhenti dan diam di tempatnya.
Di depan restoran itu terlihat sepasang pria dan wanita sedang berdiri melihat-lihat menu sambil menunggu antrian masuk. Hati Mimi ikut berdesir, merasakan apa yang sedang dialami oleh sahabatnya itu.
Tanpa terduga ternyata Gabriela bergerak maju mendekati pasangan yang sedang berbincang dengan mesra dan tangan si wanita memeluk pinggang si pria yang sedang tertawa-tawa. Mimi bergegas menyusul Gabriela, berjaga-jaga seandainya sahabatnya membutuhkan bantuan.
“Selamat siang Pak Nathan,” sapa Gabriela membuat mata pria langsung membola saat menoleh ke belakang.
“Selamat siang Pak Nathan,” Mimi ikut menyapa sekaligus ingin menegaskan kalau Gabriela tidak sendirian.
“Murid-murid kamu, Sayang ?” tanya si wanita dengan nada manja dan tangannya masih betah memeluk pinggang Jonathan.
“Selamat siang Bu Maya,” sapa Gabriela sambil tersenyum.
“Loh kamu kok tahu nama saya ? Apa Pak Nathan suka cerita soal saya ?” Maya bersandiwara dan sengaja semakin manja pada Jonathan, padahal ia tahu kalau Gabriela adalah perempuan yang dijodohkan dengan kekasihnya.
“Pak Nathan nggak pernah cerita, tapi pernah membawa Ibu pada acara pekan olahraga tahun lalu. Semoga Ibu belum terlalu tua untuk mengingatnya,” sahut Gabriela masih dengan wajah tersenyum.
“Wah iya, ingatan kamu ternyata bagus banget, pasti kamu pintar matematika,” sahut Maya masih dengan senyuman palsunya meski dalam hatinya ia memaki karena sindiran Gabriela.
“Ingatan bagus berarti jago hafalan, Bu, bukan matematika,” sahut Mimi dengan senyuman menyindir,
“Eh, maksud saya kurang lebih begitu.”
Percakapan itu terputus saat seorang pelayan memberitahu kalau Jonathan dan Maya bisa masuk karena sudah gilirannya.
“Kalau begitu kita masuk dulu, ya. Sampai ketemu lagi,” ujar Maya sambil memberi isyarat pada Jonathan yang sejak tadi diam saja.
Bukannya pergi, Gabriela malah mendekati pelayan yang tadi dan berbincang sebentar sebelum akhirnya kembali pada ketiga orang yang masih berdiri di depan pintu.
“Kebetulan kami berdua belum makan dan sudah lama saya ingin mencoba menu di sini. Tapi seperti bapak dan ibu tahu kalau restoran ini sering penuh dan susah mendapat tempat terutama di waktu libur dan jam makan siang. Tadi saya sudah bicara dengan pelayan, tidak masalah saya dan Mimi ikut bergabung karena meja yang disiapkan memang untuk 4 orang. Bukan mau minta traktir sama Pak Nathan, tapi demi efisiensi tempat. Saya sudah minta supaya tagihan makanan kami dipisah.”
Mata Jonathan dan Maya langsung membola dan Mimi hampir saja terbahak karena tidak menduga kalau Gabriela malah menantang suaminya yang kedapatan selingkuh dengan mantan pacarnya.
“Silakan Bapak dan Ibu duluan,” Gabriela mempersilakan pasangan selingkuh itu untuk berjalan duluan.
Jonathan sempat menahan lengan Maya dan berniat membatalkan acara makan siang mereka di situ, tapi Maya malah tersenyum tipis, seolah mengejek sikap Gabriela yang sok manis.
“Kasihan muridmu kalau sampai kita nggak jadi. Kamu nggak lihat bagaimana mereka begitu bersemangat untuk makan bersama guru idola di SMA ?” sindir Maya sambil tersenyum sedikit sinis.
Gabriela seolah tidak menangkap niat busuk itu, ia melirik Jonathan yang berkali-kali menghela nafas berat dan sempat mengusap tengkuknya.
Jangan pikir saya akan mundur dan menyerah untuk perempuan seperti ini, Pak. Sudah saya tegaskan selama Papi masih hidup, tidak boleh ada perselingkuhan apalagi di depan umum seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
ike sihab
kereen gaby,,,,semangat terus pantang menyerah klo perlu buat jonathan salfok 😀😀✌
2023-08-07
3