Aku aini, usiaku 7 tahun saat ibu meninggalkanku untuk selamanya. Sepeninggalnya ibu, aku hidup dengan ayah, adik perempuanku aina dan kakak laki-lakiku aidil, tak berselang lama ayahku menikah lagi dengan seorang wanita bernama rahmi, ia pun resmi menjadi ibu tiri kami, ibu tiri yang sangat jahat. Kukira ibu tiri yang jahat hanya ada dalam cerita saja, tak kusangka kali ini akulah yang menjadi anak malang seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng itu.
Adik perempuanku aina adalah anak yang patuh, meski sering dicaci maki ia tetap sabar, namun aku dan kakakku aidil berbeda, kami tidak bisa sesabar aina dalam menerima hinaan hinaan itu.
Setelah beberapa bulan tinggal bersama rahmi, aku dan kakakku memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal dimana saja ditempat yang kami temukan. Tempat yang bisa melindungi kami dari panasnya sinar matahari dan dinginnya hujan. Kami tidak tahan dengan omelan-omelan rahmi yang menyakiti hati dan memekakkan telinga, terlebih lagi saat mengetahui bahwa ayah kami lebih memihak istri barunya itu dibanding kami anak-anaknya. Aku merasa tidak ada gunanya lagi kami hidup di rumah itu, meski terlindung dari terik matahari dan hujan, hati kami teriris begitu dalam. Tak ada sosok ibu yang kami temukan dalam rumah kami, tak ada surga didalamnya.
Aku merasa ayahku benar-benar melupakan mendiang ibu, hatinya sudah terkunci oleh nenek jahat itu, aku sungguh membenci keduanya.
***
Berbulan-bulan lamanya aku dan kakakku hidup terlunta-lunta dijalanan, kami pergi hanya membawa beberapa helai pakaian yang disimpan dalam sebuah tas lusuh bekas kami bersekolah dulu, ya kami berhenti bersekolah karena nenek tua itu, kami pergi mengenakan pakaian pendek seadanya, dengan alas kaki yang lusuh dimakan oleh waktu.
Rambutku semakin memanjang dan kusam, rambut yang dulu sering dibelai ibu, dirawat hingga halus dan bersinar, namun kini bagaikan segumpal gulali yang terberai. Dulu ibu sangat senang mendandaniku dan adikku, kami bagaikan putri disebuah kerajaan, itulah sebabnya walau kusam aku tak akan pernah mau memotongnya, meski ayah beberapa kali ingin merapikannya, tapi aku menolak karen hanya inilah satu-satunya kenangan yang ibu tinggalkan bersamaku.
Selama ini aku dan kakakku makan dari belas kasih orang, kadang kami pergi mengamen dan bahkan memungut sampah untuk kami jual, namun ada kalanya kami tidak mendapatkan uang sepeserpun sehingga terpaksa kami harus berpuasa.
Disuatu siang yang terik aku dan kakakku merenung disebuah gubuk tua dekat pesawahan, angin berhembus begitu kencang membelai wajah kami, kami termenung memikirkan begitu jahatnya dunia kepada kami, kami yang masih anak-anak ini. Lalu aku dan kakakku saling bercerita. Aku menceritakan saat aku bertengkar dengan rahmi hanya karena aku meminta makan siang padanya.
Saat itu pulang sekolah, karena banyaknya kegiatan disekolah, saat pulang aku merasa sangat lapar, sesampainya di rumah aku meminta makan kepada ibu tiriku namun dia menolak dengan sangat kejam.
"Kau pikir rumah ini panti asuhan! harusnya kau bersyukur masih kuberi makan dan tidak mati kelaparan! ingat jatah makanmu hanya pagi dan malam hari, jangan meminta lebih dari itu! aku tidak mau mengeluarkan lebih banyak uang untukmu! Begitu nenek tua itu sambil melotot padaku" ceritaku pada kakak sambil menirukan ekspresi rahmi.
Kakakku hanya tertawa kecil, namun dengan ekspresi sedih yang tidak dapat digambarkan, aku tahu dia pilu dan merasa bersalah sebagai satu-satunya anak laki-laki, kemudian dia bertanya.
"lalu kau jawab apa?"
"aku balik marah dan memaki wanita tua itu, aku bilang kau nenek lampir yang sangat jahat dan tidak memiliki hati, kudoakan kau cepat mati hahaha" ucapku sambil mengingat kembali kejadian menyakitkan itu.
"andai Ibu masih ada, kita pasti sedang sibuk disekolah saat ini, lalu saat kita akan berangkat sekolah ibu akan menyajikan hidangan lezat untuk kita, saat pulang sekolah akan ada yang membantu kita berganti pakaian, akan ada orang yang memeluk dan membelai kita, akan ada yang menyajikan makanan enak dan hangat di saat kita kelelahan" gumamku sambil terisak.
Aku tidak dapat lagi membendung air mataku, begitu pula dengan kakakku, aku melihatnya menangis tersedu-sedu, itu adalah pertama kalinya aku melihat kakakku menangis tersedu-sedu setelah sekian lama. Mungkin ucapanku telah membuat luka lamanya kembali terasa sakit.
"apa kakak tahu kalau nenek tua itu juga telah menghina ibu?" aku bertanya sambil mengusap air mataku. Kakakku mengangguk sambil mengusap juga air matanya.
"saat itu dia sangat marah sampai-sampai ia berani memaki mendiang ibu" lanjutku.
"dia bilang, lihat! yang yang mati justru ibumu, bukan aku, ibumulah yang tidak berguna sehingga dia cepat mati! kata nenek lampir itu galak" lanjutku sambil emosi.
"Saat itu aku langsung memukul punggungnya yang hendak berbalik pergi, aku marah dan balik memakinya sampai dia mendorongku sampai jatuh" aku menggerutu.
Kakakku hanya tertawa namun raut wajahnya begitu sedih, terlihat amarah yang berusaha dia pendam di wajahnya, sebenarnya dia sudah tahu peristiwa itu, beberapa kali aku menceritakannya saat kami sedang merenung seperti saat ini. Kami hanya bisa bercerita sebagai hiburan untuk menahan rasa lapar yang sedang kami rasakan.
Masih kuingat betul bagaimana raut wajah rahmi saat memakiku dikala itu, raut wajahnya penuh kebencian, dia seperti ingin melenyapkanku, aku memang tidak berguna seperti adikku aina, aku lebih banyak membangkang karena menurutku rahmi tidak pernah memperlakukan kami selayaknya anak, dia hanya memerintah kami tanpa perasaan.
***
Suatu hari aku pernah mencuri uang rahmi yang dia simpan dilemarinya, saat itu ia sedang mandi dan lupa mengunci lemarinya karena biasanya semua lemari yang ada dirumah selalu terkunci rapi dan kuncinya selalu dia simpan sendiri. Aku terpaksa mencuri karena aku harus membeli pensil untukku bersekolah, bahkan kakakku sudah tidak memiliki lagi alat tulis, kami malu terus menerus meminjam kepada teman kami, karena mereka tidak tahu kondisi kami, mereka seringkali marah saat alat tulis mereka kami pinjam. Kami tidak pernah banyak bercerita tentang masalah kami pada siapapun, mungkin jika mereka tau, mereka akan bersikap lebih baik pada kami.
Awalnya aku ingin meminta ayah yang membelikan pensil, tapi kupikir percuma karena pada akhirnya ayah hanya akan menitipkan uangnya pada rahmi dan uang itu tidak akan pernah sampai kepada kami, betapapun kami berusaha menjelaskan ayah tidak akan pernah mendengarkan.
Saat tahu uangnya hilang jelas rahmi langsung memanggil kami bertiga untuk masuk ke dalam rumah, tentu saja aku tidak mengaku, adik dan kakakku saat itu tidak tahu bahwa akulah yang mengambil uangnya, mereka hanya tertunduk kebingungan. Rahmi sangat marah dan mengancam akan mengadukan kami kepada ayah, rahmi mengancam tidak akan memberi kami makan. Aku sebenarnya merasa kasihan kepada adik dan kakakku tapi aku juga sangat takut untuk mengaku. Tidak menunggu waktu lama saat itu juga Rahmi langsung menelpon ayahku dan memintanya untuk segera pulang.
Saat ayah datang rahmi menceritakan semuanya, tidak kusangka ceritanya dia lebihkan sehingga menjadi berita yang amat buruk untuk ayah kami, rahmi bercerita bahwa kami sering mencuri uangnya untuk dibelikan hal-hal yang tidak diperlukan, saat kami melakukan pembelaan lagi-lagi ayah tidak pernah percaya. Ayah memarahi kami dan membela rahmi, ayah berkata untuk apa kami bersekolah jika hanya untuk menjadi seorang pencuri, akhirnya aku tidak tahan lagi dan berkata bahwa kami lebih baik berhenti bersekolah.
Aku mengatakannya sebenarnya hanya untuk menantang ayahku, aku ingin tahu apa reaksinya, apakah dia akan mencari tahu lebih banyak lagi tentang kami? apa saja kendala kami saat bersekolah? Tapi nyatanya ayah mengiyakan. Dia berkata
"Berhentilah sekolah jika itu yang kalian inginkan, kita lihat akan jadi apa kalian nanti, jangan salahkan ayah jika suatu hari nanti kalian tak bisa berbuat banyak untuk hidup kalian sendiri"
mendengar itu, aku dan kakakku yang memang sudah sejak lama merasa muak akhirnya memilih untuk putus sekolah dan pergi tanpa mebawa aina, kami pergi kemanapun dan kapanpun kami mau, kami tidak ingin terlalu lama terjebak dengan nenek lampir itu, hidup kami luntang-lantung tak jelas arah dan tujuan, namun tak banyak yang bisa kami lakukan selain menerima dan menjalani semuanya.
Awalnya kami ingin mengajak serta adik kami, namun dia menolak. Dia terlalu takut hidup di luar dan kami pun berpikir ulang memang akan sulit untuk adik kami hidup di antah berantah. Mentalnya tak sekuat kami karena memang dia masih sangat kecil, walaupun sebenarnya kami pun masih anak-anak.
***
Selama hidup di jalanan, sesekali kami tak dapat uang dan tak bisa makan. Saat kami sudah tidak bisa lagi menahan rasa lapar, tidak ada pilihan lagi bagi kami selain pulang ke rumah menemui nenek lampir itu, meski pada akhirnya kami tetap tidak mendapatkan apapun darinya. Hanya aina yang terkadang duduk diteras rumah menantikan kami pulang, hanya aina yang datang menghampiri kami dan memberi kami makan, ia sering menyimpan beberapa makanan untuk kami sehingga perut kami bisa terisi, nasibnya mungkin lebih baik dari kami karena ia sangat patuh, tidak seperti kami yang membangkang.
***
Dimalam yang dingin ini aku demam, tepat disaat aku dan kakakku tinggal di bawah kolong jembatan. Awalnya aku kira hanya demam sedikit saja sehingga aku menolak untuk dibawa pulang ke rumah oleh kakakku, namun selang beberapa jam kemudian demamku semakin tinggi, kakakku semakin khawatir dan memutuskan untuk membawaku pulang kerumah, dengan susah payah kakakku menggendongku dipunggungnya, kami pulang menuju rumah, kakakku mengetuk pintu rumah dan berharap ayah ada didalam. Nyatanya ibu tiriku yang membukakan pintu, saat tahu aku sakit dia hanya tersenyum sinis seolah berkata bahwa kami tak berdaya tanpa kehadirannya.
Mungkin karena takut terjadi sesuatu dan takut disalahkan oleh ayahku akhirnya rahmi membiarkan kami masuk, namun tanpa diobati sedikitpun. Kami hanya disuruh tidur, tidak boleh berisik dan jangan meminta apapun. Kakakku berlutut dan memohon agar aku diberikan makan dan obat yang layak, aku hanya bisa terbaring lemah menyaksikan pemandangan yang memilukan itu. Kakakku berjanji pada rahmi akan segera pergi setelah aku sembuh, namun benar saja ibu tiri tak berhati itu sama sekali tidak menggubris dan hanya berlalu pergi.
Selama dirumah hanya kakak dan adikku yang bergantian mengurusiku yang sedang sakit, suatu waktu adikku pergi ke rumah temannya, dia bilang dia akan minta tolong kepada orang tua temannya untuk membelikanku obat, aku hanya bisa mengangguk berharap pertolongan akan datang dan aku segera sembuh. Tak berselang lama adikku datang membawa obat dan berbagai macam makanan yang sangat enak. Akhirnya aku bisa minum obat dan makan dengan layak batinku. Beberapa hari kemudian aku sembuh, setelah sembuh aku mengutuk dalam hati bahwa apapun yang terjadi aku tak akan pernah ingin kembali kerumah ini. Selama kami tinggal ibu tiri hanya memberi makan adik kami, kami makan sepiring bertiga, aku dan kakak tak pernah dianggap ada.
Kemudian pagi itu disaat aku dan kakakku hendak pergi ayahku datang, kami berbincang diteras, dia bertanya ada urusan apa kami datang? Karena memang setiap kali ayah pulang kami tidak pernah ada dirumah. Adikku dengan polosnya menceritakan semua kejadian yang kami alami, dan ayahku sambil tercekat berkata,
"dengarkanlah ayah, jadilah anak yang baik dan tinggalah di rumah ini karena di luar sana tak akan ada yang mau mengurusi hidup kalian, ayah mohon berhentilah keras kepala dan hiduplah dirumah ini dengan baik" ucapnya dengan suara yang sangat berat.
"apakah kalian tega meninggalkan ayah? apakah kalian tidak percaya bahwa ayah sedang melakukan yang terbaik untuk kalian? ayah sungguh sangat menyayangi kalian, tapi kenapa kalian tidak memahami itu? Tolong tinggallah di rumah ini dan hiduplah dengan baik, ayah mohon" lanjutnya dengan suara yang semakin pelan.
Mendengar itu aku dan kakakku tidak sampai hati untuk pergi, kami memang benci dia, tapi dia tetaplah ayah kandung kami. Namun kami juga tidak bisa berlama-lama berada di rumah ini.
"ayah, aku dan kakak sudah memiliki tempat yang nyaman untuk kami tinggali, kami juga memiliki banyak teman, kami akan pulang sesekali, tolong izinkan kami pergi" ucapku kepada ayah.
Ayah tak menjawab beberapa saat, beliau seperti berfikir dan menimbang-nimbang.
"ayah mengerti, pasti berat hidup tanpa ibu disamping kalian, pergilah jika itu yang kalian inginkan, pergilah jika menurut kalian ibu rahmi tidak bisa mengurus kalian dengan baik, tapi pulanglah dan tengoklah adikmu sesekali, kasihan dia kalian tinggalkan" balas ayah sambil menahan tangisnya.
Ayah akhirnya mengerti dan mengizinkan kami pergi. Kami semua berpelukan sambil menangis, tetap ada rasa sayang yang amat besar dihati kami untuk ayah, meski kami merasa benci, meski ayah bersikukuh bahwa istrinya adalah istri yang baik, meski ayah bersikukuh bahwa apa yang beliau lakukan adalah yang terbaik untuk kami padahal kami begitu menderita.
Setelah percakapan pendek itu khirnya aku dan kakakku pergi, seperti biasa kami pergi tak tentu arah, kami hanya mengikuti nasib kami, kami berjuang keras untuk hidup, hanya kami sendiri, terkadang teman-teman yang merasa iba memberi kami makan, terkadang tetangga dan beberapa orang tua membawa kami ke rumah mereka, memberi kami pakaian dan makanan yang layak. Meski begitu kami tidak bisa terus-menerus bergantung pada mereka, sesekali kami pergi begitu jauh dan sesekali kami pulang, inilah satu-satunya cara agar kami tidak hidup terlalu tersiksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments