Chapter 5 : Serangan Bandit

Setelah bertemu goblin dan mendapatkan informasi, Ferisu keluar dari hutan dan menuju ke sebuah kota manusia. Saat keluar dari hutan, Ferisu melihat sebuah padang rumput yang terbentang luas di bawah birunya langit. Ia berjalan menelusuri padang rumput itu hingga menemui sebuah jalan.

"Hmm, sepertinya ada sebuah kereta yang baru lewat," gumam Ferisu ketika melihat jejak ban di jalan.

Ia berjalan mengikuti arah kereta itu, Ferisu bisa tau arah kereta itu dikarenakan ia melihat arah jejak kaki kuda dan beberapa sepatu. Waktu berlalu dengan cepat dan malam pun tiba, Ferisu melihat sebuah perdesaan dari kejauhan.

"Kukira akan sampai di sebuah kota, ternyata desa, yah?" gumamnya.

Dari kejauhan terlihat beberapa penduduk desa yang melihat ke arah Ferisu. Dua orang bersiaga di pintu desa, mereka terlihat seperti seorang petualang. Ferisu tetap berjalan santai mendekati desa tersebut.

"Mo-monster apa itu?" ujar penjaga dengan gemetaran.

"I-iblis!? Tidak salah lagi, itu pasti iblis kelas tinggi!"

Dari penglihatan dua penjaga itu, mereka melihat sosok bermata merah yang menyala terang di dalam kegelapan sedang mendekat dengan energi sihir yang besar. Kaki mereka gemetaran dan hendak melarikan diri, namun mereka menahan rasa takutnya dan tetap melakukan kewajiban untuk menjaga desa.

Ferisu sampai di depan desa dan bertemu dengan kedua penjaga itu. "Selamat malam, apa kalian penjaga desa?" sapa Ferisu sekaligus bertanya.

Mereka berdua mengangguk sembari menelan seteguk ludah. Di depan sosok yang memancarkan energi sihir yang begitu besar, para penjaga tak henti gemetaran dengan bermandian keringat dingin. Ferisu tampak heran dengan para penjaga yang gemetar ketakutan seolah melihat seekor monster atau hantu.

"Ada apa?" tanya Ferisu heran.

"A-apa Anda datang kesini untuk menghancurkan desa?" tanya salah satu penjaga dengan gemetaran.

Saat mendengar hal itu Ferisu tampak terkejut. "Hah? Menghancurkan desa?"

"Hiiii!!!" Mereka berdua tampak ketakutan dan berjalan mundur.

"A-apa Anda hanya ingin membunuh kami dan tak menghancurkan desanya?"

"Hah? Apa yang kalian katakan? Membunuh? Menghancurkan? Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Ferisu dengan penuh kebingungan.

Kedua penjaga itu memberitahukan alasannya. Ras manusia selalu berperang melawan ras iblis beberapa tahun ini. Saat melihat Ferisu yang memancarkan energi sihir yang begitu besar, mereka mengira jika Ferisu ingin menghancurkan desa.

"Kalian salah paham, aku tak ada niatan seperti itu," ujar Ferisu. "Energi sihir? Apa aku mengeluarkan sesuatu seperti itu?" lanjutnya bertanya.

Kedua penjaga itu mengangguk dengan cepat. Ferisu memiringkan kepalanya lalu memejamkan matanya sembari menyilang tangannya. Ia memikirkan cara untuk melenyapkan energi sihir yang memancar keluar. Secara perlahan energi sihir yang meluap-luap keluar itu menghilang secara perlahan.

"Apa sekarang lebih baik? Aku tak bisa menghilangkan sepenuhnya," ujar Ferisu.

"I-iya, ja-jadi apa yang seorang iblis tingkat tinggi seperti Anda datang kesini?" tanya penjaga itu.

"Tak ada hal khusus. Aku hanya sedang berjalan dan menemukan desa itu secara kebetulan, jadi aku ingin singgah untuk bermalam," jawab Ferisu dengan santai.

Saat itu terdengar suara teriakan seseorang yang menjerit kesakitan. Kedua penjaga itu tampak panik ketika melihat Ferisu yang menatap ke arah suara. Hidungnya mengendus dan mencium aroma darah.

"Hmmm, kalian berdua bukan penduduk desa ini, kan?" ucap Ferisu dengan senyum simpul.

Kedua orang itu menarik pedang mereka keluar dan menyerang Ferisu secara bersamaan. Dengan gerakan yang begitu cepat, kepala dari kedua orang itu melayang di udara dengan darah yang bercucuran.

"Haft~ padahal aku hanya menggoresnya sedikit, tapi kepala mereka malah copot?" gumam Ferisu sembari menghela nafas. "Coba saja kalian tak mengarahkan niat membunuh padaku."

Ferisu berjalan masuk kedalam desa, suasana yang sunyi membuatnya menjadi waspada. Ia berjalan menuju ke arah sumber teriakan sebelumnya, aroma darah tercium lebih kuat saat ia mendekati sebuah rumah. Membuka pintu secara perlahan Ferisu melihat seorang pria yang ditancapkan didinding dengan sebuah garpu rumput yang menembus kepala.

"A.. a... a-apa ada seseorang disana?"

Saat mendengar suara itu, Ferisu terkejut dan melihat ke arah pria itu. Tak disangka pria itu masih hidup walaupun kepalanya tertusuk garpu rumput.

"T-tolong sela... -matkan pend..."

Itulah kata-kata terakhir dari pria itu, lalu ia tak bernafas lagi ataupun berbicara. Ferisu tersenyum kecil lalu menarik garpu rumput itu dan menahan tubuh pria yang tertancap. Meletakkannya dilantai secara perlahan Ferisu berjalan keluar dari rumah dan bergerak menuju ke alun-alun desa.

Terdapat sebuah api unggun yang cukup besar dan para warga yang diikat. Saat itu ada seorang warga yang berontak dan ingin melarikan diri. Salah satu bandit menangkapnya lalu melemparnya ke dalam kobaran api.

"Siapa lagi yang ingin dilempar?" ujar bandit itu.

Ferisu mengambil sebuah batu, lalu melemparnya dengan kencang mengenai kepala bandit tersebut. Namun, tak disangka, hanya dengan melemparkan sebuah batu kepala bandit itu hancur dan tubuhnya tergeletak dengan kubangan darah.

"Eh? Bohong... ah, sudahlah. Kubantai saja," gumam Ferisu terkejut saat melihat kepala bandit itu hancur hanya dengan lemparan batu.

Berlari menuju ke alun-alun desa, Ferisu menendang salah satu bandit yang memeriksa temannya yang mati.

"S-siapa kau!"

Tak menjawab ucapan bandit itu, Ferisu menebas kepalanya dengan ekspresi dingin. "Sudah kuduga, aku tak merasakan apapun saat membunuh manusia," gumamnya.

Para bandit berkumpul dan berlarian menyerang Ferisu secara bersama-sama, namun dengan begitu cepat semua kepala para bandit melayang di udara. Sedangkan Ferisu sudah ada di hadapan bos bandit dan ketiga anak buahnya.

"Kuharap kalian menghentikan perlawanan yang sia-sia ini," ujar Ferisu dengan aura membunuh yang besar.

Para bandit yang tersisa terduduk lemas saat melihat sosok bermata merah menyala di hadapan mereka. Semua bandit yang tersisa dikumpulkan di alun-alun desa dan para warga dilepaskan ikatannya. Para warga yang kesal meluapkan emosi mereka dan hendak membunuh para bandit. Namun, Ferisu menghentikan mereka.

"Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Ferisu dengan senyum simpul.

Hanya dengan ucapan itu semua warga terdiam dan kembali duduk dengan tenang. Para bandit dan penduduk desa duduk di hadapan Ferisu dengan pembagian kelompok. Para bandit hanya tersisa 10 orang dan warga desa 25 orang.

"Aku tau kalian merasa dendam pada para bandit ini, tapi aku ingin kalian memaafkan mereka. Untuk para bandit aku ingin kalian menebus kesalahan kalian dengan menjadi penjaga desa ini," ujar Ferisu.

Para warga dan bandit hendak menolaknya, namun sosok yang ada di hadapan mereka bukanlah sosok sembarangan. Mereka tak punya pilihan lain selain menerima tawaran tersebut.

Terpopuler

Comments

Queen Of Gossip

Queen Of Gossip

ke gores dikit gak ngaruh 🤣

2023-11-19

2

Kav

Kav

Psikopat, yandere, hobi motong pala orang

2023-10-11

4

Elozz Eins

Elozz Eins

mantan psikopat mana ada rasa pas ngebunuh🤣

2023-08-08

4

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Reinkarnasi
2 Chapter 2 : Dunia Envend
3 Chapter 3 : Pertarungan Dengan Tubuh Baru
4 Chapter 4 : Ras Goblin
5 Chapter 5 : Serangan Bandit
6 Chapter 6 : Goblin Dan Manusia
7 Chapter 7 : Serangan
8 Chapter 8 : Pembentukan Desa
9 Chapter 9 : Kota Petualang
10 Chapter 10 : Guild Petualang
11 Chapter 11 : Misi Pertama
12 Chapter 12 : Anak Kecil Di Distrik Merah?
13 Chapter 13 : Permintaan Ras Bunny
14 Chapter 14 : Desa Fulen
15 Chapter 15 : Malaikat Jatuh?
16 Chapter 16 : Para Pedagang?
17 Chapter 17 : Pertikaian
18 Chapter 18 : Kedatangan Ras Bunny
19 Chapter 19 : Menuju Ke Ibu Kota Urushia
20 Chapter 20 : Gadis Penyihir Yang Tak Bisa Menggunakan Sihir?
21 Chapter 21 : Mengajarkan Sihir
22 Chapter 22 : Kebetulan Yang Gila
23 Chapter 23 : Di Balik Senyum
24 Chapter 24 : Iblis Bertopeng Manusia
25 Chapter 25 : Mengeliminasi 1 Dari 8 Organisasi Gelap
26 Chapter 26 : Serangan Sepihak
27 Chapter 27 : Kembali Ke Awal
28 Chapter 28 : Petunjuk
29 Chapter 29 : Tujuan Baru
30 Chapter 30 : Pelatihan
31 Chapter 31 : Mencoba Untuk Percaya
32 Chapter 32 : Pertarungan Di Rawa
33 Chapter 33 : Pertarungan Di Rawa #2
34 Chapter 34 : Lembah Berkabut
35 Chapter 35 : Lamia
36 Chapter 36 : Terjalinnya Hubungan Dengan Para Lamia
37 Chapter 37 : Sword of Nothingness
38 Chapter 38 : Hutan Elf
39 Chapter 39 : Kedatangan Monster Bencana
40 Chapter 40 : Monster Zaman Dewa
41 Chapter 41 : Hilang Kendali
42 Chapter 42 : Alter Ego
43 Chapter 43 : Melepas Kutukan
44 Chapter 44 : Desa Heiwa Sementara
45 Chapter 45 : Berpindah Tempat
46 Chapter 46 : Hutan Dryad
47 Chapter 47 : Dryad Dan Fairy
48 Chapter 48 : Tuan Dari Hydra
49 Chapter 49 : Bersatu
50 Chapter 50 : Melanjutkan Perjalanan
51 Chapter 51 : Hutan Kematian
52 Chapter 52 : Menuju Dungeon
53 Chapter 53 : Colosseum
54 Chapter 54 : Mendaki Dungeon
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Chapter 1 : Reinkarnasi
2
Chapter 2 : Dunia Envend
3
Chapter 3 : Pertarungan Dengan Tubuh Baru
4
Chapter 4 : Ras Goblin
5
Chapter 5 : Serangan Bandit
6
Chapter 6 : Goblin Dan Manusia
7
Chapter 7 : Serangan
8
Chapter 8 : Pembentukan Desa
9
Chapter 9 : Kota Petualang
10
Chapter 10 : Guild Petualang
11
Chapter 11 : Misi Pertama
12
Chapter 12 : Anak Kecil Di Distrik Merah?
13
Chapter 13 : Permintaan Ras Bunny
14
Chapter 14 : Desa Fulen
15
Chapter 15 : Malaikat Jatuh?
16
Chapter 16 : Para Pedagang?
17
Chapter 17 : Pertikaian
18
Chapter 18 : Kedatangan Ras Bunny
19
Chapter 19 : Menuju Ke Ibu Kota Urushia
20
Chapter 20 : Gadis Penyihir Yang Tak Bisa Menggunakan Sihir?
21
Chapter 21 : Mengajarkan Sihir
22
Chapter 22 : Kebetulan Yang Gila
23
Chapter 23 : Di Balik Senyum
24
Chapter 24 : Iblis Bertopeng Manusia
25
Chapter 25 : Mengeliminasi 1 Dari 8 Organisasi Gelap
26
Chapter 26 : Serangan Sepihak
27
Chapter 27 : Kembali Ke Awal
28
Chapter 28 : Petunjuk
29
Chapter 29 : Tujuan Baru
30
Chapter 30 : Pelatihan
31
Chapter 31 : Mencoba Untuk Percaya
32
Chapter 32 : Pertarungan Di Rawa
33
Chapter 33 : Pertarungan Di Rawa #2
34
Chapter 34 : Lembah Berkabut
35
Chapter 35 : Lamia
36
Chapter 36 : Terjalinnya Hubungan Dengan Para Lamia
37
Chapter 37 : Sword of Nothingness
38
Chapter 38 : Hutan Elf
39
Chapter 39 : Kedatangan Monster Bencana
40
Chapter 40 : Monster Zaman Dewa
41
Chapter 41 : Hilang Kendali
42
Chapter 42 : Alter Ego
43
Chapter 43 : Melepas Kutukan
44
Chapter 44 : Desa Heiwa Sementara
45
Chapter 45 : Berpindah Tempat
46
Chapter 46 : Hutan Dryad
47
Chapter 47 : Dryad Dan Fairy
48
Chapter 48 : Tuan Dari Hydra
49
Chapter 49 : Bersatu
50
Chapter 50 : Melanjutkan Perjalanan
51
Chapter 51 : Hutan Kematian
52
Chapter 52 : Menuju Dungeon
53
Chapter 53 : Colosseum
54
Chapter 54 : Mendaki Dungeon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!