AYAH

Aku aiman, istriku bernama najla, 10 tahun sudah usia pernikahan kami. Istriku adalah wanita yang pandai bersyukur, meski hidup kami pas pasan dia tak pernah mengeluh, dia berbakti dengan sepenuh hati. Di usia pernikahan kami yang sudah 10 tahun ini kami dikarunia 3 orang anak. Anak sulung kami bernama aidil, usianya 8 tahun, dia anak yang ceria dan sangat menjaga adik-adiknya. Anak kedua dan ketiga kami perempuan, usianya 6 dan 7 tahun. Jarak usia ketiganya hanya terpaut 1 tahun,hal itu membuat mereka menjadi sangat dekat, tak mau berpisah satu sama lain.

Aku bahagia menikah dengan istriku, apalagi saat anak-anak kami lahir, istriku begitu memanjakan mereka sejak mereka bayi sampai usia mereka saat ini. Begitupun dengan aku, meski bekerja sangat keras aku tidak pernah sedikitpun merasa lelah, bagiku mereka adalah pelipur lara, segala penatku hilang dikala aku duduk disamping mereka dan melihat senyum yang begitu indah terukir diwajah mereka. Aku dan istriku begitu menikmati setiap momen bersama anak kami dengan segala kerepotannya, karena kami yakin semua kerepotan itu akan kami rindukan saat kami tua nanti.

Sayangnya masa tua tak berpihak pada istriku, di usia pernikahan kami yang ke 10 ini istriku dinyatakan mengidap kanker rahim. Awalnya istriku merasakan pusing dan mual, perutnya terasa begah, kemudian aku memintanya untuk segera memeriksan diri ke dokter, tapi dia hanya bilang kalau itu hanya penyakit maag saja. Dia hanya meminum obat maag dan beristirahat. Setelah hari itu aku tidak pernah lagi mendengarnya mengeluh sakit apapun, hingga kufikir semuanya sudah baik-baik saja.

Seminggu berlalu sejak istriku mengeluhkan sakitnya, disuatu sore aku menyadari bahwa ada yang berbeda dengan istriku, wajahnya begitu pucat, matanya yang biasanya berbinar terlihat meredup, kulitnya mengering, dan badannya kulihat semakin mengecil.

"sayang, kulihat kau sangat kelelahan, apa kau baik-baik saja? Ada yang bisa kubantu? Apa ada yang menyulitkanmu?" tanyaku pada istriku sambil mengusap rambutnya. Saat itu istriku sedang menyiangi sayuran yang akan ia masak untuk makan malam kami. Ia duduk dikursi kayu ruang tamu kami dengan berbagai macam sayuran mengelilinginya.

"aku baik-baik saja sayang, hanya saja akhir-akhir ini perutku terasa tidak nyaman, saat makan juga aku tidak bisa makan dengan porsi seperti biasa, baru saja 2 sendok rasanya sangat kenyang, cepat kenyang tapi tetap saja lemas, mungkin penyakit lambungku sedikit memburuk" jawabnya lemah sambil memegangi perutnya.

"harusnya kau bilang sejak tadi, kita harus pergi ke dokter, penyakit lambung kalau dibiarkan bisa tambah parah dan berbahaya sayang, ayo kita ke dokter sekarang ya?" ajakku sore itu.

"tapi anak-anak bagaimana?" tanyanya khawatir.

"anak-anak dirumah saja, biar kutitip pada tetangga sebentar, kau bersiap-siaplah" jawabku sambil bergegas menuju rumah tetanggaku.

Setelah menitipkan anak-anak aku segera membawa istriku ke dokter, saat itu anak-anak sedang bermain dirumah kawan-kawannya, kami hanya menitipkan pesan kepada tetangga agar ketika anak-anak kami pulang, mereka diberi tahu kemana kami pergi. Setelah tau mereka pasti akan menunggu dirumah dengan baik.

Aku dan istriku pergi mengendarai sepeda motor tua kami.

"sayang, apa kau baik-baik saja duduk seperti ini disepeda motor?" tanyaku pada istriku saat kami hendak pergi.

"memangnya kenapa? Aku terbiasa ada dibelakang motormu bahkan sejak aku remaja" jawab istriku sambil tersenyum manjahili.

"tapi sekarang kau terlihat benar-benar lemah, aku khawatir kau akan jatuh"

"kau kira aku barang, hahaha, tenanglah sayang kondisiku tidak seburuk yang kau fikirkan, ayo berangkat" sambungnya lagi.

Lima belas menit berlalu, kamipun sampai di sebuah klinik, setelah mengantri akhirnya giliran kami untuk masuk keruangan dokter, pemeriksaanpun dilakukan, namun tiba-tiba dokter memberikan surat rujukan agar istriku diperiksa di rumah sakit yang lebih besar.

"apa ini dok? Kenapa anda memberikan surat rujukan?" tanyaku sedikit gusar.

"kemungkinan ada suatu penyakit yang istri anda idap, namun saya tidak berani menyimpulkan, karena untuk memberikan diagnosanya memerlukan serangkaian tes yang cukup panjang, dan pemeriksaan itu tidak bisa dilakukan disini mengingat peralatannya sangat terbatas, itulah sebabnya saya memberikan rujukan agar istri bapak dibawa kerumah sakit yang peralatannya jauh lebih lengkap" kata dokter menjelaskan.

Tanpa menunggu lama aku dan istriku segera bergegas ke rumah sakit, diperjalanan aku mencoba menghibur istriku, meyakinkan bahwa dia baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja. Istriku hanya melamun, aku faham dia tentu takut kalau kalau suatu penyakit berbahaya menyerang tubuhnya. Sebenarnya aku pun juga merasakan takut, tapi kalau aku takut dan panik juga, siapa yang akan menenangkan dan menguatkan istriku? jadi aku hanya bisa berpura-pura kuat dan menghiburnya.

Tak butuh lama untuk kami sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar, kami segera mengambil antrian dan bergegas mendaftarkan diri. Saat itu antrian sangat panjang, begitu banyak pasien yang sedang sakit menunggu di sana, aku dan istriku duduk diruang tunggu menunggu giliran. Aku berinisiatif membeli beberapa makanan dan minuman kesukaannya untuk sedikit menenangkan istriku. Tapi tentu saja disaat seperti itu tak akan ada satu hal pun yang dapat menghiburnya. kami seperti sedang menunggu di eksekusi, penuh ketakutan dan pengharapan.

Setengah jam berlalu akhirnya tiba giliran kami untuk masuk ke dalam ruangan, kami menceritakan pemeriksaan yang kami lakukan di klinik sebelumnya dan kenapa istriku mendapat surat rujukan. setelah memeriksa surat rujukan tersebut, kulihat raut wajah dokter itu sedikit berubah, sedikit meresahkan bagiku. Akhirnya aku bertanya.

"kemungkinan yang dokter sebelumnya sampaikan kepada kami itu apa? Sakit apa?"

"lebih baik kita lakukan pemeriksaan sekarang juga, tidak baik mengambil kesimpulan sebelum melakukan pemeriksaan, karena akibatnya bisa fatal" kata dokter menjelaskan.

Sore itu akhirnya istriku melakukan beberapa pemeriksaan, kami harus menunggu lagi selamat total hampir 1 jam untuk mendapatkan hasil tes tersebut. Saat hasil tes itu keluar, dokter memanggil kami untuk segera masuk ke dalam ruangan. Aku melihat raut wajah yang begitu khawatir, aku segera bertanya apa sebenarnya yang terjadi? lalu dokter pun mulai bercerita.

"Saya harap kalian bisa mendengarkan penjelasan saya ini dengan baik dan tenang, hasil pemeriksaan ini pasti akan membuat kalian terpukul, tapi bagaimanapun juga kita harus menerima dan kita harus sama-sama berusaha untuk menanganinya dengan baik"

Aku yang sadari tadi tidak sabar mencoba memperjelas

"Maksudnya apa dok? apa sebenarnya yang terjadi pada istri saya?" aku bertanya dengan gusar. Sedangkan istriku hanya diam dan mematung.

"Istri bapak mengidap kanker stadium akhir" ucap dokter dengan nada menyesal.

Mendengar penjelasan itu aku dan istriku bagaikan tersambar petir, istriku bahkan hampir pingsan, mataku berkunang-kunang, pandanganku pun menjadi gelap, aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

"Maksud dokter apa? aku baik-baik saja" ucap istriku lemah menahan tangis.

"Maafkan saya, tapi bagaimanapun ini harus saya sampaikan kepada ibu dan bapak, agar bisa kita ambil keputusan tentang tindakan apa saja yang harus kita lakukan" lanjut dokter menjelaskan.

"Saya harap ibu menerimanya dengan ikhlas dan sabar, kita berjuang bersama-sama untuk menghancurkan kanker itu ya bu, yakinlah bahwa ibu akan sembuh" kata dokter mencoba menghibur istriku.

"Saya tidak percaya, saya baik-baik saja dok, saya selalu memakan makanan yang saya masak sendiri, saya hidup bersih, tidak mungkin saya menderita penyakit ganas itu, saya masih bisa memasak, saya masih bisa membereskan rumah, bahkan saya masih bisa mengurusi anak-anak saya dengan baik" ucap istriku seolah memohon dan berharap bahwa hasil tes itu tidak benar.

"Untuk sementara Ibu tidak boleh beraktivitas dulu, baik aktivitas ringan apalagi aktivitas berat, mulai malam ini ibu akan dirawat dan menjalankan serangkaian tes dan juga pengobatan"

"Kalau saya tinggal di sini bagaimana dengan anak-anak saya dok?" ucap istriku sambil menangis sejadi-jadinya. Nafasnya tertahan dan tubuhnya lunglai. Dia tersungkur dan bersujud dilantai.

Aku yang sedari tadi diam akhirnya tersadar, aku melihat istriku menangis pilu, dia berkali kali memohon dan berharap pada dokter agar pemeriksaan itu tidak benar, dia memohon untuk melakukan pemeriksaan ulang. Dokter hanya berkata bahwa istriku berhak melakukan pemeriksaan berulang-ulang, hanya saja istriku pasti tau bahwa pada akhirnya semua akan sama.

Aku memahami istriku, aku percaya bahwa yang sebenarnya sedang ia takutkan adalah anak-anaknya menderita, aku faham bahwa ia sangat takut meninggalkan anak-anaknya, aku pun sangat takut untuk membayangkannya, tapi lagi-lagi aku harus terlihat tegar dan mencoba menenangkannya.

"Sayang tenanglah, dengarkan dulu penjelasan dokter dan kita cari solusinya bersama, kita berjuang bersama, kau harus mau diobati, jangan terlalu memikirkan bagaimana anak-anak, ada aku bersama mereka, dan kau pun tau sendiri bagaimana anak-anak kita, begitu banyak orang yang menyayangi mereka, kalaupun kita harus berjuang berdua di sini, anak kita akan banyak yang merawat" ucapku sambil berusaha merangkulnya yang tersungkur begitu lama.

"tapi aku tau penyakitku ini tak akan sembuh!!! Benar begitu bukan?!" jerit istriku sambil bangkit dan berusaha meraih dokter.

"sayang tenanglah, aku mohon, ayo kita keluar dari sini dan kita bicarakan dengan tenang, aku tau kau kuat, kau tidak mungkin kalah dan pergi meninggalkan aku"

"kalian bicaralah dengan tenang disini, saya akan memindahkan ruang pemeriksaan ketempat lain, hubungi saya kalau kalian sudah mendapatkan sedikit ketenangan, akan kita bicarakan mengenai pemeriksaan selanjutnya" ucap dokter sambil berlalu keluar dari dalam ruangan diikuti oleh para perawat yang sedari tadi berdiri menunduk seolah ikut berduka untuk kami.

