Miranda lagi-lagi tidak menggunakan jasa Bintang untuk pergi keluar rumah walaupun Bintang sudah mengatakan kalau ia harus mengantarkan Miranda jika ingin keluar rumah.
“Sudahlah Bintang, kamu jangan keras kepala dan ikuti saja perintahku.”
“Tapi Nyonya ….”
“Kamu tidak akan dimarahi oleh suamiku asal kamu tutup mulut, paham?”
“Baik Nyonya.”
Miranda pun pergi namun dengan diantar oleh Vicko, Bintang tentu saja merasa heran karena belakangan ini ia baru menyadari kalau Vicko dan Miranda sangat dekat sekali hubungannya kalau tidak ada Usman di rumah. Karena penasaran akhirnya Bintang pun pergi ke rumah belakang dan menunggu sampai Vicko kembali, saking lamanya ia menunggu Vicko kembali ke rumah, Bintang sampai ketiduran di atas kasur Vicko.
“Bang, kamu sedang apa di kamarku?”
“Kamu sudah kembali rupanya, aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu padamu.”
“Menanyakan sesuatu? Kamu memang mau menanyakan apa?”
“Kalau aku perhatikan belakangan ini sepertinya kamu dekat sekali dengan nyonya Miranda, ya?”
“Oh soal itu, tentu saja kami dekat, kan aku sudah lebih dari 6 tahun bekerja di rumah ini dan menjadi sopir beliau.”
“Begitu rupanya.”
“Memangnya kenapa kamu menanyakan itu?”
“Tidak, hanya saja aku penasaran saja kenapa kamu bisa dekat sekali dengan nyonya Miranda.”
Setelah itu Bintang kemudian pergi dari rumah belakang dan Vicko bisa menghela napasnya panjang, untung saja Bintang tidak bertanya lebih jauh mengenai hubungannya dengan Miranda.
“Sepertinya mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati kalau tidak bang Bintang akan tahu kalau sebenarnya ada hubungan terlarang antara aku dan nyonya Miranda.”
Diam-diam Miranda memerhatikan Bintang dari dalam rumah, ia merasa kesal karena pria itu sepertinya sudah mulai mencurigai kalau dirinya memiliki hubungan dengan Vicko dan Miranda tak boleh membiarkan ini terjadi.
****
Miranda kepergok oleh Bintang diam-diam bertemu dengan Vicko di rumah belakang dan karena didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, Bintang diam-diam mengikuti Miranda ke rumah belakang dan menguping pembicaraan antara keduanya.
“Kakakmu sepertinya sudah muali mencurigai ada yang tidak beres di antara kita.”
“Iya Nyonya, saya pun juga merasakannya, apa yang harus kita lakukan?”
“Kamu tak perlu khawatir, kita bisa tetap melakukan itu tanpa diketahui oleh siapa pun.”
“Apakah Nyonya yakin?”
“Tentu saja Vicko, kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.”
Miranda dan Vicko kemudian saling berciuman yang membuat Bintang terkejut bukan main saat sengaja merekam pembicaraan mereka berdua, karena terlalu terkejut maka ia membuat suara gaduh dan hal tersebut membuat Vicko dan Miranda sontak terkejut.
“Nyonya, siapa barusan?”
Vicko kemudian pergi mengecek di tempat Bintang barusan berada akan tetapi ketika ia tiba di sana, ia tak menemukan siapa pun.
“Bagaimana, Vicko?”
“Aku tidak menemukan siapa pun, akan tetapi tadi suaranya dari sini.”
“Ah sudahlah mungkin tadi memang sapunya tertiup angin.”
“Mungkin saja, lagi pula tidak ada seorang pun kan di sini?”
“Lebih baik kita pergi ke kamarmu saja supaya tidak ada gangguan.”
****
Bintang masuk ke dalam kamar dan ia duduk di tepian ranjang, ia nampak tak percaya dengan kenyataan yang ia dapatkan barusan, rupanya kecurigaannya bahwa Vicko dan Miranda memiliki hubungan terlarang benar-benr terbukti.
“Bagaimana bisa Vicko melakukan itu selama ini?”
Ponsel Bintang berdering dan ketika melihat layar ponselnya tertera nama Hana di sana, Bintang segera menjawab telepon dari adiknya tersebut.
“Ada apa Hana?”
“Bang, kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang? Aku akan berangkat kerja sekarang dan aku tak bisa meninggalkan Ibu sendirian di rumah sakit.”
“Baiklah, aku akan segera ke sana.”
Bintang segera menutup sambungan teleponnya dan menghela napasnya panjang, ia bergegas menuju rumah sakit dan menuju ruangan inap di mana ibunya dirawat.
“Bang ada kabar baik lho.”
“Apa itu?”
“Besok kata dokter kalau keadaan ibu membaik terus maka besok ibu bisa pulang.”
“Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya.”
“Kalau begitu, aku pergi bekerja dulu, ya?”
“Hati-hati di jalan.”
Bintang kemudian masuk ke dalam ruangan inap ibunya dan menemukan sang ibu tengah menatap keluar jendela ruangan inapnya.
“Bintang? Kok kamu ke sini?”
“Hana yang memintaku menjaga Ibu selama dia bekerja.”
“Kamu tak perlu melakukan itu, toh ada perawat yang nanti datang dan menjaga Ibu.”
“Tidak Bu, aku akan melakukannya untuk Ibu.”
****
Bintang seperti tengah memikirkan sesuatu dan Rohimah mengetahui hal tersebut, ia bertanya pada Bintang mengenai apa yang tengah Bintang pikirkan saat ini.
“Tidak kok Bu.”
“Kamu jangan bohong, Bintang.”
“Aku baik-baik saja, Bu.”
Bintang tak dapat membayangkan betapa hancurnya hati ibunya kalau ia tahu Vicko melakukan hal buruk dengan Miranda yang berstatus sebagai nyonya di rumah itu, ibunya pasti begitu hancur dengan kelakuan Vicko itu.
“Nak?”
“Aku baik-baik saja Bu, sungguh.”
Bintang kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal lain yang membuat ibunya tidak lagi bertanya mengenai apa yang sedang ia pikirkan, akhirnya malam hari pun tiba dan Hana kembali ke rumah sakit dan Bintang dapat pulang ke rumah.
“Bu, aku pamit pulang dulu, ya?”
“Hati-hati di jalan, Nak.”
“Iya Bu.”
Bintang baru saja keluar dari rumah sakit dan ponselnya berdering, ia melihat nama tuan Usman di layar ponselnya dan buru-buru ia menjawab telepon dari pria tersebut.
“Di mana kamu?”
“Saya di rumah sakit, Tuan.”
“Kamu sedang bersama dengan Zulfa?”
“Tidak, saya hanya sendirian, Tuan.”
“Apa katamu? Lalu di mana Zulfa sekarang?”
“Tunggu dulu, jadi sekarang nona Zulfa belum kembali ke rumah?”
“Astaga, cepat kamu cari di mana dia berada!”
“Baik Tuan.”
Setelah menutup sambungan telepon itu, Bintang berusaha menelpon Zulfa akan tetapi ponsel wanita itu tidak aktif.
“Dia ke mana ya?”
****
Rupanya saat ini Zulfa tengah menghabiskan waktu dengan Hamish di sebuah tempat yang sangat sepi dan tenang sekali, mereka duduk beralaskan rumput sambil menatap ke arah langit yang sangat indah sekali malam ini.
“Zulfa.”
“Ada apa, Hamish?”
“Apakah kamu masih mencintaiku?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Jawab saja pertanyaanku, Zulfa.”
“Aku masih mencintaimu, Hamish.”
“Aku pun juga masih mencintaimu, Zulfa, aku tidak ingin kita berpisah.”
“Tapi sekarang kita sudah menikah dan tidak mungkin bersama kan?”
“Kita berdua saling mencintai dan kita bisa diam-diam berhubungan kan?”
“Apa?”
“Apakah kamu mencintai suamimu?”
“Tidak, aku tidak mencintainya, aku dan dia akan segera bercerai.”
“Aku pun juga tak mencintai istriku, setelah anak kami lahir maka aku akan menceraikannya jadi kita memiliki peluang untuk bisa bersama-sama kembali seperti dulu.”
“Apakah kamu yakin bahwa kali ini kita akan berhasil, Hamish?”
“Percayalah padaku, Zulfa.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments