Cemburukah ?

“Jadi kalian sudah jadian ?” tanya Jonathan saat Gabriela menemaninya makan malam.

“Maksudnya ?”

”Jangan pura-pura bodoh, kamu dan Doni.”

“Bapak mulai peduli pada saya ?” Gabriela melirik dan hanya tersenyum sinis.

“Sudah saya duga kalau abege seperti kalian mudah salah tangkap dengan pertanyaan orang lain,” Jonathan balas tersenyum sinis.

“Kalau sudah tahu saya akan bereaksi begitu, ngapain Bapak nanya ?”

Jonatan menggerutu dan meneruskan makan malamnya tanpa bertanya lagi.

“Bapak kelaparan atau doyan ?” tanya Gabriela saat melihat Jonathan menambah nasi dan lauk ke atas piringnya.

“Kenapa ? Mau pamer kalau masakanmu sudah cocok untuk dijadikan calon menantu ?”

“Waah hebat, Bapak ternyata ingat akan ucapan Bimbim,” Gabriela tertawa sambil mengacungkan jempolnya.

“Jangan bilang Bapak ingat ucapan Bimbim karena cemburu ?” Mata Gabriela menyipit, menelisik wajah Jonathan yang langsung mencibir. Bibir Gabriela tersenyum menggoda Jonathan.

“Cemburu ? Tunggu…”

“Matahari terbit di barat ?” potong Gabriela cepat sambil tertawa mengejek.

“Hati-hati akan datang waktunya matahari terbit di barat demi Bapak.”

Jonathan kembali menggerutu dengan wajah cemberut. Kesal karena setiap ucapannya seperti bumerang, selalu balik menyerangnya.

“Terima kasih karena Bapak suka masakan saya. Meskipun Bapak tidak mengucapkan apa-apa, tapi cukup melihat cara Bapak makan, saya sudah bahagia,” ujar Gabriela sambil tersenyum dan beranjak dari kursi lalu mengangkat piring kosong bekas makan suaminya.

Jonathan menatap punggung Gabriela yang masuk ke dalam dapur. Kenapa semua percakapan mereka malam ini menempatkannya sebagai pihak yang bersalah ?

Tanpa berkata apa-apa, Gabriela meletakkan piring buah dan gelas air putih yang sudah terisi penuh lagi ke hadapan Jonathan, setelah itu ia merapikan piring lauk dan sayur dari atas meja makan.

**

Jonathan duduk di pinggir ranjang dan menatap Gabriela yang sudah tidur lebih dulu di lantai persis di samping kiri ranjangnya.

Kalau saja Jonathan berani jujur pada Gabriela kalau ia sedikit terganggu dengan kejadian di kelas saat hari pertama sekolah, soal Doni yang menembak Gabriela menjadi kekasihnya.

“Jangan pernah mencoba bermain api dalam hidup perkawinan supaya tidak ada penyesalan. Meskipun hanya api kecil, dampaknya tetap akan sama dan akan terus dibawa seumur hidup,” nasehat Papi saat makan siang tadi.

Jonathan tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Papi tahu kalau kamu belum bisa mencintai Gaby meski sudah 3 bulan lebih kalian menikah. Kalau setelah lama berusaha kamu belum juga mencintai putri Papi, kalian boleh bercerai daripada kamu menyakiti Gaby karena diam-diam kamu memilih untuk kembali pada cinta lamamu.”

“Kalau Papi sudah tidak ada di saat itu. tolong kembalikan Gaby pada Sofian dan tinggalkan semua tanggungjawab yang membebani hidupmu. Papi tidak ingin Gaby mengulang kisah sedih maminya. Papi akan mempersiapkan semuanya, jadi jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Jonathan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ucapan papi siang ini agak menyentil hatinya. Meski tidak diucapkan secara gamblang, tapi Jonathan tahu kalau Papi Hendri sudah menangkap sandiwaranya.

Satu hal yang Jonathan lakukan dengan tulus adalah belajar pada Papi Hendri tentang bagaimana menjalankan bisnis yang baik tanpa takut akan kalah bersaing.

Jonathan mulai menikmati perannya sebagai calon pemimpin di perusahaan. Semua itu karena Papi Hendri mengajarinya tanpa mendikte dan membimbing layaknya seorang ayah.

Jonathan menatap wajah Gabriela lekat-lekat. Tidak terasa pernikahannya sudah lewat 100 hari dan belum pernah sekalipun gadis muda itu mengeluh tentang sikap Jonathan padanya termasuk tentang aturan tidur.

Jonathan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kali ini ia memilih sisi yang berdekatan dengan Gabriela dan tatapannya terus memandang ke arah gadis belia yang berstatus istrinya.

Masih tersisa 3 tahun 8 bulan lagi. Akan terasa berat dan panjang jika dijalani tanpa cinta.

Tidak lama Jonathan ikut terlelap dengan posisi miring berhadapan dengan Gabriela.

***

“Kamu lagi bertengkar dengan Gaby ?” tanya Mama saat mereka sarapan bersama pagi harinya.

Seperti biasa Gabriela sudah berangkat lebih dulu karena mengantar makanan untuk papi.

“Nggak kok, Ma. Memangnya kenapa ?”

“Kenapa kamu susah jujur kalau ditanya soal Gaby ? Sudah 4 hari ini Gaby tidak lagi menyiapkan bekal untukmu bukan karena tidak sempat tapi dia memang tidak mau. Pasti kamu sudah menyakiti hatinya sampai dia tidak mau memasak makanan untukmu.”

“Bukan cuma sekali nyakitinnya, Ma,” sindir Jenny dengan senyuman sinis.

“Jangan jadi provokator !” Jonatan langsung melotot menatap Jenny.

“Bukan provokator tapi pembela kebenaran.”

“Aku berangkat dulu, Ma.”

Jonathan beranjak bangun dan mendekati Mama Hani untuk berpamitan.

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mama ?”

“Ada sedikit salah paham aja, Ma. Biasa anak remaja, kalau sudah ngambek lama baiknya. Tapi tenang aja, sebentar lagi Gaby akan baik lagi kok, apalagi aku jadi wali kelasnya.”

“Nggak ada hubungannya antara suami istri dengan walikelas,” sindir Jenny, membuat Jonathan kembali melotot pada adiknya.

Mama hanya tersenyum tipis, tidak ingin mendesak Jonathan untuk menjelaskan lebih detil lagi.

“Kak Nathan !” panggil Jenny yang menyusul keluar dan menghentikan langkah Jonathan di teras.

“Kenapa ? Laporan apa tuh anak sama kamu ?”

“Gaby tidak pernah curhat soal hubungannya dengan Kak Nathan, tapi aku tahu apa yang terjadi di antara kalian. Aku hanya ingin bilang jangan memperlakukan Gaby seperti itu karena suka atau tidak, dia sudah resmi menjadi istri kakak. Seandainya aku yang berada di posisinya dan mengalami perlakuan yang sama dari suamiku, apakah Kakak akan membiarkan aku ?”

“Tolong jangan ikut campur karena kamu tidak akan pernah mengerti. Kakak pergi dulu.”

Jonathan bergegas mengambil motor dan meninggalkan Jenny yang kesal karena tahu kalau Jonathan menghindarinya.

Sampai di sekolah, dahi Jonathan berkerut karena sudah 4 hari ini pula, Gabriela datang lebih awal, tidak mepet dengan bel tanda masuk seperti waktu kelas 11.

Ia menghela nafas saat melihat gadis itu berjalan berdua Doni dari arah kantin sekolah.

“Gabriela !”

Gabriela menarik nafas. Sejak keluar dari kantin ia sudah melihat Jonathan yang baru saja datang namun sengaja menghindarinya.

“Selamat pagi Pak Nathan,” sapa Doni sambil tersenyum.

“Saya hanya memanggil Gabriela, kenapa kamu ikutan kemari ?” ketus Jonathan.

“Gaby minta saya menemaninya.”

Jonathan hanya menatap Gabriela dengan wajah galak hingga akhirnya gadis itu meminta Doni kembali ke kelas duluan.

“Bapak mau bicara dimana ?”

Jonathan tidak menjawab hanya terus melangkah menuju halaman belakang sekolah.

“Sebentar lagi bel masuk, Pak.”

“Saya yang tanggungjawab !”

Jonathan berbalik saat keduanya sudah berada di halaman belakang.

“Kamu laporan apa sama Mama dan Jenny ?”

Gabriela mengerutkan dahi, bingung dengan sikap Jonathan yang tiba-tiba marah di pagi hari seperti ini.

“Apa yang harus dilaporkan ? Soal hubungan Bapak dengan Ibu Maya atau tentang ucapan Bapak yang selalu mengingatkan ssya kalau pernikahan kita hanya sebatas kawin kontrak ? Tidak ada untungnya saya melapor pada Papi, Mama atau Kak Jenny. Saya tidak lupa dengan kebaikan Bapak yang sudah mau menikahi saya dan mengijinkan saya tinggal di rumah Bapak meskipun semuanya hanya sandiwara.”

“Apa kamu tidak sadar kalau Mama berpikir kalau kita sedang ada masalah karena kamu sudah tidak lagi menyiapkan bekal untuk saya ?”

Gabriela menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar sambil membuang pandangan ke samping.

“Apa Bapak pikir kejadian di mal bukan sesuatu ?” Gabriela tersenyum sinis dan wajahnya terlihat kecewa.

“Bukannya sudah saya katakan kalau pernikahan kita…”

“Hanya sekedar di atas kertas. Saya tidak lupa !” tegas Gabriela dengan suara meninggi.

“Sayangnya Bapak bukan lupa tapi mengabaikan permohonan saya untuk tidak sekedar bersandiwara di depan keluarga saja tapi tolong Bapak jangan sampai kedapatan berselingkuh di belakang saya, apalagi sampai Papi tahu.”

“Saya tidak berselingkuh, siang itu saya hanya makan siang dengan Maya karena urusan pekerjaan !” tegas Jonathan dengan suara meninggi.

“Berpegangan dengan perempuan lain… Ah bukan begitu,” Gabriela menggelengkan kepala.

“Membiarkan perempuan lain memeluk Bapak seperti seorang kekasih sudah bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan. Apa Bapak tidak khawatir kalau ada orang lain yang melihatnya lalu memberitahu pada Papi ?”

“Saya…”

“Saya benci Pak Nathan ! Saya benci karena Bapak tidak bisa menghargai orangtua saya !” pekik Gabrieka setengah berteriak.

Gabriela langsung membalikan badannya dan bergegas meninggalkan Jonathan. Air matanya tidak bisa lagi ditahannya. Hatinya benar-benar berantakan.

Jonathan menghela nafas sambil mengusap wajahnya. Tidak ingin terjebak dalam situasi yang serba sulit seperti ini adalah salah satu alasan Jonathan menolak perjodohan yang berujung pernikahan paksa dengan Gabriela.

Episodes
1 Nikah dan Surat Cerai
2 Pencitraan
3 Kedatangan Pelakor
4 Belum Putus
5 Jangan Berharap
6 Inikah Alasannya ?
7 Jangan Kepo
8 Wali dan Istri
9 Ketahuan
10 Rasa yang Tidak Biasa
11 Hamil ?
12 Liburan
13 Efek Kamar Hotel
14 Sebatas Sandiwara
15 Tantangan
16 Ketahuan
17 Cemburukah ?
18 Kepergian Papi
19 Wasiat
20 Tidak Terima
21 Kencan
22 Sepupu
23 Saingan
24 Wali Bukan Suami
25 Saya Cemburu
26 Mulai Panas
27 Tambah Panas
28 Dia Istriku
29 Sakit
30 I Love You
31 Yang Pertama
32 Undur Diri
33 Cinta dan Benci
34 Pamitan
35 Kencan Pertama
36 Bukan Sepupu
37 Serba Emosi
38 Perkebunan Kopi
39 I Love You
40 Serangan Pertama
41 Rubah Betina
42 Kebohongan
43 Membahas Masalah
44 Masalah Baru
45 Unjuk Gigi
46 Tak Terduga
47 Cerita Lalu
48 Rencana Awal
49 Baik dan Buruk
50 Kebohongan dan Niat Baik
51 Segala Kemungkinan
52 Semakin Dekat
53 Belum Usai
54 Cinta dan Racun
55 Musibah Lain
56 Belajar Fokus
57 Masih Berlanjut
58 Mencari Fakta
59 Mulai Bohong
60 Para Pelaku
61 Luka dan Dendam
62 Terluka
63 Ujian yang Sebenarnya
64 Faktanya
65 Bicara Jujur
66 Takdir dan Karma
67 Tak Tergoyahkan
68 Buang Dendammu !
69 Tak Terduga
70 Permintaan Sulit
71 Susah Menolak
72 Istri dan Mantan Kekasih
73 Undangan Reuni
74 Tidak Akan Diam
75 Berpikir Jernih
76 Mencintaimu
77 Salah Tingkah
78 Nasehat Sahabat
79 Indahnya Persahabatan
80 Permintaan Maaf
81 Yang Pertama
82 Manis dan Pahit
83 Yang Terburuk
84 Belajar Dewasa
85 Berakhir
86 Kekecewaan Orangtua
87 Membesuk Mama
88 Hati yang Galau
89 Hati yang Mengeras
90 Rasa yang Tak Biasa
91 Pria Beristri
92 Perseteruan Dua Pria
93 Rahasia Hati
94 Pria Baru
95 Wanita Misterius
96 Ungkapan Terima Kasih
97 Pria-pria Melow
98 Upaya Perdamaian
99 Istrinya Pak Nathan
100 Cemburunya Gaby
101 Bukan Mantan
102 Pertengkaran
103 Yang Sebenarnya
104 Bertemu Maya
105 Wanita Penuh Sandiwara
106 Dua Kejutan
107 Cinta yang Indah
108 Menjelang Tahun Baru
109 Cerita di Malam Tahun Baru
110 Fakta yang Menyakitkan
111 Bertemu Leo
112 Kedatangan Maya
113 Mereka yang Terluka
114 Hati yang Galau
115 Keraguan Hati
116 Gosip Baru
117 Pisah
118 Bad Mood
119 Hari Terakhir
120 Kesempatan Kedua
121 Kebahagiaan
122 Bahagia yang Sederhana
123 Rilis Novel Baru
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Nikah dan Surat Cerai
2
Pencitraan
3
Kedatangan Pelakor
4
Belum Putus
5
Jangan Berharap
6
Inikah Alasannya ?
7
Jangan Kepo
8
Wali dan Istri
9
Ketahuan
10
Rasa yang Tidak Biasa
11
Hamil ?
12
Liburan
13
Efek Kamar Hotel
14
Sebatas Sandiwara
15
Tantangan
16
Ketahuan
17
Cemburukah ?
18
Kepergian Papi
19
Wasiat
20
Tidak Terima
21
Kencan
22
Sepupu
23
Saingan
24
Wali Bukan Suami
25
Saya Cemburu
26
Mulai Panas
27
Tambah Panas
28
Dia Istriku
29
Sakit
30
I Love You
31
Yang Pertama
32
Undur Diri
33
Cinta dan Benci
34
Pamitan
35
Kencan Pertama
36
Bukan Sepupu
37
Serba Emosi
38
Perkebunan Kopi
39
I Love You
40
Serangan Pertama
41
Rubah Betina
42
Kebohongan
43
Membahas Masalah
44
Masalah Baru
45
Unjuk Gigi
46
Tak Terduga
47
Cerita Lalu
48
Rencana Awal
49
Baik dan Buruk
50
Kebohongan dan Niat Baik
51
Segala Kemungkinan
52
Semakin Dekat
53
Belum Usai
54
Cinta dan Racun
55
Musibah Lain
56
Belajar Fokus
57
Masih Berlanjut
58
Mencari Fakta
59
Mulai Bohong
60
Para Pelaku
61
Luka dan Dendam
62
Terluka
63
Ujian yang Sebenarnya
64
Faktanya
65
Bicara Jujur
66
Takdir dan Karma
67
Tak Tergoyahkan
68
Buang Dendammu !
69
Tak Terduga
70
Permintaan Sulit
71
Susah Menolak
72
Istri dan Mantan Kekasih
73
Undangan Reuni
74
Tidak Akan Diam
75
Berpikir Jernih
76
Mencintaimu
77
Salah Tingkah
78
Nasehat Sahabat
79
Indahnya Persahabatan
80
Permintaan Maaf
81
Yang Pertama
82
Manis dan Pahit
83
Yang Terburuk
84
Belajar Dewasa
85
Berakhir
86
Kekecewaan Orangtua
87
Membesuk Mama
88
Hati yang Galau
89
Hati yang Mengeras
90
Rasa yang Tak Biasa
91
Pria Beristri
92
Perseteruan Dua Pria
93
Rahasia Hati
94
Pria Baru
95
Wanita Misterius
96
Ungkapan Terima Kasih
97
Pria-pria Melow
98
Upaya Perdamaian
99
Istrinya Pak Nathan
100
Cemburunya Gaby
101
Bukan Mantan
102
Pertengkaran
103
Yang Sebenarnya
104
Bertemu Maya
105
Wanita Penuh Sandiwara
106
Dua Kejutan
107
Cinta yang Indah
108
Menjelang Tahun Baru
109
Cerita di Malam Tahun Baru
110
Fakta yang Menyakitkan
111
Bertemu Leo
112
Kedatangan Maya
113
Mereka yang Terluka
114
Hati yang Galau
115
Keraguan Hati
116
Gosip Baru
117
Pisah
118
Bad Mood
119
Hari Terakhir
120
Kesempatan Kedua
121
Kebahagiaan
122
Bahagia yang Sederhana
123
Rilis Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!