Petra makan siang seorang diri di restoran itu, ketika ia tengah menikmati makan siangnya dengan tenang dan penuh keheningan, tiba-tiba saja seorang wanita muncul dari belakangnya dan memberikannya kejutan.
“Kejutan!”
“Astaga, kamu ini!”
“Apakah kamu terkejut, Petra?”
“Samara? Kamu kenapa bisa tahu aku ada di sini?”
“Tentu saja aku tahu kamu ada di sini, aku kan tahu segala hal tentangmu, Petra.”
Samara adalah teman dekat Petra sejak pria itu duduk di bangku SMA hingga mereka sama-sama kuliah di universitas yang sama di Inggris, ketika Petra memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena desakan keluarganya mengabdi pada perusahaan, Samara tetap tinggal di Inggris dan menjadi seorang model terkenal. Mereka sudah lama sekali tidak saling bertemu dan berkontak karena kesibukan masing-masing akan tetapi ini adalah sebuah kejutan karena Samara tiba-tiba muncul di Indonesia yang lebih tepatnya lagi di restoran tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu makan siangnya.
“Kamu ternyata tidak berubah ya Petra, sejak masih SMA kamu suka sekali tempat yang sepi seperti restoran ini.”
“Memangnya kenapa? Bukankah kamu bilang mengenalku? Harusnya tidak heran dong kalau aku menyukai tempat yang jauh dari keramaian dan kebisingan?”
“Kamu benar, untungnya saja restoran ini masih tetap berdiri, kalau dihitung-hitung sudah lebih dari 10 tahun sejak pertama kali kamu membawaku ke restoran ini dulu kan?”
“Iya, dulu kamu ingin sekali mengikuti ke mana pun aku pergi hingga rasanya aku benci sekali padamu akan tetapi lambat laun justru aku menyadari kalau kamu adalah teman terbaikku, kamu bisa menjadi tempatku untuk berkeluh kesah tanpa ada penghakiman seperti aku bercerita pada orang lain.”
****
Bintang meminta izin pada Zulfa untuk pergi menemui ibunya di rumah sakit dan Zulfa merasa heran kenapa Bintang harus meminta izin padanya karena ia sama sekali tidak peduli mengenai Bintang pergi ke mana dan menemui siapa. Akhirnya Bintang pun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu sendirian karena Vicko diminta oleh Miranda mengantarkannya ke suatu tempat padahal Bintang sudah mengatakan kalau ia yang harus melakukan tugas itu akan tetapi Miranda menolaknya dan tetap ingin diantarkan oleh Vicko hingga ia bisa pergi menemui ibunya di rumah sakit ini.
“Bang?”
“Hai Hana, Bu.”
“Bintang sayang, akhirnya kamu datang juga, Nak.”
“Bagaimana kabar Ibu? Apakah sudah jauh lebih baik?”
“Iya Nak, Ibu sudah jauh lebih baik dari kemarin.”
“Bang, apakah Abang masih akan lama di sini?”
“Kenapa memangnya?”
“Aku akan berangkat kerja, tolong Abang jaga Ibu dulu, ya?”
“Iya, kamu pergi sana bekerja, aku akan di sini menjaga Ibu.”
“Bu, aku pergi bekerja dulu, ya? Ada Bang Bintang yang akan menjaga Ibu.”
“Iya Nak, hati-hati di jalan.”
“Iya Bu, Bang aku jalan dulu.”
Setelah Hana pergi bekerja, kini Bintang duduk di kursi kosong yang sebelumnya menjadi tempat duduk Hana ketika menjaga ibu mereka selama di rumah sakit ini.
****
Rohimah menggenggam erat tangan Bintang dan mengusapnya lembut, Rohimah bertanya pada Bintang apakah kehidupan Bintang sudah jauh lebih baik saat ini dan Bintang tentu saja menjawab kalau kehidupannya jauh lebih baik dan meminta supaya sang ibu tak perlu khawatir.
“Syukurlah, maafkan Ibu karena sudah membuat kamu dan adik-adikmu menderita begini.”
“Ibu jangan bicara seperti itu, aku dan yang lain sama sekali tidak merasakan hal itu, kok.”
“Bintang.”
“Ada apa, Bu?”
“Kapan kamu akan membawa istrimu bertemu dengan Ibu?”
Bintang sontak saja terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh sang ibu, ia sendiri tak tahu kapan bisa membawa Zulfa menemui sang ibu kalau ia bicara yang sejujurnya pada ibunya kalau hubungannya dan Zulfa tidak baik karena ia hanya seorang suami pengganti maka ibunya pasti sangat sedih.
“Nak, kamu kenapa?”
“Aku harus membicarakannya dulu dengan istriku, Bu. Dia orang yang sangat sibuk jadinya aku belum tahu kapan dia ada waktu.”
“Kamu sendiri memangnya tidak bekerja?”
“Aku bekerja sebagai sopir di rumah itu, Bu.”
“Apa? Kamu jadi tidak bekerja di kantor mereka? Apakah mereka memperlakukanmu buruk, Nak?”
“Tidak Bu, mereka sama sekali tak memperlakukanku buruk, Ibu jangan khawatir begitu.”
“Syukurlah kalau memang mereka tidak memperlakukanmu buruk, kalau memang mereka memperlakukanmu dengan buruk Ibu akan sangat sedih sekali.”
Bintang hanya tersenyum dan kemudian mengatakan bahwa ibunya jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting dan fokus saja pada penyembuhan supaya bisa segera keluar dari rumah sakit ini.
****
Bintang pulang terlambat akibat menanti Hana selesai bekerja, ketika tiba di rumah nampak rumah sudah gelap dan sepertinya semua orang rumah sudah tidur, Bintang pun bergegas menuju kamarnya dan Zulfa akan tetapi ketika ia membuka pintu kamar tersebut, rupanya Zulfa belum tertidur dan ia langsung menatap tajam ke arah Bintang.
“Nona belum tidur?”
“Ke mana saja kamu?”
“Anu aku kan menjaga ibu di rumah sakit.”
“Sampai semalam ini?”
“Aku harus menunggu sampai adikku selesai bekerja, baru aku bisa pulang, kasihan kalau ibu sendirian di sana.”
“Kamu mandi sana.”
“Anu Nona.”
“Ada apa lagi?”
“Apakah Nona keberatan bertemu dengan ibu dan adik saya akhir pekan ini?”
“Apa katamu?”
“Kalau Nona keberatan, saya tidak masalah, saya bisa mencari alasan kok.”
“Akhir pekan ini?”
“Iya Nona.”
“Baiklah, aku akan pergi menemui mereka.”
“Yang benar?”
“Berisik, sudah sana mandi.”
“Terima kasih, Nona.”
Bintang segera masuk ke kamar mandi dengan riang dan diam-diam Zulfa ikut tersenyum setelah Bintang masuk ke dalam kamar mandi, ia sebenarnya penasaran dengan keluarga pria itu selain Vicko.
****
Akhir pekan ini, Zulfa dan Bintang sudah siap dengan pakaian yang dipilih oleh Zulfa, ia ingin penampilan Bintang lebih baik dari biasanya karena mereka akan bertemu dengan ibu mertuanya. Usman dan Miranda yang melihat Zulfa dan Bintang sudah rapih pun bertanya mau pergi ke mana mereka berdua.
“Aku mau menemui ibunya Bintang,” jawab Zulfa santai.
“Apa? Apakah Mama tidak salah dengar?” tanya Miranda heran.
“Iya, Mama tak salah dengar, aku memang akan menemui ibunya Bintang yang tengah dirawat di rumah sakit,” jawab Zulfa.
“Bintang, jaga anak saya baik-baik,” ujar Usman.
“Baik Tuan.”
“Kami pergi dulu.”
Zulfa kemudian menggandeng tangan Bintang untuk segera pergi dari rumah ini dan masuk ke dalam mobil, setelah mereka masuk ke dalam mobil Zulfa mengatakan pada Bintang bahwa ia jangan memanggilnya nona di depan ibunya dan Bintang pun menyanggupinya.
“Kamu jangan gugup begitu dong,” ujar Zulfa yang melihat Bintang gugup saat mereka tiba di rumah sakit dan akan menuju ruangan inap ibunya.
“Maaf, aku…sedikit gugup karena ini pertama kalinya Nona bertemu dengan ibuku.”
“Bintang!”
“Maaf, aku akan berusaha tidak memanggilmu Nona di depan ibuku.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments