Hari ini adalah hari pernikahan Hamish dengan wanita yang ia hamili di London, Zulfa sudah berjanji pada mantan tunangannya itu untuk hadir di acara pernikahan Hamish dan tentu saja tidak mungkin ia mengingkar janji yang sudah ia buat walaupun sebenarnya rasanya masih sakit sekali jika mengingat apa saja kenangan yang sudah mereka ukir selama ini.
“Zulfa, kamu yakin akan pergi ke pernikahan Hamish?” tanya Miranda dengan keputusan putrinya ini yang tetap ingin pergi ke pernikahan Hamish.
“Tentu saja Ma, aku sudah berjanji pada Hamish untuk datang ke acara pernikahannya,” jawab Zulfa yang berusaha nampak tegar di depan sang mama.
Miranda memeluk Zulfa karena ia tahu bahwa saat ini putrinya masih belum sepenuhnya menerima keadaan akan tetapi Zulfa memilih jalan ini.
“Mama tidak dapat menahanmu kalau memang ini sudah menjadi keputusanmu.”
“Terima kasih banyak, Ma.”
Zulfa pergi dengan Bintang, sepanjang perjalanan menuju tempat pernikahan Hamish, mereka berdua sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan. Bintang fokus mengemudi sementara Zulfa menatap keluar jendela mobil, ia tidak memikirkan soal Hamish namun ia memikirkan soal apa yang terjadi semalam di mana tiba-tiba saja ia terpesona dengan Bintang.
“Astaga, kenapa denganku ini?”
“Nona baik-baik saja?”
“Jangan banyak tanya, jalan saja.”
Bintang kemudian terdiam mendengar respon buruk yang diberikan oleh Zulfa barusan hingga akhirnya mereka tiba juga di gedung tempat pernikahan Hamish dan wanita itu diselenggarakan.
“Ingat apa yang sudah aku katakan padamu sebelumnya.”
“Iya, aku ingat Nona.”
“Dan satu lagi di depan Hamish, jangan memanggilku, Nona.”
“Baik.”
****
Kedatangan Zulfa dan Bintang menjadi sorotan media yang hadir untuk meliput pernikahan Hamish dan calon istrinya, mereka tiba-tiba saja mendatangi Zulfa dan menanyakan kenapa Zulfa datang ke acara ini.
“Tentu saja karena saya ingin memberikan selamat pada Hamish, walaupun dia tidak berjodoh dengan saya akan tetapi sekarang saya sudah menikah dan ia pun juga begitu.”
Zulfa berusaha untuk tersenyum pada awak media yang meliputnya sementara Bintang masih nampak kikuk karena ini pertama kalinya berhadapan dengan awak media.
“Kami berdua masuk dulu.”
Zulfa dan Bintang kemudian masuk dengan pengawalan petugas keamanan dan ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam, Zulfa merasa kesal pada Bintang yang hanya diam saja barusan.
“Aku minta maaf Nona, soalnya itu baru pertama kali aku menghadapi wartawan.”
“Bintang, kamu sudah lupa jangan panggil aku dengan Nona ketika di gedung ini, bagaimana kalau ada orang yang dengar?”
“Aku minta maaf.”
Zulfa kemudian duduk bersama Bintang untuk menyaksikan acara pesta pernikahan Hamish dan wanita yang sudah ia hamili, ketika saatnya memberikan selamat pada kedua mempelai maka Zulfa sengaja memberikan kode pada Bintang untuk mendekat dan memeluk pinggangnya di depan Hamish supaya pria itu cemburu dan Bintang melakukan tugasnya dengan baik hingga Zulfa bisa melihat raut cemburu di wajah Hamish.
“Selamat Hamish, kamu akhirnya sudah menikah juga.”
****
Diam-diam Miranda menyelinap masuk ke dalam rumah belakang setelah sebelumnya ia meminta Vicko untuk masuk ke dalam rumah belakang dan menemuinya di sana. Ketika Miranda sudah masuk ke dalam rumah
belakang itu, ia langsung menuju kamar Vicko dan di sana sudah ada pria itu yang menunggunya.
“Saat ini tuan Usman kan sedang di rumah, Nyonya.”
“Suamiku sedang pergi ke acara dengan rekan sesama pengusahanya, dia sedang tidak ada di rumah sekarang jadi kamu tenang saja.”
“Apakah anda yakin?”
“Vicko, kalau memang suamiku tengah ada di rumah, bagaimana bisa aku berani mendatangimu di sini?”
Akhirnya Miranda kembali memangut bibir Vicko dengan ganas, gairahnya begitu menggebu ketika melihat pria muda ini yang dimatanya begitu menggairahkan. Vicko didorong rebah di ranjang dan Miranda melepaskan
pakaian yang Vicko kenakan sambil masih mencium bibir Vicko dengan rakus, sementara itu rupanya dari luar rumah belakang nampak Tri yang sedang mengamati sekitar.
“Sepertinya tadi aku melihat mama di sekitar sini,” gumam Tri.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Raina pada adiknya.
“Kak, tadi sepertinya aku melihat mama di sekitar sini, tingkahnya benar-benar sangat mencurigakan.”
“Benarkah? Kamu yakin kalau tidak salah lihat?”
“Tidak Kak, aku tidak salah lihat, kok.”
****
Raina dan Tri kemudian menyusuri rumah belakang dan mereka kemudian mengetuk pintu rumah belakang akan tetapi kemudian Tri baru menyadari kalau rumah belakang tidak dikunci.
“Pintunya tidak terkunci, Kak.”
Raina dan Tri masuk ke dalam rumah belakang itu namun mereka tidak menemukan siapa pun di sini.
“Sepertinya mama tidak di sini.”
“Begitulah.”
Ketika Raina dan Tri keluar dari rumah dan menutup kembali pintu rumah belakang, Vicko mengintip dari balik pintu kamarnya untuk memastikan kalau Raina dan Tri sudah pergi dari sini.
“Bagaimana, Vicko? Mereka sudah pergi?”
“Sudah Nyonya, mereka sudah pergi.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Akhirnya Vicko dan Miranda melanjutkan kembali pergumulan panas mereka sementara di lain sisi Raina dan Tri kembali ke rumah utama dengan perasaan yang masih berkecamuk.
“Kamu yakin tidak salah lihat?”
“Tidak Kak, aku yakin, kok.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita lihat rekaman kamera CCTV saja?”
“Ide yang bagus.”
Akhirnya mereka pergi menemui petugas keamanan untuk meminta rekaman kamera CCTV dan petugas keamanan nampak gelapan ketika diminta rekaman kamera CCTV oleh mereka hingga membuat keduanya penasaran.
“Ada apa sebenarnya, Pak? Kok anda sepertinya nampak panik sekali?”
“Anu sebenarnya, kamera CCTV-nya sedang rusak dan sekarang saya tengah mencoba menghubungi teknisi untuk membenarkan kamera CCTV yang rusak itu.”
****
Miranda muncul di rumah utama dan langsung saja Tri dan Raina bertanya dari mana saja Miranda barusan, Miranda mengatakan bahwa ia baru saja dari luar sebentar.
“Benarkah? Mama tidak berbohong?”
“Kenapa kamu menanyakan itu, Tri?”
“Karena tadi aku melihat Mama mengendap-endap di halaman belakang menuju rumah belakang.”
“Kamu pasti salah lihat, untuk apa Mama melakukan itu.”
“Semoga saja aku salah lihat, Ma.”
“Tentu saja kamu salah lihat, mana mungkin Mama mengendap-endap seperti itu, sudahlah Mama mau mandi dan ganti pakaian dulu.”
Setelah Miranda masuk ke dalam kamarnya, Raina bercerita pada Tri kalau sebenarnya dulu ia pernah memergoki Miranda keluar dari rumah belakang namun gerakannya sungguh aneh sekali.
“Maksudmu?”
“Iya, dia seperti mengendap-endap begitu, sepertinya ada sesuatu yang tengah Mama sembunyikan.”
“Kira-kira apa itu, ya?”
“Aku juga tidak tahu.”
“Kalian ini sedang membicarakan apa?” tanya Zulfa yang baru saja kembali dari pesta pernikahan Hamish.
“Kami sedang membicarakan soal mama, sikap mama aneh sekali, Kak,” jawab Tri.
“Mama? Aneh? Aneh bagaimana maksudnya?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments