Di kedalaman hutan terdapat sebuah desa yang ditinggali oleh 2 suku goblin, suku Regrus dan Gayle. Aliansi ini terbentuk saat perang manusia dan iblis berlangsung.
Suku Regrus memiliki banyak goblin yang sudah berevolusi menjadi hobgoblin. Kekuatan mereka tak bisa diragukan lagi. Sedangkan suku Gayle memiliki kecepatan dan bertarung dengan sebuah pisau.
Saat bertarung, suku Regrus akan menyerang dari depan, sedangkan suku Gayle akan menyerang dari belakang. Petarung dan pembunuh adalah kata yang cocok untuk kedua suku goblin ini.
Di malam hari ada beberapa goblin dari suku Gayle yang kembali ke desa.
"Kami ingin melaporkan sesuatu," ucap pemimpin kelompok.
Seorang goblin dari suku Regrus yang merupakan kepala desa mendatangi mereka untuk mendengar laporan tersebut.
"Di desa manusia terdekat, mereka ... ."
"Mereka kenapa?" tanya kepala desa.
"Mereka tinggal bersama goblin dari suku Oldrus."
"Manusia dan goblin hidup bersama katamu!?" kepala suku tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh grup pengintai.
"Benar dan desanya juga makmur."
Semua goblin dikumpulkan, para goblin yang bisa bertarung akan pergi menuju ke desa itu. Kepala suku memberitahu pada semua goblin untuk menjarah desa tersebut. Mereka pergi menuju ke desa itu dalam dua kelompok.
Kelompok pertama terdiri dari suku Gayle yang akan mengumpulkan informasi dan jika ada kesempatan mereka akan menyusup kedalam dan melakukan serangan diam-diam. Sedangkan kelompok kedua berasal dari suku Regrus yang akan menerjang dari arah depan ketika bagian dalam desa sudah di acak-acak oleh suku Gayle.
Dari kejauhan mereka mengintai desa, para manusia yang memiliki senjata berpatroli mengelilingi desa. Sedangkan yang lain membangun sebuah dinding yang terbuat dari kayu.
"Hahaha! Sepertinya kita bisa menjarah desa itu dengan mudah," ujar kepala suku Regrus.
"Itu benar, lagi pula Oldurt tidak memiliki kemampuan bertarung, mereka hanya hebat dalam tanaman dan obat-obatan," sambung Gayle.
Saat mata hari tenggelam para goblin dari suku Gayle mulai bergerak dan menyusup kedalam desa. Para penjaga yang sedang berpatroli dibunuh secara diam-diam tanpa menciptakan sebuah suara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di bagian dalam hutan, Ferisu sedang berada di desa suku Redhood. Di dalam rumah kepala suku mereka sedang berdiskusi soal ajakan Ferisu untuk tinggal bersama di desa Heiwa. Hal itu tentu saja tak bisa diterima begitu saja oleh kepala suku Redhood.
"Maaf, tapi kami tak bisa ikut," ujar kepala suku.
"Begitu, yah. Apa boleh buat, mungkin aku akan mengurangi jumlah kalian. Sisanya pasti akan paham dan mau ikut denganku," ucap Ferisu dengan senyum simpul disertai hawa membunuh.
Saat merasakan tekanan hawa membunuh itu, suku Redhood paham jika orang yang ada dihadapannya bukanlah seorang manusia. "Sa-saya mengerti, biarkan suku Redhood bergabung dengan Anda," ujar kepala suku.
"Baguslah jika kau mengerti," saut Ferisu dengan senyuman.
Setelah negosiasi yang terlihat seperti paksaan itu, para goblin dari suku Redhood mulai berkumpul dan siap untuk melakukan perjalanan menuju desa Heiwa. Ferisu memberikan sihir penguat pada mereka agar bisa bergerak lebih cepat menuju desa.
Selama perjalanan kepala suku Redhood bertanya kepada Ferisu tentang alasannya mengajak mereka. "P-permisi Tuan, kalau boleh tahu. Apa tujuan Tuan membuat sebuah desa yang ditinggali oleh manusia dan goblin?"
"Itu karena ... ."
Ferisu menjelaskan kepada kepala suku tentang tujuannya. Dunia yang dipenuhi oleh permusuhan dan pertarungan, hal itu sudah diketahui oleh banyak orang. Kenapa mereka tak berhenti bertarung? Apa ada sebuah alasan dibalik pertarungan itu? Apa mereka bertarung hanya karena kebencian atau perbedaan budaya dan ras?
"Aku sudah muak dengan pertarungan, yah, walaupun sebenarnya aku sedikit suka bertarung," ucap Ferisu dengan senyum palsunya. "Aku ingin melihat sebuah tempat dimana orang-orang bisa hidup dengan senyuman tanpa membedakan satu sama lain, itulah kenapa aku ingin membangun sebuah negeri dimana semua ras bisa hidup berdampingan," jelasnya.
Setelah mendengar hal itu kepala suku Redhood sadar jika Ferisu memiliki niat yang baik. Walaupun caranya bisa terbilang tidak, demi mewujudkan hal yang ia inginkan. Ferisu akan melakukan hal apapun, mau itu lewat jalur kekerasan atau tidak. Orang yang mengacungkan pedang dan menjadi musuh akan dibinasakan, mereka yang menerima uluran tangan dan bersikap baik akan dilindungi.
Perjalanan kembali menuju desa Heiwa sudah lewat satu hari dan pada saat mereka sudah dekat. Terlihat sebuah asap tebal dari arah desa.
"Fe-Ferisu-sama! De-desanya ... ," teriak goblin tampak panik.
"Ya, aku tahu," saut Ferisu yang memperlihatkan wajah yang tampak kesal. "Kita akan bergegas menuju desa!"
Mereka bergegas menuju ke desa, aroma darah tercium dengan jelas di hidung Ferisu. Mayat para penjaga terlihat berserakan di sekitar pagar yang mengelilingi desa. Rumah-rumah terbakar dan tak terlihat satupun penduduk desa.
"Tuan! Saya merasakan energi kehidupan dari arah sana!" ujar kepala suku Redhood menunjuk ke arah alun-alun desa.
Ferisu mengangguk dan bergerak menuju ke arah yang ditunjuk begitu pula para goblin yang lain. Saat sampai disana terlihat para goblin dari suku Oldrus dan penduduk desa manusia yang duduk terikat disana. Ada dua jenis goblin lain yang memasang wajah kegirangan saat menyiksa para penduduk.
"Mereka dari suku Regrus dan Gayle," ujar kepala suku Redhood.
"Begitu, yah." Ferisu berjalan secara perlahan menuju ke alun-alun desa.
Kepala suku Regrus yang melihatnya bangun berdiri dan berjalan mendekat. "Berani juga kau datang kesini secara terang-terangan, manusia," ujarnya dengan mengejek.
"Hah? Seharusnya itu kata-kataku dasar bedebah sialan!" balas Ferisu dengan tatapan sinis.
Goblin itu terbawa emosi dan mengarahkan pukulannya pada Ferisu. "Dasar manusia brengsek!"
Pukulan yang kuat itu menghasilkan sebuah angin pada sekitar, namun Ferisu menahannya dengan satu tangan. Goblin itu tampak terkejut dan hendak menarik tangannya, namun Ferisu mencengkram erat tangan goblin tersebut.
"L-lepaskan!" teriak goblin itu tampak panik.
"Baiklah," saut Ferisu.
Ferisu menguatkan cengkeramannya hingga membuat tangan goblin tersebut remuk.
"Aaaarrrrgghhh!!!" goblin itu menggerang kesakitan.
Ferisu melepaskan cengkeramannya dan melemparkan goblin itu ke arah teman-teman. "Beraninya kalian mengacau di desa yang baru saja ingin kubangun," gumam Ferisu dengan ketus.
Matanya mulai menyala menjadi merah, Ferisu bergerak dengan begitu cepat menghabisi semua goblin dari suku Regrus dan Gayle yang ada di sekitar desa. Melihat teman-teman mereka terbunuh, kepanikan tak bisa dihindari, mau kaburpun mereka tak akan bisa karena kecepatan dari pembunuh teman mereka.
"Huft~ baiklah, aku akan menyisakan kalian berdua," ujar Ferisu melemparkan satu goblin dari suku Regrus dan Gayle ke alun-alun desa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Mr. Wilhelm
Oh Boi... Mati nih goblin 😅
2023-08-21
1
Elozz Eins
bertindak sebagai villain 🤣 aku suka karakter ferisu🤭
2023-08-08
1
Elozz Eins
kata "ditinggalin" kurang tepat kak, lebih enak dibaca pakai kata "ditinggali" aja tanpa akhiran huruf "n"
2023-08-08
4