Di guild petualang Ferisu menyela keributan dua buah party, ia dengan santainya berbicara dengan resepsionis guild tentang sebuah misi. Melihat seorang pria yang entah dari mana menyela mereka dengan santainya. Silver Prince tampak cukup kesal, disisi lain Thunder Wolf tetap diam saja karena sudah tahu soal Ferisu.
"Oi!"
Ferisu menghela nafasnya karena misi pengawalan hanya untuk rank-C keatas. "Ada apa?" saut Ferisu yang tampak lesu.
"Kau ingin melakukan misi pengawalan, kan?" ujar pemimpin Silver Prince.
"Begitulah, tapi karena rank-ku tak cukup aku tak bisa melakukannya," jawab Ferisu. "Huft~ kurasa aku akan menumpang karavan pedagang saja untuk kesana," gumamnya pelan lalu membalikkan badan untuk berjalan keluar dari guild.
"Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami? Dengan begitu kau bisa mengambil misi itu," ujarnya dengan angkuh.
Ferisu menoleh dengan muka yang tampak tak tertarik. Sembari mengibaskan tangannya, "Terima kasih, tapi aku tak mau bergabung dengan sekelompok orang nyentrik seperti kalian."
"Lagian aku bisa ikut bersama karavan pedagang yang menuju kesana dengan membayar ongkos kereta kuda," sambungnya sembari berjalan keluar dari guild.
Party Silver Prince jadi begitu kesal dan hendak mengejar Ferisu yang sudah keluar dari guild, namun Thunder Wolf menghentikan mereka. "Aku tau kalau kau kesal, aku memang membenci kalian. Tapi, sebaiknya kalian tak mencari gara-gara dengan lelaki itu," ucap pemimpin Thunder Wolf memperingati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari menjadi gelap dan suasana kota berubah menjadi sunyi, hanya sedikit orang yang keluar dimalam hari. Ferisu berjalan menuju ke penginapannya, namun sebuah cahaya merah yang berasal dari gang menarik perhatiannya. Ferisu berjalan memasuki gang itu dan terus berjalan menuju ke cahaya merah yang bersinar terang dalam kegelapan malam.
Aroma harum tercium makin kuat ketika mendekat ke arah cahaya itu. Ketika keluar dari gang yang sempit dan gelap, Ferisu tiba di sebuah distrik yang sangat ramai ketika malam hari. Ada begitu banyak orang yang terlihat bersenang-senang, minum hingga mabuk, dan rumah-rumah yang memiliki kaca besar. Di balik kaca besar itu terdapat banyak wanita yang berpakaian cukup terbuka.
Mereka menebarkan pesona mereka untuk menarik orang-orang yang lewat. "Hei, Kakak berambut silver disana, apa mau yang enak-enak?"
Ferisu menoleh ke arah seorang wanita yang memanggilnya dari balik kaca. "Huft~ maaf tapi lain kali saja," ucap Ferisu yang terlihat lesu dan menghela nafasnya.
Kukira apa, ternyata tempat para lhacur. Ngomong-ngomong, kenapa ada anak kecil disini?
Saat berjalan pergi, Ferisu melihat seorang anak kecil yang terlihat kebingungan. Ia melihat kesana kemari dan raut mukanya terlihat panik. Dia sedang tersesat? Atau dia juga bagian dari para lhacur di sini? Tapi itu mustahil, bagaimana mungkin anak sekecil itu bekerja ditempat seperti ini.
Karena merasa penasaran serta heran Ferisu berjalan mendekati anak itu. Membungkukkan tubuhnya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ferisu dengan lembut.
Gadis itu tersentak saat seorang pria dengan rambut silver dan mata merah yang menyala berbicara dengannya. Dengan kaki yang gemetaran, gadis itu meneguk air ludahnya. "A-aku ... ah, tidak ... ."
"Apa mungkin kau tersesat?" simpul Ferisu karena gadis itu terlihat begitu kebingungan.
Menganggukkan kepalanya secara perlahan, gadis itu berusaha menahan air matanya agar tak keluar. Bajunya kotor, bau yang tak sedap juga tercium dengan jelas hingga membuat hidung merasa tak nyaman. Pantas saja orang-orang melewatinya begitu saja dan tak peduli dengannya.
Meraih tangan gadis itu, Ferisu mengangkatnya dengan pelan. "Apa kau mau ikut denganku?" tanyanya dengan senyuman.
Gadis itu tampak ragu untuk menerima uluran tangan dari seorang pria yang tak ia kenal. Namun, ia tak berani untuk menolak ajakan tersebut. "I-iya ... ," jawabnya dengan gemetaran.
Mereka berdua keluar dari distrik tersebut dan berjalan menuju penginapan. Namun, karena bau tak sedap yang berasal dari gadis itu. Orang-orang yang berada di dalam penginapan mengusir mereka keluar.
"Huft~ baiklah, kami akan keluar!" teriak Ferisu dengan cukup kesal. "Aku akan cek out sekarang, uang menginap dua hari sisanya ambil saja," sambung Ferisu berbalik keluar dari penginapan.
Mereka berdua berjalan menuju ke arah gerbang kota, Ferisu berpikir untuk pergi dari kota ini. Malam yang gelap membuat gadis itu kesulitan untuk melihat jalan dan akhirnya terjatuh akibat tersandung. "Awh!"
"Apa kau tak apa?" tanya Ferisu berbalik sembari mengulurkan tangannya.
"I-iya... ."
Ferisu mengambil posisi jongkok dan menunjukkan bagian belakangnya dengan terbuka pada gadis itu. "Naiklah," ucapnya menyuruh gadis itu.
"T-tapi, nanti bajumu akan kotor," balas gadis itu merasa enggan. "Lagi pula kenapa kamu baik sekali padaku, aku ini hanya seorang manusia kotor," sambungnya dengan wajah murung.
"Sudahlah naiklah, tak perlu kau khawatirkan," balas Ferisu dengan senyuman.
Gadis itu tetap diam berdiri dan tak mau naik ke atas punggung laki-laki yang ada di depannya. Karena merasa jika gadis itu tak akan naik, Ferisu bangun berdiri dan mengangkat gadis itu secara tiba-tiba. "Sudah kubilang naik saja, walaupun bajuku kotor, itu bisa dicuci dan kembali bersih lagi," ucap Ferisu sembari menatap wajah gadis itu dengan senyuman kecil.
Sembari menggendong gadis itu dengan gendongan tuan putri, Ferisu bergerak dengan cepat keluar dari kota menuju ke sebuah hutan. Mengandalkan indra pendengarannya, Ferisu mencari sebuah sungai untuk membasuh dirinya dan gadis itu. Di kedalam hutan yang gelap, terdapat sebuah kolam kecil yang terlihat terang karena sinar rembulan.
Menurunkan gadis itu secara perlahan dari gendongannya, Ferisu menyuruhnya untuk mandi di kolam tersebut. Tak jauh dari kolam terdapat sebuah sungai kecil yang jernih. Menghidupkan sebuah api unggun, Ferisu memberikan sebuah handuk dan sabun kepada gadis itu. "Gunakan itu dan basuh tubuhmu."
Ferisu juga melepaskan pakaiannya dan mencucinya di sungai, ia mengganti pakaiannya dengan yang lain. Setelah selesai mencuci ia kembali ke kolam dimana gadis itu sedang membasuh tubuhnya. Mengeluarkan sebuah pakaian lain, Ferisu memberikannya kepada gadis itu. "Aku tak punya pakaian anak-anak, jadi kau pakai saja baju ini."
Gadis itu menerima dan menggunakan pakaian yang itu. "Te-terima kasih ... ," ucapnya. "K-kakak bukan seorang m-manusia, kan?"
Saat mendengar hal itu Ferisu merasa terkejut sekaligus heran. Bagaimana gadis itu bisa tau kalau dirinya bukan seorang manusia? Padahal Ferisu sudah menekan energi sihir dan auranya. Bahkan semua orang yang ia temui di kota Vurlin tak ada yang sadar jika dirinya bukan seorang manusia. Bagaimana seorang gadis kecil yang ia temui secara kebetulan bisa tau jika dirinya bukan seorang manusia?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kav
Nyentrik katanya. Aku mikirnya jadi seperti lawakan dan sindiran ya
2023-10-12
0
Kang Kuli
handuk sama sabun dapat dri mna?
2023-10-11
0
Richie
trakhir mampir krna gk mmpr2
2023-08-09
0