Setelah mendaftar sebagai petualang untuk mencari uang, Ferisu pergi keluar dari kota menuju ke sebuah padang rumput yang dekat dengan sebuah hutan untuk memburu kelinci bertanduk. Horned Rabbit, memiliki bulu berwarna putih dengan tanduk runcing di kepalanya, mereka memiliki gerakan yang cukup lincah. Matanya berwarna merah dan cukup agresif jika ada seseorang yang memasuki wilayah mereka.
Tak sedikit petualang pemula yang mengalami luka parah akibat serangan Horned Rabbit. Walaupun dikategorikan sebagai misi untuk petualang rank-G dan F, sebenarnya misi ini lebih dianjurkan untuk petualang rank-E. Biasanya petualang rank-G hingga F hanya melakukan misi pengumpulan atar serabutan seperti mencari kucinta atau membersihkan selokan.
Di padang rumput itu, angin bertiup menggoyangkan rerumputan. Ferisu memejamkan matanya untuk mendengarkan suara dari area sekitar, walaupun ia bisa merasakan energi sihir dari monster. Ferisu tak bisa selalu bergantung pada hal itu, karena panca indranya sudah diperkuat, ia memutuskan untuk mencari keberadaan kelinci lewat suara.
Suara gemerisik terdengar dari arah jam 10, Ferisu mengangkat tangannya dan menembakkan sebuah sihir berupa tombak es yang melesat dengan begitu cepat. Saat berjalan menuju ke arah sana, Ferisu mendapatkan seekor Horned Rabbit yang sudah tak bernyawa dengan tombak es yang tertancap di kepalanya.
"Aku perlu 5 ekor untuk menyelesaikan questnya, jika aku membawa lebih mereka akan tetap menerimanya dan memberikan harga pasar," gumam Ferisu sembari mengangkat kelinci tersebut.
Ia menggoyangkan kelinci itu dan melihatnya secara terperinci. Gigi taring, tanduk, bola mata merah, benar-benar berbeda dengan kelinci yang ada dibumi.
"Gigi kelinci biasanya ada dua yang besar, kan? Eh, apa itu gigi tupai?" gumamnya kebingungan sendiri.
Ferisu menyimpan kelinci itu dalam penyimpanan dimensinya. Alih-alih menggunakan indra pendengarannya seperti tadi, Ferisu menggunakan sihir pendeteksi untuk mencari para kelinci. Saat mengetahui lokasi mereka, ia bergerak dengan begitu cepat dan menghabisi para kelinci satu persatu layaknya seekor elang yang sedang berburu mangsa.
Angin berhembus dengan pelan menyapu aroma darah para kelinci, matahari mulai tenggelam yang menandakan malam akan tiba. Ferisu kembali ke kota untuk melaporkan misinya pada guild serta menjual material kelinci. Satu ekor kelinci dihargai 3 koin perak dan hadiah dari misi itu bernilai 17 perak.
Saat menerima uang itu Ferisu mulai mengerutkan dahinya. Jika dia harus menaikan ranknya akan memakan waktu yang lama, saat itu ia teringat masih ada beberapa mayat monster yang ada didalam penyimpanan dimensinya, karena sebagian sudah dipakai untuk makan.
"Aku ingin menjual beberapa monster lagi, apa ada tempat yang cukup luas?" tanya Ferisu pada resepsionis.
Mereka pergi kebelakang guild tepatnya di sebuah bangunan khusus untuk pembedahan material monster. Ferisu mengeluarkan semua monster yang ada didalam penyimpanan dimensinya, 10 Hell Wolf, 2 Horned Bear, 15 Demon Spider, dan 20 killer Rabbit.
"Dengan begini aku sudah mendapatkan 52 koin emas, saatnya mencari hewan ternak dan bibit tanaman," gumam Ferisu meninggalkan guild petualang.
Ketika keluar dari guild, ia bertemu dengan pria yang pernah ia lempar ketika mendaftar sebagai petualang. Mata mereka saling bertemu dan Ferisu memberikan senyuman simpul yang membuat pria itu bergidik takut.
"Eh, kamu-kan ... ," ucap seorang wanita.
Hana, wanita berambut coklat dengan mata hijau daun yang bertemu dengan Ferisu di penginapan pagi hari sebelumnya. Seorang petualang dengan class penyihir.
"Ah, benar," ucap yang lainnya.
Pria bertubuh besar yang bertemu dengan Ferisu merupakan ketua party dari Thunder Wolf, sebuah party yang berisikan petualang rank-C. Mereka semua berasal dari sebuah desa kecil di pinggiran kerajaan. Mereka beranggotakan lima orang, semuanya merupakan teman dari kecil. Memiliki tujuan yang sana dan akhirnya menjadi seorang petualang.
"A-apa kalian mengenal dia?" ujar pemimpin party sembari menunjuk Ferisu dengan sedikit gemetaran.
"Tak juga, kami hanya bertemu di penginapan pagi tadi," jawab Hana.
"Be-begitu yah, ayo kita masuk kedalam dan mengambil quest," ucap pemimpin mereka yang langsung berjalan masuk kedalam guild.
Para anggota pun ikut masuk kedalam guild dan meninggalkan Ferisu seorang disana. Di dalam guild petualang, ketua mereka memperingati jika orang yang mereka temui barusan bukan orang biasa. Terlebih lagi tatapan tajam dengan mata merah yang menyala masih teringat olehnya dengan jelas. Aura membunuh dan energi sihir yang besar muncul sejenak dalam tatapan itu.
Disisi lain Ferisu pergi menuju guild pedagang untuk membeli bibit tanaman, karena hewan ternak tak dijual di guild, ia harus pergi menuju ke tempat lain untuk membelinya.
Guild petualang.
Party Thunder Wolf sedang mencari sebuah misi yang ingin mereka ambil. Ketua mereka mengambil sebuah kertas yang berisikan misi pengawalan. "Bagaimana dengan ini? Kita bisa sekalian mampir ke desa kita," ucapnya menunjukkan misi itu pada yang lain.
"Misi pengawalan yah, rutenya juga searah dengan desa kita. Setelah menyelesaikan misi, kita bisa mampir sebentar," ucap gadis berambut merah dengan kuncir kuda.
"Kurasa itu ide bagus, kita juga sudah lama tidak pulang," sambung Hana.
Dua anggota laki-laki yang lain juga setuju dengan misi itu. Misi pengawalan itu akan diikuti oleh tiga orang party petualang karena mereka harus mengawal karavan para pedagang.
"Ouh, jadi kalian mengambil misi itu juga, anjing kampung," ucap seorang petualang dengan senyum yang meledek.
Orang itu berasal dari sebuah party bernama Silver Prince, sebuah party yang berisikan anak-anak bangsawan. Karena mereka bukanlah anak pertama, mereka tak memiliki hak untuk meneruskan jabatan orang tua mereka. Silver Prince beranggotakan 5 orang yang saling mengisi kekurangan satu sama lain. Warior, tank, mage, archer dan support.
Adu mulut-pun terjadi disana, orang-orang yang ada di dalam guild-pun memanas-manasi mereka. Hingga seorang laki-laki berambut silver masuk kedalam guild.
"Hmm? Apa sedang ada pertunjukan?" gumam Ferisu ketika melihat guild yang berisik.
Setelah membeli bibit tanaman, Ferisu kembali ke guild petualang untuk mencari sebuah misi yang mengarah ke sebuah desa yang menjual hewan ternak. Ia berjalan dengan santai mengabaikan kegaduhan yang terjadi di dalam guild. Tapi, anehnya orang-orang mulai kembali diam secara perlahan saat ada Ferisu di dalam guild.
Melihat papan misi, Ferisu lupa kalau dirinya tak bisa membaca huruf dunia ini. "Ugh... sialan!" decaknya dengan wajah yang tampak kesal.
Ferisu berjalan menuju ke meja resepsionis, melewati tengah-tengah dua party yang sedang ribut. Dengan santainya Ferisu bertanya pada resepsionis tentang sebuah misi yang mengarah ke sebuah desa bernama Fulen. Itulah nama desa yang diberitahukan oleh guild pedagang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Hoshino ..
maaf mungkin "sana"itu adalah"sama"
2023-12-29
0
Queen Of Gossip
🫵♂️🐊
2023-11-19
0
Kav
Gak ada sihir penerjemah di sini?
2023-10-12
1