Dalam perjalanan menuju ke kota Ur karena ikut bersama rombongan para pedagang. Ketika melewati sebuah hutan mereka dihadang oleh sekelompok bandit, para petualang terlihat kesulitan saat melawan mereka. Para pedagang juga terlihat begitu tenang walaupun sedang diserang. Hal itu menimbulkan kecurigaan, karena merasa ada yang tidak beres, Ferisu keluar dan melumpuhkan semua bandit tanpa membunuh mereka.
Namun, siapa yang menyangka jika para bandit itu merupakan kesatria dari kekaisaran yang menyamar. Sama halnya dengan para pedagang, mereka merupakan mata-mata yang bergerak di kerajaan Yelusia untuk mencari informasi dan melaporkannya pada kekaisaran.
Tapi, ada satu orang yang berhasil kabur. Namun, wajahnya tak begitu asing bagi Ferisu. Siapa dia? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Ingatan yang cukup samar-samar, dan hanya teringat "Siapa dia sebenarnya?" kata-kata itu saja.
Para kesatria kekaisaran telah dibuat pingsan dan para petualang mencoba untuk melindungi para pedagang. Namun, setelah mereka mendengar kalau para pedagang itu adalah penyeludup atau mata-mata dari kekaisaran. Pada awalnya Ferisu mengira kalau mereka akan bersenang hati menyerahkan para pedagang tersebut.
Namun, mereka tetap mengarahkan pedang pada Ferisu. "Walaupun begitu mereka tetaplah pemberi misi (klien) kami!" teriak pemimpin Thunder Wolf.
"Baiklah, aku mengerti," ucap Ferisu sambil mengangguk-angguk. "Jadi, ada berapa orang yang memegang tiket menuju ke akhirat?" sambungnya dengan senyum simpul.
Para petualang hanya diam mematung ketika mendengar hal itu, lalu ketual Blue Rose mengangkat tangan. "Blue Rose tak akan ikut," ucapnya sembari berjalan pergi menjauh dari para pedagang.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Ferisu pada kedua kelompok petualang yang tersisa. "Aku menyarankan kalian untuk pergi seperti kelompok wanita itu loh," sambungnya sembari menunjuk kelompok Blue Rose.
Saat itu kelompok Thunder Wolf juga pergi menuju ke tempat kelompok Blue Rose. Menyisakan kelompok Silver Prince yang bersikeras untuk menjaga para pedagang.
"Aku akan memberikan pilihan juga pada para pedagang, kalian bisa pilih mau pergi atau mati?" ucap Ferisu.
Sontak para pedagang keluar dari gerbong kereta dan berdiri secara berkelompok di sisi kiri, sedangkan para petualang di sisi kanan kereta. Namun, kelompok Silver Prince tetal bersama para pedagang sembari mengacungkan senjata mereka.
"Jadi semuanya memilih untuk pergi, yah," ucap Ferisu dengan wajah yang terlihat gembira. "Tapi, maksudku pergi itu," wajahnya berubah drastis dan tersenyum.
Ferisu mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan pada sisi kiri kereta, tepatnya ke arah kelompok para pedagang dan party Silver Prince. "Sampai jumpa," ucapnya dengan senyuman.
Dari tangan kanannya muncul sebuah bola hitam kecil yang melesat dengan cepat ke tengah-tengah para pedagang lalu meledak dan menghisap semua orang ke dalam ruang hampa.
Ferisu menggigit jari jempolnya hingga terluka dan mengeluarkan darah. Darah itu mengalir cukup banyak ke tanah dan mulai menyentuh semua kesatria yang pingsan. Memadat, melilit setiap orang layaknya sebuah akar pohon. Sulur darah itu mulai mengangkat semua kesatria ke atas kereta, totalnya ada 25 orang.
Satu kereta muat 7 orang dan sekarang ada 5 buah kereta, barang-barang akan kupindahkan ke kereta yang berbeda atau kumasukkan kedalam penyimpanan dimensiku saja?
"A-anuu..."
"Hmm? Ada apa?" saut Ferisu menoleh ke arah 2 party petualang yang terlihat kebingungan. "Kalian bisa pergi kok, aku tak akan membunuh kalian," ucap Ferisu dengan tampang polos.
"A-apa itu benar? Kau tak akan membunuh kami?" tanya dua ketua party untuk memastikan.
"Tentu," jawab Ferisu dengan senyum ramah.
Setelah memasukkan semua barang kedalam penyimpanan dimensi dan menaikkan para kesatria yang pingsan sekaligus mengikat mereka. Ferisu memberikan dua kelompok petualang itu masing-masing satu kereta.
Mereka berpisah disana seperti tak terjadi apa-apa. Jika kalian bertanya bagaimana Ferisu bisa mengendalikan tiga kereta sekaligus. Itu karena salah satu skill miliknya, ras vampir bisa mengendalikan makhluk hidup lain hanya dengan tatapan mereka (kontak mata) dengan syarat target juga menatap mata mereka.
Perjalan menuju ke desa para ras bunny berlanjut, namun Kurumi tampak masih ketakutan karena perkataan Ferisu sebelumnya tentang "Aku bisa saja menjualmu, kau tahu?" masih teringat di pikirannya.
"Ada apa Kurumi? Apa kau merasa tak enak badan?" tanya Ferisu karena melihat wajah Kurumi yang tampak pucat.
"Ah, tidak ... aku tak apa-apa," jawab Kurumi sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang terkejut.
"Apa di desamu punya kereta kuda atau gerobak?" tanya Ferisu untuk mengetahui jika mereka memiliki alat transportasi.
"Tidak, kami tak punya itu," jawab Kurumi dengan wajah yang murung.
"Berapa jumlah penduduk desanya?"
"Ada sekitar 70 orang, 20 laki-laki, 37 perempuan, dan 13 anak-anak termasuk diriku," jawab Kurumi.
Ferisu merenung sejenak memikirkan cara untuk membawa semua ras bunny menuju ke desa Heiwa. Tanpa adanya alat transportasi mereka akan berjalan kaki dan itu memakan waktu yang cukup lama, belum dengan adanya hambatan di perjalanan. Jika memberikan semua sihir penguat pada setiap ras bunny itu akan membebani Ferisu.
Saat ini energi sihir miliknya sudah cukup menipis karena menggunakan begitu banyak darah dan tak cukup istirahat selama perjalanan. Ferisu berfikir untuk menggunakan sihir teleportasi namun, ia tak tahu dengan konsumsi energi sihir dari sihir tersebut.
Andai saja aku bisa meminum darah untuk memulihkan energi sihirku...
Walaupun ada begitu banyak kesatria yang sedang tak sadarkan diri di dalam kereta, Ferisu tak mau meminum darah dari mereka.
Menggelengkan kepalanya karena pernah berfikir untuk meminum darah para kesatria. "Tidak-tidak! Mereka semuanya laki-laki! Aku tak ingin mengisap darah dari mereka!" gumamnya dengan raut wajah yang tampak kesal.
Kurumi yang mendengar gumaman tersebut merasa kebingungan. "Apa yang Kakak gumamkan? Menghisap darah?" tanyanya dengan wajah yang kebingungan.
Sekilas rasa takut dan wajah murung dari Kurumi berubah menjadi kebingungan karena gumaman Ferisu tentang menghisap darah.
"Eh? Ah, apa aku pernah bilang kalau aku ini vampir?" saut Ferisu dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Vampir? Aku tak pernah mendengar ras itu," jawab Kurumi yang tambang kebingungan.
Ferisu menjelaskan tentang ras vampir pada Kurumi, begitu pula dengan menghisap (meminum) darah untuk memulihkan energi sihir miliknya. Kurumi paham dengan penjelasan tersebut lalu membuka sedikit pakaiannya dan menunjukkan bagian lehernya yang mungil.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ferisu heran sembari meneguk ludahnya karena hampir terbawa oleh hasrat vampirnya.
"Kakak bisa meminum darahku tapi, tolong jangan berkata untuk menjualku lagi," jawab Kurumi dengan wajah yang tampak sedih.
Ferisu sedikit tersenyum dan menepuk kepala Kurumi lalu mengelusnya. "Bodoh, aku tak serius mengatakannya saat itu. Kau tak perlu memberikan darahmu, aku akan mencari monster dan meminum darah mereka," ucap Ferisu dengan senyum yang hangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Queen Of Gossip
hmm kenapa tidak
2023-11-19
0
DNAZ7
keren banget dh
2023-10-17
1
Elozz Eins
Lanjuttt
2023-08-16
0