Bintang nampak terkejut dengan permintaan dari Zulfa barusan, ia berpikir kalau saat ini Zulfa sedang mabuk akan tetapi ia merasa kalau Zulfa sama sekali tidak mengonsumsi minuman beralkohol ketika mengatakan hal tersebut padanya. Akhirnya Bintang pun menuruti apa yang diminta oleh Zulfa, wanita itu tidur dengan posisi memeluknya hingga tertidur, Bintang sendiri karena juga lelah langsung terlelap tidur dengan posisi tangannya mengusap rambut Zulfa. Ketika pagi hari menjelang, Zulfa terbangun dan mendapati dirinya tengah terbangun dengan posisi dipeluk oleh Bintang dan tangan pria itu tengah berada di kepalanya. Zulfa memerhatikan raut wajah Bintang yang nampak tenang ketika tertidur, Zulfa terus mengamati wajah itu hingga perlahan kedua mata Bintang terbuka dan membuat Zulfa maupun Bintang terkejut.
“Maafkan aku Nona kalau aku lancang.”
“Siapa yang lancang? Bukankah semalam aku yang memintamu untuk tidur bersamaku?”
“Iya sih, aku pikir semalam Nona mabuk dan tak sadar dengan apa yang diucapkan kemarin.”
Zulfa tersenyum dan kemudian ia menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, perasaannya sudah jauh lebih baik pagi ini dan ia berterima kasih pada Bintang karena sudah mau menemaninya tidur semalam.
“Tidak masalah Nona, aku senang kalau perasaan Nona sudah jauh lebih baik sekarang.”
Zulfa kemudian pergi ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor sementara Bintang melakukan pemanasan di dekat tempat tidur, ia meregangkan otot-ototnya yang kaku dan saat Zulfa keluar dari kamar mandi, secara tak sengaja wanita itu melihat baju yang Bintang kenakan tersingkap karena saat ini Bintang tengah meregangkan kedua tangannya ke atas.
“Maaf Nona.”
****
Zulfa berusaha bersikap biasa saja dengan kejadian barusan walaupun sebenarnya ia agak terkejut dan penasaran dengan bentuk tubuh Bintang yang cukup menggodanya itu akan tetapi Zulfa tak mau membiarkan pria ini jadi besar kepala dan kemudian akan menggodanya dengan melakukan hal-hal yang sengaja memancingnya.
“Kamu suka berolahraga di gym?” tanya Zulfa saat Bintang sudah selesai mandi.
“Tidak Nona, aku tidak memiliki cukup uang kalau olahraga di gym, selama ini aku selalu olahraga di rumah saja sebelum dan sesudah pulang kerja.”
“Kalau sekarang?”
“Semenjak menikah belum, Nona.”
“Kalau begitu kamu lebih baik menjadi anggota gym di tempat aku biasa gym.”
“Apa?”
“Soal biaya tidak perlu dipikirkan, aku mau kamu memiliki tubuh yang ideal supaya Hamish yang kurang ajar itu makin merasa cemburu kalau kita bermesraan.”
Bintang hanya diam ketika mendengar ocehan Zulfa yang sepertinya masih dendam dengan mantan tunangannya yang sudah berkhianat ketika mereka berdua sedang berjauhan dan parahnya lagi hal tersebut baru Zulfa ketahui sehari sebelum hari pernikahan mereka berlangsung.
“Kenapa dia tidak mau jujur padaku sejak awal, ya?” lirih Zulfa.
****
Sampai saat ini Zulfa belum dapat melupakan bayang-bayang Hamish, walaupun ia selalu berkata kalau ia membenci Hamish dan sudah melupakan pria itu dari kehidupannya akan tetapi kerap kali Zulfa masih saja melihat postingan foto Hamish di media sosial atau melihat di galeri ponselnya foto-foto kenangan mereka dulu ketika masih bersama.
“Ehem, terjebak nostalgia?”
Sontak saja Zulfa terkejut dengan suara Raina barusan, ia tak mendengar kalau Raina membuka pintu ruangan kerjanya dan memarahi adiknya itu karena dianggap tidak sopan karena masuk ke dalam ruangan kerjanya tanpa permisi.
“Aku sudah mengetuk pintu ruangan kerjamu akan tetapi karena kamu terlalu sibuk melihat foto mantan tunanganmu itu jadinya tidak terdengar, deh.”
“Apa yang membawamu ke sini?”
“Ini, aku membawakan laporan yang kamu minta kemarin.”
“Taruh saja di meja nanti aku akan periksa.”
Akan tetapi Raina tidak langsung pergi dari ruangan kerjanya hingga membuat Zulfa penasaran kenapa adiknya ini belum juga pergi padahal ia sudah selesai urusannya barusan.
“Ada apa? Kenapa belum mau pergi?”
“Sebenarnya masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Benarkah? Soal apa?”
“Ah, aku ragu kalau mau mengatakannya padamu.”
“Jangan membuatku menjadi penasaran, katakan saja apa yang ingin kamu katakan padaku.”
“Sebenarnya aku menyukai seorang pria saat ini.”
“Benarkah? Siapa pria itu?”
****
Zulfa dibuat terkejut dengan jawaban dari Raina barusan bahwa pria yang disukai oleh Raina itu tidak lain dan tidak bukan adalah Petra? Tentu saja Zulfa menolak keras hal tersebut.
“Tidak, lebih baik kamu jangan dekat-dekat dengan pria itu.”
“Memangnya kenapa? Apakah karena Petra adalah adiknya Hamish?”
“Iya, itu kamu tahu alasannya. Kamu lihat sendiri bagaimana kakaknya yang kurang ajar itu memperlakukanku kan? Petra bisa saja melakukan hal yang sama dengan Hamish.”
“Tapi aku yakin Petra berbeda dengan Hamish, dia pria yang lembut dan baik hati, dia juga pria yang jujur, aku yakin kalau Petra adalah pria yang berbeda dengan Hamish.”
“Kamu pikir penilaianku pada Hamish dulu seperti ini? Tentu saja tidak, aku juga berpikir sama sepertimu, Hamish adalah pria yang baik dan tak akan mengkhianatiku bahkan kami sudah bertunangan dan bersiap akan menikah, akan tetapi kenyataannya? Dia tidur dengan wanita lain di London dan akhirnya dia membatalkan pernikahan kami demi tanggung jawabnya pada wanita itu.”
“Jadi kamu tidak setuju kalau aku dekat dengan Petra?”
“Lupakan saja pria itu, cari saja pria lain yang jauh lebih baik darinya, memangnya hanya dia saja satu-satunya pria di muka bumi ini?”
“Lalu bagaimana kalau aku tertarik pada suamimu?”
“Apa maksudmu?”
****
Petra mengemudikan mobilnya untuk pergi makan siang akan tetapi di sebuah jalan dekat rumah sakit, ia nyaris menabrak seorang wanita yang menyebrang jalan dengan agak tergesa-gesa, untungnya saja Petra sempat menginjak pedal rem mobilnya hingga ia tak smpai menabrak wanita itu. Petra membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil untuk memastikan kalau memang wanita itu baik-baik saja.
“Kamu baik-baik saja kan?”
“Iya, aku baik-baik saja, maaf karena sudah ceroboh, aku sedang buru-buru.”
Wanita itu langsung pergi masuk ke dalam area rumah sakit dan membuat Petra penasaran ingin mengenal sosoknya lebih jauh lagi, akan tetapi suara klakson memekakan telinga terdengar darinya yang berasal dari mobil di belakangnya yang sudah mengantre. Petra pun kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kembali kendaraannya itu menuju restoran andalannya ketika ia ingin menghabiskan waktu makan siangnya dengan tenang.
“Kenapa tiba-tiba saja aku tertarik pada wanita itu, ya? Apakah kami akan dapat bertemu lagi?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments