Rasa sakit

Mobil jenazah datang, nirma perlahan dimasukkan kedalamnya, diikuti oleh kedua orangtua nirma yang pasrah. Mereka berpamitan untuk terakhir kalinya. Mereka pergi menuju kampung halaman mereka. Betapapun kami memaksa untuk mengantar, mereka tak mengizinkan. Mereka berkata cukup dengan semua luka yang pernah ada, mereka ingin membuka lembaran baru tanpa nirma, anak satu-satunya mereka. Mereka juga berkata bahwa mereka ingin meninggalkan semua kenangan buruk yang telah merenggut nyawa anak mereka.

Aku sebagai seorang ibu begitu pilu melihat keadaan mereka, tak terbayang olehku bagaimana perihnya ditinggal mati oleh seorang anak. Pada akhirnya kami melepas kepergian mereka dengan tangisan dan penyesalan.

Setelah mobil jenazah itu pergi kami semua bergegas masuk keruang keluarga, tempat dimana aidil berbaring. Kami tak sabar melihat keajaiban yang nirma katakan. Kami cemas apakah aidil akan benar-benar sembuh atau tidak. Aina yang tidak sabar akhirnya mengguncang tubuh aidil untuk membuatnya bangun. Rupanya usaha aina telah berhasil. Aidil telah membuka matanya.

Perlahan aidil menyapukan pandangannya keseluruh ruangan, lalu dia menatap kami yang mengelilinginya satu per satu, hingga tatapannya berhenti pada aini.

"aini! Aini! Kau aini adikku?" aidil mendadak bangun dan meraba wajah aini.

"benar kak, ini aku" jawab aini menangis histeris.

tiba-tiba plakkkk.. Pipi aidil memerah karena tamparannya sendiri.

"ini pasti mimpi! Ini mimpi! Bangunlah bangun aidil" ucap aidil sambil terus menerus menampar pipinya sendiri.

"kakk, hentikan, ini aku adikmu" aini reflek memegangi tangan aidil dan memeluknya.

Kami semua menangis menyaksikan keajaiban ini, aidil benar-benar sembuh. Dia dan aini berpelukan begitu erat, melepaskan semua rindu yang selama ini terpaksa mereka kubur begitu dalam. Setelah berpelukan dengan aini kemudian aidil kembali menyapukan pandangannya. Dia melihat aina dan berteriak.

"astaga, aina, kau aina? Adik kecilku sudah sebesar ini, astaga sudah berapa lama kita tidak bertemu?!" ucapnya kegirangan sambil memeluk aina. Aina membalas pelukannya sambil menangis bahagia. Sampai tiba waktunya aidil melihatku.

Wajah aidil seketika berubah, ekspresi bahagianya menghilang berganti menjadi kemarahan yang terbendung.

"kau masih hidup rupanya wanita gila" ucapnya sambil memandangku dengan tajam. Mendengar ucapannya aku hanya bisa menangis tak bisa berkata-kata.

"kakak, tenanglah dulu.." ucap aina mencoba menenangkan.

"kau, kau yang telah membuat hidup keluargaku hancur, kau membuatku dan adik-adikku hidup dalam penderitaan, kenapa kau ada dirumahku? KENAPA????!!! PERGI KAU WANITA ******! DIMANA AYAH YANG KEJAM ITU HAH?! AYAH KANDUNG YANG LEBIH MEMENTINGKAN ISTRI MUDANYA DARIPADA KAMI ANAK-ANAKNYA, DIMANA DIA?"

"aidil, dengarkan ibu" aku berusaha meminta maaf padanya.

"apa? Ibu? Hahahahahaha. Sejak kapan kau menjadi ibuku?"

Aku hanya menunduk mendengarnya semakin marah.

"kakak! Kau baru saja sembuh! Bisakah kau tenang?!" aina menjadi marah mendengar aidil berbicara seperti itu padaku.

"aina, tak apa. Ibu akan pergi. Kalian tenanglah dan nikmati kebersamaan kalian"

Aku segera berlalu meninggalkan mereka, aku mendekap zidan dipelukanku, aku menuju kamar dan mengemasi barang-barangku, tapi tiba-tiba besanku menemuiku.

"rahmi, tinggallah untuk sementara dirumahku, nanti jika keadaan sudah mulai membaik kembalilah kerumah ini"

"ah tidak perlu bu rahayu, terimakasih atas kebaikanmu selama ini, suatu saat aku memang akan kembali"

"memangnya kau akan pergi kemana dengan anakmu yang masih begitu kecil ini? malam juga sudah sangat larut" tanyanya sambil mengusap kepala zidan yang masih tertidur pulas.

"aku belum tahu akan pergi kemana, tapi jangan khawatir, aku ini masih sehat, aku bisa..."

"jangan menolak, kau tidak ingin anak-anakmu kembali bersedih bukan? Tetaplah bersama kami oke? Kalau kau pergi juga, kapan penderitaan mereka akan berakhir?" lanjutnya memotong pembicaraanku.

Memang benar apa yang dikatakan olehnya, jika aku pergi maka anak-anakku akan kembali panik dan mencari keberadaanku. Jika seperti itu maka aku tak jauh berbeda dengan nirma. Aku akan menyusahkan dan membuat mereka merasa bersalah.

"baiklah" jawabku singkat.

"begitu dong, ingat jangan pergi kemanapun, diam saja dirumahku sampai keadaan membaik, kita sudah melalui banyak hal sulit, hal sekecil ini pasti akan sangat mudah bagi kita untuk melaluinya"

"tapi aku akan sangat merepotkanmu"

"kalau begitu anggaplah itu rumahmu sendiri sehingga aku tidak perlu melakukan banyak hal untuk membuatmu nyaman" ucap bu rahayu menggodaku.

Akupun menyetujui permintaannya, malam itu supir membawaku menuju rumah bu rahayu yang begitu megah. Aku akan memberikan waktu untuk ketiga anakku agar mereka bisa menikmati kebersamaan mereka tanpa adanya gangguan dariku yang hanyalah masa lalu buruk bagi mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!