Aku aidil, usiaku 10 tahun, aku kakak tertua diantara 3 bersaudara, kedua adikku perempuan, usia mereka sangat dekat. Aina yang berusia 8 tahun dan aini yang berusia 9 tahun. Meski aku laki-laki aku tidak bisa diandalkan, setidaknya itulah yang ada dalam benakku selama ini.
Ibuku meninggal karena sakit yang beliau derita selama bertahun-tahun. Tak berselang lama ayahku menikah lagi dengan seorang wanita bernama rahmi, ayah bilang terpaksa menikah lagi karena ingin ada seseorang yang mengurusi kami dirumah, sehingga mau tak mau aku dan adik-adikku harus tinggal bersamanya, sedangkan ayah harus bekerja mencari uang untuk menghidupi kami.
Awalnya kufikir hidup kami akan kembali membaik setelah berbagai penderitaan yang kami alami karena kehilangan sosok ibu, kufikir kami akan punya sosok ibu lagi dirumah ini, nyatanya aku salah, itu hanyalah angan-anganku yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Rahmi hanya menyukai ayahku saja, sedangkan kepadaku dan adik-adik dia bersikap sangat dingin, terlebih lagi ketika ayah tidak ada di rumah, sikapnya pada kami akan semakin jahat dan kasar. Dia hanya berpura-pura baik didepan ayah saja, jika ayah tak ada maka diapun tak mau mengurusi kami. Kami bahkan sering kelaparan, kami tak pernah membeli baju baru, sendal-sendal kami sangat usang, kami bahkan tak dibelikan sepatu untuk sekolah, kami hanya bisa memakai pakaian dan sepatu bekas pemberian teman-teman kami.
Karena aku lelaki satu-satunya seharusnya aku bisa melindungi adik-adikku dari wanita jahat itu, tapi apa yang bisa dilakukan oleh anak seusiaku saat ini? Aku tidak punya tempat tinggal, aku tidak punya penghasilan, bahkan aku tidak bisa menghidupi diriku sendiri. Tenaga yang kumiliki juga hanya sebatas tenaga anak-anak. belum mampu memberi perlindungan kepada kedua adikku.
***
Disuatu siang yang begitu terik adik-adikku merengek padaku, saat itu kami sedang bermain disebuah kebun, kami biasa bermain ditengah-tengah perkebunan untuk mencari hasil-hasil kebun yang terjatuh dari pohonnya untuk kemudian kami pungut dan makan. jatah makan kami dirumah hanya pagi dan malam hari, sehingga disiang hari ketika lapar kami harus berusaha sendiri mencari makanan. Terkadang tetangga dan teman dekat kami memberi kami makan, karena beberapa diantara mereka tau tentang tabiat rahmi yang jahat. Tapi aku malu jika setiap hari harus bergantung pada pemberian mereka.
Saat itu perkebunan sangat bersih, mungkin pemilik-pemiliknya sudah datang dan merapikan kebunnya, sehingga tak ada satupun hasil kebun yang bisa kami pungut.
"kak, aku lapar..." rengek aina adik bungsuku.
"aku juga sama kak.. Apakah tidak ada yang bisa kita makan siang ini?" sambung aini.
Aku prihatin mendengar ucapan mereka yang begitu lirih, sebetulnya saat itupun jika kami mau, kami bisa datang berkunjung kerumah teman atau tetangga kami, jika kami datang mereka pasti memberi kami makan siang, tapi kami terlalu malu karena sudah sangat sering kami makan dirumah mereka.
"Kak disana banyak pohon singkong, tidak bisakah kita mengambil satu saja untuk makan siang? Aku ingin kakak memasaknya untuk kami" ucap aini sambil menunjuk ke arah perkebunan singkong milik tetangga kami.
"Bagaimana kalau pemiliknya tau dan marah?" tanyaku pada aini.
"tapi aku sangat lapar kak, pohon singkong itu sangat banyak, pemiliknya mungkin tidak akan tau kalau kita mengambil satu" rengek aini lagi.
"Baiklah kakak akan mengambilnya, tapi kalian harus pulang lebih dulu dan tunggu di rumah, kakak akan memasaknya untuk kalian" kataku pasrah.
"horeeeeeeee... baik kami akan pulang, kami menunggu kakak di rumah ya, kami sudah sangat lapar" sambut aini dengan mata yang berbinar.
"iya iya" ucapku lagi sambil tersenyum mengelus kepalanya.
Aina yang sedari tadi memperhatikan juga ikut tersenyum lebar dan memeluk aini.
Aina dan aini bergegas pulang kerumah, aku yang kebingungan hanya bisa berdiri menatap pohon-pohon singkong itu, sejujurnya aku takut pemilik kebun akan memergokiku, tapi aku juga tidak tega melihat adik-adikku kelaparan.
Akhirnya setelah berfikir beberapa menit aku memberanikan diri menyabut pohon singkong itu dan aku berpikir setelah memakannya nanti aku akan mengatakan yang sejujurnya kepada pemilik kebun ini. Aku tahu kalau aku minta pun mereka sebenarnya akan memberi, hanya saja saat ini adik-adikku sudah benar-benar kelaparan dan aku juga tidak tahu apakah pemilik kebun ini sedang berada di rumahnya atau tidak, karena mereka jarang sekali terlihat, yang kutahu mereka memiliki kebun yang luas dan saat ini musim panen sehingga kemungkinan besar mereka berada dikebun. Akan banyak orang disana, dan aku malu jika harus meminta didepan orang banyak, jadi kuputuskan untuk menemui pemilik singkong itu dimalam hari saat mereka ada dirumah.
Setelah beberapa saat aku berhasil menyabut singkong itu, ada tiga batang singkong besar yang kudapat, aku bergegas pulang ke rumah. Saat itu ibu Rahmi sedang tidur siang, aku mengajak aina dan aini untuk memasak singkong ini dihalaman rumah dengan menggunakan kayu bakar yang ku ambil ketika perjalanan pulang, karena ibu akan sangat marah jika aku memasak menggunakan peralatan dan kompornya.
Aina dan aini makan sangat lahap, mereka memakan singkong bakar yang kubuat dengan riang gembira karena akhirnya perut mereka terisi, mereka tidak lagi kelaparan.
Tak berselang lama ada seseorang yang mengetuk pintu rumah kami, aku hendak membuka pintu namun ternyata ibu sudah bangun dan sedang berjalan menuju pintu. Aku berbalik dan kembali bergegas membereskan semua kayu bakar, sisa-sisa singkong segera ku buang ke tempat pembakaran sampah. Aku juga menyuruh adik-adikku untuk pergi bermain lagi.
"sudah kenyang kan kalian, sekarang pergilah bermain dengan teman-teman, sebelum ibu keluar dan menyuruh kalian beres-beres lagi" seruku.
"ah aina saja yang beres-beres, aku tidak mau menuruti apa kata ibu seperti aina" gerutu aini, adikku yang keras kepala.
Lalu aku mendorong mereka, menyuruh mereka bergegas pergi, aku takut ibu tahu aku habis membakar singkong dan aku tidak mau adik-adikku dimarahi, karena ibu pasti akan curiga darimana aku mendapatkan singkong-singkong itu.
Setelah aina dan aini pergi aku masuk kedalam rumah, aku ingin tahu siapa tamu yang datang. Saat masuk aku melihat seorang laki-laki yang sudah sepuh duduk diruang tamu, beliau menggunakan kaos oblong putih dan celana jingkrang hitam, lalu beliau berbalik saat mendengar suara langkah kakiku, betapa kagetnya aku karena ternyata tamu yang datang itu adalah bapak pemilik kebun singkong yang tadi singkongnya kuambil, sejurus kemudian bapak itu menoleh kearahku, aku tersenyum kaku dan kikuk, aku sedikit ketakutan namun wajahnya tersenyum hangat, aku berfikir mungkin bapak ini datang dengan niat lain, mungkin beliau tidak tau apa yang sudah kulakukan pada kebunnya, buktinya dia begitu ramah dan menyapaku.
Kemudian beliau memanggilku dan memberiku beberapa makanan dan hasil kebun berupa tomat, pepaya dan mangga.
"makanlah dengan adik-adikmu" ucapnya.
Beliau juga memberi ibuku beberapa keranjang sayuran segar. Aku tersenyum lebar dan menghembuskan nafas lega.
Kami semua duduk berbincang diruang tamu, lalu tiba-tiba beliau menepuk bahuku.
"nak, tadi saat bapak dikebun, ada seseorang yang bilang bahwa dia melihatmu mengambil singkong dikebun milik bapak, apakah itu benar?" tanyanya dengan suara yang lembut.
Seketika mata ibu tiriku terbelalak, mukanya merah padam, dan suaraku tercekat ditenggorokan, aku tidak tahu harus berkata apa, kepalaku penuh dengan bayangan wajah ibu tiriku. Aku sunggu takut saat itu hingga tak bisa berkata apapun.
"Nak, katakan padaku jika kau lapar, bicaralah dengan baik, bapak pasti akan memberi apapun yang kau minta jika bapak punya, jangan mengambil tanpa izin, tak baik bagimu, jika ada orang yang melihat mereka akan marah padamu"
Beliau menasehatiku dengan sangat halus.
"bapak tidak keberatan kau mengambil singkong atau apapun dikebun bapak, makanlah semaumu, tapi seberat apapun hidupmu, jangan pernah mencuri, kau berjanji?" lanjutnya.
"dan kau juga rahmi, aku tau banyak cerita tentangmu, tetangga sekitar seringkali melihatmu memarahi anak-anak, anak-anakmu sering kelaparan.. Aku tau mereka bukan anak-anak kandungmu, tapi sebagai sesama manusia, sayangilah mereka, perlakukan mereka dengan baik, suatu saat kau juga akan memiliki anak, aku yakin kau juga ingin keturunan-keturunanmu diperlakukan baik oleh orang lain"
Aku tak percaya ada seseorang yang menasehati ibu tiriku seperti itu, ibu tiriku hanya diam, mungkin karena yang menasehatinya adalah sesepuh sehingga ia tidak banyak menyangkal, amarahnya ditahan, amarah yang pasti sudah sangat meledak ledak, aku semakin takut melihat raut wajahnya, aku tidak tau akan diapakan aku nanti.
Pemilik Singkong itu mengelus rambutku, aku segera meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.
Tak berselang lama pemilik kebun itu pamit pulang dan benar saja tak lama setelah bapak itu pulang ibu mengamuk.
"Dasar anak kurang ajar! Kau telah mempermalukanku! Aku akan mengadukanmu pada ayahmu! dasar kau pencuri kurang ajar!!! kau simpan dimana singkong itu?" teriak rahmi meledak ledak.
"Ampun bu, singkong itu sudah kubakar dan kumakan sendiri" aku berlutut sambil menangis dan memegangi pipiku yang memerah setelah ditampar oleh ibu tiriku. Tanganku berusaha meraih tangan ibu tiriku namun dia menepisnya dengan kasar.
"aku akan memberimu pelajaran anak sialan!"
Ibu semakin marah lalu dia bergegas pergi ke dapur dan mengambil sebuah balok lalu memukul kakiku dengan sangat keras.
"berani kau berteriak, akan kupatahkan tanganmu!" bentaknya bengis.
Aku menangis dan meminta ampun, aku berusaha tidak berteriak meski sakit luar biasa kurasakan. Namun bukannya diampuni ibu malah memukulku lagi, dan kali ini pukulannya mendarat dipunggungku.
"rasakan itu! Kau pembawa sial, kau hanya memberi contoh buruk untuk adik-adikmu, itulah sebabnya mereka juga menjadi anak yang kurang ajar!" teriaknya sambil terengah engah menahan amarah.
Dengan kondisiku yang sudah sangat lemah dia masih berteriak padaku, kemarahannya seakan tidak bisa reda.
Punggung dan kakiku terasa sangat sakit, tulangku rasanya remuk, rasanya aku ingin berteriak namun aku terlalu takut, akhirnya aku jatuh tersungkur, dadaku terasa sesak, sementara ibu tiriku meninggalkanku begitu saja yang tergeletak tak berdaya, aku segera menyeret tubuhku ke dalam kamar dan menangis seorang diri sampai aku tertidur.
Sore hari adik-adikku baru pulang bermain, melihat aku yang tergeletak dikamar mereka bertanya "ada apa?" karena memang aku sebelumnya tidak pernah tidur siang.
"kakak lelah sekali setelah mengambil singkong dan memasaknya untuk kalian, jadi kakak tidur sebentar" ucapku berbohong.
"ooo begitu" sahut aina.
"lalu wajah kakak kenapa? Apakah ibu memukul kakak?" tanya aini sambil menghampiri dan memegang pipiku.
"sejak kapan nenek sihir itu bisa menyentuhku?" ledekku sambil tertawa kecil
"ini karena aku terjatuh saat berusaha menyabut singkong itu, memangnya dari tadi kalian tidak sadar?"
"hahaha, mungkin kami terlalu fokus untuk makan, jadi kami tidak sadar, iya kan aina?" ucap aini sambil tertawa.
Aku tidak ingin mereka tahu apa saja yang telah kualami disiang itu, jika mereka tau mereka akan menyalahkan diri mereka. Mereka mungkin akan berusaha menjelaskan semuanya pada ibu rahmi, itu hanya akan membuat mereka bernasib sama sepertiku. Dengan polosnya mereka percaya semua perkataanku, tanpa mereka tahu sesakit apa tubuhku saat itu.
***
Beberapa minggu berlalu sejak kejadian ibu memukuliku dengan balok kayu, semakin lama dia semakin memperlihatkan bahwa dia sangat membenciku dan adik-adikku. Dia bahkan membuat aku dan adikku berhenti sekolah. Dia banyak menceritakan kebohongan-kebohongan kepada ayahku yang membuat ayahku sangat marah dan menghukum kami. Aku merasa sangat muak, akhirnya aku mengajak adik-adikku untuk pergi dari rumah ini. Namun hanya aini yang setuju karena aini sama denganku, kami berdua tidak bisa pasrah begitu saja menerima hinaan dan cacian dari rahmi, kami sering melawan dan membangkang, kami berbeda dengan aina yang ketika dicaci dan dimaki hanya menangis pasrah dan patuh. Perjalanan kami masih sangat panjang untuk menuju kedewasaan, kami tidak tau akan seperti apa hidup kami dikemudian hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Hoa xương rồng
Aku terbuai oleh alur ceritanya yang sangat baik, hebat thor!
2023-08-02
0
Its_PurpleColor
Menyentuh hati ❤️
2023-08-02
0