Desa Fulen, tepatnya berada di depan rumah kepala desa. Terlihat begitu banyak orang berkerumun memanggil sang kepala desa keluar dari rumahnya. Saat pintu rumah terbuka semua orang terdiam dan suasana menjadi tegang. Sebuah sosok berjubah hitam melemparkan sang kepala desa keluar dari rumahnya.
"Si-siapa?" gumam para penduduk.
Sosok itu berjalan perlahan mendekati para warga, saat berada tepat dihadapan salah satu warga. Ia menyentuh dahi orang tersebut dengan dua jarinya dan tiba-tiba noda hitam menjalar layaknya akar pohon. Orang yang disentuh berteriak kesakitan dan matanya menjadi merah seakan berubah menjadi monster.
"Semuanya lari!" teriak Alfred yang menyadari jika sosok berjubah itu bukan manusia.
Menarik sebuah pedang yang ada di pinggangnya, Alfred dengan beraninya menyerang sosok berjubah itu seorang diri. Semua warga berlarian dengan panik meninggalkan tempat itu.
"Kurumi tetaplah dibelakangku," ucap Ferisu sembari melihat pertarungan itu.
Alfred terus-menerus menyerang sosok itu dengan pedangnya namun, sosok tersebut terlihat tidak serius menanggapi serangan Alfred seolah-olah serangannya tak berdampak apapun. "Huh, berhenti menggelitikku dasar manusia rendahan!" hanya dengan satu tangan, Alfred terhempas jauh hingga menabrak salah satu rumah.
Sosok itu tampak begitu kebingungan sembari melihat kesana kemari. Ia berjalan mendekati Ferisu yang sedari tadi menontonnya. "Kau, apa kau bisa memberitahu ini dimana?" tanyanya dengan aura tekanan yang kuat.
"Hah? Apa kau barusan bertanya padaku?" saut Ferisu dengan sinis.
Sosok itu sedikit tersentak karena aura yang dipancarkan oleh Ferisu. "Kau bukan manusia yah," ucapnya.
"Entahlah," jawab Ferisu acuh tak acuh.
Sosok itu melepaskan jubah yang menutupi tubuhnya. Saat itu terlihat sosok yang mengenakan armor hitam dengan pola merah disertai sepasang sayap yang besar. "Namaku Lucifer, sosok yang pernah dipuja sebagai malaikat agung," ujarnya memperkenalkan diri.
"Hee~ malaikat, yah. Jadi apa yang diinginkan malaikat agung Lucifer sepertimu disini?" balas Ferisu yang terlihat tertarik.
"Setelah melihat sosokku, kau masih tetap bisa tenang yah? Aku tak tau kau ini berani atau bodoh, yasudah lupakan saja. Ini ada dimana?" ucap Lucifer bertanya soal lokasinya.
"Tempat ini adalah desa bernama Fulen, desa para manusia," jawab Ferisu singkat.
Terlihat Lucifer mendecakkan lidahnya, walaupun mengenakan helm wajahnya yang terlihat kesal bisa dibayangkan oleh Ferisu. Aura membunuh, kebencian, amarah, terpancarkan dengan jelas oleh sosok hitam tersebut.
"Siapa namamu?" tanya Lucifer.
"Ferisu, apa itu saja yang ingin kau tau?" jawab Ferisu.
"Ferisu, yah. Aku akan mengingatnya, jika kau butuh bantuan aku akan menolongmu. Tapi, jika kau menghalangi tujuanku, aku akan memusnahkan-mu hingga tak berisisa," ujar Lucifer terbang menjauh dari desa tersebut.
Ferisu melihat malaikat hitam tersebut terbang pergi menjauh dari desa. "Huft~ siapa juga yang tertarik dengan tujuanmu, burung gagak yang jatuh," gumam Ferisu.
Ferisu berjalan mendekati Alfred yang terduduk sambil menahan sakit. "Ini, minumlah," ujar Ferisu memberikan sebuah potion.
Saat itu seorang pria yang memiliki mata merah dengan sulur hitam yang muncul di seluruh tubuhnya meloncat menerkam Ferisu dari arah belakang. Tangan kanannya bergerak kebelakang menangkap kepala orang tersebut lalu meremuknya hingga hancur.
Alfred yang melihat hal itu terbelalak terkaget-kaget saat melihat kepala seseorang hancur layaknya balon meletus. Saat itu ia tersadar sosok pria berambut silver dengan mata merah dihadapannya bukanlah manusia.
"Dia sudah mati saat disentuh burung gagak tadi, jadi tak ada yang bisa kulakukan selain membunuhnya yang sudah menjadi mayat hidup," jelas Ferisu sembari mengulurkan tangannya.
Sambil meneguk air ludahnya, Alfred menerima uluran tangan itu dan bangun berdiri. "T-terima kasih, ngomong-ngomong apa kau bukan manusia, Ferisu-san?" tanya Alfred.
"Benar, jika aku bukan manusia apa kau tak mau menjual hewan ternaknya?" jawab Ferisu sembari balik bertanya.
"Te-tentu saja aku akan menjualnya, lagipula kau sudah menyelamatkan nyawaku," balas Alfred. "Aku tak peduli kau manusia atau bukan, semua yang hidup di dunia ini adalah makhluk hidup. Gadis yang bersamamu ini juga bukan manusia, kan?"
"Iya, dia ras bunny. Namanya Kurumi," jawab Ferisu sembari melihat ke arah Kurumi.
Seelag kejadian itu kepala desa dan orang yang kepalanya hancur dimakamkan di kuburan yang ada di dekat bukit. Alfred mengundang Ferisu dan Kurumi kerumahnya untuk mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan desanya dari malaikat hitam sebelumnya.
"Aku tak melakukan apapun kau tau?" ujar Ferisu.
"Tapi kau berbicara dengannya hingga dia pergi dari desa ini," balas Alfred dengan senyum simpul.
Mereka berbincang dimeja makan tentang Ferisu yang ingin membangun sebuah tempat dimana banyak ras yang bisa hidup bersama. Saat mendengar hal itu Alfred terlihat begitu bersemangat, sejak awal Alfred juga menginginkan hal itu. Ia heran kenapa orang-orang bisa membenci ras selain manusia, padahal mereka sama-sama makhluk hidup.
Setelah berbicara panjang, Alfred ingin pergi ke desa itu sekaligus membawa semua hewan ternaknya. Namun, Ferisu menghentikan niatnya. "Kau tak bisa pergi kesana seorang diri, desanya ada didalam hutan yang dipenuhi oleh monster," jelas Ferisu.
Mendengar hal itu Alfred sedikit kecewa karena tak bisa pergi kesana. Ia menghela nafasnya sembari menatap langit-langit rumahnya.
"Setelah aku mengurus ras bunny, aku akan menjemputmu. Saat itu tiba, bersiaplah untuk pindah," ujar Ferisu.
Mendengar hal itu membuat Alfred meloncat kesenangan. Ia sudah lama memimpikan sebuah tempat yang bisa ditinggali oleh berbagai macam ras. Tapi, ia memiliki sebuah permintaan pada Ferisu, yakni semua penduduk desa Fulen akan pindah ke tempat itu.
"Jika mereka bisa terima tinggal dengan ras lain aku tak masalah, tapi jika mereka membuat kerusuhan aku tak akan ragu untuk membunuhnya," jelas Ferisu dengan serius.
"Tentu saja! Aku akan menyakinkan semua penduduk desa!" jawab Alfred dengan percaya diri.
Alfred berlari keluar dari rumahnya dan membunyikan lonceng yang mengumpulkan semua penduduk di alun-alun desa. Alfred merupakan sosok yang sangat dikenal oleh para penduduk, ia merupakan pemuda yang bersemangat dan begitu baik. Terlebih lagi ia juga memiliki bakat berpedang yang hebat dan menjadi seorang penjaga di desa.
Ucapan yang ia katakan bisa dipercaya oleh para penduduk, namun untuk kali ini semua orang tak bisa menerimanya dengan mudah. Hidup bersama goblin? Apa kau bercanda? Bagaimana bisa kami hidup dengan makhluk hijau itu? Terlebih lagi apa mereka benar-benar bisa dipercaya? Satu persatu pernyataan dan pertanyaan dilontarkan oleh para penduduk desa.
Saat itu Ferisu datang dengan memancarkan tekanan aura yang begitu kuat. "Yang dikatakan oleh Alfred benar apa adanya, desa itu bernama Heiwa. Sebuah desa yang akan menjadi titik awal sebuah negeri impian dimana semua ras bisa hidup bersama," ujar Ferisu dengan serius.
Saat mendengar hal itu para penduduk desa meneguk air ludah mereka karena melihat sosok yang memancarkan aura besar tersebut. Mereka mengangguk secara perlahan dan setuju akan pindah ke desa tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Elozz Eins
bakat berpedang kak, typo
2023-08-16
0
Elozz Eins
Alfrex? maybe you mean Alfred?
2023-08-16
0
Solomon72
semangat Thor lanjutkan mampir juga ya 😁
2023-08-12
0