6 tahun telah berlalu sejak aku ditinggalkan oleh suamiku untuk selama-lamanya. Suami yang sangat aku cintai, aku hormati dan aku banggakan. Sejak kepergiannya aku tinggal bersama dengan anak angkatku aina, seorang anak yang begitu tulus dan pemaaf. Usianya kini sudah 24 tahun dan dia telah menikah dengan seorang pria yang begitu mencintainya.
Tak berselang lama sejak hubunganku dan aina membaik, aini pun kembali, dia datang setelah belasan tahun pergi dan terlunta-lunta dijalanan karena keegoisanku. Dan tanpa kuduga dengan mudahnya aini menerima permintaan maafku. Aku bersyukur setelah kekejamanku dimasa lalu mereka berdua masih memaafkanku, aku tidak tahu mengapa dulu aku begitu membenci mereka, entah apa yang membuatku membenci mereka padahal mereka adalah anak-anak yang begitu baik. Kini aku menyesal, aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, mungkin karena kini aku juga memiliki seorang anak sehingga naluriku sebagai seorang ibu muncul begitu kuat.
Dulu aku begitu jahat kepada mereka, aku tak pernah memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Aku bahkan telah membuat kakak kesayangan mereka pergi dari rumah dan tak pernah kembali lagi. Aku juga telah membuat suamiku sakit hingga pergi untuk selamanya, begitu banyak dan begitu besar kesalahanku dimasa lalu, aku tak tahu apakah Tuhan akan memaafkan semua kesalahanku atau tidak.
Aini kini telah berusia 25 tahun, setelah penantian panjang akhirnya dia pun menemukan tambatan hatinya, dia menikah dengan seorang pemuda kampung yang begitu mapan dan juga sangat dihormati karena kepribadiannya yang santun.
Aku merasa bangga dengan keberhasilan anak-anakku, mereka pantas mendapatkannya, mereka pantas mendapatkan kebahagiaan dari suami-suami mereka, aku bersyukur mereka diperlakukan layaknya putri sebagaimana aku diperlakukan oleh ayah mereka dulu.
Yang kini membuat hatiku resah adalah aidil, anak sulungku ditemukan dengan kondisi kejiwaan yang sangat buruk, dia hilang ingatan dan menjadi gila. Betapa aku merasa bersalah kepadanya. ya tuhan apa yang telah aku perbuat dulu, mengapa begitu tega aku membuatnya seperti ini. Bagaimana caraku menebus semua kesalahanku. Bagaimana caranya agar aidil kembali seperti dulu.
Meski aku sendiri tak tahu, apakah kelak jika dia telah kembali sadar dia akan memaafkanku seperti aina dan aini atau mungkin dia akan membenci dan menyalahkanku, karena sejatinya akulah penyebab kejiwaannya tergoncang.
***
Pada awalnya aina dan aini ingin tinggal bersamaku untuk merawat aidil, namun kupikir tidak sepantasnya aina dan aini ikut bertanggung jawab atas kesalahanku dimasa lalu. Akulah yang harus merawat aidil dan aku pulalah yang harus berusaha untuk menyembuhkannya, bukan mereka. Terlebih lagi kini mereka telah berkeluarga, mereka berdua berhak berbahagia setelah apa yang mereka. Sudah begitu banyak yang telah mereka berikan kepadaku, cinta, ketulusan bahkan materi yang jumlahnya tak sedikit.
Aku memohon agar mereka ikut bersama dengan suami mereka dan berbakti dengan sepenuh hati. Aku juga berjanji kepada mereka dan kepada diriku sendiri untuk merawat aidil dengan baik sampai dia sembuh, entah kenapa begitu besar harapanku untuk kesembuhan aidil, meski aku belum tahu apa penyebab yang membuat aidil menjadi seperti ini.
Pada akhirnya memang aina dan aini bersedia untuk meninggalkan aku bersama dengan aidil, namun aini yang tinggal tidak jauh dari rumahku tentu saja setiap hari datang untuk membantuku mengurus rumah dan kedua anakku. Begitu pula dengan aina, dua hari sekali ia akan datang. Meski aku telah melarangnya dia tetap bersikukuh merasa bertanggung jawab atas aidil. Tak sedikitpun aku menemui kesulitan dalam hidupku saat aku mulai hidup dengan cinta mereka.
***
Disuatu sore datanglah seorang tamu laki-laki kerumahku, perawakannya pendek, rambutnya ikal namun kulitnya begitu putih. Usianya mungkin sama dengan aidil. Saat kubuka pintu dia tersenyum dan memperkenalkan diri, namun aku yang merasa asing hanya menatapnya diam.
"Selamat sore tante, perkenalkan saya rizal temannya aidil. Dulu aidil tinggal bersama saya" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Oh temannya aidil, silahkan masuk" aku yang awalnya ragu menjadi tertarik dengan kehadirannya, karena ia adalah teman aidil ketika aidil pergi meninggalkan rumah ini. Saat itu aku berniat menggali informasi darinya.
Setelah kupersilahkan masuk akhirnya pria itu berjalan mengikutiku menuju ruang tamu.
"Silakan duduk, tunggu ya saya akan mengambilkan minum. Kau mau teh, kopi atau sirup?"
"Air putih saja tante" jawabnya.
"Panggil saya ibu saja ya, saya tidak biasa dipanggil tante" ucapku sambil berjalan menuju dapur.
Setelah menyuguhinya dengan air akupun ikut duduk bersamanya.
"Dimana aidil sekarang bu?" tanyanya membuka pembicaraan.
Mendengar pertanyaannya aku merasa ragu untuk menjawab, aku terdiam beberapa saat.
"Maaf jika pertanyaan saya mengganggu, saya sudah tahu kondisi aidil"
"Oh kamu sudah tahu ya, dia sekarang sedang tidur dengan adiknya. Oh ya, sejak kapan kamu berteman dengan aidil?"
"Sejak aidil terpisah dengan saudari perempuannya di dalam kereta bu"
deggg....
Jantungku seperti hampir melompat mendengar perkataannya, pikiranku langsung tertuju tentang penyebab kenapa aidil menjadi seperti sekarang ini. Seperti mengetahui isi pikiranku rizal segera menjelaskan segalanya.
"Bu saya datang kemari untuk menceritakan tentang aidil, saya yakin ibu dan keluarga pasti sangat ingin tahu kenapa aidil bisa seperti itu" jelasnya.
"awalnya saya ragu datang kemari, aidil sempat bercerita tentang ibu sambungnya dimasa lalu, namun sebagai teman saya prihatin atasnya, saya bersyukur sepertinya sekarang ibu telah banyak berubah" lanjutnya.
"memang benar apa diceritakan aidil dulu, dan kau juga benar bahwa kini ibu telah berubah, sekarang ibu hidup dengan baik dengan ketiga anakku, terimakasih kau telah begitu peduli kepada aidil, ibu merasa sangat bersalah, ibu harap jika ibu tahu penyebabnya ibu bisa menyembuhkannya, tolong ceritakan semuanya kepada ibu" ucapku memohon.
Suasana seketika menjadi sangat hening, kulihat rizal menarik nafas begitu dalam seolah ia menahan sesuatu dari dalam dirinya. Saat itu aidil dan zidan sedang tertidur, mereka terus bermain dan bercanda sejak pagi hingga menjelang sore, saat aku hendak memberi mereka makan ternyata mereka telah tertidur, kini aidil benar-benar seperti kembali menjadi seorang anak balita.
Aku sempat mempersilahkan rizal untuk masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan aidil, namun dia berkata lebih baik kita selesaikan dulu apa yang penting saat ini sehingga kami pun memutuskan untuk tetap di ruang tamu dan berbicara.
"Begini bu, dulu yang saya dengar aidil terpisah dengan saudaranya saat mereka menaiki kereta. Saat itu saya sedang mengamen dan melihatnya menangis di stasiun kereta, saat saya tanya ternyata dia telah terpisah dengan saudaranya, dia tak sengaja turun di tempat paling awal pemberhentian kereta, lokasinya sangat jauh terpaut 12 jam sampai ke tujuan akhir kereta yang membawa adiknya. Mereka terpisah karena kondisi kereta yang begitu penuh, saat itu aidil mencoba mencari informasi dan mengumumkan tentang adiknya, pihak stasiun juga sudah menginformasikan ketempat pemberhentian terakhir kereta itu, namun karena aidil dan adiknya menjadi penumpang gelap, maka nama mereka tak tercantum dalam daftar penumpang dan itu sangat menyulitkan pihak stasiun untuk menemukan adiknya"
"Saat itu meskipun kami tidak saling mengenal aidil terus-menerus mengikuti saya dan memohon pada saya untuk membantunya mencari adiknya, saat itu kondisi saya sendiri tak begitu baik, saya seorang gelandangan dan pencopet, saya bahkan hampir membawa aidil kejalan yang salah, namun saya takjub dengan pendiriannya hingga akhirnya sayalah yang mengikuti jejak aidil, hidup saya menjadi lebih baik dan kami berdua bersama-sama mencari pekerjaan yang lebih baik. Kami mencuci piring direstoran-restoran bahkan menjadi tukang parkir".
"Sambil terus menerus mencari pekerjaan kami juga tak henti mencari informasi tentang adiknya, bahkan setelah kami mulai bekerja dihari liburnya aidil pasti menyempatkan diri untuk mencari adiknya, hingga tahun berganti tahun dan akhirnya aidil pasrah. aidil bahkan sempat mencari ke kota tempat adiknya hilang namun hasilnya nihil"
Kulihat rizal kembali menghela nafas, sorot matanya kosong, seolah jiwanya tengah menelusuri masa lalu.
"Saat mulai menyerah itu aidil bertemu dengan seorang wanita yang menurut aidil perawakannya sangat mirip dengan adiknya yang hilang. Aidil mendekati wanita itu, rasa rindunya terhadap adiknya sedikit terobati, aidil mulai memperlakukan wanita itu begitu spesial layaknya seorang keluarga"
"Kami dan wanita itu bertemu di sebuah taman kota, meskipun aidil mulai menyerah mencari adiknya, namun setiap kali ada waktu kami sering berjalan-jalan atau sekedar duduk ditaman kota berharap disalah satu sudut kota dia menemukan adiknya dalam kondisi yang baik".
"Tak seperti aidil yang menganggap wanita itu sebagai adiknya, wanita itu justru menganggap aidil telah menjadi kekasihnya, begitu dalam wanita itu jatuh cinta kepada aidil. Wanita mana yang tidak luluh jika diperlakukan seistimewa itu oleh seorang pria. Wanita itu bernama sari, hubungan mereka tampak baik-baik saja, meskipun saya tahu ada yang janggal dengan hubungan mereka namun saya tak banyak ikut campur, saya pikir suatu saat nanti mereka pasti akan bertemu dan akan berpasangan karena memang mereka terlihat sangat cocok. Namun seiring berjalannya waktu ketidakcocokan itu akhirnya memporak-porandakan hubungan mereka"
"Sari mulai sering marah kepada aidil, dia sering mengeluarkan sumpah serapah karena rasa sakit hatinya. Dia sering memaki dan berkata kasar. Saya tidak bisa terlalu menyalahkan sari karena memang yang bersalah adalah aidil. Saya berusaha untuk meyakinkan aidil agar ia mau membuka hatinya untuk sari, namun bagaimanapun juga aidil tetap dengan perasaannya yang hanya menganggap sari sebagai seorang adik sehingga tentu sulit baginya untuk jatuh cinta kepada sari"
"Berkali-kali aidil meminta maaf kepada sari karena telah menimbulkan kesalahpahaman. Karena kesal saat itu saya juga bukannya mendukung malah ikut menghakimi aidil"
"Suatu hari sari datang dengan wajah begitu terluka, dia bilang itu adalah terakhir kalinya dia akan bertanya kepada aidil apakah dia bersedia menjadikannya seorang istri ataukah tetap hanya seorang adik, sari bahkan mengancam kalau aidil tetap memperlakukannya sebagai seorang adik maka sesuatu yang buruk akan terjadi kepada aidil. Tapi mungkin karena dia hanya seorang wanita ancaman itu tidak begitu diindahkan oleh aidil. Aidil malah meminta maaf dan semakin menegaskan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari hubungan kekeluargaan"
"sari juga berkata kalau aidil tidak bisa menerimanya sebagai seorang kekasih lebih baik mereka berpisah saja, tapi lagi-lagi aidil tak bergeming. Akhirnya tanpa berkata-kata lagi saripun pergi dan menghilang dari kehidupan kami"
"Setelah sebulan kami berpisah dengannya, suatu malam tiba-tiba saja aidil berteriak, saat itu dia sedang tertidur pulas tapi tiba-tiba terbangun dan berteriak sambil memegangi kepalanya. saat saya tanya kenapa, aidil hanya menjawab bahwa kepalanya sangat sakit. hingga pada akhirnya dia berteriak begitu kencang dan tak sadarkan diri"
"saya dan teman-teman yang lain segera membawa aidil ke rumah sakit, namun saat dilakukan pemeriksaan tak ada apapun yang terjadi pada tubuhnya. Tidak ada bekas luka dan juga tidak ada luka dalam. Karena penasaran saya membawa aidil ke rumah sakit lain namun jawabannya tetap sama, menurut dokter aidil sehat, begitu pula dengan organ dalamnya, padahal saat diperiksa itu kondisi aidil sedang tak sadarkan diri"
"Keesokan paginya akhirnya aidil sadar, namun kesadarannya membuat saya dan teman-teman yang lain begitu kaget. Bagaimana tidak, saat bangun tiba-tiba aidil tertawa terbahak-bahak dan menyeringai. Terkadang dia menangis, dia mengacak-acak rambutnya, bahkan menelanjangi dirinya sendiri didepan umum. kami yang kebingungan berusaha menyadarkan aidil. Sampai kami memaksa para dokter untuk sekali lagi melakukan pemeriksaan pada otaknya, namun hasilnya tetap nihil, tak ada penyakit apapun yang bersarang di tubuhnya, begitu pula dikepalanya"
"Disaat kami sedang benar-benar kebingungan tiba-tiba sari meneleponku, dia bertanya dengan nada sinis, apakah aidil sudah mendapatkan karmanya? dia bertanya sambil tertawa dan seketika sambungan teleponpun terputus. Sejak saat itu sari tak bisa lagi dihubungi, rumahnya telah lama kosong, bahkan semua kerabatnya juga menghilang. Dari situlah saya yakin bahwa apa yang telah aidil alami saat ini merupakan ulahnya"
"Setelah mengetahui semuanya saya melakukan segala cara untuk membantu menyembuhkan aidil, saya pergi kesana kemari mencari orang pintar yang konon katanya mampu menyembuhkan penyakit batin seperti itu. Disaat saya pergi saya selalu menitipkan aidil kepada teman kami, namun tanpa diduga disuatu malam aidil menghilang, kami semua panik dan mencarinya ke penjuru kota tapi tak ada jejak sama sekali. Kami bahkan telah melaporkannya ke polisi. Kami menyebarkan banyak foto aidil kepada orang-orang diseluruh penjuru kota, namun tak ada hasil"
"saya dan teman-teman bahkan sampai pergi keluar kota untuk mencari bantuan, hingga akhirnya seseorang memberitahu informasi bahwa aidil telah kembali kepada keluarganya. Saya sudah beberapa kali menelusuri wilayah ini, saya mencoba memastikan bahwa memang benar aidil telah kembali ke tempat tinggalnya dulu, dan ternyata memang benar orang yang kulihat di jalanan bersama dengan keluarganya itu adalah aidil. Saya senang melihatnya berkumpul dengan ibu dan adik-adiknya, saya pikir mungkin ingatannya perlahan sudah mulai membaik, namun belakangan aku melihat tingkah lakunya ternyata tak banyak berubah"
"Sudah sejak beberapa hari yang lalu saya sebenarnya ingin datang kemari, namun saya berusaha mencari waktu yang tepat dan saya pikir inilah saatnya saya datang dan menceritakan segala sesuatunya"
"Begitulah apa yang terjadi dengan aidil, maaf jika saya terlambat mengabari. Sampai saat ini saya masih tidak tahu dimana keberadaan sari, dia beserta seluruh keluarganya benar-benar pergi tanpa jejak, mari kita berjuang untuk kesembuhan aidil, dia adalah sahabat terbaik saya, saya tidak rela disisa hidupnya dia harus menjadi seperti itu. Saya akan melakukan apapun untuk membantu"
Aku begitu syok dan tak dapat berkata-kata mendengar semua penjelasan rizal, aku tak menyangka bahwa aidil telah melakukan kesalahan yang membuat seorang wanita begitu gila. Memang benar yang dikatakan rizal, aidil lah yang salah, dia bersikap tak adil. Namun aku juga tak habis pikir, bagaimana mungkin wanita itu tega mencelakai pria yang dia cintai?
Melihatku begitu syok akhirnya rizal pamit dan memberikanku waktu untuk sendiri. Rizal berkata agar aku membicarakan masalah ini dengan keluargaku. Dia berharap agar kami mengatasi hal ini dengan kepala dingin tanpa emosi, agar kami bisa mencari jalan keluar terbaik untuk aidil. Setelah berbicara selama 2 jam lamanya rizal pun pulang dan aku kembali duduk termenung. Beberapa menit kemudian aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar aidil. Kulihat dia tengah tertidur begitu pulas dengan zidan adiknya. Sesak dadaku melihatnya seperti ini.
***
Keesokan harinya aku meminta aina dan yang lainnya untuk berkumpul. Aku menceritakan semuanya dan kamipun mulai berdiskusi. Pembicaraan kami saat itu benar-benar menguras emosi. Kami semua menangis membayangkan seperti apa penderitaan aidil tanpa kami selama ini. Kami semua mengatur strategi dan mencari cara bagaimana agar kami menemukan sari, wanita yang telah membuat aidil menjadi seperti ini.
Memang benar aku adalah salah satu penyebab aidil menjadi seperti ini. Bahkan mungkin akulah yang menjadi penyebab terbesarnya. Oleh sebab itu aku bertekad untuk menemukan wanita itu dan menyelesaikan semuanya, akan ku pertaruhkan jiwa dan ragaku untuk kesembuhan anakku aidil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments