Tolong Temani Aku

Tidak hanya membelikan ponsel baru akan tetapi Bintang juga kembali dibelikan baju dan beberapa stelan formal yang harganya lumayan mahal, Bintang tidak banyak bertanya dan buka suara karena Zulfa pasti akan memarahinya kalau berani menolak perintahnya.

“Ingat mulai sekarang jangan buat aku malu dengan pakaian murahanmu itu kalau kamu bertemu denganku.”

“Baik Nona.”

Setelah itu mereka pun keluar dari mall tersebut dan Bintang mendapatkan telepon dari Usman yang langsung ia jawab.

“Iya Tuan?”

“Bagaimana? Apakah dia masih di restoran itu?”

“Anu Tuan sebenarnya….”

Zulfa langsung merebut ponsel Bintang dan mengatakan pada sang papa bahwa Bintang saat ini tengah bersamanya.

“Zulfa, bagaimana bisa kamu mengajak Bintang padahal dia sedang ada tugas penting?”

“Tugas penting? Papa seperti tidak tahu mama saja, dia akan duduk berjam-jam di restoran itu bersama teman-teman sosialitanya, kasihan kan Bintang menunggu berjam-jam di luar restoran? Lagi pula aku memang ada perlu dengan Bintang jadi jangan memarahinya lagi, oke?”

Setelah itu Zulfa mematikan sambungan teleponnya dan menyerahkan ponsel Bintang kembali pada pemiliknya.

“Kamu disuruh apa oleh papaku?”

“Saya disuruh menjadi sopir nyonya Miranda.”

“Tidak, bukan itu, aku yakin selain disuruh menjadi sopir kamu pasti disuruh melakukan sesuatu hal yang lain kan oleh papaku?”

“Nona saya….”

“Sudah aku duga, papa pasti menyuruhmu memata-matai mama, tenang saja aku tidak akan memberitahu papa kalau aku sudah tahu tugasmu.”

“Terima kasih Nona.”

“Cepatlah kembali sebelum mamaku pulang.”

“Baik Nona, terima kasih atas pemberian Nona semua ini.”

Bintang segera pergi menuju mobilnya yang terparkir sementara Zulfa diam-diam tersenyum melihat punggung Bintang yang mulai pergi menjauhinya.

“Ya Tuhan, aku ini kenapa, sih?”

****

Bintang kembali ke restoran di mana Miranda tadi sedang menghabiskan waktu dengan rekan-rekan sosialitanya dan benar saja saat Bintang kembali ke sana, Miranda belum selesai juga mengobrol dengan rekan sosialitanya.

“Nona Zulfa ternyata benar.”

Bintang kemudian menatap ponsel baru yang diberikan oleh Zulfa barusan, ia tersenyum melihat ponsel baru yang dibelikan oleh Zulfa itu, ia tak menyangka kalau Zulfa ternyata perhatian juga padanya.

“Nona Zulfa adalah orang yang baik rupanya,” lirihnya.

“Bintang, kok kamu ada di sini?” tanya Miranda yang rupanya sudah selesai mengobrol dengan temannya.

“Nyonya sudah selesai? Anu saya bingung mau ke mana hingga akhirnya saya memutuskan menunggu saja di sini,” jawab Bintang.

“Kalau begitu kebetulan sekali karena kamu ada di sini, aku ingin pulang jadi segera saja kita pulang.”

“Baik Nyonya.”

Bintang bergegas membukakan pintu mobil untuk Miranda dan setelah wanita itu masuk ke dalam mobil, Bintang menutup pintu dan masuk ke kursi pengemudi. Tidak ada percakapan yang berarti di antara mereka berdua hingga akhirnya mobil pun tiba di rumah, tanpa mengatakan apa pun Miranda langsung masuk ke dalam rumah sementara Bintang memarkirkan mobil di garasi dan kemudian menurunkan barang belanjaan yang tadi diberikan oleh Zulfa.

“Bang, kamu belanja?” tanya Vicko.

“Bukan, ini pemberian dari nona Zulfa,” jawab Bintang.

****

Zulfa melihat arloji yang ia kenakan, rupanya sudah jam delapan malam dan karena terlalu fokus bekerja jadinya ia tidak sadar kalau hari sudah malam, ketika ia keluar dari ruangan kerjanya, ponselnya berdering dan di layar ponselnya tertera nama Hamish di sana.

“Untuk apa lagi dia menelponku?”

Zulfa menolak panggilan dari Hamish itu dan masuk ke dalam lift, akan tetapi rupanya Hamish masih saja mencoba menghubunginya hingga Zulfa pun tergoda untuk menjawab telepon dari pria itu.

“Ada apa kamu menelponku?”

“Syukurlah kalau kamu mau menjawab teleponku.”

“Jangan banyak basa-basi, kenapa menelponku malam-malam begini?”

“Kamu sekarang ada di mana? Aku sedang berdiri di depan kantormu.”

“Depan kantor? Untuk apa kamu melakukannya?”

“Entahlah, biasanya kan kamu jam segini pulang dan aku harap bisa bertemu denganmu sebentar.”

“Aku memang masih di kantor dan sekarang sedang turun menuju lobi.”

“Benarkah? Kalau begitu bisakah kita bertemu sebentar saja?”

“Rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”

“Aku mohon Zulfa, sebentar saja.”

“Baiklah.”

Akhirnya ketika ia tiba di lobi, Zulfa bisa melihat pria itu menantinya di depan sana, Hamish tersenyum pada Zulfa akan tetapi Zulfa sama sekali tidak menampakan senyum pada pria ini.

“Mau apa kamu ke sini?”

“Mari kita bicara di café dekat sini saja.”

****

Akhirnya mereka berdua kini sudah berada di café dekat kantor Zulfa, selama beberapa saat setelah mereka tiba di café ini baik Zulfa maupun Hamish masih begitu canggung satu sama lain hingga bingung harus membuka obrolan dari mana akan tetapi akhirnya Hamish pun membuka percakapan duluan dengan Zulfa.

“Zulfa, alasanku ingin bertemu denganmu adalah untuk menjelaskan semuanya.”

“Soal apa?”

“Soal insiden di London waktu itu hingga akhirnya aku bisa membatalkan pernikahan kita.”

“Aku rasa itu bukanlah sesuatu hal yang ingin aku dengar.”

Namun walau Zulfa sudah mengatakan tidak ingin mendengar cerita Hamish, pria itu tetap saja bercerita bahwa waktu itu ia diajak teman-temannya untuk ke sebuah bar dan mereka minum-minum hingga ia tak ingat apa pun lagi. Ketika pagi sudah tiba, Hamish terkejut karena ia berada di ranjang bersama seorang wanita dan mereka tak berbusana.

“Itu semua memang kebodohanku karena minum-minum dan melakukan sesuatu hal yang berakibat fatal seperti itu, aku benar-benar menyesalinya.”

“Apakah kamu tidak benar-benar mencintaiku, Hamish?”

“Tentu saja aku benar-benar mencintaimu, Zulfa. Tidak ada wanita lain selain dirimu di hatiku.”

“Kalau memang kamu mencintaiku, kenapa malam itu kamu menerima tawaran masuk ke bar dan berujung seperti itu? Dan parahnya lagi kamu tidak mau jujur setelah pulang dari Inggris mengenai kejadian itu hingga membiarkan diriku kesakitan menjelang hari pernikahan kita?”

“Aku minta maaf Zulfa, andai aku bisa mengulang kembali waktu maka aku tidak akan mau melakukan itu.”

****

Sementara itu Bintang melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 malam dan belum ada tanda-tanda kalau Zulfa akan kembali ke rumah, tentu saja ia khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Zulfa.

“Apakah aku harus menelponnya?”

Bintang menggelengkan kepalanya dan kemudian saat ia berusaha untuk tidak panik, ia menemukan Zulfa muncul dari balik pintu kamar.

“Nona akhirnya pulang juga.”

“Kenapa kamu belum tidur?”

“Aku tidak bisa tidur kalau Nona belum kembali.”

Ucapan Bintang itu entah kenapa membuat perasaan Zulfa bergejolak, ia kemudian memeluk Bintang dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan tersebut.

“Nona, apakah saya berbuat salah?”

“Hiks, Bintang kenapa pria itu jahat sekali padaku?” isak Zulfa.

Bintang tahu siapa yang tengah dibicarakan oleh Zulfa barusan dan ia tak mau ikut campur mengenai masalah pribadi wanita ini.

“Bintang, hiks.”

“Ada apa, Nona?”

“Temani aku tidur di ranjang untuk malam ini, kamu mau kan?”

Episodes
1 Dipaksa Menikah
2 Setelah Menikah
3 Pertemuan Tak Sengaja
4 Mengulik Kebenaran Sang Mantan
5 Menabrak Seseorang
6 Menjemput Seseorang
7 Memancing Emosi
8 Kamu Tak Dapat Menghalangiku
9 Terpesona
10 Anak-Anak Pun Curiga
11 Cerita Tentang Mama
12 Tolong Temani Aku
13 Permintaan Istri
14 Mengenalkan Pada Ibu
15 Godaan Tante Girang
16 Cium Aku
17 Bujukan Sang Mantan
18 Dimarahi Papa
19 Dia Tampan Juga
20 Mertua yang Genit
21 Terbongkarnya Rahasia
22 Sudah Menikah
23 Jatuh Cinta Pada Orang yang Salah
24 Ingin Mengatakan yang Sesungguhnya
25 Aku Percaya Padamu
26 Sudah Boleh Pulang
27 Menelan Pil Pahit
28 Kabar Buruk Menjadi Nyata
29 Setelah Semua Berlalu
30 Cinta Lama Belum Usai
31 Bentuk Tubuh
32 Tahu Semuanya
33 Jangan Mengharap Lebih
34 Hanya Sebuah Mimpi
35 Kamu Suka Padaku
36 Tunggu Sebentar
37 Orang Baik
38 Gangguan Kembali Datang
39 Kakak Penasaran
40 Tak Mau Berdebat
41 Alasan Untuk Bertemu
42 Baru Tahu
43 Sakit Tak Berdarah
44 Mencari Cara
45 Wanita Itu Datang
46 Hal Tidak Enak
47 Obrolan Tak Nyaman
48 Bukti Untukmu
49 Tak Ada Pilihan
50 Jalan Terbaik
51 Terlanjur
52 Tak Ingin Berpisah
53 Hanya Masalah
54 Bicara Dengan Siapa?
55 Kecewa Pada Dia
56 Tak Sengaja Mereka Bertemu
57 Tiba-Tiba Datang Dengan Pernyataan Cinta
58 Drama Dua Hati
59 Ketika Ancaman Tak Berhasil
60 Terbit Masalah Baru
61 Membicarakan Masa Lalu
62 Bertengkar Karena Wanita
63 Bersulang
64 Ditipu Istri Sendiri
65 Tahu yang Sebenarnya
66 Selingkuh yang Terbongkar
67 Cerita Secara Jujur
68 Kondisi Ricuh
69 Jangan Percaya
70 Setelah Terjadi
71 Hilang Akal
72 Dia Pergi
73 Jebakan Sang Istri
74 Mencoba Menggoda
75 Siksaan Batin
76 Menaruh Racun
77 Tak Ada Niatan Buruk
78 Hanya Mimpi
79 Kenapa Jadi Begini?
80 Rumah Sakit Jiwa
81 Penghinaan
82 Kejadian Tak Terduga Kembali
83 Panik
84 Akhirnya Ku Menemukanmu
85 Kamu Takut
86 Sungguh Terlalu
87 Janji Padaku
88 Cinta Segitiga
89 Kembali Bertemu
90 Senyum Lebar
91 Siapa yang Salah?
92 Kakak yang Malang
93 Merasa Iba
94 Tahu Semuanya
95 Dia Tak Cinta Aku
96 Tak Menyangka
97 Akhirnya Tahu
98 Kesedihan yang Nyata
99 Memberi Pelajaran
100 Menyelamatkan Dia
101 Sekian Lama
102 Tak Perlu Penjelasan
103 Akhir Kisah
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Dipaksa Menikah
2
Setelah Menikah
3
Pertemuan Tak Sengaja
4
Mengulik Kebenaran Sang Mantan
5
Menabrak Seseorang
6
Menjemput Seseorang
7
Memancing Emosi
8
Kamu Tak Dapat Menghalangiku
9
Terpesona
10
Anak-Anak Pun Curiga
11
Cerita Tentang Mama
12
Tolong Temani Aku
13
Permintaan Istri
14
Mengenalkan Pada Ibu
15
Godaan Tante Girang
16
Cium Aku
17
Bujukan Sang Mantan
18
Dimarahi Papa
19
Dia Tampan Juga
20
Mertua yang Genit
21
Terbongkarnya Rahasia
22
Sudah Menikah
23
Jatuh Cinta Pada Orang yang Salah
24
Ingin Mengatakan yang Sesungguhnya
25
Aku Percaya Padamu
26
Sudah Boleh Pulang
27
Menelan Pil Pahit
28
Kabar Buruk Menjadi Nyata
29
Setelah Semua Berlalu
30
Cinta Lama Belum Usai
31
Bentuk Tubuh
32
Tahu Semuanya
33
Jangan Mengharap Lebih
34
Hanya Sebuah Mimpi
35
Kamu Suka Padaku
36
Tunggu Sebentar
37
Orang Baik
38
Gangguan Kembali Datang
39
Kakak Penasaran
40
Tak Mau Berdebat
41
Alasan Untuk Bertemu
42
Baru Tahu
43
Sakit Tak Berdarah
44
Mencari Cara
45
Wanita Itu Datang
46
Hal Tidak Enak
47
Obrolan Tak Nyaman
48
Bukti Untukmu
49
Tak Ada Pilihan
50
Jalan Terbaik
51
Terlanjur
52
Tak Ingin Berpisah
53
Hanya Masalah
54
Bicara Dengan Siapa?
55
Kecewa Pada Dia
56
Tak Sengaja Mereka Bertemu
57
Tiba-Tiba Datang Dengan Pernyataan Cinta
58
Drama Dua Hati
59
Ketika Ancaman Tak Berhasil
60
Terbit Masalah Baru
61
Membicarakan Masa Lalu
62
Bertengkar Karena Wanita
63
Bersulang
64
Ditipu Istri Sendiri
65
Tahu yang Sebenarnya
66
Selingkuh yang Terbongkar
67
Cerita Secara Jujur
68
Kondisi Ricuh
69
Jangan Percaya
70
Setelah Terjadi
71
Hilang Akal
72
Dia Pergi
73
Jebakan Sang Istri
74
Mencoba Menggoda
75
Siksaan Batin
76
Menaruh Racun
77
Tak Ada Niatan Buruk
78
Hanya Mimpi
79
Kenapa Jadi Begini?
80
Rumah Sakit Jiwa
81
Penghinaan
82
Kejadian Tak Terduga Kembali
83
Panik
84
Akhirnya Ku Menemukanmu
85
Kamu Takut
86
Sungguh Terlalu
87
Janji Padaku
88
Cinta Segitiga
89
Kembali Bertemu
90
Senyum Lebar
91
Siapa yang Salah?
92
Kakak yang Malang
93
Merasa Iba
94
Tahu Semuanya
95
Dia Tak Cinta Aku
96
Tak Menyangka
97
Akhirnya Tahu
98
Kesedihan yang Nyata
99
Memberi Pelajaran
100
Menyelamatkan Dia
101
Sekian Lama
102
Tak Perlu Penjelasan
103
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!