3 tahun berlalu sejak aku dan kak aini menemukan kak aidil, berbagai upaya telah kami lakukan demi kesembuhannya, namun tak ada hasil sama sekali. Ryan bahkan sengaja mengerahkan beberapa anak buahnya untuk membantu mencari keberadaan sari. Ryan mengerahkan banyak orang untuk menelusuri perkotaan bahkan pelosok-pelosok negri ini namun sari tak juga kami temukan.
Saat itu kami semua sedang berkumpul dirumah ibu, aku, ryan, kak aini dan suaminya, mama, papa dan juga beberapa orang yang turut serta dalam pencarian sari kembali berunding. Kami memutuskan untuk berhenti melakukan pencarian. Yang bisa kami lakukan saat ini hanyalah pasrah dan berdoa semoga keajaiban akan datang.
"maafkan ibu nak, maaf" ibu menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"maaf karena kesalahan ibu kini kau menjadi seperti ini" lanjut ibu sambil menghambur dan memeluk kak aidil, kemudian kak aidil membalas pelukan ibu sambil tertawa cekikikan tanpa beban.
Melihat pemandangan itu kami semua hanya bisa diam, namun semakin lama dadaku terasa semakin panas, sulit rasanya untuk bernafas. Akhirnya aku tak mampu lagi menahan air mataku, aku menangis dan menjerit, kutumpahkan semua emosi yang selama ini kupendam sendiri. Rasa kesal, menyesal, kasihan, dan bahkan perasaan marah yang entah kepada siapa aku harus melampiaskannya. Dan pada akhirnya tangis kami semua pecah. Keadaan diruangan ini seketika menjadi begitu memilukan.
Beberapa saat berlalu, kami semua mencoba menenangkan diri. Papa pergi beranjak kedapur, lalu tak lama kemudian beliau datang membawa beberapa gelas air minum.
"minumlah, sudah cukup kita bersedih. Mulai saat ini mari kita hidup dalam lembaran baru, kita terima segala takdir dengan hati yang lapang, dan tak lupa juga jangan pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan aidil" ucap papa dengan suara parau.
Mungkin memang ini saatnya kami berserah pada takdir. Satu per satu gelas air yang dibawa papa mulai kosong. Kami semua telah tenang sedangkan kak aidil tertidur ditengah-tengah kami. Saat suasana hening tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Ibu bergegas menuju ruang tamu dan membukakan pintu sedangkan kami masih terduduk lesu diruang keluarga.
Tak lama kemudian ibu kembali sambil menangis dan berdiri dilorong pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.
"ada apa bu?" aku kaget melihat wajah ibu yang terlihat tegang, aku segera bangkit dan menghampiri ibu.
Saat hendak bertanya kembali apa yang terjadi aku dikejutkan dengan keberadaan seorang pria yang pernah ibu ceritakan dulu. Pria pendek berkulit putih yang mengaku sebagai sahabat baik kakak. Pria itu masih berdiri dipintu masuk dan disampingnya tengah duduk seorang wanita berambut panjang. Wanita itu duduk disebuah kursi roda, wajahnya pucat, tangan dan kakinya sangat kurus seperti tulang terbungkus kulit. Tak lama kemudian datang dua orang pria dan wanita paruh baya, mereka berdiri dibelakang wanita tadi dengan wajah yang begitu tegang dan sedikit menunduk.
Aku yang penasaran segera menghampiri mereka.
"kau rizal?" tanyaku pada pria berambut keriting yang kuperkirakan adalah rizal.
"benar, saya rizal" jawabnya pendek.
"dan mereka?" tanyaku lagi sambil melirik ketiga orang yang berada disampingnya.
"ini sari" jawab rizal sambil mengarahkan telunjuknya ke arah wanita yang tengah duduk di kursi roda.
Aku terperanjat mendengar jawabannya. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diriku. Aku ingin menghardik dan bahkan menghajarnya saat itu juga, tapi melihat kondisinya, apa yang sebenarnya telah terjadi? Ada kejutan apa lagi yang tuhan hadirkan dalam kehidupan keluargaku? Kenapa sari seperti ini? Apa benar wanita selemah dia telah membuat kakakku menjadi seperti ini? Berbagai pertanyaan berputar dalam otakku. Baru kemarin kami mengelilingi negeri ini untuk mencari keberadaanya, dan kini dia datang menemui kami dirumah. Sungguh takdir tak pernah bisa kita perkirakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments