Di pagi yang cerah, angin bertiup lembut, membawa kehangatan dari matahari. Rerumputan bergoyang saat angin meniupnya. Terlihat dua orang dari kejauhan, yang satu berambut putih keperakan dan berpakaian serba hitam, sedangkan satunya lagi tampak seperti anak kecil dan mengenakan jubah coklat yang menutupi seluruh tubuhnya.
Dari arah belakang mereka, terlihat rombongan kereta kuda yang membawa begitu banyak barang dan orang. Terdapat tiga buah kelompok petualang yang menjadi penjaga rombongan tersebut. Mereka sedang menjalankan sebuah misi untuk menghantarkan para pedagang menuju ke sebuah kota lain.
"Apa itu karavan para pedagang dari misi pengawalan itu?" gumam Ferisu melihat rombongan yang ada dibelakangnya.
Ferisu menepi dan membiarkan rombongan itu berjalan lebih dulu. Ada dua buah party yang tak asing, yakni Thuder Wolf dan Silver Prince. Ada satu buah party lagi yang ikut bersama mereka. Semua anggotanya merupakan wanita, Blue Rose adalah nama dari party mereka.
Ketiga party tersebut telihat kuat dan begitu percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki. Ketika Ferisu melihat ke arah party Blue Rose, mereka seolah memandang rendah Ferisu. Begitu pula dengan Silver Prince yang memandang Ferisu dengan penuh kebencian.
"Apa Kakak pernah melakukan sesuatu yang membuat para petualang itu kesal,?" tanya Kurumi.
"Hmm? Kurasa tidak ... mungkin," jawab Ferisu dengan ragu.
Setelah rombongan itu jauh Ferisu mulai melanjutkan langkahnya bersama Kurumi menuju ke desa Fulen untuk membeli hewan ternak. Sekaligus pergi menuju ke desa para ras bunny untuk menghentikan bencana yang akan datang berdasarkan ramalan dari Kurumi.
Waktu berlalu dengan cepat hingga hari sudah mulai gelap, biasanya orang-orang akan menghentikan perjalanan mereka dan beristirahat. Namun, Ferisu tetap melanjutkan perjalanannya sembari menggendong Kurumi yang tertidur. Sebuah desa dilalui, dimana rombongan pedagang yang sebelumnya lewat berhenti di desa tersebut.
Malam hari berlalu dengan cepat hingga mereka akhirnya sampai di sebuah desa yang bernama Fulen. Pagi hari yang sejuk membuat rasa kantuk menjadi, Kurumi tetap tertidur pulas di atas gendongan Ferisu. Mentari mulai naik untuk menyinari dunia dengan sinar hangatnya, yang menandakan pagi telah tiba.
"Kurumi bangunlah kita sudah sampai," ucap Ferisu pelan sambari menggoyangkan tubuhnya.
"Hmm? Kitwa swudah sampai?" gumam Kurumi yang baru bangun dari tidurnya.
"Ya, turunlah. Aku akan membuatkan sarapan, lalu kita akan datang ke desa itu," jawab Ferisu sembari menunjuk ke arah desa.
Kurumi mengangguk pelan, ia duduk di tikar yang dibentangkan oleh Ferisu. Mengeluarkan beberapa bahan makanan dari penyimpanan dimensinya, Ferisu memasak sebuah sup hangat. Ketika selesai mereka langsung berjalan masuk ke desa Fulen. Desa itu memiliki penduduk sebanyak 150 orang yang kebanyakan bekerja sebagai petani dan peternak.
Kurumi memegang erat pakaian Ferisu karena merasa takut dikelilingi oleh banyak manusia. Menoleh ke arah Kurumi, Ferisu mengelus pelan kepalanya. "Tenang saja, jika ada yang macam-macam aku akan langsung menghabisinya," ucap Ferisu untuk menenangkan Kurumi.
Mereka bertanya pada penduduk desa, dimana tempat untuk membeli hewan ternak. Saat itu seorang pemuda dengan rambut pirang disertai dengan mata yang berwarna emas datang menghampiri Ferisu.
"Apa tadi kau bilang hewan ternak?" ucap pemuda itu.
"Iya, dan kau siapa?" tanya Ferisu sembari menoleh ke pemuda itu.
"Ah, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Alfred, orang tuaku memiliki banyak hewan ternak dan pertanian yang cukup luas. Saat kudengar kau mencari hewan ternak, aku ingin kau melihat hewan yang kami rawat. Siapa tahu kau tertarik untuk membelinya," jelas Alfred.
"Baiklah, apa kau bisa membawaku kesana?" ujar Ferisu.
"Tentu saja! Ayo ikut denganku! Kau pasti tak akan menyesal," jawab Alfred dengan bersemangat menunjukkan jalan menuju ke lahan milik keluarganya.
Sebuah padang rumput yang terbentang luas dikelilingi oleh pagar yang menjaga hewan ternak agar tak lari. Ada berbagai macam hewan yang sedang merumput di lahan tersebut, sapi, kambing, domba, kuda, ayam dan bebek juga ada.
Di sebelah padang rumput itu terdapat sebuah lahan pertanian yang tak kalah luasnya yang diisi dengan berbagai macam jenis tanaman. Ferisu berjalan memasuki padang rumput tersebut dan menghampiri sekawanan domba yang sedang makan rumput.
"Sepertinya mereka dirawat dengan baik," ucapnya melihat domba-domba itu dengan senyum kagum.
"Tentu saja! Kualitas nomor satu disini," ucap Alfred dengan bangga.
"Hahaha, kau benar. Butuh keahlian dan ketelitian yang baik untuk merawat hewan ternak sesehat ini," balas Ferisu.
Setelah melihat-lihat hewan Ferisu mulai menanyai setiap harga dari hewan tersebut. Untuk sapi dihargai sebesar 10 koin emas, kambing dan domba 5 koin emas, kuda 20 koin emas, ayam dan bebek dihargai 1 koin emas. Jika di total dengan masing-masing hewan dibeli sepasang uang yang perlu dikeluarkan ada sebanyak 84 koin emas.
Saat mendengar harga itu Ferisu mengerutkan dahinya karena uangnya kurang. Terlebih lagi ia sudah memakainya untuk membeli bibit tanaman sebelumnya. "Aku perlu mengumpulkan uang lagi," gumamnya sembari memangku dagunya.
"Hei, namamu tadi Alfred, kan?" ujar Ferisu.
"Iya, ada apa?" saut Alfred sembari bertanya.
"Apa ada sebuah misi yang bisa kulakukan disini? Ah, tidak. Apa disini ada guild petualang?" tanya Ferisu.
"Hmm, disini tak ada guild petualang. Kalau kau ingin mencari uang, bisa pergi ke tempat kepala desa. Biasanya para petualang datang kesana jika mencari sebuah misi," jawab Alfred sembari menjelaskan.
"Terima kasih atas informasinya. Oh iya, aku beli sepasang sapi, domba, kambing, bebek dan ayam," ucap Ferisu.
Sebenarnya ia ingin kuda juga, tapi karena terlalu mahal dan tak punya uang untuk membelinya, ia mengurungkan niatnya. Alfred menerima uang dari Ferisu dengan tersenyum. Ia mulai mengurusi hewan yang akan dibeli dan memisahkannya dari hewan ternak yang lain.
Ferisu pergi menuju rumah kepala desa untuk melihat apakah ada misi yang pas untuk ia kerjakan. Walaupun begitu, sebenarnya ia harus pergi ke desa ras bunyy. "Maaf Kurumi, kita akan diam sejenak di desa ini. Aku perlu mengurus hal yang perlu kulakukan terlebih dahulu," ujar Ferisu.
"Iya, aku tak keberatan," jawab Kurumi.
Di depan rumah kepala desa terlihat begitu banyak orang yang sedang berkerumun sembari berteriak memanggil kepala desa keluar. "Cepatlah keluar! Kau perlu menjelaskan kejadian itu!"
Kurumi yang melihat para manusia yang berkerumun dan tampak begitu kesal membuatnya sedikit ketakutan. "A-apa yang sedang terjadi?" gumamnya pelan sembari memegang pakaian Ferisu dengan gemetaran.
Mengelus pelan kepala Kurumi. "Tenang saja, jika ada sesuatu aku akan mengurusnya," ucap Ferisu menenangkan Kurumi.
Saat itu tiba-tiba suasana menjadi sunyi ketika pintu rumah kepala desa terbuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kelvin Rizco
Overlord 🤨?
2023-12-09
0
Kav
Daritadi baca manhwa ama novel ada elus elus terus. Jadi pengen
2023-10-31
0