5 hari sesudah kepergian Papi Hendri, seluruh keluarga termasuk Jonathan diminta datang menemui pengacara keluarga.
Pak Bonar, pengacara yang ditunjuk Papi Hendri itu sudah menyiapkan setumpuk berkas dan mulai membacakan wasiat Papi Hendri.
”Selama ini Papi yang bekerja keras untuk membesarkan perusahaan, tapi kenapa semuanya jadi milik dia !” protes Jihan sambil menggebrak meja lalu menunjuk Gabriela dengan tatapan penuh kebencian.
Pak Bonar mengerutkan dahi sedangkan Gabriela hanya memasang wajah datar.
“Karena sejak awal perusahaan itu adalah milik keluarga Nyonya Anna. Apa yang dilakukan Pak Hendri sudah sewajarnya karena posisinya sebagai Direktur Utama, bukan pemilik saham. Kalau saja Tuan Hendri bisa mempertahankan pernikahannya selama 10 tahun tanpa masalah atau skandal, 5% saham akan menjadi miliknya. Sayangnya pernikahan Tuan Hendri dan Nyonya Anna hanya bertahan 5 tahun dan secara sukarela Tuan Hendri menerima semua persyaratan yang diberikan oleh Nyonya Anna.”
“Bagaimana Pak Bonar yakin kalau Papi menerima keputusan itu dengan sukarela ? Kita semua tahu bagaimana uang sering lebih berkuasa daripada harga diri,” protes Jihan dengan senyuman sinis.
“Nona Jihan, harap anda berhati-hati saat bicara karena apa yang saya sampaikan memiliki bukti hukumnya. Jika anda meragukan apa yang saya sampaikan, silakan mengajukan pertanyaan secara tertulis tapi semuanya itu tidak bisa mengubah wasiat ini karena sesuai permintaan Tuan Hendri, keputusan ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.”
“Jihan,” Mama Gina berusaha menahan putrinya yang sudah siap bersuara lagi.
“Jadi rumah yang kami tempati saat ini adalah milik Gabriela juga ?” tanya Mama Gina menatap Pak Binar.
“Akan menjadi milik anda dan kedua putri anda saat Gabriela melepaskan haknya. Rumah itu dipinjamkan Nyonya Anna supaya Tuan Hendri bisa memberikan tempat tinggal yang layak untuk anda dsn kedua putri kalian dan akan menjadi milik Tuan Hendri apabila Gabriela diasuh dengan baik sampai berusia 21 tahun. Seandainya sebelum waktunya, terbukti atau terjadi sesuatu pada Nona Gabriela yang disebabkan oleh maaf, anda dan atau salah satu atau kedua putri anda, maka hak atas rumah itu batal dengan sendirinya.”
Wajah Mama Gina langsung tegang, khawatir Gabriela akan berusaha mengambil kembali rumah yang sudah lama mereka tempati dengan bukti kekerasan fisik yang pernah dilakukannya saat Gabriela masih kecil.
Gabriela baru saja hendak bicara namun Jonathan menahannya dan menggeleng.
“Kita bahas bersama dulu baik buruknya,” bisik Jonathan seolah tahu apa yang akan disampaikan Gabriela.
Gadis itu menurut, tidak mau gegabah hanya karena kasihan. Ia yakin kalau Jonathan mengerti betul apa yang ingin disampaikannya.
Pertemuan di kantor pengacara berakhir dengan ketidakpuasan terutama dari Jihan. Mama Gina lebih banyak diam karena sadar akan posisinya sudah salah sejak dulu sampai sekarang. Jihan lahir di saat Hendri sudah terikat pernikahan sah dengan Anna.
Gabriela hanya berpelukan dengan Lisa yang kembali menangis di bahu kakak tirinya.
“Apakah berarti kita tidak ada hubungan apa-apa lagi ?” tanya Lisa dengan wajah berderai air mata.
“Kita selalu bersaudara Lisa, papi kita sama, Papi Hendri. Bagaimana mungkin hubungan kita bisa berakhir hanya karena papi sudah tidak ada.”
Lisa mengangguk dan menghapus air matanya.
“Belajar yang rajin dan tetap semangat. Jangan sungkan menghubungi kakak kalau kamu sedang butuh teman.”
Gabriela mengusap sisa-sisa airmata Lisa dengan tisu lalu membelai kepala adik tirinya dengan penuh kasih sayang.
“Kakak pulang dulu.”
”Tunggu !”
Gabriela dan Jonathan menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
“Jadi pernikahan kalian ini hanya pura-pura ? Demi mempertahankan warisan ibumu kalian menciptakan sandiwara ini ?” cecar Jihan dengan tatapan menelisik.
“Tidak ada yang pura-pura, semuanya nyata dan pernikahan kami sah. Memang tidak mudah menerima pernikahan dengan orang yang belum dikenal, tapi bukan berarti kami tidak bisa saling mencintai,” sahut Jonathan sambil mengangkat genggaman tangannya dengan Gabriela.
“Munafik !”
“Silakan kamu mau memaki dan berpikiran buruk tentang kami, itu hakmu. Tapi satu hal yang perlu diingat Jihan, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh istriku apalagi sampai menyakitinya.”
Ucapan Jonathan membuat Gabriela terkejut namun ia berusaha untuk terlihat biasa saja, tidak ingin Jihan meihat perbuatan Jonatham sebagai sandiwara.
“Permisi.”
**
“Bapak memang pemain sandiwara yang keren !” Gabriela memberikan jempolnya begitu mereka sudah di dalam mobil.
“Cara bapak bicara benar-benar meyakinkan, membuat Jihan sangat percaya dan tidak bisa berkata-kata. Keren !”
Jonathan menghela nafas sambil menghidupkan mesin mobil dan melajukannya perlahan.
“Jadi kamu menganggap ucapan saya hanya sebatas sandiwara ?”
“Bukankah hubungan kita memang sandiwara ?” Gabriela tertawa pelan.
“Bagaimana kalau tadi bukanlah sandiwara ?” tahya Jonathan dan menatap Gabriela sekilas.
“Karena Bapak kasihan melihat saya sebagai seorang yatim piatu ? Saya sudah biasa menjalani hidup sendiri bahkan saat papi masih hidup, jadi Pak Nathan tidak perlu khawatir apalagi merubah sikap hanya karena papi banyak menitipkan pesan ini dan itu.”
“Bukannya kamu sempat bilang sudah mulai cinta sama saya ? Setelah membuat saya jadi pria jomblo, sepertinya permintaan kamu bisa dipertimbangkan.”
“Permintaan saya ? Permintaan apa ?” dahi Gabriela masih berkerut.
“Biasanya orang yang menyatakan cinta butuh jawaban, kan ? Dan saya belum memberikan jawaban apapun sama kamu. Saya yakin kalau sampai saat ini kamu masih mengharapkan jawaban dari saya. Jadi…”
“Mengharapkan jawaban ?” Gabriela tertawa. “Bahkan Bapak belum bicara pun saya sudah tahu jawabannya, jadi sejujurnya saya tidak menunggu apapun.”
“‘Mana bisa begitu !” protes Jonathan dengan ekspresi kesal.
“Saya yang ditembak sama kamu, masa kamu yang jawab sendiri padahal saya belum bilang apa-apa. Nggak ada aturan begitu ! Nanya sendiri jawab sendiri,” gerutu Jonathan.
“Terus saya harus nunggu bapak jawab gimana ? Kan Pak Nathan udah bilang kalau sampai kapan pun tidak akan pernah menganggap pernikahan kita beneran apalagi sampai mencintai saya. Semuanya harus menunggu matahari terbit dari barat ?”
Jonathan hanya menghela nafas, berpikir menemukan kata yang tepat namun tidak membuat Gabriela salah paham.
Salah paham ? Lebih tepatnya Gabriela tidak bisa membaca perasaan aneh Jonathan gara-gara cowok bernama Doni itu.
Sekitar 20 menit kemudian, Jonathan menghentikan mobilnya di depan lobby kantor milik Mami Anna.
“Loh kok kita kemari ? Bapak mau ngapain ? Ini hari Sabtu, nggak bakal ada orang kecuali sekuriti.”
“Turun aja dulu, saya mau memperlihatkan sesuatu sama kamu.”
Gabriela mengikuti langkah Jonathan di belakangnya dan alisnya menaut saat seorang sekuriti malah menyapa Jonathan dengan menyebut nama, malah mempersilakan Jonahthan masuk dengan hormat.
“Jangan bengong,” ledek Jonathan menatap Gabriela dari pantulan pintu lift.
Keduanya sudah berada di dalam lift menuju lantai 5. Gabriela kembali menautkan alisnya membalas tatapan Jonathan yang senyum-senyum sendiri.
Begitu pintu lift terbuka, Jonathan memberi isyarat supaya Gabriela turun duluan. Ia pun menggandeng lenga gadis itu yang masih sedikit bingung.
Jonathan membuka pintu satu ruangan yang belum pernah didatangi Gabriela sebelumnya. Ruangan papi berada di lantai 7 dan ini lantai 5.
“Taa…daa…”
Gabriela melongok ke dalam dan bau perabotan baru langsung tercium.
“Ini akan menjadi ruangan saya saat menjalani perusahaan ini sampai kamu bisa mengambil alih. Beberapa minggu kemarin, di sinilah saya menghabiskan waktu sepulang mengajar, belajar tentang banyak hal sama papi dan Om Sofyan.
Saya sengaja merahasiakannya dulu dari kamu karena saya masih belum percaya diri untuk menjalankan perusahaan seperti papi.
Tapi saat melihat bagaimana Mama Gina dan Jihan memperlakukanmu, saya sudah bertekad dan tak akan melupakan nasehat papi kalau saya pasti bisa dan harus menjauhkan diri dari rasa khawatir yang berleihan, karena rasa khawatir membuat kita tidak bisa melihat hal-hal baik yang sebetulnya bisa kita lakukan.”
Jonathan memegang kedua bahu Gabriela sambil tersenyum.
“Sebetulnya papi sudah mengatur supaya saya menempati ruangann beliau, tapi saya bilang, ruangan itu lebih cocok ditempati oleh dirut yang sebenarnya, pemilik sejati perusahaan ini yaitu kamu.”
Gabriela masih diam dan melepaskan diri dari Jonathan, berkeliling ruangan yang bernuansa kayu itu. Langkahnya terhenti di meja kerja Jonathan, meraih bingkai foto yang ada di atas meja.
Foto saat Gabriela berulang tahun ke 17 bersama Papi, Mama, Jenny dan Jonathan. Terlihat wajah Jonathan benar-benar tidak bersahabat di situ.
“Foto ini akan membuat saya selalu ingat alasan dan tujuan saya duduk di meja ini. Bukan karena terpaksa tapi tanggungjawab sebagai anak, menantu dan suami.”
Gabriela tersenyum tipis dan meletakkan kembali foto itu di tempatnya. Ia membalikkan badan berhadapan dengan Jonathan, menatap pria itu sambil tersenyum.
“Terima kasih,” Gabriela mengulurkan tangannya membuat Jonathan tercengang.
Sebetulnya bukan seperti ini yang Jonathan harapkan. Ia berpikir Gabriela seperti gadis remaja kebanyakan yang mudah terharu lalu menghambur ke dalam pelukannya.
Jonathan sudah bersiap-siap memeluk balik Gabriela dan berpikir akan menepuk-nepuk gadis itu sambil tersenyum bahagia.
“Terima kasih Pak Nathan karena sudah tulus membantu papi dan bersedia mendampingi saya menjalankan perusahaan ini.”
Gabriela masih mengulurkan tangannya membuat Jonathan menghela nafas dan menjabat tangan Gabriela dengan wajah terlihat kecewa.
“Sama-sama,” sahutnya dengan nada sedikit kesal yang tidak bisa disembunyikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
R_3DHE 💪('ω'💪)
kayaknya Nathan udah mulai dari rasa ini
2023-10-11
1
ike sihab
bagus gabyy,,,,jgn mudah baper sama tingkah jonathan tau sendirikan gurumu paling pandai ber akting,,,,,, dirimu perlu sabar yaaaang bannnyakkk sampai jonathan benar2 jungkir balik menanta hatiii hihihihihiiiiiii,,,good thoooor laaannnjuuutt
2023-08-09
1