"Kalau begitu kita harus menghubungi kakakku, aku mohon.. Hanya mereka satu-satunya yang benar-benar mencintai anak-anakku, meski kau merasa kesal dengan mereka, tapi tolong hubungi mereka untuk anak-anak kita" ucap istriku memohon dengan suara yang begitu lemah.

Beberapa tahun ke belakang aku memang berkonflik dengan kakak iparku, sebenarnya itu terjadi karena salahku, saat itu aku terlalu sering bekerja dan mengabaikan tanggung jawabku sebagai seorang suami dan seorang ayah, saat itu kakak ipar mencoba menasehatiku, namun aku yang kesal malah memakinya karena aku berpikir dia yang memang sudah menjadi orang kaya dan sukses tidak akan bisa merasakan posisiku yang serba kesulitan. Padahal jika ku ingat sebenarnya kakak iparku pun telah banyak melalui perjuangan yang panjang. Saat itu kufikir dia yang tak memiliki anak mana mungkin memahami posisiku sebagai seorang aya yang harus menafkahi 3 orang anak, padahal sebetulnya penderitaannya jauh lebih banyak dariku, karena pengharapannya memiliki keturunan tidak juga terwujud. Namun aku yang saat itu diselimuti ego lebih memilih untuk bertengkar dengannya hingga akhirnya hubungan kami renggang.

Aku dan kakak iparku yang memang tinggal jauh dari kami akhirnya lost contact, padahal sebelumnya mereka sangat sering mengunjungi anak-anakku, sering memberikan hadiah dan bahkan sering mengajak anak-anakku pergi berjalan-jalan. Dan sekarang di posisi saat ini memang hanya merekalah orang yang tepat untuk menjaga anak-anak kami sehingga mau tak mau aku harus menurunkan egoku. Tapi aku tidak tahu apakah mereka akan bersedia membantuku atau tidak.

Isak tangis istriku membuyarkan lamunanku, dia memohon agar aku segera menghubungi kakaknya.

"Baiklah aku berjanji akan segera menghubungi kakakmu, aku akan memintanya untuk menjaga anak-anak kita untuk sementara waktu agar kau bisa fokus dalam pengobatanmu dan segera pulih" jawabku sambil mencium keningnya.

Mendengar itu akhirnya istriku sedikit lebih tenang, kamipun mulai mengingat saran dokter agar kami segera mendaftar dan mendapatkan ruang rawat inap karena istriku harus segera mendapatkan tindakan medis.

Menjelang malam kamipun mendaftar untuk mendapatkan ruang rawat inap untuk istriku, setelah mendapat ruang rawat inap saat itu juga istriku memulai pengobatannya, dimulai dengan pemasangan selang oksigen, infus, dan serangkaian pengobatan lainnya yang tidak aku ketahui.

Saat istriku sedang dalam proses pengobatan, sesuai janjiku aku segera menghubungi kakak iparku, terdengar suara di seberang sana yang begitu ramah seperti biasanya.

"Halo Najla apa kabar?" tanya kakak langsung saat mengangkat telepon.

"Halo Kak ini aku, aiman" jawabku kikuk

"Oh rupanya kau, ada apa? tumben sekali kau menelpon"

"Sebelumnya aku ingin minta maaf atas perlakuanku dulu, aku tidak tau harus berkata apa lagi, banyak yang ingin aku sampaikan, tapi saat ini kondisi kami sedang darurat, aku tidak tahu apakah aku masih pantas meminta bantuan kakak atau tidak, Tapi demi najla tolong bantu kami kak" jelasku panjang dengan suara tercekat menahan tangis.

"Ada apa sebenarnya aiman? Cepat katakan" tanya kakak iparku lagi.

"Najla sakit Kak, dia baru saja divonis mengidap kanker rahim stadium akhir" akhirnya tangisku pecah, aku berusaha menghapus air mataku dan bersikap lebih tenang, namun semuanya sia-sia.

"Ya Tuhan...... kenapa najla bisa mengalami itu? Kenapa najla bisa mengidap kanker stadium akhir aiman? Katakan" cecarnya padaku.

"Aku juga tidak tahu kak, awalnya najla hanya mengeluh mual dan pusing saja tapi tidak kunjung membaik setelah satu minggu. Aku mencoba memaksanya untuk melakukan pemeriksaan namun dia selalu menolak. Akhirnya hari ini dia mau melakukan pemeriksaan karena kulihat wajahnya semakin pucat, hasilnya menyatakan bahwa najla mengidap kanker stadium akhir"

"Aku bingung dan putus asa kak, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa menenangkan najla, tapi aku tidak tau seberapa lama aku bisa terus berpura-pura kuat dihadapannya"

"dia harus melakukan serangkaian pengobatan yang amat panjang tapi dia menolak karena dia khawatir anak-anaknya tidak ada yang menjaga, najla bilang dia hanya akan melakukan pengobatan jika anak-anak dijaga oleh kakak" lanjutku bercerita.

"Aiman seharusnya kau menelponku sejak tadi, bagaimana mungkin aku tidak mau menjaga keponakan-keponakanku, lalu bagaimana sekarang najla? Dimana dia?"

"Dia sedang diperiksa kak"

"baiklah aku akan segera ke sana dengan suamiku, tolong kabari aku secepatnya Jika sesuatu terjadi"

"Baik kak terima kasih, kutunggu"

Akhirnya telepon terputus, aku mondar-mandir di lobby rumah sakit, aku bingung dan tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan. Aku sangat takut jika aku kembali ke ruangan, najla akan melihat betapa lemahnya aku, aku takut pada akhirnya akan menangis di hadapan dia, jika aku menangis siapa lagi yang akan menguatkannya?.

***

Keesokan harinya kakak iparku dan suaminya datang, mereka datang pagi menjelang siang. Mereka bilang tidak bisa datang malam hari karena ada beberapa kendala yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu yang ternyata kendala itu adalah mengambil sejumlah uang tabungan mereka di bank untuk membantu biaya pengobatan istriku, aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang begitu baik.

"dimana anak-anak?" tanya kakak saat bertemu denganku.

"anak-anak bersama tetanggaku, aku sudah mengabari mereka dan menjelaskan semuanya" jawabku singkat.

Pagi itu kakak langsung menemui najla, mereka berpelukan dan menangis, benar-benar tangisan yang sangat menyayat hati, kakak ipar memohon pada najla untuk bertahan hidup dan kuat menjalani serangkaian pengobatan yang amat menyakitkan, najla pun memohon agar sang kakak menjaga anak-anaknya dan menyayangi mereka dengan baik.

Aku yang saudara dari tadi memperhatikan hanya bisa menahan sesak yang sudah tertahankan, akhirnya aku pergi ke toilet hanya untuk menumpahkan tangisanku yang tidak mungkin kukeluarkan di hadapan istriku yang saat itu sedang sangat lemah. Dadaku sakit, aku bertanya dosa apa yang telah kami lakukan hingga di puncak kebahagiaan kami, kami harus terjatuh begitu dalam.

Sejak saat itu kakak ipar dan suaminya tinggal dirumah kami dan merawat anak-anak kami. Kadang kami bergantian menjaga najla dan anak-anak, kadang anak-anak juga kami bawa menemui ibu mereka, kami hanya menjelaskan bahwa ibu mereka butuh pengobatan agar bisa segera pulang, anak-anak tak banyak berkomentar, mereka senang melihat ibu mereka masih bisa tersenyum begitu manis dihadapan mereka.

***

Satu bulan berlalu sejak istriku mulai melakukan pengobatan, dengan infus, disuntik, tes darah, bahkan kemoterapi yang mengharuskan istriku mencukur rambutnya hingga habis. Perih sekali aku melihatnya, rasanya ingin berteriak dan mengakhiri semuanya, tapi lagi-lagi aku harus sadar bawa istriku lebih lemah dari siapapun.

Kadang istriku kembali kuat dan terobati setelah melihat bahwa anak-anaknya tinggal dengan om dan tante yang mereka sayangi, om dan tante yang juga sangat menyayangi mereka. Bahkan aina yang sejak kecil hanya bertemu sekalipun kini menjadi sangat dekat dengan kakak iparku, kuakui mereka memang mengurus anak-anakku seperti mereka mengurus anak-anak mereka sendiri.

Di suatu siang aku menyuapi istriku, aku banyak berbincang dengannya tentang rencana-rencana masa depan kami. Tentang aina yang sebentar lagi bersekolah dan tentang aidil yang tidak lama lagi akan masuk ke bangku SMP. Kami banyak tersenyum dan tertawa, kami berbincang cukup lama, sambil kupandangi istriku yang semakin hari semakin kurus, kulitnya semakin menghitam dan kering, wajahnya tak lagi segar seperti dulu. Ditengah percakapan tiba-tiba dia berkata "mungkin Ini waktunya aku untuk pulang".

Aku kaget mendengarkan perkataan seperti itu

"Hush, jangan bicara sembarangan, kau akan tetap disini bersama kami, banyak rencana yang sudah kita bicarakan bukan? Ayo kita realisasikan semuanya" aku menyanggahnya dan berharap ia menarik kembali kata-katanya.

"Tapi kehendak tuhan itu kita tidak akan tau, tubuhku rasanya sudah tidak kuat lagi untuk menerima obat-obat yang menyakitkan itu, mungkin pada akhirnya aku memang harus menyerah, jika waktunya telah tiba tolong jaga anak-anak kita dengan baik, rawat mereka sepenuh hati dan jangan pernah sia-siakan mereka. Ingatlah bahwa sebagian dari diri mereka adalah aku" ucap istriku semakin sedih. Dengan suara parau dan raut wajah pasrah tak bertenaga.

"Tolong berhenti bicara seperti itu, yakin dan kuatlah untuk kami, aku mohon sayang" ucapku sambil menggenggam tangannya. Kukecup keningnya berkali-kali mengingatkan betapa sayangnya aku padanya.

Setelah itu istriku hanya tersenyum dan bilang bahwa dia ingin tidur dan beristirahat, aku menjadi sangat khawatir setelah mendengar ucapannya, namun kekhawatiran itu kutepis karena memang istriku terlihat tegar, kuat, dan baik-baik saja. Bukankah kami memang sedang melakukan pengobatan? Sudah tentu istriku akan kembali sehat bukan? jadi saat itu aku hanya membelai rambutnya dan mengecup keningnya untuk kesekian kalinya, aku berkata "beristirahatlah, besok anak-anak kita akan datang menjenguk" kemudian dia tersenyum dan menutup matanya.

Istriku tidur sejak sore hari dan kini malam sudah tiba, pukul 9 malam waktunya bagi istriku meminum obat dan makan malam, suster yang merawat istriku membangunkan istriku, saat itu aku sedang beristirahat dan merokok di luar rumah sakit, tiba-tiba ada suara panggilan dari pengeras suara yang memintaku untuk segera masuk ruangan istriku, mendengar itu jantungku seperti berhenti berdetak, aku bergegas membuang rokokku dan berlari ke dalam rumah sakit, aku berlari secepat kilat, nafasku terengah-engah, dan ketika kubuka pintu kamar istriku aku melihat sudah ada dokter disana, seorang dokter dan beberapa perawat yang berwajah pucat.

Sedangkan istriku kulihat masih tertidur lelap, tidak bangun dan tidak bergerak sama sekali, dan saat ku dekati ternyata sudah tidak ada lagi nafas di dadanya, aku segera menatap para perawat dan dokter yang ada di ruangan itu, aku bertanya pada mereka kenapa mereka memanggilku? ada apa? Bukankah istriku masih tertidur?.

Aku mencoba menyangkal kenyataan yang sedari tadi sudah kufahami. Dokter dan perawat itu tidak mengatakan sepatah kata pun, mereka membiarkanku mendekati istriku dan menyadari sendiri apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Aku kembali menatap dokter, aku meraih jas putihnya, aku berlutut dan berteriak

"Ada apa dengan istriku? istriku kenapa? Kenapa kau tidak mengatakan apapun? harus berapa kali aku bertanya? Kenapa istriku tidak juga bangun padahal saat ini sedang berisik? Apakah dia koma?" cecarku histeris.

Kemudian dokter berkata dengan sangat pelan

"Aku menyesal pak, tapi istrimu kini sudah tidak merasakan sakit lagi, beliau sudah pergi, beliau diperkirakan meninggal pada pukul 08.45"

"Apa yang kau katakan Dok? tadi sore istriku masih baik-baik saja, kami berbincang bahkan tertawa bersama, dia bilang dia hanya ingin tidur dan beristirahat sebentar, aku terus menerus disampingnya, aku hanya meninggalkannya beberapa menit saja, kenapa kau bilang dia meninggal? cek sekali lagi, tolong cek dengan benar! Kalian juga perawat jangan hanya berdiri!" cecarku lagi.

Aku menangis dan berteriak mencoba meyakinkan bahwa mereka melakukan kesalahan, kugoncangkan tubuh istriku, aku memanggil namanya, aku mengusap rambutnya, dan bahkan kucium pipinya, tapi tak ada respon sama sekali, perlahan tubuhnya mulai mendingin dan bibirnya mulai membiru, saat itulah aku benar-benar ditampar oleh kenyataan bahwa kini istriku telah tiada, aku berlutut, aku tersungkur dan menangis jadi-jadinya. Aku memanggil-manggil nama istriku, pandanganku gelap dan aku tidak sadarkan diri.

***

Aku membuka mataku dan kulihat sekelilingku, kulihat kamar istriku kini telah ramai, rupanya kakak, anak-anakku dan para tetangga datang, mereka dikabari oleh rumah sakit dan langsung datang kemari, aku yang saat itu baru tersadar segera meraih anak-anakku dan memeluk mereka. Aidil dan sini sepertinya paham betul apa yang sedang terjadi, mereka menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan kakakku dan tetangga sekitar rumahku yang ikut hadir, namun aina mungkin masih bingung dengan apa yang sedang ia lihat sehingga dia hanya melamun dan menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu.

Beberapa jam yang memilukan pun berlalu, akhirnya kami membawa pulang jenazah istriku, hati kami hancur apalagi anak-anakku. Setiap ucapan yang ingin aku keluarkan untuk membesarkan hati mereka rasanya tercekat di tenggorokan, aku tidak bisa lagi menahan kesedihan, aku akhirnya ikut menangis bersama mereka, dan aina pun menangis tatkala melihatku tertunduk berurai air mata.

Begitu banyak pelayat yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa atas kepergian istriku, mereka merasa iba karena kini anak-anakku telah kehilangan ibunya, mereka pasti bertanya-tanya bagaimana kehidupanku setelah ini? Aku kehilangan arah, aku kehilangan tempat bersandar, begitulah takdir. Dengan hati yang begitu pilu aku mengantarkan jenazah istriku ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Terpopuler

Comments

Mawar_Jingga

Mawar_Jingga

halo kak salam kenal,
like dan komen mendarat ya, mampir dan ikuti "sepotong sayap patah" like,komen, dan tinggalkan jejaknya kak di tunggu🤗🤗

2023-08-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!