Zulfa mendesak supaya Petra mengatakan kebenaran padanya sekarang juga mengenai apa yang ia dengar dari mamanya secara tidak sengaja tadi sore, Petra sendiri nampak serba salah saat ini, sebenarnya ia enggan untuk mengatakan kebenarannya pada Zulfa akan tetapi wanita itu terus saja mendesaknya supaya mengatakan kejujuran padanya.
“Baiklah, sebenarnya apa yang kamu dengar dari mamamu itu benar Zulfa, kakakku saat itu tidak sengaja tidur dengan wanita itu hingga akhirnya kini wanita itu mengandung anaknya dan meminta pertanggung jawabannya.”
“Bagaimana bisa?”
“Kamu ingat 3 bulan lalu ketika kakakku ada dinas ke Inggris kan?”
“Jangan bilang kalau saat itu ….”
“Kakakku diajak pergi ke sebuah klub malam di London dan terjadilah hal itu.”
Hati Zulfa benar-benar hancur saat mendengar kejujuran itu, rupanya kejadian di London 3 bulan lalu adalah sumber dari hancurnya rencana pernikahan mereka kini.
“Tapi setidaknya kamu sekarang sudah menikah kan? Aku yakin pria itu akan dapat menyembuhkan luka hati yang disebabkan oleh kakakku.”
“Kamu perlu tahu satu hal Petra, aku menggunakan Bintang hanya untuk tidak mempermalukan keluargaku karena mereka sudah terlanjur mengundang banyak tamu penting. Andai saja aku membatalkan pernikahan itu secara sepihak mungkin mereka akan menanggung malu yang lebih dari ini.”
“Aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah kakakku lakukan padamu.”
“Sudahlah, terima kasih karena kamu sudah mau jujur padaku.”
Akhirnya setelah makan malam dengan Petra, Zulfa pun pulang ke rumahnya dengan perasaan hancur lebur.
****
Bintang dimarahi oleh Usman karena seharian ini ia tidak menjalankan apa yang diperintahkan olehnya, Bintang menundukan kepalanya dan meminta maaf atas apa yang terjadi.
“Kamu jangan berlagak menjadi menantuku sekarang, ya! Ingat statusmu yang hanya menjadi suami pengganti untuk anak saya!”
“Saya tidak ada maksud seperti itu Tuan, saya bersumpah bahwa nona Zulfa tadi mengajak saya ke mall dan membelikan beberapa pakaian untuk saya.”
Sebenarnya Usman masih ingin marah pada pria ini akan tetapi tiba-tiba saja ponselnya berdering dan ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya ia terkejut dibuatnya.
“Zulfa, kenapa kamu menelpon Papa, Nak?”
“Maaf Pak, ini bukan Zulfa, saya petugas di salah satu bar, saya ingin memberitahu kalau putri anda sekarang sedang mabuk parah dan membuat onar di sini.”
“Apa? Di mana dia sekarang?”
Usman menganggukan kepalanya dan kemudian menutup sambungan teleponnya, ia menyuruh Bintang untuk menjemput ke bar itu akan tetapi Bintang mengatakan kalau ia tidak dapat menyetir mobil.
“Ah, kamu bisa minta tolong pada Vicko kan?”
Akhirnya Bintang pun pergi menemui Vicko di rumah belakang, ia meminta adiknya mengantarkan dirinya ke sebuah bar tempat di mana Zulfa mabuk saat ini.
“Cepatlah nanti aku dimarahi lagi,” seru Bintang.
“Iya, ini juga sudah cepat,” ujar Vicko.
****
Bintang mencari di mana keberadaan Zulfa di dalam bar itu, akhirnya ia menemukan Zulfa yang sudah tak sadarkan diri. Ia menggendong wanita itu dan segera masuk ke dalam mobil dan ketika mereka sudah sampai di rumah, Usman menyuruh Bintang memasukan anaknya itu ke dalam kamarnya.
“Bagaimana sekarang?” gumam Bintang bingung karena saat ini ia ingin mengganti pakaian Zulfa karena kotor akan tetapi ia masih tak berani melakukan itu walaupun saat ini mereka sudah berstatus sebagai suami
istri.
Bintang menghela napasnya panjang dan kemudian mulai melakukan tugasnya mengganti pakaian Zulfa dengan ia menutup kedua matanya, untungnya saja ia berhasil melakukan itu dan karena terlalu lelah seharian ini, ia ketiduran di sebelah Zulfa, ketika pagi hari menyingsing nampak Zulfa mengerjapkan kedua matanya dan kepalanya terasa pusing sekali. Ia melihat ada pria asing yang tidur di sebelahnya dan rupanya pria itu adalah Bintang.
“Kok dia berani sekali tidur di sampingku?!”
Zulfa juga terkejut ketika dirinya sudah berganti pakaian dan langsung saja ia memukul Bintang dengan bantal dan membuat Bintang bangun.
“Aduh, Nona kenapa?”
“Apa yang sudah kamu lakukan semalam padaku?!”
“Aku tidak melakukan apa pun.”
“Kamu yang mengganti pakaianku semalam kan?!”
“Iya, aku memang yang melakukannya.”
“Dasar pria mesum!”
****
Zulfa nampak kesal dengan kelakuan Bintang yang lancang mengganti pakaiannya ketika ia tidur, Bintang sudah meminta maaf pada Zulfa akan tetapi wanita itu masih marah padanya.
“Saya tahu bahwa saya lancang akan tetapi kita kan sudah sah menjadi suami istri.”
“Berani sekali kamu mengatakan itu!”
“Saya minta maaf, Nona.”
Zulfa menghela napasnya kesal, ia teringat bahwa akhir pekan nanti adalah hari pernikahan Hamish dan wanita itu, ia akan membuat Hamish menyesal karena sudah membatalkan pernikahan dengannya.
“Bintang, aku memiliki tugas baru untukmu.”
“Apa itu, Nona?”
“Selama beberapa hari ini, kamu harus mulai membiasakan diri bersikap romantis padaku karena nanti ketika kita datang ke acara pernikahan Hamish, aku ingin kamu membuat dia cemburu.”
“Cemburu?”
“Tentu saja, pokoknya kita harus mulai latihan dari sekarang.”
Akhirnya Zulfa dan Bintang mulai berlatih supaya mereka terbiasa bersikap romantis dan membuat Hamish kelak akan cemburu. Mereka melakukan itu selama beberapa saat hingga asisten rumah tangga meminta Zulfa turun karena sudah saatnya sarapan.
“Baik Bi.”
Zulfa dan Bintang akhirnya turun ke bawah untuk sarapan bersama, nampak Bintang duduk dengan canggung di kursi yang bersebrangan dengan Zulfa karena ini kali pertama ia sarapan bersama keluarga ini.
“Kamu tunggu apa lagi? Ayo makan!” seru Usman.
****
Bintang nampak bingung ketika menggunakan garpu dan pisau untuk makan hingga Miranda dan Zulfa tertawa, akan tetapi Raina turun tangan dengan membantu kakak iparnya itu untuk bagaimana caranya menggunakan
alat itu.
“Begini caranya.”
“Raina kok kamu peduli padanya, sih?”
“Karena dia tampan.”
“Apa katamu?”
“Andai dia tidak tampan maka mungkin aku akan menertawakannya juga, Kak seharusnya kamu membuat dia terlihat seperti pria kelas atas sekarang kan dia itu suamimu masa tidak mau mengajarkan menggunakan
garpu dan pisau pada suamimu sendiri?”
“Asal kamu tahu Raina, Bintang hanya seorang suami pengganti bagiku dan aku sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk mengajarkan apa pun padanya kecuali dia melakukan apa yang aku perintahkan padanya.”
“Sudah, jangan ribut di meja makan,” ujar Usman yang menghentikan kegaduhan di meja makan itu.
Setelah acara sarapan selesai, Usman meminta Vicko mengajari Bintang mengemudi mobil dan Vicko pun kini membawa Bintang untuk mengajari kakaknya mengemudi.
“Apakah kamu yakin kalau aku bisa melakukannya? Mobil ini kan mobil mahal.”
“Percayalah Bang kalau kamu pasti bisa.”
Bintang pun akhirnya mencoba untuk mengemudikan mobil itu dengan panduan dari Vicko akan tetapi saat di sebuah jalan ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan dan nyaris ditabrak oleh Bintang.
“Bang, injak pedal remnya!” seru Vicko yang sontak saja Bintang dapat mengerem tepat waktu dan tak sampai menabrak wanita itu.
Bintang turun dari dalam mobil dan menghampiri wanita itu untuk memastikan kalau ia baik-baik saja.
“Kamu tidak apa-apa kan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments