Saat tiba di dunia Envend, Ferisu bertemu dengan bloody grizzly. Saat ini ia sedang berhadapan dengan beruang itu. Menggigit jari jempolnya hingga mengeluarkan darah, Ferisu mengalirkan energi sihirnya hingga membuat darah yang keluar membentuk sebuah pedang.
"Ouh! Ini tak sesulit yang kupikirkan," gumamnya saat berhasil membuat pedang darah.
Ferisu bergerak maju ke arah beruang tersebut dengan sebuah pedang darah di tangannya. Beruang itu mulai berdiri dan mengayunkan cakarnya yang tajam. Saat cakar itu diayunkan, Ferisu berhenti berlari dan meloncat ke arah yang berlawanan dari ayunan cakar itu.
Untuk melawan seekor beruang, bagusnya di tempat yang miring dan bukan tanah datar. Tapi tak ada waktu untuk cari tempat, aku hanya perlu memutar dan menyerangnya dari titik buta.
Serangan dari samping cukup sulit dilihat dengan baik oleh beruang (otot leher dan struktur rahang beruang menyulitkannya memutar leher dengan mudah, sehingga membatasi jarak pandang dari samping), dengan begitu Ferisu dapat memanfaatkan kelemahan ini saat melancarkan serangan.
Menggerakkan pedangnya dengan cepat Ferisu berhasil memberikan luka goresan pada punggung beruang itu. Kulitnya yang keras membuat luka itu tak begitu berdampak. Mendecakkan lidahnya, Ferisu bergerak ke samping lagi ketika beruang itu berputar.
Karena kulitnya yang keras, Ferisu merubah bentuk dari pedang darah menjadi sebuah gada. Menggerakkan gada itu dengan ayunan yang kuat hingga mengenai wajah beruang itu.
Leher, tengkorak dan otot rahang yang kaku milik beruang dapat digunakan sebagai resistensi. Jika dilakukan dengan benar, serangan yang mendarat di wajah dapat menyebabkan pendarahan akibat resistensi beruang, dan berpotensi menyebabkan salah urat pada leher.
Beruang itu menggerang kesakitan dan menyerang secara membabi buta. Karena panca indra yang meningkat, serta kekuatan fisik. Ferisu bisa menghindari setiap serangan dan merubah gada menjadi pedang kembali. Saat beruang itu membuka mulutnya, Ferisu langsung melesatkan serangan yang begitu cepat menusuk mulut beruang tersebut hingga menembus kebelakang kepala.
Menarik pedangnya keluar, secara perlahan pedang darah itu kembali cair dan bergerak masuk ke dalam tubuh Ferisu lewat luka di jari jempolnya. Lukanya tertutup seolah tak pernah ada luka disana.
"Jadi ini kemampuan regenerasi milik vampire?" gumam Ferisu melihat jarinya. "Sekarang apa yang harus kulakukan dengan mayat beruang ini?" gumamnya.
Memusatkan energi sihirnya ke udara, Ferisu membuat sebuah lubang hitam. Sihir dengan atribut kegelapan, Ferisu menciptakan sebuah ruangan dimensi tanpa waktu (penyimpanan dimensi) untuk menyimpan mayat beruang itu. Kemampuan untuk menciptakan sebuah sihir hanya dengan imajinasi merupakan berkah yang diberikan Circe sang dewa sihir.
Tak lama setelah mengalahkan beruang itu muncul sekelompok serigala yang mengepung Ferisu dari segala arah. Memiliki bulu berwarna hitam dengan mata merah menyala, di dahi para serigala terdapat tanduk yang bergelombang seperti keris. Para serigala itu merupakan monster yang lebih kuat ketimbang bloody grizzly.
Hell Wolf, memiliki kecerdasan yang tinggi dan bertarung di dalam kelompok. Memiliki kemampuan untuk menembakkan bola api dari mulut mereka, cakar yang tajam dan kecepatan dalam menyerang.
Setelah melawan beruang, sekarang serigala, yah ...
Ferisu melihat ke segala sisi untuk mengetahui posisi setiap serigala yang mengepungnya. Ferisu mengangkat tangan kanannya setinggi dada dan memusatkan energi sihir. Sebuah bola angin terbentuk secara perlahan, Ferisu mulai mengambil posisi mengendapkan dirinya lalu meloncat tinggi setelah menembakkan bola angin itu kebawa hingga mendorongnya ke langit.
"Ada sekitar 12 serigala," gumam Ferisu setelah menghitung jumlah serigala. "Sepertinya dia pemimpinnya," ucapnya pelan dengan senyum simpul ketika melihat serigala yang tampak beda.
Memusatkan angin di tangan kanannya, Ferisu menembakkan angin tersebut ke arah belakang hingga mendorongnya. Melesat dengan begitu cepat mengarah ke serigala yang terlihat sebagai pemimpin kelompok. Menciptakan sebuah pedang darah yang siap ditebaskan pada sang serigala.
"Body strength, physical resistance, boost, air walk."
Mengaktifkan beberapa sihir peningkatan, ketika sampai di depan serigala itu Ferisu mengayunkan pedangnya tepat mengarah ke leher serigala.
"Hmm?"
Saat mengira jika tebasan itu berhasil mengalahkan sang serigala, terdengar suara sesuatu yang patah. Ferisu melihat ke arah pedang darah yang digunakannya dan pedang itu patah.
Meloncat kebelakang untuk mengambil jarak, tiga serigala dari arah belakang menyerang Ferisu secara bersamaan. Berputar kebelakang sembari mengibaskan tangan kirinya, Ferisu mengaktifkan sihir api yang membentuk sebuah dinding api untuk menghalau para serigala. Namun, serigala itu meloncati dinding api itu seolah tak merasakan panas.
"Jadi api tak berpengaruh pada mereka ... ."
Ferisu memejamkan matanya dan meningkatkan fokus, membayangkan sebuah sihir es dan menyatukannya dengan pedang darah. Bilah pedang terbuat dari es yang begitu tajam.
Para serigala tak membiarkan hal itu begitu saja, mereka menyerang secara bersamaan. Masih memejamkan matanya, Ferisu menghindari setiap serangan serigala hanya bermodalkan indra pendengaran dan penciuman.
"Penetrasi, enchant sword!"
Pedang darah yang memiliki bilah es dikombinasikan dengan sihir angin dan peningkatan penetrasi. Ferisu mulai melakukan serangan balik dan berhasil menebas para serigala dengan cukup mudah. Satu persatu serigala yang menyerang diserang balik.
"Huft~ huft~ ini cukup melelahkan," gumam Ferisu dengan nafas terengah-engah. "K-kenapa kepalaku rasanya mulai pusing ... ? Apa karena aku kehabisan energi sihir?" ucapnya sembari memegang kepalanya yang terasa berputar-putar.
Tubuhnya mulai lemas hingga tak kuat lagi berdiri, Ferisu merangkak secara perlahan dan duduk menyandarkan tubuhnya di pohon. Terdapat seekor mayat serigala tepat di sampingnya. Darah serigala itu mengalir dan mengenai tangan kanan Ferisu yang memicu instingnya sebagai vampire bangkit.
Mengangkat tangan kanannya dengan gemetaran, Ferisu menjilat noda darah yang ada di tangannya. Ketika darah itu masuk kedalam tubuhnya, sesuatu yang hangat muncul dan tenaganya mulai pulih sedikit. Ferisu menarik mayat serigala itu dan mengangkatnya, lalu meminum darah yang menetes.
Energi sihir di dalam tubuhnya mulai pulih secara perlahan, tenaganya mulai terisi dan bisa bangun berdiri lagi. Ferisu melanjutkan perjalanannya untuk keluar dari hutan dan mencari sebuah pemukiman.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Taman para dewa, mereka bertujuh sedang melihat Ferisu dari sebuah cermin.
"Cukup bagus untuk orang yang tinggal di dunia tanpa sihir dan bisa beradaptasi dengan cukup cepat," ujar Circe.
"Terlebih lagi dia bisa mengalahkan monster yang cukup kuat. Mungkin tampilan mereka sama dengan hewan yang ada di bumi, namun kekuatannya jelas berbeda," sambung Freya.
"Itu benar, kita juga melihatnya mencari jalan keluar untuk mengalahkan para monster itu. Berpikir saat bertarung dan mencari solusi untuk memecahkan masalah, dia benar-benar hebat," ujar Zepus.
Para dewa mengagumi bagaimana cara Ferisu mengalahkan musuhnya. Mereka yakin Ferisu bisa mewujudkan apa yang diminta oleh para dewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Raven Blackwood
nahh ini kekuatan op vampire selama ada darah maka stamina tidak akan habis² apalagi saat perang
2024-01-01
1
Quinnela Estesa
bagus banget ceritanya. sayangnya, alu seperti ini udh banyak. udh bisa ketebak nanti bakal kayak apa.
2023-09-07
1
Dr. Rin
Masih kalah sama Ainz ngebuff pke sihir nya
2023-08-10
1