Chapter 7 : Serangan

Di kedalaman hutan terdapat sebuah desa yang ditinggali oleh 2 suku goblin, suku Regrus dan Gayle. Aliansi ini terbentuk saat perang manusia dan iblis berlangsung.

Suku Regrus memiliki banyak goblin yang sudah berevolusi menjadi hobgoblin. Kekuatan mereka tak bisa diragukan lagi. Sedangkan suku Gayle memiliki kecepatan dan bertarung dengan sebuah pisau.

Saat bertarung, suku Regrus akan menyerang dari depan, sedangkan suku Gayle akan menyerang dari belakang. Petarung dan pembunuh adalah kata yang cocok untuk kedua suku goblin ini.

Di malam hari ada beberapa goblin dari suku Gayle yang kembali ke desa.

"Kami ingin melaporkan sesuatu," ucap pemimpin kelompok.

Seorang goblin dari suku Regrus yang merupakan kepala desa mendatangi mereka untuk mendengar laporan tersebut.

"Di desa manusia terdekat, mereka ... ."

"Mereka kenapa?" tanya kepala desa.

"Mereka tinggal bersama goblin dari suku Oldrus."

"Manusia dan goblin hidup bersama katamu!?" kepala suku tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh grup pengintai.

"Benar dan desanya juga makmur."

Semua goblin dikumpulkan, para goblin yang bisa bertarung akan pergi menuju ke desa itu. Kepala suku memberitahu pada semua goblin untuk menjarah desa tersebut. Mereka pergi menuju ke desa itu dalam dua kelompok.

Kelompok pertama terdiri dari suku Gayle yang akan mengumpulkan informasi dan jika ada kesempatan mereka akan menyusup kedalam dan melakukan serangan diam-diam. Sedangkan kelompok kedua berasal dari suku Regrus yang akan menerjang dari arah depan ketika bagian dalam desa sudah di acak-acak oleh suku Gayle.

Dari kejauhan mereka mengintai desa, para manusia yang memiliki senjata berpatroli mengelilingi desa. Sedangkan yang lain membangun sebuah dinding yang terbuat dari kayu.

"Hahaha! Sepertinya kita bisa menjarah desa itu dengan mudah," ujar kepala suku Regrus.

"Itu benar, lagi pula Oldurt tidak memiliki kemampuan bertarung, mereka hanya hebat dalam tanaman dan obat-obatan," sambung Gayle.

Saat mata hari tenggelam para goblin dari suku Gayle mulai bergerak dan menyusup kedalam desa. Para penjaga yang sedang berpatroli dibunuh secara diam-diam tanpa menciptakan sebuah suara.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di bagian dalam hutan, Ferisu sedang berada di desa suku Redhood. Di dalam rumah kepala suku mereka sedang berdiskusi soal ajakan Ferisu untuk tinggal bersama di desa Heiwa. Hal itu tentu saja tak bisa diterima begitu saja oleh kepala suku Redhood.

"Maaf, tapi kami tak bisa ikut," ujar kepala suku.

"Begitu, yah. Apa boleh buat, mungkin aku akan mengurangi jumlah kalian. Sisanya pasti akan paham dan mau ikut denganku," ucap Ferisu dengan senyum simpul disertai hawa membunuh.

Saat merasakan tekanan hawa membunuh itu, suku Redhood paham jika orang yang ada dihadapannya bukanlah seorang manusia. "Sa-saya mengerti, biarkan suku Redhood bergabung dengan Anda," ujar kepala suku.

"Baguslah jika kau mengerti," saut Ferisu dengan senyuman.

Setelah negosiasi yang terlihat seperti paksaan itu, para goblin dari suku Redhood mulai berkumpul dan siap untuk melakukan perjalanan menuju desa Heiwa. Ferisu memberikan sihir penguat pada mereka agar bisa bergerak lebih cepat menuju desa.

Selama perjalanan kepala suku Redhood bertanya kepada Ferisu tentang alasannya mengajak mereka. "P-permisi Tuan, kalau boleh tahu. Apa tujuan Tuan membuat sebuah desa yang ditinggali oleh manusia dan goblin?"

"Itu karena ... ."

Ferisu menjelaskan kepada kepala suku tentang tujuannya. Dunia yang dipenuhi oleh permusuhan dan pertarungan, hal itu sudah diketahui oleh banyak orang. Kenapa mereka tak berhenti bertarung? Apa ada sebuah alasan dibalik pertarungan itu? Apa mereka bertarung hanya karena kebencian atau perbedaan budaya dan ras?

"Aku sudah muak dengan pertarungan, yah, walaupun sebenarnya aku sedikit suka bertarung," ucap Ferisu dengan senyum palsunya. "Aku ingin melihat sebuah tempat dimana orang-orang bisa hidup dengan senyuman tanpa membedakan satu sama lain, itulah kenapa aku ingin membangun sebuah negeri dimana semua ras bisa hidup berdampingan," jelasnya.

Setelah mendengar hal itu kepala suku Redhood sadar jika Ferisu memiliki niat yang baik. Walaupun caranya bisa terbilang tidak, demi mewujudkan hal yang ia inginkan. Ferisu akan melakukan hal apapun, mau itu lewat jalur kekerasan atau tidak. Orang yang mengacungkan pedang dan menjadi musuh akan dibinasakan, mereka yang menerima uluran tangan dan bersikap baik akan dilindungi.

Perjalanan kembali menuju desa Heiwa sudah lewat satu hari dan pada saat mereka sudah dekat. Terlihat sebuah asap tebal dari arah desa.

"Fe-Ferisu-sama! De-desanya ... ," teriak goblin tampak panik.

"Ya, aku tahu," saut Ferisu yang memperlihatkan wajah yang tampak kesal. "Kita akan bergegas menuju desa!"

Mereka bergegas menuju ke desa, aroma darah tercium dengan jelas di hidung Ferisu. Mayat para penjaga terlihat berserakan di sekitar pagar yang mengelilingi desa. Rumah-rumah terbakar dan tak terlihat satupun penduduk desa.

"Tuan! Saya merasakan energi kehidupan dari arah sana!" ujar kepala suku Redhood menunjuk ke arah alun-alun desa.

Ferisu mengangguk dan bergerak menuju ke arah yang ditunjuk begitu pula para goblin yang lain. Saat sampai disana terlihat para goblin dari suku Oldrus dan penduduk desa manusia yang duduk terikat disana. Ada dua jenis goblin lain yang memasang wajah kegirangan saat menyiksa para penduduk.

"Mereka dari suku Regrus dan Gayle," ujar kepala suku Redhood.

"Begitu, yah." Ferisu berjalan secara perlahan menuju ke alun-alun desa.

Kepala suku Regrus yang melihatnya bangun berdiri dan berjalan mendekat. "Berani juga kau datang kesini secara terang-terangan, manusia," ujarnya dengan mengejek.

"Hah? Seharusnya itu kata-kataku dasar bedebah sialan!" balas Ferisu dengan tatapan sinis.

Goblin itu terbawa emosi dan mengarahkan pukulannya pada Ferisu. "Dasar manusia brengsek!"

Pukulan yang kuat itu menghasilkan sebuah angin pada sekitar, namun Ferisu menahannya dengan satu tangan. Goblin itu tampak terkejut dan hendak menarik tangannya, namun Ferisu mencengkram erat tangan goblin tersebut.

"L-lepaskan!" teriak goblin itu tampak panik.

"Baiklah," saut Ferisu.

Ferisu menguatkan cengkeramannya hingga membuat tangan goblin tersebut remuk.

"Aaaarrrrgghhh!!!" goblin itu menggerang kesakitan.

Ferisu melepaskan cengkeramannya dan melemparkan goblin itu ke arah teman-teman. "Beraninya kalian mengacau di desa yang baru saja ingin kubangun," gumam Ferisu dengan ketus.

Matanya mulai menyala menjadi merah, Ferisu bergerak dengan begitu cepat menghabisi semua goblin dari suku Regrus dan Gayle yang ada di sekitar desa. Melihat teman-teman mereka terbunuh, kepanikan tak bisa dihindari, mau kaburpun mereka tak akan bisa karena kecepatan dari pembunuh teman mereka.

"Huft~ baiklah, aku akan menyisakan kalian berdua," ujar Ferisu melemparkan satu goblin dari suku Regrus dan Gayle ke alun-alun desa.

Terpopuler

Comments

Mr. Wilhelm

Mr. Wilhelm

Oh Boi... Mati nih goblin 😅

2023-08-21

1

Elozz Eins

Elozz Eins

bertindak sebagai villain 🤣 aku suka karakter ferisu🤭

2023-08-08

1

Elozz Eins

Elozz Eins

kata "ditinggalin" kurang tepat kak, lebih enak dibaca pakai kata "ditinggali" aja tanpa akhiran huruf "n"

2023-08-08

4

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Reinkarnasi
2 Chapter 2 : Dunia Envend
3 Chapter 3 : Pertarungan Dengan Tubuh Baru
4 Chapter 4 : Ras Goblin
5 Chapter 5 : Serangan Bandit
6 Chapter 6 : Goblin Dan Manusia
7 Chapter 7 : Serangan
8 Chapter 8 : Pembentukan Desa
9 Chapter 9 : Kota Petualang
10 Chapter 10 : Guild Petualang
11 Chapter 11 : Misi Pertama
12 Chapter 12 : Anak Kecil Di Distrik Merah?
13 Chapter 13 : Permintaan Ras Bunny
14 Chapter 14 : Desa Fulen
15 Chapter 15 : Malaikat Jatuh?
16 Chapter 16 : Para Pedagang?
17 Chapter 17 : Pertikaian
18 Chapter 18 : Kedatangan Ras Bunny
19 Chapter 19 : Menuju Ke Ibu Kota Urushia
20 Chapter 20 : Gadis Penyihir Yang Tak Bisa Menggunakan Sihir?
21 Chapter 21 : Mengajarkan Sihir
22 Chapter 22 : Kebetulan Yang Gila
23 Chapter 23 : Di Balik Senyum
24 Chapter 24 : Iblis Bertopeng Manusia
25 Chapter 25 : Mengeliminasi 1 Dari 8 Organisasi Gelap
26 Chapter 26 : Serangan Sepihak
27 Chapter 27 : Kembali Ke Awal
28 Chapter 28 : Petunjuk
29 Chapter 29 : Tujuan Baru
30 Chapter 30 : Pelatihan
31 Chapter 31 : Mencoba Untuk Percaya
32 Chapter 32 : Pertarungan Di Rawa
33 Chapter 33 : Pertarungan Di Rawa #2
34 Chapter 34 : Lembah Berkabut
35 Chapter 35 : Lamia
36 Chapter 36 : Terjalinnya Hubungan Dengan Para Lamia
37 Chapter 37 : Sword of Nothingness
38 Chapter 38 : Hutan Elf
39 Chapter 39 : Kedatangan Monster Bencana
40 Chapter 40 : Monster Zaman Dewa
41 Chapter 41 : Hilang Kendali
42 Chapter 42 : Alter Ego
43 Chapter 43 : Melepas Kutukan
44 Chapter 44 : Desa Heiwa Sementara
45 Chapter 45 : Berpindah Tempat
46 Chapter 46 : Hutan Dryad
47 Chapter 47 : Dryad Dan Fairy
48 Chapter 48 : Tuan Dari Hydra
49 Chapter 49 : Bersatu
50 Chapter 50 : Melanjutkan Perjalanan
51 Chapter 51 : Hutan Kematian
52 Chapter 52 : Menuju Dungeon
53 Chapter 53 : Colosseum
54 Chapter 54 : Mendaki Dungeon
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Chapter 1 : Reinkarnasi
2
Chapter 2 : Dunia Envend
3
Chapter 3 : Pertarungan Dengan Tubuh Baru
4
Chapter 4 : Ras Goblin
5
Chapter 5 : Serangan Bandit
6
Chapter 6 : Goblin Dan Manusia
7
Chapter 7 : Serangan
8
Chapter 8 : Pembentukan Desa
9
Chapter 9 : Kota Petualang
10
Chapter 10 : Guild Petualang
11
Chapter 11 : Misi Pertama
12
Chapter 12 : Anak Kecil Di Distrik Merah?
13
Chapter 13 : Permintaan Ras Bunny
14
Chapter 14 : Desa Fulen
15
Chapter 15 : Malaikat Jatuh?
16
Chapter 16 : Para Pedagang?
17
Chapter 17 : Pertikaian
18
Chapter 18 : Kedatangan Ras Bunny
19
Chapter 19 : Menuju Ke Ibu Kota Urushia
20
Chapter 20 : Gadis Penyihir Yang Tak Bisa Menggunakan Sihir?
21
Chapter 21 : Mengajarkan Sihir
22
Chapter 22 : Kebetulan Yang Gila
23
Chapter 23 : Di Balik Senyum
24
Chapter 24 : Iblis Bertopeng Manusia
25
Chapter 25 : Mengeliminasi 1 Dari 8 Organisasi Gelap
26
Chapter 26 : Serangan Sepihak
27
Chapter 27 : Kembali Ke Awal
28
Chapter 28 : Petunjuk
29
Chapter 29 : Tujuan Baru
30
Chapter 30 : Pelatihan
31
Chapter 31 : Mencoba Untuk Percaya
32
Chapter 32 : Pertarungan Di Rawa
33
Chapter 33 : Pertarungan Di Rawa #2
34
Chapter 34 : Lembah Berkabut
35
Chapter 35 : Lamia
36
Chapter 36 : Terjalinnya Hubungan Dengan Para Lamia
37
Chapter 37 : Sword of Nothingness
38
Chapter 38 : Hutan Elf
39
Chapter 39 : Kedatangan Monster Bencana
40
Chapter 40 : Monster Zaman Dewa
41
Chapter 41 : Hilang Kendali
42
Chapter 42 : Alter Ego
43
Chapter 43 : Melepas Kutukan
44
Chapter 44 : Desa Heiwa Sementara
45
Chapter 45 : Berpindah Tempat
46
Chapter 46 : Hutan Dryad
47
Chapter 47 : Dryad Dan Fairy
48
Chapter 48 : Tuan Dari Hydra
49
Chapter 49 : Bersatu
50
Chapter 50 : Melanjutkan Perjalanan
51
Chapter 51 : Hutan Kematian
52
Chapter 52 : Menuju Dungeon
53
Chapter 53 : Colosseum
54
Chapter 54 : Mendaki Dungeon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!