“Besok kamu dijemput jam berapa ?” tanya Jonathan saat melihat Gaby tengah menata pakaiannya ke dalam koper.
”Janjinya jam 5 pagi.”
Jonathan mengerutkan dahi melihat ekspresi wajah Gaby yang datar dan seperti tidak bersemangat, tapi rasanya gengsi menanyakan alasan Gaby memasang wajah muram.
Sudah 2 hari ini Gaby menjadi lebih pendiam tapi tidak ada niat di dalam diri Jonathan untuk mencari tahu penyebabnya.
“Sini aku bantu.”
“Nggak usah.”
Gaby menepis tangan Jonathan yang sudah terulur hendak membantu Gaby. Ia meninggalkan pria yang kebingungan itu dan membawa kopernya turun.
”Kamu beneran nggak mau ikut, Nath ?” tanya mama saat ketiganya sedang menikmati makan malam.
“Lagi banyak kerjaan, Ma, nggak mungkin ditinggalin.”
Gaby hanya diam dengan wajah menunduk menikmati makan malamnya.
”Kamu lagi sakit, Gaby ?”
“Nggak Ma, hanya kurang tidur,” Gaby berusaha tersenyum.
“Sudah 2 hari susah nyenyak, mungkin terlalu bersemangat mau pergi liburan.”
”Bukannya Jihan selalu pergi liburan setiap kenaikan kelas ? Aku suka mendengar kalau anak-anak sedang pamer saat tahun ajaran baru.”
“Yang liburan kan Jihan bukan saya, Pak… eh Mas, biar pun satu rumah tapi kami beda kasta,” sahut Gaby sambil tertawa.
Jonathan mengerutkan dahi dan sempat bersitatap dengan mama yang hanya tersenyum mendengar celoteh menantunya.
Gaby yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Jonathan beranjak bangun. Ia membawa piringnya ke dapur karena mama dan Jonathan masih makan.
“Apa terjadi sesuatu sama Gaby dalam beberapa hari terakhir ini ?” tanya mama dengan suara berbisik.
Jonathan terdiam karena memikirkan pertanyaan mama sambil mengerutkan dahi.. Seingatnya, setelah kejadian dengan Mario 3 hari lalu, tidak ada perbedabatan serius dengan Gaby.
“Nggak ada sih, Ma.”
“Mungkin dia sedih karena kamu nggak bisa ikut,” sahut mama sambil tertawa pelan.
Jonathan hanya tersenyum tipis dan mengangkat kedua bahunya.
***
“Tidak bisakah kamu menceraikan bocah itu tanpa harus menunggu 4 tahun ?” tanya Maya saat bertemu dengan Jonathan saat makan siang.
Jam 5.30 pagi tadi Gaby dan mama sudah berangkat ke Semarang. Jonathan sempat merasa aneh karena semalam gadis itu memilih tidur sekamar dengan mama hanya karena tidak ingin Jonathan terbangun saat ia bersiap-siap.
“Sekalipun bisa, hubungan kita sudah berakhir sejak 3 bulan yang lalu, Maya. Kamu wanita dengan banyak kelebihan, pasti tidak akan sulit mendapatkan pria yang di atas segalanya dariku.”
”Bicara memang mudah, tapi kenyataannya sekalipun ada yang lebih darimu, hatiku tidak bisa menerima begitu saja. Aku hanya mencintaimu, Jonathan Lesmana.”
Jonathan menghela nafas dan sejujurnya hatinya masih berdesir mendengar pengakuan cinta dari Maya. Selama 2 tahun, Jonathan hanya memberikan hatinya untuk Maya bahkan ia menutup telinganya saat mendengar berita miring tentang wanita itu dari Kendra.
Jonathan membutakan matanya saat mama terang-terangan mengatakan tidak suka bahkan tidak akan merestui jika Jonathan ingin menjadikan Maya sebagai istrinya.
Di mata mama, Maya tidak bisa diperhitungkan sebagai calon istri yang baik karena bukan hanya sombong tapi beberapa kali mama bahkan Jenny pernah melihat langsung wanita itu jalan dengan pria lain.
“Jo, aku sadar telah banyak berbuat salah padamu. Aku sibuk dengan diriku sendiri hingga sering mengabaikan kamu, tapi aku yakin kalau kamu sangat paham dengan posisiku saat ini. Sama sepertimu, aku pun punya tanggungjawab pada orangtuaku apalagi saat mereka meminta bantuanku untuk mengelola perusahaan.”
”Aku sangat paham, Maya,” sahut Jonathan sambil tersenyum getir.
”Bagaimana orangtuamu terang-terangan tidak menganggapku karena status sosial kita yang berbeda, aku sangat paham dan menangkapnya dengan sangat jelas.”
”Masalah itu akan aku bicarakan dengan daddy. Beliau pasti tidak akan menolak permintaanku apalagi kalau aku sangat yakin dengan pilihanku.”
“Tidak perlu, Maya. Aku tidak menginginkan semua itu. Terimalah dengan lapang dada kalau aku sudah mengambil keputusan yang tidak mudah dirubah. Aku pamit dulu.”
“Jo,” Maya menahan lengan Jonathan. Kedua sudut matanya mulai berkaca-kaca namun Jonathan kembali tersenyum tipis, berusaha menguatkan hatinya untuk tidak jatuh dalam bujuk rayu Maya.
”Teruskan hidupmu dan lepaskan aku.”
Jonathan melepaskan tangan Maya yang memegang lengannya.
“Kamu selalu dikelilingi banyak pria hebat jadi aku yakin kalau tidak akan sulit bagimu untuk menunjuk pria manapun sebagai penggantiku.”
Tanpa menunggu jawaban dari Maya, Jonathan berjalan meninggalkan wanita itu sendirian.
***
Jonathan menghela nafas saat memasuki rumah yang sepi karena tidak ada penghuni selain dirinya saat ini.
Hatinya sedang tidak menentu. Ada emosi yang tidak bisa ditahan saat melihat Gaby berduaan dengan Mario padahal pria itu hampir saja merusak masa depan Gaby.
Ada rasa tidak nyaman saat Gaby mendiamkannya 2 hari ini. Joanthan sadar kalau Gaby sedang menghindar darinya, tapi rasanya gengsi menanyakan alasan kenapa istri kecilnya iti mendadak mogok bicara.
Jonathan masuk ke kamarnya dan menatap kasur lipat yang disembunyikan di samping lemari pakaian Gaby. Sudah hampir 3 bulan mereka menikah dan belum pernah sekalipun mereka tidur 1 ranjang. Jonathan tidak pernah menawarkan pada Gaby dan gadis itu tidak menuntut.
Gaby sempat 2 minggu tidur di kamar Jenny dengan alasan ingin konsentrasi belajar mempersiapkan PAS dan berharap bisa seterusnya menempati kamar itu selama pemiliknya tidak ada di Jakarta. Sayangnya mama sempat bertanya dengan nada curiga kenapa Gaby tidak juga kembali tidur bersama Jonathan setelah 2 minggu berlalu.
Jonathan mengeluarkan handphonenya dan melihat deretan pesan yang masuk dan keluar. Entah apa yang diinginkan hatinya saat ini. Matanya lelah melihat nama Maya hingga tangannya enggan menekan nama itu untuk membaca pesan yang masuk. Angka 15 terlihat di samping nama Maya, tapi Jonathan tidak peduli.
Di tengah keresahan yang membuyarkan konsentrasinya saat bekerja, tulisan Mama membuatnya tanpa sadar menyunggingkan senyum.
“Halo Ma, gimana perjalanannya ?”
“Lancar dan Gaby juga kelihatan sangat senang, tapi malam ini dia kelihatan pucat lagi. Mama sudah tanya tanya tapi Gaby bilang hanya capek biasa.”
“Mungkin efek kurang tidurnya seperti yang dia bilang semalam.”
“Nathan.”
Jonathan tidak langsung menyahut karena menunggu mama melanjutkan kalimatnya namun helaan nafas panjang yang Jonathan dengar di pengeras handphonenya.
”Ma, mama mau ngomong apa ?”
“Masalah Gaby. Apa jangan-jangan dia hamil ? Selama ini kamu pakai pengaman, kan ? Mama kasihan aja kalau Gaby hamil di usianya yang baru 17 tahun.”
Mata Jonathan membola, untuk saja panggilan mamama bukan video call.
“Nggak mungkin Gaby hamil, Ma,” sahut Jonathan sambil tertawa cangggung.
“Kenapa nggak mungkin ?”
Jonathan mengusap tengkuknya dan wajahnya terlihat bingung mencari jawaban pertanyaan mama.
“Jangan bilang kamu belum pernah menyentuh istrimu, Nathan !”
“Memang belum, Ma. Tunggu Gaby selesai SMA. Aku juga kasihan kalau sampai Gaby hamil saat statusnya masih pelajar SMA.”
Gantian mama Hani membelalakan mata karena terkejut mendengar jawaban putranya.
“Kamu laki-laki normal kan, Narhan ?”
“Ma ! Tentu saja aku laki-laki normal !” tegas Jonathan penuh keyakinan.
Suasana hening, hanya terdengar helaan nafas panjang di handphone keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments