Pertemuan dan perpisahan

Aku Aina, usiaku sebentar lagi 15 tahun, lalu aku akan lulus SMP. Harapanku adalah aku dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak, menghidupi diriku dengan layak dan juga membahagiakan kedua kakakku. Namun sayang sepertinya harapan itu harus kubuang jauh-jauh karena sepertinya rahmi ibu tiriku, sudah benar-benar muak dengan kehadiranku.

Rahmi ingin aku segera menikah untuk mengurangi beban hidupnya, sebenarnya aku bisa saja bekerja dan menghasilkan uang untukku sendiri, lalu melanjutkan sekolah semampuku, tapi kurasa itu bukanlah jalan keluar yang tepat, karena kalaupun aku menghasilkan uang, aku yakin rahmi tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Pikiranku benar-benar buntu, aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana selain pasrah menghadapi kenyataan, entah aku harus pergi dari rumah dan hidup di jalanan seperti kedua kakakku, atau mungkin aku akan menikahi pria kaya seperti yang rahmi harapkan. Yang bisa kulakukan saat ini hanya bisa menunggu nasib baik menghampiriku.

disaat pikiranku berkecamuk seperti saat ini aku selalu mengharapkan kedua kakakku datang mengunjungiku, rasanya aku ingin menumpahkan semua emosiku kepada mereka. Aku ingin bercerita mengeluarkan segala unek-unek yang selama ini kupendam sendiri, namun entah kenapa selama beberapa bulan terakhir aku tidak pernah dikunjungi oleh kakakku. Awalnya kupikir mereka hanya sedang bersenang-senang di luar sana, namun setelah sekian lama aku mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka? Kenapa mereka tak lagi rutin mengunjungiku seperti biasanya?

Terakhir kali kakakku datang mereka bercerita tentang rahmi yang dulu pernah memukul kak aidil dengan sebuah balok. Kak aini sepertinya sudah tahu lebih dulu tentang hal itu, mungkin mereka banyak bercerita disepanjang perjalanan mereka, dan kini mereka berdua bercerita kepadaku. Mengenang hal itu kami bertiga menangis, kembali mengingat masa kecil kami yang begitu menyedihkan.

Setelah itu kakakku tak pernah datang lagi berkunjung, berapa kali aku pergi cukup jauh dari rumah untuk mencari keberadaan mereka, aku menelusuri rel rel kereta api, pesawahan hingga ke desa-desa tetangga. Aku berharap aku menemui mereka baik-baik saja. Aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi karena mereka biasanya mendatangiku setiap minggunya, mereka memang pernah tidak mendatangiku selama satu bulan, tapi sebelumnya mereka akan mengabariku, mereka biasanya pergi ke tempat yang cukup jauh, tapi kali ini sudah lebih dari 3 bulan mereka tidak datang dan tidak memberi kabar sama sekali, padahal dimasa krisisku saat ini aku membutuhkan sosok mereka sebagai satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesahku.

***

Sementara pikiranku kalut dengan berbagai hal, ryan masih tetap dengan pendiriannya, dia terus-menerus mencoba menemuiku, namun aku dengan keras hati terus menolak dan mengusirnya setiap kali dia menemukanku.

Aku mengatakan padanya bahwa tak ada masa depan untuk kami berdua, kami berdua hanyalah anak-anak, walau bertarung dengan sengit pada akhirnya kami tetap akan kalah. Terlebih lagi hatiku masih sakit dan di benakku tetap ryan lah yang bersalah atas semua kejadian yang menimpaku kini.

Andai saja saat itu dia tidak terlalu berani dan sok tahu, karena tanpa seizinku dia telah banyak berbicara kepada rahmi. Terkadang aku sangat amat membencinya hingga aku benar-benar merasa muak dengan segala upayanya. Namun terkadang aku juga merindukannya, karena memang tak dipungkiri dia begitu lembut padaku, dia begitu baik dan sabar, dia mengayomi bagaikan seorang keluarga.

Rasanya aku berada dipuncak penderitaanku, sudah dimaki-maki oleh ibu tiriku, dilarang melanjutkan sekolah, terus-menerus dihantui oleh bayangan ryan dan bahkan kini kedua kakakku menghilang tanpa jejak, sementara ayah makin sibuk dengan pekerjaannya.

Ayahku mendapatkan promosi di pabriknya, tentu saja itu kabar baik bagi kami yang tinggal di rumah ini karena kualitas hidup kamipun menjadi semakin baik dalam segi materi, namun hal itu juga menjadi penderitaan untukku karena kini semakin jarang ayahku hadir dalam kehidupanku.

Suatu ketika ayahku pulang, aku mengajaknya berbincang-bincang dan bertanya "Apa pendapat ayah jika aku ingin melanjutkan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi?"

Kemudian ayah berkata bahwa dia akan mendukung apapun keputusanku, kemudian aku memberanikan diri bertanya lagi "Bagaimana kalau ibu rahmi keberatan?"

Selama ini aku tidak pernah berani lagi mengungkit apapun tentang kejahatan rahmi padaku, aku takut ayahku akan semakin membenciku dan menyalahkanku, aku sudah tak memiliki tempat untuk kembali jika sampai ayah mengusirku. Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja ketika ayah pulang, aku berusaha meyakinkan bahwa aku dan rahmi baik-baik saja hanya demi agar ayah percaya bahwa aku telah dewasa dan mandiri. Sehingga ayah bersedia mempercayakan semua kebutuhanku untuk kuatur sendiri. Aku selalu berusaha tak melakukan kesalahan agar rencana indah yang sudah kususun berjalan dengan baik. Tapi sepertinya rencana tinggallah rencana.

"memangnya kapan ibumu berkata bahwa dia keberatan?" tanya ayah padaku.

"tidak, ibu tidak bilang begitu, hanya saja ibu pernah bercerita kalau pada akhirnya perempuan itu hanya akan mengurus suami dan anak-anak mereka, sama seperti ibu saat ini" jelasku hati-hati.

"perkataan ibumu tidak benar, memang pada akhirnya seorang wanita itu akan tinggal di rumah bersama suami dan anak-anaknya, tapi tetap pendidikan itu perlu, ayah ingin kau menjadi anak yang memiliki masa depan, tidak seperti ayah" jawab ayah sambil tersenyum kecil.

"Sebenarnya tempo hari ibu bilang agar aku tidak melanjutkan sekolahku ke SMA, dia menyarankanku untuk menikahi ryan, ayah tau ryan bukan?" tanyaku lagi.

"Oh ya, ayah lupa.. ayah sangat ingin bertemu dengan ryan, ibumu banyak bercerita kepada ayah, katanya selama ini kau punya teman laki-laki yang sangat baik, kenapa kau tidak pernah mengenalkannya pada ayah? Apakah dia seseorang yang spesial bagimu?" ayah mencecarku dengan banyak pertanyaan, ayah sangat bersemangat ketika membicarakan ryan, entah apa yang ada dalam pikiran ayah saat itu, mengingat sebenarnya usiaku bukan usia yang tepat untuk membicarakan hal semacam itu.

"Ryan itu hanya temanku ayah, dia seperti kak aidil bagiku, dia memang sangat baik, dia juga kaya tidak seperti kita, mungkin ibu menaruh harapan terlalu besar padaku, ibu mengira ryan menyukaiku sampai-sampai ibu memberi saran agar kami menikah saja, padahal ryan pun baru akan lulus SMA tahun ini" ucapku sedikit menggerutu.

"Tapi memang jodoh itu tidak ada yang tahu nak, kita mungkin bercita-cita tapi tetap tuhanlah yang menentukan semuanya, jika memang ada pria baik yang meminangmu kenapa ayah harus menentang? selama kau setuju tentu saja ayah akan ikut senang, ayah mana yang tidak bahagia melihat anaknya bersama pria yang tepat?" ujar ayah.

"Tapi usiaku masih kecil ayah, aku bahkan tidak berpikir untuk berpacaran, bagaimana mungkin aku ingin menikah?" jawabku sedikit ketus.

"Itu hanya berandai-andai saja" sanggah ayah.

"Tapi yah, bagaimana kalau seandainya ibu rahmi tidak mengizinkanku untuk melanjutkan sekolah? Apa yang akan ayah lakukan?"

Mendapat pertanyaan seperti itu ayah hanya terdiam, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sehingga aku menyimpulkan mungkin kali ini pun ayah akan kembali memihak ibu tiriku. Sakit rasanya, lagi-lagi untuk hal sepenting ini ayah tidak bisa mengambil keputusan.

"Ngomong-ngomong bagaimana dengan aini dan aidil? Kapan terakhir kali mereka datang?" Tanya ayah mengalihkan pembicaraan.

"Kebetulan sekali aku juga ingin menceritakan ini kepada ayah, sudah 3 bulan kak aidil dan kak aini tidak datang, aku sudah berusaha mencari mereka, aku sangat khawatir, kira-kira mereka kemana ya"

"Mereka tidak mengabarimu sama sekali?"

"tidak"

"Saat terakhir bertemu apakah mereka baik-baik saja?"

"ya"

"Sebelumnya juga mereka pernah seperti itu bukan? dan saat kembali mereka bilang mereka hanya pergi ke tempat yang cukup jauh untuk berjalan-jalan, bukan begitu? mungkin kali ini pun mereka seperti itu" ucap ayah mencoba menenangkan.

"Tapi ini sudah terlalu lama yah" aku mulai merajuk karena kesal.

"Yahhhhh, apalagi yang bisa kita lakukan? Itu keinginan mereka sendiri, tak bisa diganggu gugat, kau pun tau bukan? Ayah sibuk bekerja, ibu juga tidak mungkin mencari kedua kakakmu, ibu bahkan sangat jarang keluar rumah, tidak tau banyak tentang jalan, apalagi kau, kau juga tidak mungkin pergi dari rumah ini terlalu jauh" jelas ayah, tak terlihat kekhawatiran sedikitpun dimatanya.

"Apa tidak sebaiknya kita melapor polisi saja yah?"

"Kita bahkan tidak tahu kemana mereka pergi, lagipula mereka bukan hilang aina, mereka sengaja pergi dari rumah, kalau kita melaporkan pun, apa yang harus kita laporkan? mengingat selama ini mereka memang tidak pernah ada di rumah, lagipula bagaimana jika mereka sedang pergi bersenang-senang? kita akan sangat malu, dan lagi mencari mereka itu membutuhkan biaya yang cukup besar" ayah menegaskan kembali agar aku tak perlu khawatir.

"kenapa ayah mengkhawatirkan biaya dan lainnya? Apakah mereka tidak lebih penting dari itu? ayah sekarang sudah naik jabatan bukan? panghasilan ayah sudah lebih dari cukup" aku mulai kesal padanya.

"Tapi kebutuhan kita juga semakin besar aina, kau sekolah.. memang penghasilan ayah meningkat, tapi bukan berarti sudah sangat besar, kita hanya bisa bersabar untuk saat ini, diwaktu yang tepat nanti ayah juga pasti akan mengambil tindakan untuk mencari tahu dimana keberadaan kakak-kakakmu"

***

Satu bulan berlalu sejak percakapan menjengkelkanku dengan ayah. Hari kelulusanku kini telah tiba, sampai saat aku sudah resmi tidak lagi menjadi siswi SMP, rahmi tetap dengan pendiriannya tidak mau menyekolahkanku ke jenjang SMA. Ayahku kemudian bertanya padaku kenapa aku tidak mau melanjutkan sekolah SMA? karena laporan yang diterima oleh ayahku adalah aku yang tidak mau sekolah, bukan ibu yang melarang. Saat itu rahmi berada dikamarnya, ayahku yang baru saja keluar dari kamar itu langsung menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkanku.

Lagi-lagi tanpa mencari pembenaran terlebih dahulu ia hendak menyalahkanku, aku yang merasa muak akhirnya marah.

"Ayah, biar kuceritakan semuanya, segala sesuatu yang anak-anak ayah alami sejak kami kecil sampai saat ini, apa ayah mau mendengarkan? kalau ayah tidak mendengarkan aku akan pergi sekarang juga, dan aku tidak akan kembali ke rumah ini sama seperti kak aini dan kak aidil" ucapku dengan wajah marah penuh kebencian, dimataku kini ayah hanyalah musuh baruku.

"apa yang kau katakan aina? Kenapa kau bicara seperti itu? kapan ayah tidak mendengarkanmu?" cecar ayah terheran-heran dengan perubahan sikapku.

"AYAH BERTANYA KAPAN AYAH TIDAK MENDENGARKANKU? AYAH BAHKAN TIDAK PERNAH MENDENGARKAN KAMI SEMUA SEJAK KAMI KECIL!!! APAPUN YANG KAMI KATAKAN AYAH TIDAK PERNAH MEMPERCAYAINYA!! SETELAH BELASAN TAHUN BERLALU APAKAH AYAH MASIH TIDAK SADAR?!!!" Teriakku saat itu, amarahku benar-benar meledak, sampai aku tak kuasa lagi menahannya.

Malam itu aku meminta ayah untuk memanggil rahmi agar berkumpul bersama kami, aku akan menceritakan segalanya dihadapan rahmi, aku ingin tahu bagaimana reaksinya, dan pembelaan seperti apa lagi yang akan ia rencanakan. Ayah yang begitu kaget melihatku tak terkendali hanya bisa tertegun tak percaya, ia akhirnya memanggil rahmi dan memintanya untuk duduk bersama kami.

Rahmi yang melihat raut wajahku mulai paham apa yang sebenarnya akan terjadi, dia terus memelototiku berusaha membuatku takut dan mengurungkan niatku, namun aku yang sudah muak dengan semua kebohongannya tak merasa gentar sama sekali.

Akhirnya dihadapan mereka berdua aku mulai bercerita panjang lebar, aku menceritakan bagaimana menderitanya aku dan kedua kakakku, aku menceritakan apa yang terjadi pada kami hingga akhirnya kedua kakakku memutuskan berhenti sekolah dan pergi dari rumah, aku bercerita bagaimana kehidupanku di rumah ini sejak aku kecil hingga saat ini, aku berkata bahwa bagi rahmi aku hanyalah seorang pembantu. Saat itu, tak ada satupun kepedihan yang tak kuceritakan pada ayah, semuanya keluar dari mulutku dengan lancar, karena semua bayangan kepedihan itu terukir jelas didalam hati kecilku.

Rahmi beberapa kali mencoba menyangkal, kemudian aku menantangnya untuk mencari kedua kakakku dan juga mengumpulkan semua tetangga kami untuk menjadi saksi kekejamannya. Ditantang seperti itu akhirnya dia pun hanya diam, dia tak lagi bisa menyangkal, sedangkan ayah hanya terperangah tak percaya, ayah tidak menyangka keluarga yang selama ini ia anggap harmonis ternyata mengandung racun yang mematikan.

Ayahku murka, dia membentak dan berteriak mencari pembenaran pada rahmi, sedangkan rahmi hanya menangis ketakutan karena selama ini ayah tidak pernah sekalipun marah atau memperlihatkan amarahnya dihadapan rahmi. Selama ini ayah hanya memarahi kami anak-anaknya, namun saat ini akhirnya ayah murka kepada rahmi, kemarahannya semakin menjadi saat teringat bahwa kedua anaknya telah hilang tanpa jejak.

Kini ayahku mulai khawatir pada kakak-kakakku , dia menangis dan memohon maaf padaku, malam itu dia berjanji dia akan melakukan apapun untuk menemukan kedua kakakku, aku yang terperangkap dalam situasi itu hanya bisa diam. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus bersikap. Rasanya semua yang ada dalam diriku telah tumpah.

***

Sejak malam itu ayah memaksakan diri untuk pulang pergi dari rumah ke tempat kerjanya setiap hari, sepulang kerja ayah akan bergegas pergi menyusuri jalan-jalan untuk menemukan kedua kakakku, ayah bahkan mendatangi tetangga kami satu persatu, awalnya ayah marah dan berkata kenapa mereka tidak memberitahu ayah sejak dulu tentang sikap rahmi? namun jawaban dari para tetangga seolah menampar ayahku.

"Bagaimana mungkin kau akan percaya kepada kami sedangkan kau sendiripun tidak pernah mempercayai anak-anakmu?" jawaban yang sangat menohok untuk ayahku, membuat ayahku hanya bisa tertunduk malu dan menyesal.

Ayah akhirnya meminta maaf dan berterima kasih karena berkat mereka anak-anak ayah masih hidup sampai saat ini, lalu ayah memohon kepada mereka untuk membantunya mencari kak aini dan kak aidil, ayah berpesan kepada semua tetangga agar siapapun yang bepergian untuk membantunya mencari anak-anaknya, ayah berharap salah satu dari mereka melihat aini dan aidil ditengah perjalanan mereka, ayah benar-benar memohon dan bersujud, sementara itu rahmi hanya duduk termenung sepanjang hari menyesali suaminya yang kini tak seperti dulu lagi.

Disuatu malam mungkin karena sudah teramat kesal ayahku mencoba mengusir rahmi, tapi rahmi terus menerus menangis dan memohon, dia bersujud dikaki ayahku, dia meminta maaf atas semua yang terjadi, dia bilang dia hanya kebingungan karena harus membesarkan tiga orang anak sedangkan dia sendiri tak memiliki pengalaman sama sekali. Dia terus berkata bahwa dia sangat mencintai ayah.

"Lalu kenapa kau berjanji dan berkata manis padaku? dan dengan bodohnya aku mempercayaimu selama ini! selama belasan tahun aku mempercayakan ketiga putraku untuk kau rawat! kenapa kau tega melukai anak-anakku?" tanya ayah sambil menahan tangis. Suasananya menjadi sangat memilukan bagiku, meski aku membenci ayah, namun air matanya tetap menyayat hatiku.

"Aku sungguh minta maaf, aku mohon.. Berikan aku kesempatan, aku akan membantumu mencari aini dan aidil, aku janji aku juga akan mengizinkan aina untuk melanjutkan sekolah, aina aku mohon tolong maafkan aku, tolong bujuk ayahmu agar tak meninggalkanku" rahmi memohon padaku sambil terisak.

"Oh ya kamu mengingatkan aku akan kejahatanmu yang lainnya, kenapa kau melarang putriku bersekolah? Padahal semua biaya aku yang menanggungnya?" ayah kembali bertanya, namun kali ini dengan wajah dingin penuh kebencian.

"Apa kau lupa aku juga berhenti mendapatkan penghasilan demi kau? Meski aku tak menjaga anak-anakmu sebaik yang kau inginkan tapi lihatlah mereka tetap hidup! Aku juga telah berusaha keras! aku juga istrimu, aku berhak atas uang yang kau dapatkan. Aku hanya ingin hidup lebih layak, aku juga ingin kamu menikmati hasil kerja kerasmu, lagipula sudah ada seseorang yang begitu mencintai aina, apa yang salah dengan melepaskan aina kepadanya? Bukankah aina juga akan hidup bahagia?"

"Tapi kau tak bisa memaksakan kehendakmu rahmi! tetap aina harus setuju terlebih dahulu baru kau mengambil keputusan! Terlebih lagi kau selalu menceritakan kebohongan tentang anak-anakku!" ucap ayah dengan nada suara semakin berat.

"Aku minta maaf, aku mohon aku tidak akan melarangnya lagi untuk melanjutkan sekolah, kumohon jangan ceraikan aku" lagi-lagi rahmi memohon. Meski dipenuhi rasa benci, aku tetap bisa melihat betapa tulusnya rahmi mencintai ayahku, mungkin kehadirankulah yang menghalangi kebahagiaan diantara mereka.

***

Ayah yang memang selalu diperlakukan baik oleh rahmi, dan mungkin juga karena cinta ayah yang sudah terlanjur dalam pada rahmi, akhirnya memaafkan dan tidak meninggalkan rahmi, rahmi tetap berada di rumah kami dan aku melanjutkan sekolah seperti yang kuinginkan. Rahmi kini tak sejahat dulu, meski kuyakini dia hanya berusaha tak menggangguku agar tak menyulut emosi ayah lagi seperti waktu itu.

Kini hampir 3 tahun berlalu sejak kepergian kedua kakakku, selama itu pula ayah tak pernah berhenti mencari mereka. Bahkan ayahku sering sakit, tubuhnya melemah dan badannya semakin kurus. Disaat seperti ini aku sedikit bersyukur dengan adanya rahmi diantara kami, cinta rahmi terbukti, dia dengan sabar dan telaten mengurusi ayah, dia tak pernah meninggalkan ayah sedetikpun ketika ayah terbaring sakit.

Sebentar lagi aku lulus sekolah, meski aku ingin melanjutkan kuliah namun melihat kondisi ayahku saat ini sepertinya itu tidak memungkinkan. Ayah sudah semakin tua dan kini sakit-sakitan, aku berpikir untuk segera mendapatkan pekerjaan dan menggantikan posisi ayah sebagai tulang punggung keluarga. Namun saat ini posisiku masih seorang siswa, hanya beberapa bulan lagi saja sampai aku lulus dan bisa mendapatkan pekerjaan.

Saat sehat ayah kembali bekerja, ayah tetap bersikeras untuk pulang dan pergi setiap hari agar bisa menjagaku dan mencari kakak-kakakku, untuk menebus dosanya selama ini. Sebagai seorang istri rahmi berkali-kali mencoba membujuk ayahku agar beristirahat sejenak, agar tak kembali jatuh sakit, namun tiap kali rahmi berkata seperti itu ayah akan marah dan berkata bahwa rahmi tak peduli kepada anak-anaknya. Itu membuat rahmi putus asa dan tak lagi berani untuk sekedar meminta ayahku beristirahat.

Aku tentu sangat khawatir dengan kondisi ayahku, dalam kondisi ini aku berpihak pada rahmi, aku minta agar ayah meluangkan waktu sejenak bagi keluarganya yang masih ada saat ini, bagaimanapun juga sedikit demi sedikit kami harus mulai menerima takdir jika memang pada akhirnya kedua kakakku tak pernah kembali.

"Ayah tolong jagalah kondisi ayah, jaga kesehatan ayah agar ayah bisa menemaniku dan mengantarkanku ke pelaminan suatu hari nanti" bujukku dengan halus kepada ayah yang saat itu sedang melamun diteras kami menatap senja dengan wajah getir.

"Tapi bagaimana dengan kedua kakakmu? ayah akan menyesal seumur hidup jika sesuatu terjadi kepada mereka" ucap ayah dengan suara yang seolah tercekat ditenggorokan, ayah seperti hendak menangis, air matanya sudah mengambang dikelopak mata.

"Kita sedang berusaha mencari mereka, tapi kita juga tidak bisa melupakan kesehatan kita ayah, mari hidup dengan baik, mari kita jaga kesehatan kita, kita berdoa agar suatu saat nanti kita semua dapat berkumpul kembali"

"Kau benar aina, anak ayah sekarang sudah dewasa"

...

"sebentar lagi kalau lulus SMA, apa rencanamu?" ayah berbicara sambil menatapku dengan hangat, ayah tersenyum kecil sambil membelai rambutku.

Rahmi datang menghampiri kami, dia memeluk ayah dari samping dan menatapku dalam diam, tak ada ekspresi apapun diwajahnya saat itu. Matanya seolah berterimakasih kepadaku.

"Aku belum tahu ayah, doakan saja yang terbaik untukku" jawabku singkat.

Beberapa bulan kemudian akhirnya aku resmi lulus sekolah, usiaku kini 18 tahun, kehidupanku sebagai orang dewasa telah dimulai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!