Ikhlas

"aina, aini, aidil sepertinya ini waktu yang tepat untuk ibu membagikan harta warisan orangtua kalian"

Disuatu malam ibu tiba-tiba membicarakan tentang harta warisan yang ditinggalkan oleh orangtua kami. Saat itu aku sedang menginap dan makan malam dirumah ibu, hari itu aku menghabiskan waktu bersama ibu, zidan, kak aini dan juga kak aidil. Kami pergi ke taman bermain bersama, kami menikmati waktu istimewa kami sejak pagi hingga malam.

"ibu, mengapa tiba-tiba kau membicarakan ini?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

"sebenarnya sudah sangat lama ibu ingin membahas ini, tapi ibu menunggu waktu yang tepat, sudah terlalu lama ibu menahan harta milik kalian, maafkan ibu"

Mendengar penjelasan ibu, aku dan kak aini saling bertatapan, tanpa aba-aba tiba-tiba saja ibu membicarakan hal sepenting ini hingga membuat kami bingung harus menjawab apa.

"bu, ibu sudah melihat sendiri bagaimana kehidupanku saat ini, untuk bagianku aku ikhlaskan semuanya untuk ibu, ibu kini harus merawat zidan, dan zidan adalah adik kandungku, sebagai seorang anak sekaligus seorang kakak, aku berharap kalian hidup bahagia, dan tolong diingat, jangan pernah merasa enggan untuk meminta bantuanku kapanpun ibu membutuhkannya"

Saat ini aku sudah merasa lebih dari cukup, aku tak mengharapkan apapun lagi, apalagi sekedar harta peninggalan orangtuaku, bagiku berkumpulnya kembali keluarga kami adalah suatu hal yang paling berharga.

"bu, untuk bagianku juga aku mengikhlaskan semuanya untuk ibu, berkat aina saat ini aku sudah mampu menghidupi diriku sendiri, hidupku sudah sangat baik, aku berharap ibu dan zidan hidup bahagia, aku juga berharap ibu bersedia membantu kami untuk terus merawat kak aidil, tanpa ibu kami tak akan bisa melakukan apapun" ucap kak aini melanjutkan perkataanku.

Seketika ibu meneteskan air mata memandangi kami satu per satu.

"itu tidak benar aini, kalian kuat bahkan tanpa adanya ibu, ibu bukanlah siapa-siapa tanpa kelembutan hati kalian, tapi sungguh aina, aini, kalianlah yang paling berhak atas segala yang ada dirumah ini, bukan ibu ataupun zidan.." ucap ibu menahan tangisnya.

"ibu.. Kami menerima semua harta warisan orangtua kami dengan senang hati.. Tapi kami memutuskan untuk memberikan semuanya untuk zidan, tolong terimalah dan besarkan zidan dengan baik, jadikan ia pria yang baik" jawabku.

"namun bu, untuk bagian kak aidil kami juga tidak bisa memutuskan, kami akan selalu membantu terkait perawatan kak aidil, suatu hari jika waktunya telah tiba kak aidil yang akan memutuskan akan mengambil warisannya atau tidak, meski jumlahnya tak seberapa tetap kak aidil harus tau terlebih dahulu, oleh sebab itu kami menitipkan semuanya kepada ibu sampai kak aidil sembuh" lanjut kak aini kepada ibu.

"tentu saja, tentu ibu akan menjaga semuanya dengan baik, apalagi kalian, kalian adalah peninggalan terbaik dari suamiku, aku bersyukur telah bertemu dan mencintainya, aku tidak pernah tahu bahwa memiliki keluarga akan sebahagia ini, terimakasih untuk segalanya, ibu akan selalu berdoa untuk kalian" jawab ibu dengan air mata haru. Sementara kak aidil hanya menatap kami dengan wajah sedih, seolah berkata bahwa ia memahami perasaan kami semua.

Setelah percakapan yang menguras emosi itu kamipun segera melanjutkan makan malam kami. Kami kembali bercengkrama, kami sangat menikmati kebahagiaan kami saat ini, terutama kak aidil, ia terus menerus bermain dan bersenda gurau dengan zidan, aku dan kak aini beberapa kali terpaku ketika melihat zidan dan kak aidil bersama, wajah kak aidil yang begitu mirip dengan mendiang ibu, sedangkan wajah zidan yang sangat mirip dengan mendiang ayah. Rasanya kami seperti melihat ayah dan ibu dihadapan kami.

***

Selama ini aku dan kak aini selalu memberikan uang bulanan kepada ibu, uang untuk keperluan ibu, zidan dan juga kak aidil. awalnya ibu selalu menolak, ibu bersikeras untuk bekerja menjadi seorang buruh cuci, menurutnya penghasilannya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan zidan dan kak aidil. Ibu seringkali berkata tak ingin merepotkan kami, tapi bagaimana bisa kami membiarkannya begitu saja, sedangkan zidan sedang diusia dimana dia sangat membutuhkan sosok seorang ibu untuk terus berada disisinya.

Beberapa kali ibu mengembalikan uang pemberian aku dan kak aini, pernah suatu kali ibu memberiku segepok uang yang ternyata jumlahnya sama dengan jumlah yang kuberikan kepada ibu selama 3 bulan, ternyata selama 3 bulan itu ibu sama sekali tak memakai uang pemberianku, saat kutanya bagaimana dia mencukupi kebutuhannya ibu hanya berkata bahwa ia memiliki uang yang dia hasilkan sendiri, saat itu aku memarahinya, aku lepas kendali hingga berteriak kepadanya.

"apa yang ibu pikirkan? Apakah ibu masih membenciku sehingga enggan menggunakan segala pemberianku? Apa ibu berpikir untuk pergi bekerja dan sibuk diluar sana? Apa ibu berpikir untuk mengabaikan kebutuhan zidan yang masih sangat kecil?" teriakku kala itu.

Namun ibu hanya menangis, ibu berkata bahwa ia merasa sangat malu menerima semua kebaikanku setelah semua kejahatan yang pernah ia lakukan, ia terus menerus berpikir untuk mendapatkan hukuman atas kejahatannya dimasa lalu, ia selalu berpikir untuk hidup menderita dan pergi dari kehidupanku untuk menebus masa lalunya. Ibu berpikir bahwa ia tak layak berada disisiku yang kini telah berbahagia. Begitu keras usahaku untuk meyakinkan dirinya bahwa kini semuanya telah berubah. Aku tak henti memohon padanya agar kami bisa berkumpul sebagai sebenar-benarnya keluarga, hingga akhirnya ibu berhenti menyalahkan dan menghukum dirinya sendiri.

Hidup kami kini telah bahagia, meski ditengah kebahagiaan kami, kami masih harus terus berjuang menyembuhkan kak aidil, yang entah karena apa kejiwaannya kini telah terganggu. Kondisinya sudah tak begitu memprihatinkan seperti dulu, hanya diwaktu-waktu tertentu saja kak aidil kambuh meraung-raung dan berteriak. Beberapa kali kak aidil mengamuk sambil menyebut nyebut nama ayah, dan yang mengejutkan kini terkadang kak aidil menyebutkan sebuah nama asing yang tak pernah kami dengar sebelumnya. Dengan berbekal hal tersebut ryan membantuku untuk mencari tahu apa penyebab kakak menjadi seperti ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!