Di kedalaman hutan, tepatnya di pinggir kolam kecil di area hutan yang terbuka. Ferisu sedang bersama dengan seorang gadis kecil yang ia bawa dari distrik merah. Gadis itu memiliki rambut hitam panjang dengan mata berwarna merah dengan sepasang telinga kelinci. Pada awalnya Ferisu tak tau jika gadis yang ia bawa merupakan seorang demi human kelinci. Sebelumnya gadis itu menggunakan sebuah mantel yang menutupi seluruh tubuhnya.
Di gelap gulitanya malam hari, angin dingin berhembus diikuti suara jangkrik yang terdengar jelas. Panas yang dihasilkan oleh api unggun menghangatkan tubuh yang sedang kedinginan. Gadis itu hanya duduk diam sembari menatap api unggun yang ada di depannya dan sesekali melirik laki-laki yang ada bersamanya.
Aku seharusnya tau jika ini akan terjadi, tapi kenapa aku tetap merasa takut? Dia adalah orang yang akan menolongku, tidak, dia sudah menolongku.
Bunyi uap yang mengepul dari teko memecah kesunyian. Ferisu mengangkat teko berisi air dan menuangkannya ke dalam cangkir berisi bubuk coklat. Sebuah coklat panas siap diminum dimalam yang dingin tersebut.
"Ini minumlah," ucap Ferisu memberikan secangkir coklat panas kepada gadis itu.
"T-terima kasih," ucap gadis itu pelan sembari menerima secangkir coklat panas yang diberikan oleh Ferisu.
Gadis itu kembali termenung, menatap secangkir cokelat panas di tangannya. Dia tahu bahwa pria yang bersamanya bukanlah manusia karena kekuatan yang dia miliki. Kemampuan memprediksi masa depan.
Alasan dia berada di distrik merah adalah karena dia tahu Ferisu akan ada disana. Demi bertemu dengan seseorang yang memiliki kekuatan besar, gadis muda itu sengaja mencemarkan dirinya agar orang tidak mendekat karena baunya yang menyengat. Namun, Ferisu tetap mendekatinya dan mengulurkan tangannya untuk membantunya.
"Jadi, kenapa kau bisa ada di distrik merah itu?" tanya Ferisu untuk mencairkan suasana yang hening.
"Eh? A-apa kakak tak akan bertanya kenapa aku tau jika kamu bukan manusia? Atau tentang diriku yang berasal dari ras bunny ... ," saut gadis itu balik bertanya dengan heran.
"Tergantung dirimu, jika kau mau mengatakannya aku akan mendengarkan. Jika tidak, maka tak perlu memaksakan diri untuk menceritakannya," jawab Ferisu sembari meminum cokelat panas.
Gadis itu mulai menceritakan tentang latar belakangnya. Namanya adalah Kurumi, seorang ras bunny. Desa ras bunny berada di wilayah perbatasan kerajaan Yulesia dengan kerajaan Aur (kerajaan manusia). Desa itu berada di dalam hutan, mereka hidup secara sembunyi-sembunyi agar tak ditangkap oleh para manusia.
Dalam kekuatan tempur, ras bunny tak memiliki kekuatan yang besar. Mereka juga tak suka dengan kekerasan dan selalu hidup dengan damai. Namun, suatu hari Kurumi mendapatkan sebuah penglihatan masa depan dimana desa mereka akan hancur. Banyak ras bunny yang terbunuh dan ditangkap oleh para manusia.
Karena hal itu, Kurumi meminta izin pada kepala desa untuk pergi keluar dari desa dan mencari seseorang yang kuat untuk mengatasi bencana yang akan datang tersebut.
"Begitulah ceritanya," ucap Kurumi.
Ferisu diam sejenak sembari melihat langit malam yang dipenuhi bintang. Menundukkan kepalanya, lalu ia menoleh kesamping dan menatap mata Kurumi. "Apa desa-mu searah dengan desa Fulen?" tanyanya.
"Eh? I-iya!" jawab Kurumi.
"Kalau begitu sudah diputuskan," ucap Ferisu sembari bangun berdiri, bibirnya memperlihatkan sebuah senyuman kecil.
"Ma-maksudnya Kakak mau membantu kami?" ucap Kurumi untuk memastikan.
"Iya, tapi aku memiliki satu syarat," jawab Ferisu. "Kau tau bukan? Saat ini kau sedang meminta bantuan pada seorang iblis," sambung Ferisu dengan senyum yang terlihat menyeramkan.
Kurumi meneguk air ludahnya, bangun berdiri dan menatap mata Ferisu dengan serius. "I-iya, asalkan hanya aku saja, kamu bebas mau mengambil jiwaku ataupun tubuhku. Tolong selamatkan desa dan ras bunny yang lain," ujarnya dengan gemetaran.
Saat mendengar Kurumi mengatakan hal itu, Ferisu memasang wajah datar yang terlihat begitu kebingungan. "Eh? Sepertinya kau salah paham, aku tak menginginkan tubuhmu ataupun jiwamu," ucap Ferisu meluruskan kesalahpahamannya.
"Eh? A-apa diriku saja tak cukup? Ja-jangan bilang ... ," ucap Kurumi menerka niat Ferisu.
"Oke, berhenti disana, aku akan mengatakannya," sela Ferisu.
Ferisu menjelaskan tentang syarat yang ia katakan sebelumnya. Ia akan menolong ras bunny dengan syarat mereka harus pindah ke desa Heiwa, mereka tak boleh memberontak ataupun bermusuhan dengan penduduk lain yang tinggal di desa. Membantu pembangunan desa, mau itu bertani, berternak, dan hal yang lain.
Setelah mendengar hal itu Kurumi langsung menyetujuinya. "Aku menerimanya! Aku yakin yang lainnya pasti akan setuju!" ucapnya dengan bersemangat.
"Apa kau tak takut jika semua ras bunny yang datang ke desa Heiwa dijadikan budak? Terlebih lagi, aku bisa saja mengikatmu dan menjualmu pada bangsawan yang menyukai ras bunny," ucap Ferisu sembari menatap Kurumi.
Kurumi tersentak dan terduduk gemetar. "A-apa kau akan melakukannya?" ucapnya dengan gemetaran.
"Mungkin saja," jawab Ferisu sembari menaikkan kedua bahunya dan tangannya setinggi dada dengan terbuka.
"T-tapi, aku percaya kamu tak akan melakukan hal keji seperti itu. Dari semua orang yang ada di tempat itu, hanya dirimu seorang yang mengulurkan tangan padaku. Aku yakin kamu adalah orang yang baik!" ujar Kurumi dengan tatapan yang serius.
"Orang baik, kah?" gumam Ferisu pelan.
Orang yang bisa membunuh siapapun tanpa perasaan adalah orang yang baik? Anak ini, aku tak tau apa yang dikatakannya itu benar atau tidak. Kemampuan untuk memprediksi masa depan? Itu cukup sulit untuk dipercaya, namun kurasa aku akan mempercayai ceritanya.
"Baiklah, kita akan berangkat besok pagi. Malam ini istirahalah dan tidurlah yang nyenyak," ucap Ferisu.
"Iya!"
Di dekat api unggun, sebuah tikar dibentang untuk menjadi alas tidur. Kurumi tertidur dengan lelap dengan dibungkus oleh sebuah selimut putih yang menjaganya dari rasa kedinginan.
Disisi lain.
Ferisu duduk didepan api unggun sembari menjaga api agar tak padam. Ia berniat untuk berjaga semalaman agar tak ada monster yang menyerang mereka. Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat hingga sang fajar-pun tiba. Ferisu pergi menuju sungai yang berada di dekat sana untuk menangkap beberapa ikan untuk dijadikan sarapan.
Sembari memanggang ikan yang sudah ditangkap, ia menunggu gadis kelinci yang bernama Kurumi untuk bangun dari tidur manisnya. Aroma harun dari ikan yang dipanggang, ditiup pelan oleh sang angin hingga tercium oleh Kurumi.
Hidungnya mengendus-endus bau harum yang tercium hingga membangunkannya dari tidur. "Euhmm, apwa swudah pwagi?" ucapnya sembari menguap dan menggosok matanya.
"Iya, cuci mukamu dan kita sarapan. Setelah itu kita akan mulai berjalan menuju desamu," saut Ferisu dengan senyuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
SweetiePancake
ya wajar, lu kan bukan ras manusia melainkan pampir ;]
2024-03-14
0
Fikri Rifki
kata aur bikin gw ingat sama ain soph aur
2024-02-08
0
Wuta Ali Zubair
mantap bang
2023-11-12
0