Bintang turun dari dalam mobil untuk memastikan kalau penyebrang jalan yang tadi nyaris ditabrak olehnya baik-baik saja.
“Saya baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu, sekali lagi saya minta maaf, ya.”
Setelah itu Bintang pun kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu meninggalkan orang yang nyaris ia tabrak barusan, wanita yang tadi nyaris ditabrak oleh Bintang menatap kepergian mobil yang
dikemudikan oleh pria tersebut selama beberapa detik hingga ia nyaris melupakan tugasnya untuk kembali ke tempatnya bekerja. Wanita itu bergegas pergi menuju sebuah rumah mewah yang menjadi tempatnya bekerja, ketika baru saja masuk ke dalam rumah nampak wanita yang menjadi nyonya di rumah ini menatapnya tajam.
“Dari mana saja kamu?”
“Saya dari belanja di pasar kebutuhan dapur, Nyonya.”
“Kamu pikir sekarang sudah jam berapa? Kenapa baru sampai jam segini?”
“Saya minta maaf, Nyonya. Saya tidak akan melakukannya lagi.”
Setelah itu ia pun segera masuk ke dalam rumah melalui pintu samping dan segera menyiapkan makan siang untuk keluarga ini, ketika ia tengah menyiapkan makan siang itu dirinya malah teringat sosok pria yang nyaris menabraknya tadi.
****
Bintang mulai bisa menyetir mobil dengan arahan dari Vicko walaupun beberapa kali Bintang terlihat masih belum mahir sekali namun setidaknya Bintang sudah bisa menguasai dasar mengendarai mobil dan ia sudah bisa menghadapi situasi di jalan raya yang padat.
“Saya sudah melakukan seperti apa yang Tuan perintahkan,” ujar Vicko.
“Baguslah kalau begitu, mulai besok kamu tidak perlu lagi menjadi sopir dari istriku,” ujar Usman.
“Maaf?”
“Apakah kamu tidak mendengar dengan jelas ucapan saya barusan?”
“Saya mendengarnya Tuan, lalu siapa yang akan mengantar nyonya Miranda jika beliau ingin pergi?”
“Tentu saja Bintang, saya yang menyuruh dia menjadi sopir pribadi istri saya, tugasmu sekarang hanya menjadi sopir cadangan kalau Bintang dan sopirku berhalangan, kamu mengerti?”
“Saya mengerti, Pak.”
“Oh ya, besok kamu tolong jemput anak saya yang bungsu di bandara, kamu ingat siapa dia kan?”
“Saya ingat Tuan.”
“Baguslah kalau begitu, besok pesawatnya mendarat pukul 8 pagi dan saya ingin kamu berada di bandara sebelum pukul 8 pagi.”
“Siap Tuan.”
“Kamu boleh pergi sekarang.”
“Saya permisi dulu.”
Vicko kemudian berbalik badan dan segera keluar dari ruangan kerja Usman dan ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Bintang yang langsung bertanya apa yang Vicko lakukan di ruangan Usman.
“Beliau tadi memanggilku.”
****
Di meja makan, Usman bercerita kalau anak bungsunya akan kembali ke Indonesia besok pagi dan ia sudah menyuruh Vicko untuk menjemputnya di bandara.
“Apakah ini ada campur tangan Papa?” tanya Raina.
“Apa maksudmu?” tanya Usman.
“Papa ingin sekali Tri untuk pulang ke Indonesia supaya bisa membantu memajukan perusahaan kita kan?”
“Tentu saja Papa yang menyuruhnya untuk pulang karena sudah sewajarnya dia menjadi bagian dari perusahaan, kelak dia yang akan mewarisi perusahaan.”
Raut wajah Zulfa nampak berubah saat Usman mengatakan hal tersebut barusan dan Bintang bisa melihat hal tersebut akan tetapi ia tidak berani banyak bicara. Selepas acara makan malam tersebut selesai, Bintang
mendekati Raina untuk bicara dengan adik dari Zulfa tersebut.
“Maaf Nona.”
“Ada apa?”
“Anu… maaf kalau saya lancang akan tetapi nona Zulfa memiliki adik lain lagi selain anda?”
“Iya, dia memiliki adik satu lagi namanya Tri Anggara sekarang dia menetap di Inggris namun seperti yang sudah kamu dengar papa kami memintanya untuk pulang ke Indonesia.”
“Begitu rupanya.”
“Memangnya Zulfa tidak memberitahumu mengenai hal itu?”
“Tidak, Nona.”
“Ngomong-ngomong, apakah kamu mau berselingkuh denganku?”
“Apa?”
“Kamu tampan dan menarik, aku rasa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu.”
“Maaf akan tetapi saya tidak dapat melakukan itu.”
“Kenapa? Apakah aku kurang cantik dari Zulfa?”
“Tidak, bukan karena anda kurang cantik akan tetapi saya sudah menandatangani perjanjian dengan tuan Usman, saya tidak mau mengkhianati kepercayaannya pada saya sebagai suami pengganti nona Zulfa.”
“Kamu pria yang baik Bintang, sayangnya kamu harus berakhir menjadi suami pengganti di rumah ini, aku berharap kamu selamanya akan menjadi bagian dari keluarga ini.”
****
Setidaknya ada satu orang di rumah ini yang bersikap baik padanya dan dia adalah Raina, wanita itu secara terus terang mengatakan kalau dia menyukainya karena wajahnya yang tampan akan tetapi Bintang tidak mau
berselingkuh dengan Raina walaupun secara terang-terangan wanita itu menggodanya untuk melakukan itu. Bintang kemudian masuk ke dalam kamar Zulfa dan di sana nampak wanita itu tengah tiduran di kasur sambil memainkan ponselnya, Zulfa menatap tajam ke arah Bintang dan membuat Bintang kikuk.
“Kamu bicara apa saja dengan adikku?”
“Aku… aku ….”
“Jangan mentang-mentang kamu sekarang menjadi lebih tampan dan adikku memujimu maka kamu bisa sembarangan tebar pesona, ya! Ingat posisimu di rumah ini, Bintang!”
“Aku tidak tebar pesona Nona, tadi aku menanyakan soal adik anda.”
“Adik? Maksudmu Tri?”
“Iya, maaf kalau saya lancang.”
“Aku benci dia karena papa lebih memilih dia menjadi penerusnya di perusahaan dibandingkanku padahal aku adalah anak pertamanya, kenapa papa tidak mau memberikanku kesempatan untuk membuktikan diriku layak
menggantikan posisinya?”
****
Keesokan harinya Vicko sudah berada di bandara untuk menjemput putra bungsu dari tuan Usman yang pagi ini tiba di Indonesia, Vicko sudah diberikan foto Tri oleh Usman sebelum berangkat ke bandara dan Vicko
mengamati satu persatu orang yang keluar dari pintu kedatangan bandara itu hingga akhirnya ia menemukan Tri di antara banyaknya manusia yang keluar dari pintu kedatangam.
“Tuan Tri!”
Merasa namanya dipanggil maka ia pun segera menoleh ke arah sumber suara, ia melepas kacamata hitam yang ia pakai untuk melihat lebih jelas siapa orang yang memanggil namanya dan rupanya orang itu adalah Vicko.
“Vicko?”
“Iya Tuan, ini saya Vicko, anda masih mengenali saya?”
“Tentu saja aku mengenalimu.”
“Biar saya bantu membawa koper anda.”
“Ah tidak perlu santai saja, di mana mobilnya?”
“Tuan tunggu saja di sini, saya akan ambil mobilnya.”
“Jangan, aku akan ikut denganmu sampai parkiran.”
“Tapi ….”
“Sudah tunjukan saja di mana kamu memarkir mobilnya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments