Aku aina, aku seorang anak perempuan yang kini berusia 8 tahun, sudah 2 tahun sejak kepergian mendiang ibu, dan sudah 1 tahun sejak aku tinggal bersama ibu tiriku. Di usiaku saat ini aku dipaksa hidup keras layaknya orang dewasa, masa kecilku hilang, namun dengan tubuh mungil ini aku tak bisa berbuat banyak selain tetap patuh dan bergantung pada ibu tiriku yang begitu kejam. Tak ada tempat untukku pergi, tak ada lagi tempatku mengadu, bahkan ketika ayahku masih berada disampingku.
Kedua kakakku terlalu banyak memberontak, mereka tak sepatuh aku sehingga penderitaan yang mereka rasakanpun jauh lebih banyak daripada aku, mereka bahkan tidak lagi diizinkan untuk bersekolah. Akupun sebenarnya sangat ingin memberontak dan pergi seperti mereka, tapi aku lebih takut dengan dunia luar yang belum pernah aku ketahui sebelumnya.
***
"AINAAA"
Disuatu siang yang begitu terik ibu Rahmi memanggilku dengan lantangnya, aku yang sedang bermain lompat tali dengan teman-temanku bergegas menghampiri, aku sangat takut dan berfikir apakah aku telah berbuat salah, apakah aku telah membuatnya marah?
"aina, pergi beli beras sana! Sudah dipanggil berkali-kali pura-pura tidak mendengar!" ucap ibu Rahmi dengan nada jengkel.
"beli ditempat langgananku, ini uangnya" ucap ibu rahmi lagi sambil memberikan gulungan uang yang diikat karet padaku.
Ibu Rahmi memintaku membeli 5 kilo beras ditempat langganannya, lokasinya sangat jauh dari rumah dan aku harus pergi berjalan kaki, tidak diberi uang lebih bahkan ongkos untuk sekedar naik angkutan umum. Perlu 1 jam berjalan kaki menuju tempat itu, melewati jalanan kecil, pesawahan, jalan raya bahkan melewati rel kereta api, tapi hal itu sudah biasa bagiku.
Aku pamit kepada kawan-kawanku, mereka hanya menggerutu karena aku selalu pergi ditengah-tengah permainan, aku tidak pernah bisa bermain layaknya anak-anak seperti mereka, banyak tugas rumah yang harus aku selesaikan sepulang sekolah, aku harus mencuci piring, mencuci baju, menyapu dan mengepel seluruh rumah. Lalu ketika selesai dengan tumpukan pekerjaan rumah, aku masih harus menerima perintah-perintah lainnya dari ibu tiriku.
Aku berjalan sendiri, kaki-kaki kecilku dipaksa kuat ditengah teriknya matahari, jari-jari kecilkupun dipaksa kuat menopang berat beras yang tengah kubawa. Bulir-bulir keringat mengucur didahiku, punggungku mulai basah dan mataku rasanya berkunang-kunang. Tapi aku harus segera pulang kalau tidak ingin ibu tiriku semakin marah karena jalanku yang lambat ini.
Kemudian ditengah perjalanan pulang saat melewati pesawahan aku melihat keong-keong kecil dikubangan lumpur, aku juga melihat beberapa tanaman kecil yang dulu sering dimasak oleh ibuku semasa beliau masih hidup. Aku berjingkrak kegirangan, aku bergegas menyimpan beras yang kubawa dipinggir sawah, melepas sandal lapuk yang kukenakan, lalu berjalan ketengah sawah yang penuh lumpur untuk mengambil keong dan tanaman itu dan memasukkannya ke kantong plastik yang kubawa, berharap kedua kakakku akan pulang hari ini dan memasaknya untuk makan siangku.
Setelah semuanya kudapatkan, aku segera bergegas mencuci kaki disungai kecil yang mengaliri sawah, namun saat hendak mengambil kembali beras yang kusimpan, aku terpekik dan gemetar, aku benar-benar panik dan ketakutan, kantong plastik yang menampung beras itu telah sobek dan semua beras berhamburan kedalam sawah, jantungku berdegup sangat keras, keringat semakin bercucuran dan badanku seketika menjadi dingin, semua beras yang kubawa masuk kedalam lumpur, tak ada yang tersisa, tak ada orang yang bisa kumintai tolong, aku hanya bisa menangis kencang ditengah pesawahan seorang diri, membayangkan hukuman apa yang akan diberikan oleh ibu tiriku dihari itu.
Menjelang malam aku baru sampai kerumah, aku tidak berani pulang setelah kejadian itu, aku merenung begitu lama, namun lagi-lagi aku sadar bahwa tidak ada lagi tempat untukku didunia ini. Aku memaksakan diri untuk pulang. Dengan mata sayu dan sembab aku menjelaskan pada ibu tiriku semua kejadian yang kualami sambil terbata-bata melawan rasa takutku, sambil memberikan sekantong keong dan tanaman hijau yang tadi sempat kupetik, berharap dengan sedikit buah tangan ini ibu tiriku akan memaafkanku.
"dasar anak bodoh! Anak tidak berguna! Kau hidup benar-benar hanya menyusahkan saja! kenapa kau tidak pergi saja bersama ibumu itu! kerjamu hanya menghabiskan uangku! Pergi kau dari hadapanku! Jangan harap ada makan malam untukmu!" teriak ibu Rahmi padaku dengan tatapan benci dan amarah yang meledak-ledak.
Tidak ada sedikitpun belas kasihan darinya untukku, aku dicaci maki dan dibiarkan tidur tanpa mendapatkan sedikitpun makanan. Aku tidur dalam keadaan sangat lapar dan lelah, ibu tiriku menghukumku dengan rasa lapar.
***
Keesokan harinya kedua kakakku pulang, mereka selalu pergi dan pulang sesuka hati, mereka tinggal dimanapun mereka ingin, namun mereka sering kelaparan dan kehausan sehingga sesekali terpaksa harus pulang. Rasanya ingin sekali berbagi keluh kesah dan rasa sedih yang seringkali kualami, namun rasanya percuma, hanya akan menambah beban dihati dan fikiran mereka, biarlah yang mereka tau aku diperlakukan cukup baik dengan kepatuhanku. Ibu tiriku sudah sangat membenci mereka, sehingga ketika mereka datang tak ada tempat untuk mereka bersantai melepas lelah, tak ada tempat untuk kami bercengkrama berbagi kisah, bahkan semua makanan yang ada dirumah disimpan didalam kamarnya dan dikunci sedemikian rupa agar kedua kakakku tak bisa makan dan merasakan lapar yang tidak tertahankan.
Kemudian saat malam hari, walaupun dengan kondisi kemarahan ibu tiriku yang tidak kunjung mereda, aku memaksakan diri untuk memohon padanya agar aku bisa ikut hadir dalam acara pesta yang diadakan oleh sahabatku esok hari, aku memohon agar ibu tiriku mau membelikan sebuah kado yang akan aku berikan kepada sahabatku dipestanya nanti.
"bu, aku mohon, tolong izinkan aku pergi ke pesta kawanku, tolong beri aku uang untuk membeli kado, aku sangat ingin datang dan mengucapkan selamat padanya" aku memohon dan berlutut, aku menangis berharap ibu tiriku bersedia memberiku beberapa rupiah saja.
Beberapa kali ibu tiriku menolak dan memakiku dengan kata-kata yang begitu kejam, ia tidak pernah memukulku, ia tidak pernah menyakitiku secara fisik, namun mental kamilah yang menjadi sasarannya.
Malam sudah semakin larut, namun aku tidak menyerah untuk terus merayu ibu tiriku agar ia bersedia membelikan satu saja kado untukku. mungkin karena merasa muak dengan rengekanku akhirnya dia berkata YA, dia berkata akan membelikannya untukku esok hari sebelum pestanya dimulai. Aku sangat bahagia karena ibu tiriku akhirnya memiliki belas kasih padaku.
***
Keesokan harinya tibalah pesta ulang tahun sahabatku, seperti yang telah dijanjikan, ibu tiriku memberikan sebuah kado yang telah terbungkus rapi untuk kuberikan kepada sahabatku sebagai hadiah.
Hari itu aku dan teman-temanku bersenang-senang, kami berpesta ditaman rumah sahabatku, hiasan balon berwarna warni terlihat begitu indah, hiasan bunga dan hiasan-hiasan lain khas pesta ulang tahun terlihat menakajubkan dimataku, aku seperti ada di negri dongeng, dongeng yang sering diceritakan ibuku saat beliau masih ada didunia ini. berbagai macam makanan tersaji dimeja kecil yang berwarna warni, banyak kue lucu yang rasanya sangat lezat, aku makan sampai perutku benar-benar kenyang.
Kami bernyanyi, menari dan menerima hadiah uang dan makanan, aku sangat bersyukur sekali dan berfikir untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu tiriku ketika pulang nanti, akan kucium kakinya dan akan kukerjakan semua pekerjaan rumah sebagai tanda terimakasihku.
Menjelang sore hanya tersisa aku dan beberapa teman dekat saja dilokasi ulang tahun itu, termasuk sahabatku yang sedang berulang tahun tentunya, dia meminta kami untuk membantunya membuka semua kado yang ia dapatkan, disampingnya duduk kedua orangtuanya dengan wajah bangga dan bahagia. Mereka begitu ramah, mereka membiarkan kami membuka kado satu per satu hingga tibalah waktunya membuka kado pemberianku.
Semua mata seolah tak percaya, aku terkejut dan malu ketika isi kado yang kuberikan hanyalah sebuah rautan pensil kecil dengan harga yang masih tertempel jelas lima ratus rupiah, aku malu, aku mengutuk ibu tiriku dalam hati, ketika ibu-ibu lain menyiapkan kado terbaik, ibu tiriku malah menyiapkan kado yang benar-benar membuatku malu, aku menangis sejadi-jadinya, aku berteriak dan tersungkur ditanah.
Beberapa menit berlalu, tangisku mulai berhenti, aku mengangkat kepalaku dengan ragu, kukira teman-temanku marah dan meninggalkanku, tapi saat kusapukan pandanganku, kulihat kawanku dan kedua orangtuanya menangis tersedu-sedu, ternyata mereka sedang memberiku waktu melampiaskan amarah dan rasa sakitku. Sang ayah menghampiriku dan membantuku untuk berdiri, disusul sang ibu dan kawan-kawanku datang untuk memelukku.
"sayang, ibu tau bagaimana jahatnya ibu sambungmu, ibu tau bagaimana menderitanya kau di usiamu yang begitu muda ini" lirihnya sambil menangis berlutut mengelus pipi dan rambutku.
"sebenarnya ibu selalu menawarkan bantuan pada ibu tirimu, ibu selalu ingin membelikanmu sesuatu untuk kau gunakan, tapi ibumu selalu marah dan menolak semua pemberianku" isaknya.
"aina, pintu rumah kami selalu terbuka untukmu, datanglah pada kami setiap kali kau merasa kesepian, datanglah pada kami setiap kali kau menderita, datanglah pada kami saat kau merasa lapar, ajak kakak-kakakmu, tapi ingat jangan sampai ayah dan ibu tirimu mengetahuinya, datanglah tanpa diketahui oleh mereka" lanjut beliau seraya memelukku dengan sangat erat.
sejak saat itu mereka menjadi sandaran hidupku, aku akan datang ketika aku merasa lapar, dan aku akan datang ketika aku ingin membersihkan diriku dengan baik layaknya teman-temanku. Dan terkadang meski malu aku memaksakan diri meminta makanan lebih untuk kusimpan dan kumakan bersama kakak-kakakku ketika mereka datang. Sayang nasib kakak-kakakku tak seberuntung aku, mereka masih dengan pemberontakan mereka dan aku tidak pernah tau dimana saja mereka tinggal, kadang mereka datang dan kadang mereka menghilang begitu lama sampai makanan-makanan yang kusimpan untuk mereka menjadi basi.
Tuhan, aku bersyukur, meski dengan segala kepedihan yang kualami, aku masih memiliki hati yang hangat untuk kusinggahi.
***
2 minggu berlalu sejak pesta ulang tahun sahabatku, tiba-tiba kerabat jauhku datang, ayahku sedang ada dirumah, untuk pertama kalinya kami bercengkrama layaknya sebuah keluarga, tepatnya berpura-pura bercengkrama.
Aku tidak pernah bertemu dan tidak mengenali siapa suami istri yang datang itu, yang kulihat mereka adalah orang-orang yang sangat ramah dengan pakaian yang begitu indah, mereka datang mengendarai sebuah mobil mewah yang sangat berkilau.
Setelah bercengkrama beberapa lama mereka akhirnya mengenalkan diri padaku secara langsung, mereka berkata bahwa mereka adalah kakak dari mendiang ibuku, mereka tinggal ditempat yang cukup jauh dari rumah kami, mereka begitu ramah, mereka mengusap kepalaku dan memberiku banyak hadiah, aku sangat senang dan merasa bahwa ibuku ada disampingku.
setelah bertamu cukup lama mereka menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang kerumah ini, mereka berkata bahwa mereka ingin mengadopsiku, mereka tidak kunjung memiliki anak dan sudah sejak lama berencana untuk mengadopsiku karena khawatir istri baru ayah kewalahan mengurus tiga anak sekaligus. Mendengar itu aku benar-benar ingin menangis haru, aku merasa yakin akan segera memiliki sebuah keluarga yang benar-benar sayang padaku, aku yakin ayah dan ibu tiriku akan mengizikan mengingat selama ini mereka seolah tak menginginkan aku. Tapi sayangnya permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh ayahku, ayahku menolak dengan sangat marah dan berkata bahwa ibu tiriku cukup baik dalam membesarkan anak-anaknya.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi melihat mereka datang menjengukku. Kufikir mereka pasti sakit hati dengan perkataan ayahku, pupuslah sudah satu-satunya harapanku hidup bahagia didunia ini.
Belakangan kuketahui bahwa mereka adalah keluarga yang baik, namun hubungan mereka dengan ayah tak begitu baik, mereka pernah bertengkar hebat hingga saling berhenti memberi kabar. Terlebih lagi setelah ibuku meninggal. Kemudian kuketahui juga bahwa setelah hari itu mereka beberapa kali datang mengunjungiku namun ayah dan ibu tiriku tidak pernah mempertemukan mereka dengan aku, aku bahkan tidak pernah tau kapan dan seberapa sering mereka berusaha untuk menemuiku. Sungguh dunia tak pernah berpihak pada hidupku..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Matsuri :v
Romantis banget!
2023-07-31
1
Camila Llajaruna Cornejo
cerita ini bener-bener bikin gemas, pengen cepet-cepet nggak bahagia tapi tetep nggak mau berhenti baca🙈
2023-07-31
1