Aku aiman, aku seorang duda dengan 3 orang anak, 10 bulan lalu aku kehilangan istriku, istriku meninggal setelah perjuangannya melawan kanker rahim stadium akhir. Kanker yang bersarang ditubuh istriku tidak terdeteksi sejak dini karena istriku tidak pernah merasakan adanya keluhan yang berarti pada kesehatannya, entah memang tidak muncul atau tidak pernah dirasakan oleh istriku, mengingat sifat istriku yang selalu ingin terlihat kuat dan baik-baik saja, dia tidak pernah mau membuat siapapun khawatir terhadapnya.
Disuatu sore mendadak kanker itu terdeteksi dan sudah mencapai stadium akhir. Dokter mengatakan bahwa kanker itu kemungkinan telah bersarang sejak bertahun-tahun lalu, namun mungkin kami tak menyadarinya. Jika kuingat lagi memang sejak melahirkan anak ketiga kami istriku sering mengeluh merasakan nyeri disekitar perutnya, sering mual dan merasakan kembung. Namun istriku selalu bersikeras bahwa yang dia rasakan itu hanyalah penyakit lambung atau maag yang memang ia derita sejak masih muda. Aku juga tak pernah terlalu memikirkannya, aku hanya mengantarnya membeli obat maag dan memang keluhan-keluhan itu kemudian menghilang, tak pernah terbersit dibenakku bahwa disaat-saat seperti itu tubuh istriku justru sedang bergelut melawan penyakit yang amat ganas.
Istriku benar-benar tak pernah tampak sangat kesakitan, tak pernah tampak sesuatu hal yang mencurigakan dengan keluhannya, kukira memang wajar jika istriku sering sakit maag mengingat repotnya dia mengurus ketiga anak kami yang masih kecil, sudah pasti jam makannya tidak teratur. Tak ada kecurigaan sama sekali, baik bagiku maupun istriku. Jika kupikirkan kembali betapa menyesalnya aku, kenapa aku tak pernah peka? Kenapa aku tak pernah memaksanya untuk memeriksakan diri? Kalau saja kanker itu terdeteksi sejak dini mungkin saat ini istriku masih ada bersamaku dan anak-anak kami.
Lamunanku di mesin jahit kala itu buyar ketika rekan kerjaku memanggilku, dia seorang wanita single dengan usia yang sudah cukup matang, dia orang yang dewasa menurutku, dan juga ceria. Dia sering menghiburku dan bertanya bagaimana kabar anak-anakku, dia sering mengajakku untuk makan siang bersama di kantin pabrik sehingga teman-teman kami sering mengejek dan menjodohkan kami. Mungkin karena usianya yang sudah cukup matang untuk menikah dan mungkin juga karena aku sering dikira sedang membutuhkan istri sehingga mereka berpikir bahwa kami cocok jika bersama, bahkan ada beberapa rekan kerjaku yang mengatakan bahwa dia sebenarnya menyukaiku sejak lama, namun aku tidak pernah menggubris itu sampai suatu ketika dia berbicara padaku secara langsung.
"Aiman bagaimana kehidupanmu tanpa istrimu sekarang? Tentu sangat merepotkan mengurus 3 anak sendirian bukan? dengan siapa mereka tinggal sekarang?" Tanyanya kepadaku ketika kami sedang makan siang.
"Ketiga anakku hanya tinggal bertiga saja di rumah, tapi aku tidak terlalu khawatir karena aku miliki tetangga yang begitu peduli kepada anak-anakku, anak-anakku juga sudah cukup dewasa, aku sendiri kagum melihat kedewasaan mereka, padahal selama ini mereka selalu dimanjakan oleh ibu mereka" kenangku sambil tersenyum getir.
"Pasti berat bagimu meninggalkan mereka untuk bekerja" lanjutnya mencecarku.
"Tentu saja, kadang aku berpikir untuk berhenti bekerja dan membuka sebuah usaha, tapi aku tidak punya cukup uang untuk modal, uang tabunganku habis, dan aku juga tidak begitu pintar berbisnis" keluhku.
"Apa kau tidak berpikir untuk menikah lagi?"
"Bagaimana mungkin.. kepergian istriku baru 10 bulan yang lalu" jawabku singkat tanpa menatapnya.
"Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi jika kau tidak keberatan aku bersedia menjadi ibu sambung untuk anak-anakmu" ucapnya spontan sambil menatapku dengan wajah yang serius.
Tentu aku kaget mendengar pernyataan temanku tersebut.
"Itu tidak mungkin, apa kata orang kalau melihatku menikah lagi di waktu yang cepat?" aku mencoba menyanggah pernyataannya.
"Tapi ini bukan tentang orang lain, ini tentang anak-anakmu, tentang keluargamu, tentang bagaimana anak-anakmu tumbuh" jawab temanku meyakinkan.
"Lalu bagaimana denganmu? kau masih gadis, mana mungkin menikahi duda sepertiku? aku miskin dan memiliki tiga anak yang masih kecil, aku tidak bisa memberimu kebahagiaan"
"Aku tidak keberatan, dan aku sama sekali tak peduli tentang itu, karena sejujurnya sudah sejak lama aku memperhatikanmu, aku kagum dengan wibawamu, aku kagum dengan kesetiaanmu kepada istrimu dan aku ingin memiliki suami sepertimu" ucapnya pelan dengan wajah yang sendu.
Aku sedikit tersanjung dan tersipu mendengar pernyataan rekan kerjaku itu, dia adalah seorang wanita, usianya sama denganku, dia bernama rahmi. Orang tuanya sudah lama meninggal dan dia hanya hidup seorang diri. Saat itu aku tidak terpikirkan sama sekali untuk menjalin hubungan ataupun menanggapi pernyataannya, aku hanya menganggapnya angin lalu.
***
Seminggu berlalu sejak hari itu, kupikir rahmi akan menjauhiku karena aku tidak memberikan jawaban yang pasti kepadanya, tapi ternyata aku salah, keesokan harinya dia tetap menyapaku seperti biasanya, dia bilang bahwa dia akan memberiku waktu dan berharap aku menerima tawarannya, kulihat dia begitu tulus sangat ingin membantu keluargaku, pada akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai luluh, terlebih lagi apa yang dia bicarakan memang benar adanya, anak-anakku membutuhkan seorang ibu, terutama aina, sebentar lagi dia akan masuk sekolah, siapa yang akan mengurusi keperluannya?
Sejak hari itu malam-malamku diisi dengan sebuah lamunan, membayangkan tentang bagaimana jika aku menikah dengan rahmi. Aku terus menimbang-nimbang dan berpikir apakah itu keputusan yang tepat? Bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan tetanggaku? apa yang akan mereka katakan? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah kutahu dimana aku akan mendapat jawabannya. Tapi kupikir benar juga apa yang dibicarakan oleh rahmi, aku tak perlu memikirkan apa kata orang, yang harus ku pikirkan hanyalah tentang anak-anakku, sehingga akhirnya kuputuskan untuk meminangnya.
Sebelum mengatakannya kepada rahmi aku sempat menelpon kakak iparku, aku mengatakan niatku padanya. Kakak iparku hanya berkata bahwa dia tidak bisa melakukan apapun selain menyetujui apapun keputusanku, karena memang kenyataannya anak-anakku membutuhkan seorang ibu, kakak iparku hanya berpesan agar aku memilih istri yang baik dan menyayangi anak-anakku, aku meyakinkannya bahwa rahmi adalah wanita yang baik dan tepat untuk menjadi ibu sambung anak-anakku, akhirnya keputusanku telah bulat, aku akan segera menikahi rahmi .
Di hari minggu ketika aku libur bekerja aku mendatangi beberapa rumah tetanggaku dan meminta mereka untuk menjadi saksi pernikahanku dengan rahmi, akan tetapi aku memilih untuk tidak membicarakannya dulu dengan anak-anakku karena kupikir mereka masih kecil, dan jika aku harus membicarakannya terlebih dahulu aku takut suasana akan menjadi canggung, jadi aku memilih untuk memberitahu anak-anakku nanti setelah kami resmi menjadi suami istri. Aku berpikir mereka yang masih anak-anak pasti akan setuju karena selama ini mereka pun pasti merasa kesepian di rumah tanpa ada yang menemani dan mengurus mereka.
Pada sore harinya aku pun mendatangi Kantor KUA bersama dengan beberapa tetanggaku dan juga rahmi, kami hanya menikah di KUA dengan membawa wali rahmi dan saksi kami masing-masing. Singkat cerita pernikahan kami pun selesai, kami resmi menjadi suami istri dan malam itu juga aku langsung membawa istriku untuk pulang ke rumahku dan mengenalkannya kepada anak-anakku.
***
Tiga pasang mata memandang kami dengan kebingungan, tiga pasang mata anak kecil yang polos tanpa dosa, mereka kebingungan melihat ayahnya mengenalkan seorang ibu baru pada mereka secara tiba-tiba, aku yang mengerti dengan kebingungan mereka bergegas mengajak mereka bertiga untuk masuk ke dalam kamar dan mencoba menjelaskan semuanya dengan berhati-hati agar mereka paham.
Beberapa menit berlalu, aku berusaha menjelaskan alasanku dan mencoba membuat mereka paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, kulihat mereka hanya tertunduk, mungkin mereka membutuhkan waktu untuk mencerna semua ucapanku dan aku hanya bisa meninggalkan mereka di kamar itu membiarkan mereka berfikir dan memahami semuanya. Aku kembali menemui rahmi dan meyakinkan rahmi bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah beberapa saat anak-anakku keluar dari kamar, mereka mulai menyambut rahmi dan kami pun berbincang-bincang cukup lama. Aku bersyukur semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti, kehidupan baruku pun dimulai. Aku, anak-anakku dan istri baruku.
Dua bulan berlalu dan kini anak bungsuku aina akan segera memasuki bangku sekolah, tiba-tiba di suatu pagi teleponku berdering, rupanya atasan di tempatku bekerja memintaku untuk segera menemuinya, aku bergegas pergi, kukira ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan, tak disangka ternyata ada kabar kurang baik untukku, perusahaan memintaku untuk mulai bekerja di cabangnya yang baru, lokasinya cukup jauh dari rumahku, aku mencoba untuk berbicara dengan atasanku, aku mengatakan bahwa tidak mungkin aku meninggalkan anak-anakku begitu jauh, namun tak ada yang bisa dia lakukan karena itu sudah menjadi keputusan pemilik pabrik tempatku bekerja, lalu atasanku pun meyakinkan agar aku sedikit lebih tenang, mengingat sekarang aku memiliki Istri yang merawat anak-anakku.
Setelah berpikir sejenak mau tidak mau akhirnya akupun setuju dengan keputusannya, karena memang jika tak bekerja dipabrik itu aku sudah tahu dimana lagi aku harus bekerja, mengingat usiaku yang sudah tidak muda lagi pasti akan cukup sulit untuk menemukan pekerjaan, apalagi dengan riwayat pendidikanku yang tidak terlalu tinggi. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menerima apapun keputusan perusahaan tempatku bekerja.
Sesampainya di rumah aku menjelaskan keadaanku kepada istri baruku dan juga anak-anakku, mereka mendukungku dan menyemangatiku, mereka juga bilang bahwa aku tak perlu mengkhawatirkan apapun di rumah ini, terutama istri baruku rahmi, dia terus menyemangatiku, dia bilang jika aku berkenan dia akan berhenti bekerja dan fokus mengurus anak-anakku di rumah, dia percaya aku akan mampu menghidupi mereka dengan baik, sungguh baik istriku ini.
Setelah berpikir beberapa lama akupun menyambut tawaran rahmi, aku meminta rahmi untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus anak-anakku, namun sebelumnya aku meminta maaf terlebih dahulu kalau kalau dimasa mendatang mungkin aku tidak bisa memberikan banyak kesenangan dalam hal materi padanya. Dengan sangat ikhlasnya rahmi berkata bahwa itu tidaklah penting karena yang terpenting baginya saat ini adalah cintaku untuknya. aku sangat tersanjung dan terharu meski sebenarnya jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku merasa bersalah pada mendiang istriku. Tapi aku juga meyakini bahwa jika demi anak-anak kami istriku akan mendukung apapun keputusanku, karena seluruh hidupnya hanya dipertaruhkan untuk anak-anak kami.
Akhirnya hari yang dinantipun telah datang, aina mulai bersekolah dan aku mulai bekerja di tempat yang cukup jauh dari rumah. Aku tinggal di mess dengan rekan kerjaku dan hanya pulang seminggu sekali. Dibulan-bulan pertama pernikahan kami tidak ada masalah yang berarti, aku selalu bertanya bagaimana kabar anak-anakku? dan rahmi selalu meyakinkan bahwa mereka baik-baik saja. Pernah suatu ketika disaat aku tidak memiliki cukup uang untuk membelikan kebutuhan anak-anakku, rahmi dengan sangat baik berkata bahwa dia rela menggunakan seluruh tabungannya untuk semua keperluan anak-anakku. Aku sangat bahagia, aku merasa aku telah menjatuhkan pilihan yang tepat dengan menikahi rahmi, aku semakin mempercayainya, kuserahkan semua urusan pengasuhan anak-anakku dan juga semua penghasilanku kepadanya.
Namun setelah beberapa lama entah kenapa aku sering mendengar keluhan dari anak-anakku tentang betapa jahatnya rahmi, tentang betapa kasarnya rahmi dan betapa pelitnya rahmi pada mereka. Awalnya aku curiga dan berniat mencari tau semuanya, namun saat kulihat kembali tak pernah ada luka sedikitpun di tubuh anak-anakku, mereka juga tidak menjadi kurus ataupun sering sakit-sakitan, mereka tetap sehat dan bersekolah. Bahkan setiap kali aku pulang makanan selalu tersaji di meja makan, yang kulihat hanya wajah teduh dan penuh kasih yang menyelimuti istriku. Tutur bahasanya baik, sehingga aku tak mengerti kenapa anak-anakku berkata seperti itu? Akhirnya aku menyimpulkan bahwa mereka hanya sedang merasakan perbedaan mengenai kasih sayang ibu sambung dengan ibu kandung mereka, dan itu mungkin membuat mereka merasa tidak puas yang pada akhirnya membuat mereka sering membangkang.
Setiap mendengar aduan dari anak-anakku, aku mengabaikannya, aku hanya menganggapnya sebagai kenakalan-kenakalan anak kecil karena memang tidak terbukti bahwa rahmi sejahat itu. Pasti tetangga-tetangga pun tidak akan diam jika melihat anak-anakku diperlakukan tidak baik oleh rahmi, mengingat selama ini mereka sangat perhatian kepada anak-anakku.
Aku menepis jauh-jauh rasa curigaku dan bahkan aku mulai marah ketika anak-anak sudah sangat sering mengadukan rahmi kepadaku, aku menganggap mereka anak yang membangkang, apalagi saat rahmi bercerita tentang bagaimana anak-anakku tidak menghormatinya dan bahkan berani mencuri uangnya, aku marah dan menumpahkan semua emosiku sampai kedua anakku aidil dan aini memutuskan untuk pergi dari rumah dan berhenti bersekolah.
Saat itu aku menantang mereka, sebenarnya aku hanya ingin memberi mereka pelajaran bahwa aku tidak akan segampang itu dihasut, aku tidak akan kalah oleh ancaman-ancaman mereka, kupikir mereka akan ketakutan dan meminta maaf, namun dengan lantangnya aini dan aidil berkata bahwa mereka akan berhenti bersekolah.
belakangan ketahui bahwa aidil dan aini memang sudah sering pergi dari rumah, mereka sering kabur ketika dimarahi oleh rahmi, itu membuatku semakin yakin bahwa yang bermasalah sebenarnya memang anak-anakku, mungkin mereka merasa tertekan karena harus menyesuaikan diri dengan keadaan, terlebih lagi dengan ibu sambung mereka yang tentunya akan berbeda cara mengasuhnya dengan ibu kandung mereka.
Pernah suatu ketika kakak iparku datang berkunjung dengan suaminya, hubungan kami memang tak terlalu baik, selain karena masalah dimasa lalu, juga karena kini adik mereka telah tiada, sesekali mereka memang menanyakan kabar melalui telepon, tapi tidak pernah datang kemari secara langsung, mungkin juga mereka merasa canggung dengan kehadiran istri baruku. Namun siang itu mereka datang dengan membawa banyak hadiah, sayangnya pada saat itu hanya aina yang ada dirumah, aini dan aidil pergi seperti biasanya.
Aku tidak banyak bercerita pada kakak iparku tentang situasi anak-anakku, aku tidak mau dianggap tak becus mengurus mereka, cukup aku saja yang tau dan akupun akan berusaha mengembalikan keadaan agar menjadi baik kembali seperti sediakala.
Setelah perbincangan panjang kakakku membuka pembicaraan
"aiman, maaf jika kami lancang, sebenarnya kami datang kemari bermaksud untuk meminta izinmu agar kami bisa mengadopsi aina, bukan kami tidak percaya padamu, kami hanya khawatir dan merasa kasihan pada istrimu, dia masih gadis tapi harus berusaha mengurus anak-anakmu yang masih kecil, kami ingin sedikit meringankan beban kalian, apalagi kami memang sangat menyayangi aina, kami juga masih belum dikarunia anak, kami sangat berharap kau bersedia mengizinkan aina untuk tinggal bersama kami, kami akan membiayai semua kebutuhannya termasuk sekolahnya, kami akan menyekolahkan aina disekolah terbaik dan menjadikannya anak yang baik" jelas kakak panjang.
Saat mendengar itu entah kenapa kepalaku mendidih, tanpa alasan yang jelas aku merasa tersinggung padahal aku tau niat mereka begitu baik. Tapi apa yang mereka pikirkan? Memisahkanku dengan anakku tepat setelah istriku meninggalkanku? Aku tak bisa berfikir jernih.
"maaf jika kalian tersinggung, tapi aku bisa mencukupi kebutuhan anak-anakku sendiri, rahmi juga mengurus anak-anakku dengan sangat baik, terimakasih untuk tawaran kalian, tapi tolong jangan pernah berfikir untuk memisahkan aku dengan anakku"
"bukan seperti itu maksud kami...." ucap kakakku bergegas menjelaskan. Namun segera kupotong kalimatnya.
"aku mengerti tapi aku tidak mengizinkan jadi segeralah pulang" pintaku dengan raut wajah menahan amarah.
Kulihat kekecewaan menyelimuti wajah mereka, melihat sikapku yang begitu dingin akhirnya mereka pun meminta maaf berkali-kali dan bergegas pulang. Sejak saat itu mereka berapa kali mencoba mengunjungi kami, khususnya aina, namun aku yang masih memendam amarah berusaha menjauhkan mereka dengan aina, aku tidak pernah mempertemukan mereka dengan anak-anakku dan akupun tidak pernah memberitahu anak-anakku tentang kedatangan mereka sehingga pada akhirnya mereka pun berhenti mengunjungi kami.
***
Aini dan Aidil jarang sekali berada di rumah, bahkan tiap kali pulang aku hampir tak pernah bertemu dengan mereka. Pernah suatu hari saat aku pulang mereka berada di rumah, aku berkata untuk apa mereka datang setelah pergi begitu lama. Lalu aina bercerita bahwa aini baru saja sembuh dari sakit setelah dirawat dirumah selama beberapa hari. Mendengar itu aku merasa terluka, akhirnya saat itu aku memohon pada mereka agar mereka kembali ke rumah ini, kembali bersekolah dan kembali hidup dengan baik. Tapi mereka menolak, kali ini mereka menolak dengan halus, mereka memohon agar aku mengizinkan mereka untuk tetap hidup diluar sana, karena mereka sudah memiliki keluarga dan lingkungan baru yang nyaman untuk mereka tinggali. Mereka bilang akan pulang dan mengunjungi kami sesekali, aku yang saat itu melihat sikap baik mereka menjadi percaya bahwa anak-anakku benar baik-baik saja, kufikir tak ada yang perlu kukhawatirkan, lagipula aku hanya bisa mengizinkan, karena sejak awal akulah yang membuat mereka seperti ini, akan sangat egois jika saat ini aku mengganggu lagi kenyamanan mereka, aku takut jika aku terlalu mengekang mereka justru akan pergi lebih jauh lagi.
Aini dan aidil memiliki sifat keras kepala dan jika mereka sudah menginginkan suatu hal maka mereka akan tetap pada pendiriannya. Aku bukannya tidak ingin anak-anakku kembali bersekolah dan menjadi manusia yang sukses, tapi apalagi yang bisa kulakukan jika mereka saja sudah tidak memiliki minat untuk bersekolah? hanya aina yang tetap berada di rumah ini bersama istriku dan tetap bersekolah. Kupikir setidaknya mereka hidup bahagia walau dengan pilihan mereka masing-masing, aku mengakui aku tidak becus sebagai seorang ayah, penghasilanku kecil dan aku tidak bisa membimbing anak-anakku untuk hidup lebih baik.
Aku berdoa suatu saat nanti anak-anakku akan menerima rahmi sebagai ibu mereka, aku pun berdoa agar kami dapat berkumpul seperti sebuah keluarga utuh yang harmonis, namun untuk saat ini aku hanya berharap agar di manapun anak-anakku berada Tuhan selalu menyertai dan melindungi mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments