NASIB

8 tahun telah berlalu, aku aina kini sudah remaja, 8 tahun lalu aku kehilangan ibuku kemudian banyak hal terjadi. Ayahku menikah lagi, tinggal bersama ibu tiri, kedua kakakku pergi, dan masih banyak lagi lika-liku kehidupan yang aku jalani sampai saat ini.

Usiaku kini 14 tahun, aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Ibu tiriku tidak sejahat dulu namun tetap saja aku bukanlah anaknya dan tidak pernah juga diperlakukan sebagai seorang anak. Tak ada cinta kasih diantara kami, banyak kekecewaan yang kupendam, namun tak bisa dipungkiri jika aku tidak hidup bersamanya dan bertahan dalam kegetiran ini, mungkin sekarang aku sudah menjadi gelandangan seperti kedua kakakku.

Sudah berpuluh-puluh kali aku mencoba membujuk kedua kakakku agar kembali kerumah dan kembali bersekolah, begitu pula dengan ayah, beliau berkali-kali memohon agar kedua kakakku kembali bersekolah demi kebaikan mereka dimasa mendatang, namun upaya kami untuk mengembalikan mereka ke rumah ini hanyalah sia-sia, rasa benci mereka terhadap ibu tiri kami sudah amat besar.

Yang kutahu kini mereka hidup terlunta-lunta di jalanan, mereka memang bercerita bahwa kini mereka merasa lebih bahagia dan bebas, mereka bilang mereka memiliki banyak teman yang sangat peduli pada mereka, namun tetap saja bagiku mereka menderita. Mereka sering mengunjungiku, terkadang mereka membawakanku berbagai macam oleh-oleh yang aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkannya.

***

Setelah bertahun-tahun lamanya, tetangga-tetangga kami perlahan mulai sadar, ada yang tak beres dengan keluarga kami. Ibu tiriku memang pandai menyembunyikan segala kejahatannya, terlebih setelah ia mendapat omelan dari kakek pemilik kebun singkong, sepertinya sejak saat itu ia menjadi berhati-hati ketika ingin menumpahkan amarahnya kepadaku. Ia bahkan sedikit demi sedikit mulai menjalin komunikasi dengan para tetangga, ia berusaha memunculkan image baik dihadapan mereka.

Saat menyadari ada sesuatu yang tak beres, mereka sering menanyaiku, apa yang selama ini sebenarnya telah terjadi? Aku yang sudah merasa kebal bercerita sambil tersenyum dan berkata bahwa semuanya sudah menjadi biasa bagiku, mendengar penuturanku mereka kemudian menyadari bahwa luka batinku telah amat dalam.

di awal pernikahan ayahku mereka hanya mengira bahwa kedua kakakku membangkang karena kondisi mental mereka yang tidak baik-baik saja dikarenakan peralihan kondisi yang terlalu cepat. Dari ditinggalkan sosok ibu untuk selamanya, kemudian tiba-tiba mendapatkan Ibu pengganti yang tak mereka kenal, sehingga awalnya mereka hanya memaklumi mengapa kedua kakakku tak pernah ada dirumah.

Mereka menyayangkan sikap ayahku yang selama ini hanya memihak ibu tiriku tanpa mengetahui keadaan anak-anaknya, namun kembali lagi mereka hanyalah tetangga, tak banyak yang bisa mereka lakukan, selain mereka orang luar mereka juga tak memiliki bukti apapun.

***

Di usiaku saat ini aku tetap melakukan pekerjaan rumah seperti saat aku masih kecil dulu, bahkan tugasku kini semakin banyak, bahkan kini aku jugalah yang menyediakan makanan untuk ibu tiriku setiap saat. Aku tidak boleh membantah semua perintahnya kalau tak ingin bernasib sama seperti saat aku kecil dulu, tertidur dengan tubuh yang lelah dan lapar.

Suatu hari aku pergi dengan kedua temanku ke sebuah toko buku untuk membeli keperluan kami belajar, kini karena aku sudah besar ayahku tak lagi menitipkan uangku kepada rahmi. Aku bisa menyimpannya sendiri, kubilang aku tidak mau terlalu merepotkan ibu rahmi, aku ingin mandiri, itulah sebabnya ayah mengizinkan tanpa perdebatan yang berarti. Kalau aku bilang yang sejujurnya tentu saja ayahku akan menentang, kini aku lebih pintar dalam menghadapi ayah dan rahmi, aku belajar dari pengalamanku sendiri.

siang itu saat sedang memilah-milah buku dan peralatan tulis, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiriku, dia menyapaku dan bertanya namaku, aku yang selama ini tidak pernah berinteraksi dengan orang asing tentu saja merasa kaget dan takut, karena pengalaman hidup mengajariku bahwa orang asing itu menyakitkan.

Aku segera pergi menjauh dari pria itu, aku bergegas mengajak teman-temanku untuk pulang sementara pria itu hanya berdiri menatapku yang semakin menjauh.

"Ada apa aina? Kenapa kau ingin pulang cepat-cepat? Kita bahkan belum membeli apapun" tanya zahwa sahabatku.

"iya, kau ini kenapa? Tiba-tiba berlari seperti itu, membuat kami takut saja" timpal aliyah teman kami.

"tadi ada pria yang mengganggu" jawabku singkat dengan wajah panik dan pucat.

"mengganggu bagaimana? Kenapa kau tak bilang? Kalau kau bilang aku pasti menghajarnya!" tanya zahwa khawatir.

"tapi disana sangat ramai, mana mungkin ada yang berani mengganggu kita, apa kau tidak salah faham aina? Siapa tau dia hanya ingin bertanya" ucap aliyah lagi.

"iya dia memang bertanya" kataku singkat.

"dia bertanya apa?" tanya zahwa dan aliyah berbarengan.

"dia bertanya siapa namaku" jawabku menjadi kesal.

"apakah pria itu masih muda?" tanya zahwa menyelidik.

"ya, mungkin usianya sama dengan kakakku aidil"

Mendengar jawabanku zahwa dan aliyah saling bertatapan, mereka lalu tersenyum padaku.

"kenapa? Ada apa?" tanyaku masih dengan nada kesal.

"mungkin dia suka padamu aina" jawab zahwa menggodaku.

"kenapa dia suka? Kami bahkan tidak kenal" ucapku kesal.

"kau itu gadis tercantik disekolah, tidak heran kalau banyak pria yang suka padamu aina" goda aliyah sambil mengedipkan matanya.

Aku yang tidak pernah tertarik dengan perbincangan seperti ini segera pergi meninggalkan mereka berdua, sedangkan mereka tak henti-hentinya menggodaku sepanjang jalan.

***

"Hai Aina, apa kabar? masih ingat aku"

Saat itu aku dan teman-temanku sedang kerja kelompok, kami mengerjakan tugas sekolah di gubuk pesawahan, bagi kami bermain di pesawahan sangat menyenangkan, rasanya begitu sejuk dan damai. Saat itu kedua sahabatku sedang pulang untuk mengambil beberapa makanan, aku menunggu sendiri di gubuk itu, melamun sambil memperhatikan orang-orang yang sedang memanen padi. Tapi tiba-tiba seseorang membuyarkan lamunanku, ternyata dia adalah pria yang kutemui ditoko buku tempo hari.

"Siapa kau? Sedang apa di sini? Dari mana kau tahu namaku? Tolong jangan ganggu aku! Pergilah! Aku sedang bersama teman-temanku" ucapku ketus.

"aku ryan, bisa kita berteman?" tanyanya dengan wajah tersenyum lembut.

Aku tidak mau menjawab, aku hanya mengabaikannya, tapi kemudian dia duduk di sampingku. Aku merasa tidak nyaman, aku kemudian berdiri hendak pergi meninggalkannya tapi kemudian teman-temanku datang dan mencegahku pergi, mereka bilang bahwa ryan datang kemari atas persetujuan mereka.

"aina tenanglah, harusnya kau bisa bersikap lebih ramah" ucap zahwa menghampiri sambil membawa beberapa makanan dan minuman untuk kami santap bersama.

"lebih baik kita berteman dan saling memperkenalkan diri, kau tidak keberatan? Ryan sudah jauh-jauh datang kemari" lanjut zahwa padaku.

"aku tidak memintanya datang, aku juga tidak tahu siapa dia"

"Itulah sebabnya, tidak ada salahnya kita berkenalan agar saling mengenal satu sama lain, memperbanyak teman itu baik kan? ayolah, jangan marah.. " bujuk zahwa padaku

"oke" jawabku singkat sambil masuk kedalam gubuk menjauhi ryan.

Kami berbincang cukup lama saat itu, perbincangan kami lumayan menyenangkan, kami makan dan minum bersama, kami juga mengerjakan tugas dengan baik. Dari perbincangan itu aku mengetahui bahwa ryan adalah seorang siswa kelas 2 SMA, dia membantu kami menyelesaikan tugas sekolah kami, dia cukup baik dan ramah, tapi tetap saja aku tidak terlalu nyaman dengan kehadirannya, tak terbiasa bagiku duduk bersama dengan laki-laki selain ayah dan kakakku.

Keesokan harinya zahwa dan aliyah bercerita kepadaku bahwa sebelum hari itu ryan berapa kali mendatangi mereka, rupanya tempo hari saat bertemu ditoko buku ryan mengikuti kami sehingga dia tau dimana kami tinggal.

Menurut zahwa tempat tinggal ryan cukup jauh dari rumah kami, tapi dia memaksakan diri untuk datang ketempat kami demi bertemu denganku, ryan bersikeras memohon pada mereka agar mereka mau membantunya, ryan berkata pada zahwa bahwa ia sering melihatku ditoko buku itu dan dia tertarik padaku. Karena usaha kerasnya akhirnya zahwa dan aliyah mengabulkan permintaan ryan untuk bertemu denganku.

Sejak saat itu ryan sering datang mengunjungiku melalui zahwa dan aliyah, dia sering membawakan hadiah untukku, aku yang awalnya canggung dan membenci kehadirannya perlahan mulai luluh, aku kemudian bercerita kepada kedua kakakku saat mereka datang mengunjungiku, kakakku sangat tertarik dengan ceritaku, mereka tak berhenti menggoda dan memujiku hingga disuatu hari akhirnya aku bisa mengenalkan ryan pada mereka.

Beberapa kali ryan dan kakakku bertemu, kami bahkan sesekali jalan-jalan bersama, semakin kami dekat semakin aku tau banyak tentangnya, rupanya ryan berasal dari keluarga berada, keluarganya adalah keluarga yang harmonis, dan itu tercermin dari sikapnya yang lemah lembut dan sabar.

Bagiku ryan tak ada bedanya dengan zahwa dan aliyah, bagiku ryan adalah sahabat terbaikku.

Suatu hari aku dan sahabat-sahabatku pergi ke toko buku, tak terkecuali ryan, kami berjanji untuk bertemu langsung ditoko buku itu. Kami cukup sering datang kesana untuk sekedar membaca buku gratis yang tersedia, setelah puas membaca kamipun bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba ryan menawarkan diri untuk mengantarkan kami semua pulang.

"tidak perlu, rumahmu juga kan sangat jauh" balasku.

"tidak masalah, aku membawa mobil"

Mendengar itu aku, zahwa dan aliyah saling bertatapan.

"kalian tidak percaya?" tanya ryan sambil tersenyum menggoda.

"kau masih muda, meskipun kau lebih tua dari kami tapi tetap saja di usiamu saat ini kau belum diizinkan untuk mengendarai mobil" ucap zahwa.

"Tentu saja aku tahu, aku tidak mengendarainya sendiri, aku datang dengan sopir. Kebetulan pagi tadi aku harus mendatangi suatu acara, jadi sekalian saja aku mampir kemari" jelas ryan.

Kami yang hanya anak-anak petani desa terpaku mendengarnya, bagaimana mungkin anak seusia dia bisa sekaya itu. Meski kami tahu itu kekayaan orang tuanya tetap saja kami terpukau.

Ryan kemudian mengantarkan zahwa dan aliyah kerumah mereka masing-masing. Dan terakhir dia mengantarkanku ke rumah. Sepanjang perjalanan aku masih tidak dapat berkata-kata, sedangkan ryan terus-menerus menatapku sambil tersenyum.

Tak berselang lama kami sampai di depan rumahku, saat hendak keluar dari mobil rahmi tiba-tiba membuka pintu rumah. Selama ini aku tidak pernah bercerita kepadanya tentang ibu tiriku bahkan tentang kedua kakakku, sehingga saat ryan melihat rahmi membuka pintu, ryan bergegas turun dari mobil untuk menyapanya. Tentu saja saat itu aku tak sempat menahannya. Aku hanya bisa mengikuti langkah ryan dibelakangnya sambil menyingkirkan rasa takut yang menyelimutiku.

"Halo selamat malam tante, aku ryan, aku teman aina, maaf mengantarnya malam-malam" ucap ryan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

Melihatku yang turun dari sebuah mobil mewah, rahmi hanya menatapku. Tak kuduga rahmi membalas uluran tangan ryan dan menyambutnya dengan ramah.

"selamat malam ryan, aku sudah menunggu kalian datang, masuklah dulu" jawab rahmi sambil tersenyum.

Aku hanya menduga duga akan ada sesuatu yang buruk terjadi, dan benar saja, rahmi membuang harga diriku dihadapan ryan.

"Ryan sejak kapan kau mengenal aina?"

Tanya rahmi kepada ryan tanpa berbasa-basi, ryan bahkan tak dipersilahkan duduk terlebih dahulu.

"sejak beberapa bulan terakhir saja tante, kami sering bertemu di toko buku, aku juga sudah kenal dengan kak aini dan juga kak aidil, aku bahkan berteman dekat dengan sahabat-sahabat aina, maaf aku baru sempat memperkenalkan diri pada tante" jawab ryan antusias dengan senyum yang mengembang.

"Kalau boleh tahu di mana kak aidil dan kak aini tante?" tanya ryan kepada rahmi.

"Mereka tidak tinggal di sini" jawab rahmi singkat.

Aku segera memberi kode kepada ryan agar tak terlalu banyak bertanya. Dan ryan sepertinya memahami kodeku, kemudian dia berkata bahwa dia harus pamit pulang.

"Apa kau suka dengan anakku ryan?" tanya rahmi lagi menahan ryan yang saat itu hendak pamit.

"eee, aina baik dan cantik, tentu saja saya suka tante, dan saya rasa semua orang juga menyukai aina" jawab ryan kikuk.

"kalau begitu kenapa kalian tidak menikah saja?" tanya ibu dengan raut wajah serius.

"ah, mana mungkin tante, kami masih anak-anak" jawab ryan canggung sambil melirik ke arahku.

"tentu saja kalian bisa, aku akan membantu kalian jika kalian ingin menikah, lagipula aina seorang perempuan, dia tidak butuh sekolah" lanjut rahmi semakin tak karuan.

"Bu cukup, ryan harus pulang" aku kesal dan bergegas mendorong ryan agar segera meninggalkan rahmi. Tapi ryan kembali berbalik dan berusaha menjelaskan sesuatu kepada rahmi.

"tante maaf jika aku lancang, aku tidak bermaksud membawa pergi aina sampai selarut ini, tadi kami pergi beramai-ramai sampai..."

Belum selesai ryan menjelaskan, rahmi memotong pembicaraannya.

"aku tidak mengkhawatirkan itu, aku serius ingin aina segera menikah!" tegas rahmi.

Mendengar itu aku menjadi sangat marah. Aku mengusir ryan dan memintanya untuk tidak datang lagi.

"ibu, apa maksudmu mengatakan hal seperti itu kepada temanku?" tanyaku setelah ryan pergi sambil menangis menahan emosi.

"kenapa kau marah? Dia kaya, kau suka kan? Aku muak membiayai sekolahmu, lebih baik kau segera menikah dan hasilkan uang untukku, setelah lulus SMP nanti mau tidak mau kau harus menikah, jika tidak aku akan membuatmu bernasib sama dengan kedua kakakmu, pilihlah, mau kucarikan suami untukmu atau kau sendiri yang mencarinya!" ucap rahmi sambil bergegas pergi meninggalkanku.

Setelah mendengar itu hatiku terasa sangat sakit, kupikir aku hanya tinggal menikmati penderitaan yang selama ini sudah terbiasa menemaniku, kupikir jika aku bersabar aku akan dapat menggapai cita-citaku. Bersekolah, kuliah dan bekerja dengan baik mengangkat derajat hidupku sendiri yang selama ini selalu diremehkan oleh rahmi.

Aku menangis sendirian didalam kamar, aku meratapi nasib yang kini harus kujalani, menjadi gelandangan atau menjadi seorang istri diusiaku yang begitu muda seperti saat ini.

Aku mulai menyalahkan ryan, aku menyesal bertemu dengannya, andaikan saat itu ryan tidak mengantarku, andaikan dia tidak menyapa ibuku, andai zahwa dan aliyah tidak memberi jalan pada ryan untuk menemuiku, aku mulai menyalahkan semua orang. Aku benci keadaan ini, aku benci diriku sendiri, aku ingin memutar waktu, aku tidak ingin mengenalnya, bahkan jika bisa aku tidak ingin lahir kedunia ini.

Setelah hari itu ryan kembali datang kerumah, dia beberapa kali mencoba menemuiku melalui zahwa dan aliyah, dia bertanya-tanya tentang sikap ibuku malam itu, dia membujukku agar aku mau berbagi suka dukaku bersamanya, tapi hatiku telah mati, aku selalu memintanya pergi, aku bahkan tidak pernah mau lagi bertemu dengan zahwa dan aliyah, aku tidak mau menemui ryan, aku selalu menghindar dan bersikap dingin ketika mereka berusaha mendekatiku, tak ada lagi harapan bagiku untuk hidup bahagia meski orang-orang baik mengelilingiku, bagiku nasibku tetaplah bergantung pada ibu tiriku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!