“Bagaimana hubunganmu dengan Gaby ?” tanya papi saat makan siang berdua dengan Jonathan.
“Semakin membaik, Pi. Kadang-kadang masih sedikit canggung tapi kami sudah bisa menerima perjodohan ini.”
Papi tertawa pelan, tidak mendesak Jonathan untuk bicara jujur. Papi tahu kalau menantunya itu berbohong. Semalam mama Hani sempat ngobrol dengannya lewat telepon dan minta maaf karena Jonathan belum bisa menjadi suami yang baik untuk Gaby.
”Maafkan Papi yang sudah membuatmu terpaksa menikahi Gaby dan putus dengan kekasihmu. Tidak ada yang bisa Papi percaya selain dirimu karena kamu adalah anak Hani.”
“Soal Maya sebetulnya aku memang sudah ingin putus dengannya sebelum mama memberi kabar soal perjodohan dengan Gaby.”
Papi tersenyum tipis dan meneguk sisa air putih dari gelas yang ada di depannya.
“Papi sadar kalau Gaby masih jauh dari layak untuk menjadi istri, tapi dia gadis yang baik dan tidak pernah main-main dengan perasaannya saat sudah jatuh cinta, Papi sudah membuktikannya.
Gaby tetap bertahan di samping Papi meski sering mendapat perlakuan kasar dari Tante Gina dan Jihan, hanya Lisa yang baik padanya.
Mungkin saat ini dia belum bisa mencintaimu tapi percayalah dia juga bukan tipe perempuan yang seenaknya lari dari konsekuensi atas keputusan yang diambilnya.”
“Aku akan mengingatnya, Pi.”
Jonathan menghabiskan minumannya sambil melirik jam tangannya. Ia ingin mengajak papi kembali ke kantor karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang namun melihat ekspresi wajah papi, Jonathan menunda niatnya.
“Ada masalah apa, Pi ?”
Papi menatap Jonathan sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan dan beberapa kali menghela nafasnya dengan berat.
“Ada yang sakit, Pi ? Apa perlu aku menghubungi dokter Dharma sekarang ?”
Papi menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Tolong kamu ingat pesan Papi ini. Jika suatu saat kamu tidak sanggup lagi meneruskan pernikahan dengan Gaby dengan alasan apapun terutama karena pihak ketiga dan saat itu Papi sudah tidak ada, tolong antarkan Gaby dan kembalikan baik-baik pada Sofian.”
Perasaan Jonathan mendadak tidak enak mendengar penuturan papi.
“Papi paham betul kalau sampai saat ini kamu masih belum bisa menerima putri papi, tapi tolong jangan biarkan Gaby terperangkap dalam rasa terpaksamu itu. Papi sedang membahas dengan tim hukum untuk memberikanmu kebebasan saat pernikahan kalian sudah tidak bisa dipertahankan.”
“Papi tidak yakin padaku ?”
“Kalau boleh jujur, iya. Papi tahu kalau sampai saat ini kamu masih terus menyesali nasibmu karena pernikahan ini.”
Jonathan terdiam saat melihat papi tersenyum getir. Mau bersandiwara sehebat apapun, firasat orangtua tidak pernah bisa dibohongi.
“Tidak usah merasa tidak enak begitu, jalani saja dan kalau kamu sudah lelah setelah berusaha, tidak apa-apa kalau mau menyerah.”
Jonathan tersenyum tipis dan mengikuti papi yang sudah duluan beranjak bangun.
***
“Dalam rangka apa mama ngajak makan malam di sini, Kak ?” bisik Gaby saat mereka melangkah masuk ke salah satu hotel bintang 5 yang cukup ternama di Semarang.
”Mau menjodohkan kamu sama cowok tampan. Habis Kak Nathan nggak melunak juga meski kalian sudah 3 bulan menikah,” sahut Jenny sambil terkekeh.
“Jangan asal deh,” sahut Gaby sambil memukul pelan bahu Jenny.
“Aku sih setuju banget kalau mama punya rencana begitu. Ngapain juga kamu terikat dengan Kak Nathan yang nyebelin itu.”
Gaby memutar bola matanya saat melihat wajah Jenny begitu serius mengucapkan harapannya.
Keduanya sedikit bergegas karena mama dan Tante Ratih sudah duluan masuk ke dalam restoran.
Gaby dan Jenny masih asyik berbincang sambil sesekali tertawa namun tidak lagi membahas soal pria pengganti Jonathan.
Mata Gaby langsung membola saat melihat sosok pria yang berdiri di dekat mama. Senyum bahagia langsung mengembang di wajahnya.
“Papi !”
Gaby mempercepat langkahnya dan langsung memeluk papi Hendri, mengabaikan Jonathan yang berdiri di sampingnya.
“Memangnya enak istri lebih pilih peluk papinya dulu, bukan suaminya,” ledek mama dengan suara berbisik.
Jonathan hanya melirik dengan wajah datar membuat Jenny langsung mencebik pada kakak semata wayangnya.
”Papi kok nggak bilang-bilang mau nyusul kemari ? Bawa mobil sendiri ?”
“Jonathan mau kasih kejutan buat kamu jadi papi ikutan sekalian mau bertemu denganmu,” sahut papi sambil tertawa setelah Gaby melerai pelukannya.
Gaby menautkan alis sambil melirik Jonathan yang terlihat bingung. Gaby langsung tahu kalau papi sudah berbohong demi memberi muka pada Jonathan.
Semuanya langsung duduk dan memesan makan malam. Gaby terlihat agak acuh pada Jonathan yang duduk di sampingnya, membuat papi sempat bingung dan beberapa kali mengerutkan dahinya.
“Malam ini kamu menginap di sini, anggap saja acara bulan madu sama suami.”
Gaby langsung tersedak, matanya membola dan wajahnya memerah. Jonathan pun langsung menepuk-nepuk punggung istrinya dan menyodorkan gelas air putih.
“Tapi Gaby…”
“Baju kamu sudah aku bawakan di mobil, tenang aja,” ujar Jenny sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
“Kak Jenny sudah tahu dari kapan ?” ada nada kesal dalam ucapan Gaby.
“Baru tadi siang, saat kita lagi lihat-lihat kampus.”
Gaby menghela nafas, ingin membantah ucapan papi rasanya tidak mungkin, bisa-bisa papi curiga ada sesuatu di antara dirinya dan Jonathan.
Usai makan malam ternyata mama dan Jenny memilih pulang ke rumah Tante Ratih. Gaby hanya tersenyum kecut, sedikit kesal karena rencananya ingin menghabiskan waktu dengan Jennh harus dibatalkan.
Tinggal sekamar dengan Jonathan benar-benar membuat hati Gaby kesal. Ia memilih diam dan duduk di kursi yang ada di kamar sambil menyibukkan diri dengan handphonenya.
Hatinya ingin pindah kamar yang menyediakan 2 ranjang terpisah karena di dalam kamar ini tidak ada sofa, hanya 1 kursi yang sedang ditempati Gaby.
“Kamu nggak mau tidur ?” tanya Jonathan usai keliar dari kamar mandi.
“Belum ngantuk.”
“Gimana liburannya ? Sudah diajak kemana saja sama mama dan Jenny.”
“Kampus dan kuliner.”
Jonathan menghela nafas mendengar jawaban Gaby yang singkat dengan pandangan masih fokus ke handphone yang ada di tangannya.
“Kamu kenapa ?”
Jonathan duduk di tepi ranjang yang berdekatan dengan kursi.
“Nggak sopan diajak ngomong tapi fokusnya malah ke handphone.”
Gaby melirik sekilas dan menghela nafas dengan wajah cemberut.
“Ngapain nyusul kemari ?” ketus Gaby.
“Kamu pasti tahu kalau ini semua bukan keinginanku tapi papi yang mendadak mengajakku kemari padahal pekerjaan di kantor cukup padat.”
“Bapak selalu punya cara untuk menolak saya, kenapa tidak melakukan hal yang sama pada papi ?” omel Gaby sambil beranjak bangun dari kursinya.
Jonathan menarik satu sudut bibirnya dan menyentil kening Gaby, membuat gadis itu langsung melotot
“Kamu lupa kondisi papi saat ini ? Nggak lihat bagaimana bahagianya papi bisa ketemu kamu tanpa Tante Gina dan kedua saudara tirimu ?”
“Iya, tapi nggak usah pakai sentil segala. Ini kan bukan di kelas dan nggak lagi jam pelajaran bapak.”
Gaby masih menggerutu dan berniat menjauh dari Jonathan namun lengannya keburu ditahan oleh pria itu.
“Aku nggak lupa kalau kita sedang di hotel dan papi bilang anggap saja seperti bulan madu yang tertunda. Mama juga sempat berpikir kamu hamil gara-gara mendadak jadi pendiam dengan alasan kurang tidur. Bagaimana kalau kita mewujudkan harapan orangtua untuk membuat mereka bahagia.”
“Bapak jangan ngaco !” suara Gaby mulai bergetar dan tangannya menahan dada Jonathan yang semakin mendekat.
Gaby terus mundur hingga menabrak kaca jendela dan sulit untuk kabur dari kukungan Jonathan.
“Bapak nggak pernah cinta sama saya, pernikahan kita hanya di atas kertas jadi jangan berpikir untuk macam-macam.”
“Kenapa kamu mendadak takut ? Bukannya kamu pernah memaksaku hingga aku dituduh sebagai pemerkosa ?”
“Pak Nathan… Sa-ya…”
Wajah Jonathan semakin mendekati Gaby yang memejamkan mata sambil memngerutkan dahi, tidak ada tanda-tanda ingin melawan Jonathan.
“Aduh !” pekik Gaby saat Jonathan kembali menyentil keningnya.
“Kamu pikir saya beneran mau cium kamu ?”
Gaby mengepalkan kedua tangannya saat Jonathan tertawa sinis sambil menjauh. Pria itu membalikkan badan, berjalan menjauhi Gaby yang menahan amarah.
“Gaby !” Jonathan memekik saat Gaby melompat ke punggungnya dan mengalungkan tangannya di leher pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
ike sihab
kshan gabyy,,,ini enknya jonathan didatangkan pebinor nih biar hatii jo galau bercampur aduk tubuh dan hati terkoyak2😀😀😀😀,,,,,hemmm disaat itu jo baru tau keaslian mayaa laannnjutt thoooorr n semangat😊 klo up minta ditambah yaa😅🤭
2023-08-07
3