Suasana ruang tamu menjadi hening. Keluargaku, rizal dan keluarga sari kini telah berkumpul.
"apa yang sebenarnya terjadi sari? Ceritakan" desak ibu kepada sari yang sejak tadi menangis tak henti.
Saat dipersilahkan masuk kata pertama yang sari ucapkan adalah aidil. Dia meminta kami untuk mempertemukannya dengan aidil. Kami membawanya keruang keluarga, dia kemudian melihat kakak tertidur pulas seperti seorang anak kecil. Melihat kak aidil seperti itu tiba-tiba sari menangis, kami semua hanya diam melihatnya menangis, kami memberikan waktu sejenak kepadanya untuk menenangkan diri.
Setelah sari tenang kami kemudian mengajaknya untuk berkumpul diruang tamu agar tak mengganggu kak aidil dan zidan yang telah tertidur pulas. Setelah beberapa saat sari tenang, ibu mulai mendesaknya untuk jujur.
"sebelumnya tolong maafkan kami, hidup anakku sudah tak lama lagi, tolong berikan ia waktu dan ketenangan untuk menceritakan segala sesuatunya, kami mohon" ucap wanita paruh baya yang datang bersamanya. Dia terus menerus menangis dan semakin menundukkan wajahnya.
"siapa kalian?" tanyaku kesal.
"saya ibunya sari, dan ini ayahnya" jawab wanita itu sambil tersedu sedu.
"tolong bicara baik pada mereka, mereka adalah orangtuaku" tiba-tiba sari berbicara dengan nada emosi.
"bicara baik? Kau sendiri sudah sebaik apa?" emosiku mulai tak terkendali.
"sudah sayang, kita dengarkan dulu mereka bicara, kita selesaikan segala sesuatunya dengan baik, demi kak aidil" ryan yang melihatku semakin emosi segera menghampiri dan menggandeng tangaku mengajakku untuk kembali duduk dengan tenang.
"kau beruntung aina, kulihat dia begitu mencintaimu, aku iri padamu" lanjut sari berbicara dengan senyum kecil yang menyiratkan kepedihan.
"sudah jangan bertele-tele, ceritakan saja semuanya" tiba-tiba mama ikut berbicara dengan nada yang tak kalah kesal.
"baiklah, memang itu tujuanku datang kerumah ini, maaf membuat kalian menunggu"
Sari mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, wajahnya mulai serius, tatapan matanya menjadi tajam seolah ia adalah orang yang berbeda.
"suatu hari aku sedang duduk ditaman menunggu temanku, setelah lama menunggu tiba-tiba dia mengabari kalau dia tak jadi datang karena sesuatu. Aku yang membaca pesannya mendengus kesal saat itu. Lalu tiba-tiba seorang pria menghampiriku sambil tertawa kecil, saat itu aku takut dan bertanya apa urusannya dan kenapa menertawakanku. Dan pria itu menjawab kau lucu saat marah, seperti adik perempuanku." kenangnya sambil tersenyum kecil.
"lalu aku bertanya dimana adikmu yang lucu itu? Dia bilang adiknya telah menghilang. Mendengar jawabannya aku menjadi bersimpati. lalu dia tiba-tiba meminta izin untuk duduk disampingku. Dia kemudian bercerita sedikit tentang adiknya yang bernama aini. Dia bahkan menceritakan dirimu yang menurutnya adalah anak terkuat"
"setelah bercerita dia lalu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Akupun menyambut uluran tangannya dan memperkenalkan diri sebagai sari. Nama asliku sebenarnya nirma, tapi aku takut aidil berbuat jahat saat itu sehingga aku memalsukan namaku" lanjutnya.
Aku kemudian berpikir, betapa sulitnya mencari wanita ini meski ryan telah mengerahkan banyak orang untuk mencarinya. Polisi bahkan tak dapat menemukannya karena ternyata namanya adalah nirma, bukan sari. Semakin kesal aku mendengar pengakuannya itu. Kalau dia takut kenapa tak pergi saja? Pikirku.
"sejak bertemu ditaman itu kami menjadi semakin akrab. Aidil sering menemuiku dan mengajakku untuk sekedar makan bersama. Dia bahkan sering menjemputku ketempat kerja. Dia membelikanku banyak hadiah dan mengajakku pergi ketempat-tempat yang begitu indah. Dia memperlakukanku dengan sangat lembut. Meski kami sering berduaan didalam kamar dia sama sekali tak pernah berbuat macam-macam padaku, sangat berbeda jika dibandingkan dengan pria dewasa pada umumnya" lanjutnya dengan senyum yang semakin merekah.
Pantas saja nirma begitu jatuh hati, aku juga luluh karena ryan memperlakukanku begitu lembut
ucapku dalam hati
"dengan kedekatan kami yang seperti itu aku sempat penasaran, sebenarnya siapa aku baginya? namun aku tak pernah berniat bertanya karena aidil sendiri pernah bercerita bahwa baginya sebuah kata tak banyak bermakna. Dia bilang prilakulah yang mencerminkan segalanya sehingga aku menyimpulkan sendiri bahwa mungkin bagi aidil sebuah pernyataan tidaklah penting, yang penting baginya aku adalah wanita yang spesial. Begitu pikirku sepanjang aku membersamainya"
"setelah setahun lebih aku merasa semakin sayang padanya, aku tak ingin kehilangannya, aku sungguh jatuh cinta begitu dalam padanya. Aku berfikir kalau kami menikah pasti akan sangat menyenangkan. Pasti akan banyak kebahagiaan yang datang. Aku bermimpi untuk membangun sebuah keluarga dengannya dan melahirkan anak-anaknya, hingga akupun memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu dengan orangtuaku, aidil tahu bahwa aku sering menceritakan tentang dirinya kepada keluargaku dan dia berterima kasih padaku, dia bilang dia sangat berharap untuk diterima dalam keluargaku"
"bahkan saat aku mengajaknya kerumahku tanpa keberatan aidil menyambut undangan makan malam dari orangtuaku, dia bilang dia tidak sabar untuk bertemu dengan mereka, dia mempersiapkan banyak hal untuk pertemuan malam itu. Dia memakai pakaian terbaik, menggunakan parfum dan bahkan membeli banyak buah tangan untuk keluargaku, kupikir dia juga telah siap untuk menikahiku. Aku menuju rumah dengan hati yang begitu berbunga-bunga, kupikir impianku akan segera terlaksana"
"namun semuanya hancur saat ayah menyampaikan maksudnya kepada aidil. Dia tiba-tiba berkata bahwa selama ini dia menganggapku sebagai adiknya yang berharga. Dia mengatakannya dengan senyuman tanpa dosa. Padahal saat itu tiga hati telah hancur berkeping-keping"
"seketika aku marah, aku dan aidil cekcok dihadapan orangtuaku. Seakan tak puas dengan permainannya dia berkata bahwa dia ingin memiliki orangtua sama sepertiku, dengan alasan karena sejak kecil dia tak pernah mendapatkan kasih sayang orangtua. Dia datang kerumahku dengan mimpinya sendiri, tanpa memperdulikan maksud dan perasaan kami"
Nirmapun meneteskan air mata. Sepanjang cerita raut wajahnya terus berubah ubah. Terkadang wajahnya bahagia dan terkadang menyiratkan luka yang begitu dalam. Kurasakan ketulusan dan kejujuran disetiap ucapannya.
"setelah malam itu kami masih sering bertemu, aku beberapa kali meyakinkannya bahwa kami adalah sepasang kekasih. Aku memohon padanya dan mengatakan aku mencintainya. Aku tak mempedulikan lagi harga diriku, yang kupikirkan setiap bertemu dengannya adalah aku mencintainya. Namun betapa keraspun usahaku hatinya tetap tak bergeming. Dia acuh saat melihatku marah, dia bahkan mengabaikan ancamanku, dia benar-benar meremehkanku, dia bilang dia menyesal telah bertemu denganku dan membuatku salah faham. Setelah semua yang terjadi dia mengucapkan kalimat itu tanpa rasa bersalah hingga rasa cintaku berubah menjadi benci yang tak dapat kukendalikan"
"aku terus menerus menangis dan mengurung diri. Orangtuaku berusaha untuk menghubungi aidil, namun dengan kejamnya aidil berkata lebih baik bagiku untuk tak melihat wajahnya lagi. Begitu egoisnya dia" kali ini nirma bercerita dengan nafas tersengal-sengal menahan amarah. Wajahnya semakin pucat.
"sebagai orangtua tentu hati mereka lebih terluka melihat anak gadis kesayangannya hancur. Mereka bertanya padaku apa yang ingin aku lakukan, akupun meminta agar orangtuaku menghancurkan hidup aidil. Aku meminta agar mereka mengantarku bertemu dengan orang pintar dan menggunakan ilmu hitam untuk membuat aidil gila, sama seperti aku yang dibuat gila oleh perlakuannya. Bahkan saat aku datang untuk terakhir kalinya aidil hanya berkata maaf dan tak sedikitpun menahan kepergianku"
"dan seperti yang kalian lihat, aku berhasil membuat aidil gila. Namun kalian tak perlu khawatir, aidil akan sembuh jika aku mati, hanya beberapa jam lagi saja kematianku akan tiba, jadi bersiaplah untuk menyambut kesembuhan aidil"
"apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"aku menukarkan hidupku untuk membuat aidil menderita"
"dia terus menerus mencoba menyakiti dirinya sendiri agar dia segera pergi dari dunia ini sehingga aidil sembuh, dengan kata lain tak hanya aidil yang terluka, tapi anakku jauh lebih terluka. Hatinya terlalu sakit untuk melanjutkan hidup, dia meminta agar aidil sembuh dengan kematiannya, anakku telah mempersingkat penderitaan aidil, anakku yang malang" ucap ibu nirma dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"apa yang akan terjadi padamu?" tanyaku lagi kepada nirma.
"aku hanya berusaha mendekati ajalku, dan dokter sudah berkata bahwa hari ini adalah hari terakhirku bisa bertahan, dengan kata lain sekarang ini aku sedang sekarat, itu sebabnya aku datang untuk meminta maaf kepada aidil dan kepada kalian semua" jelasnya. Kali ini dengan senyum yang begitu lembut, sungguh ekspresi yang sangat mirip dengan kak aini.
"maafkan ibu nak, maafkan juga aidil, dan tolong sembuhlah agar kau bisa meminta maaf secara langsung kepada aidil, ibu mohon" ucap ibu berurai air mata sambil berlutut dihadapan nirma.
"terimakasih bu, maafkan aku, aku pamit sekarang ya, karena aku tidak tahu berama lama lagi obat penghilang rasa sakit ini bisa bekerja. Kalau efek obat ini sudah habis aku akan merasakan sakit yang begitu hebat hingga aku tak bisa menahannya dan mati. Hukuman yang cukup setimpal untuk kejahatanku bukan?" lanjut nirma masih dengan senyumnya.
kedua orang tua nirma hanya menangis tertunduk seolah mereka sedang mempersiapkan segalanya.
"kalau begitu kenapa kau tak minum obat lagi saja? Ayolah jangan bodoh" aku menjadi iba dan tidak tega jika nirma harus mati demi menyembuhkan kakakku.
"tidak, aku malas terus menerus meminum obat, lagipula aku menyakiti diriku sendiri dengan tujuan mati, aku.."
Belum selesai dia berbicara tiba-tiba tubuhnya kejang, matanya membelalak dan mulutnya terbuka. Terlihat jelas bahwa ia sedang merasakan sakit yang begitu hebat. Melihat hal itu kami semua menjadi panik, ryan segera berlari keluar hendak memarkirkan mobil namun ditahan oleh ayah nirma.
"sudah nak... ini.. sudah waktunya.. tak ada yang bisa kita lakukan.. kita temani dia sampai akhir" ucap sang ayah terbata-bata.
Akhirnya kami semua menyaksikan kepergian nirma, setelah kejang beberapa saat tubuhnya mulai lemas, tangannya terjatuh tertahan roda, kepalanya mendongak keatas. Matanya terpejam dengan bibir terkatup membiru. Dia kini telah pergi untuk selama lamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments