Setelah bertemu goblin dan mendapatkan informasi, Ferisu keluar dari hutan dan menuju ke sebuah kota manusia. Saat keluar dari hutan, Ferisu melihat sebuah padang rumput yang terbentang luas di bawah birunya langit. Ia berjalan menelusuri padang rumput itu hingga menemui sebuah jalan.
"Hmm, sepertinya ada sebuah kereta yang baru lewat," gumam Ferisu ketika melihat jejak ban di jalan.
Ia berjalan mengikuti arah kereta itu, Ferisu bisa tau arah kereta itu dikarenakan ia melihat arah jejak kaki kuda dan beberapa sepatu. Waktu berlalu dengan cepat dan malam pun tiba, Ferisu melihat sebuah perdesaan dari kejauhan.
"Kukira akan sampai di sebuah kota, ternyata desa, yah?" gumamnya.
Dari kejauhan terlihat beberapa penduduk desa yang melihat ke arah Ferisu. Dua orang bersiaga di pintu desa, mereka terlihat seperti seorang petualang. Ferisu tetap berjalan santai mendekati desa tersebut.
"Mo-monster apa itu?" ujar penjaga dengan gemetaran.
"I-iblis!? Tidak salah lagi, itu pasti iblis kelas tinggi!"
Dari penglihatan dua penjaga itu, mereka melihat sosok bermata merah yang menyala terang di dalam kegelapan sedang mendekat dengan energi sihir yang besar. Kaki mereka gemetaran dan hendak melarikan diri, namun mereka menahan rasa takutnya dan tetap melakukan kewajiban untuk menjaga desa.
Ferisu sampai di depan desa dan bertemu dengan kedua penjaga itu. "Selamat malam, apa kalian penjaga desa?" sapa Ferisu sekaligus bertanya.
Mereka berdua mengangguk sembari menelan seteguk ludah. Di depan sosok yang memancarkan energi sihir yang begitu besar, para penjaga tak henti gemetaran dengan bermandian keringat dingin. Ferisu tampak heran dengan para penjaga yang gemetar ketakutan seolah melihat seekor monster atau hantu.
"Ada apa?" tanya Ferisu heran.
"A-apa Anda datang kesini untuk menghancurkan desa?" tanya salah satu penjaga dengan gemetaran.
Saat mendengar hal itu Ferisu tampak terkejut. "Hah? Menghancurkan desa?"
"Hiiii!!!" Mereka berdua tampak ketakutan dan berjalan mundur.
"A-apa Anda hanya ingin membunuh kami dan tak menghancurkan desanya?"
"Hah? Apa yang kalian katakan? Membunuh? Menghancurkan? Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Ferisu dengan penuh kebingungan.
Kedua penjaga itu memberitahukan alasannya. Ras manusia selalu berperang melawan ras iblis beberapa tahun ini. Saat melihat Ferisu yang memancarkan energi sihir yang begitu besar, mereka mengira jika Ferisu ingin menghancurkan desa.
"Kalian salah paham, aku tak ada niatan seperti itu," ujar Ferisu. "Energi sihir? Apa aku mengeluarkan sesuatu seperti itu?" lanjutnya bertanya.
Kedua penjaga itu mengangguk dengan cepat. Ferisu memiringkan kepalanya lalu memejamkan matanya sembari menyilang tangannya. Ia memikirkan cara untuk melenyapkan energi sihir yang memancar keluar. Secara perlahan energi sihir yang meluap-luap keluar itu menghilang secara perlahan.
"Apa sekarang lebih baik? Aku tak bisa menghilangkan sepenuhnya," ujar Ferisu.
"I-iya, ja-jadi apa yang seorang iblis tingkat tinggi seperti Anda datang kesini?" tanya penjaga itu.
"Tak ada hal khusus. Aku hanya sedang berjalan dan menemukan desa itu secara kebetulan, jadi aku ingin singgah untuk bermalam," jawab Ferisu dengan santai.
Saat itu terdengar suara teriakan seseorang yang menjerit kesakitan. Kedua penjaga itu tampak panik ketika melihat Ferisu yang menatap ke arah suara. Hidungnya mengendus dan mencium aroma darah.
"Hmmm, kalian berdua bukan penduduk desa ini, kan?" ucap Ferisu dengan senyum simpul.
Kedua orang itu menarik pedang mereka keluar dan menyerang Ferisu secara bersamaan. Dengan gerakan yang begitu cepat, kepala dari kedua orang itu melayang di udara dengan darah yang bercucuran.
"Haft~ padahal aku hanya menggoresnya sedikit, tapi kepala mereka malah copot?" gumam Ferisu sembari menghela nafas. "Coba saja kalian tak mengarahkan niat membunuh padaku."
Ferisu berjalan masuk kedalam desa, suasana yang sunyi membuatnya menjadi waspada. Ia berjalan menuju ke arah sumber teriakan sebelumnya, aroma darah tercium lebih kuat saat ia mendekati sebuah rumah. Membuka pintu secara perlahan Ferisu melihat seorang pria yang ditancapkan didinding dengan sebuah garpu rumput yang menembus kepala.
"A.. a... a-apa ada seseorang disana?"
Saat mendengar suara itu, Ferisu terkejut dan melihat ke arah pria itu. Tak disangka pria itu masih hidup walaupun kepalanya tertusuk garpu rumput.
"T-tolong sela... -matkan pend..."
Itulah kata-kata terakhir dari pria itu, lalu ia tak bernafas lagi ataupun berbicara. Ferisu tersenyum kecil lalu menarik garpu rumput itu dan menahan tubuh pria yang tertancap. Meletakkannya dilantai secara perlahan Ferisu berjalan keluar dari rumah dan bergerak menuju ke alun-alun desa.
Terdapat sebuah api unggun yang cukup besar dan para warga yang diikat. Saat itu ada seorang warga yang berontak dan ingin melarikan diri. Salah satu bandit menangkapnya lalu melemparnya ke dalam kobaran api.
"Siapa lagi yang ingin dilempar?" ujar bandit itu.
Ferisu mengambil sebuah batu, lalu melemparnya dengan kencang mengenai kepala bandit tersebut. Namun, tak disangka, hanya dengan melemparkan sebuah batu kepala bandit itu hancur dan tubuhnya tergeletak dengan kubangan darah.
"Eh? Bohong... ah, sudahlah. Kubantai saja," gumam Ferisu terkejut saat melihat kepala bandit itu hancur hanya dengan lemparan batu.
Berlari menuju ke alun-alun desa, Ferisu menendang salah satu bandit yang memeriksa temannya yang mati.
"S-siapa kau!"
Tak menjawab ucapan bandit itu, Ferisu menebas kepalanya dengan ekspresi dingin. "Sudah kuduga, aku tak merasakan apapun saat membunuh manusia," gumamnya.
Para bandit berkumpul dan berlarian menyerang Ferisu secara bersama-sama, namun dengan begitu cepat semua kepala para bandit melayang di udara. Sedangkan Ferisu sudah ada di hadapan bos bandit dan ketiga anak buahnya.
"Kuharap kalian menghentikan perlawanan yang sia-sia ini," ujar Ferisu dengan aura membunuh yang besar.
Para bandit yang tersisa terduduk lemas saat melihat sosok bermata merah menyala di hadapan mereka. Semua bandit yang tersisa dikumpulkan di alun-alun desa dan para warga dilepaskan ikatannya. Para warga yang kesal meluapkan emosi mereka dan hendak membunuh para bandit. Namun, Ferisu menghentikan mereka.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Ferisu dengan senyum simpul.
Hanya dengan ucapan itu semua warga terdiam dan kembali duduk dengan tenang. Para bandit dan penduduk desa duduk di hadapan Ferisu dengan pembagian kelompok. Para bandit hanya tersisa 10 orang dan warga desa 25 orang.
"Aku tau kalian merasa dendam pada para bandit ini, tapi aku ingin kalian memaafkan mereka. Untuk para bandit aku ingin kalian menebus kesalahan kalian dengan menjadi penjaga desa ini," ujar Ferisu.
Para warga dan bandit hendak menolaknya, namun sosok yang ada di hadapan mereka bukanlah sosok sembarangan. Mereka tak punya pilihan lain selain menerima tawaran tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Queen Of Gossip
ke gores dikit gak ngaruh 🤣
2023-11-19
2
Kav
Psikopat, yandere, hobi motong pala orang
2023-10-11
4
Elozz Eins
mantan psikopat mana ada rasa pas ngebunuh🤣
2023-08-08
4