sepeninggal ayah

3 bulan berlalu sejak kepergian ayah, selama itu pula rahmi terus menerus meratap. Aku yang merasa iba dan khawatir berusaha membujuknya agar ikhlas. Aku memintanya menjaga dirinya dengan baik, karena jika terus menerus seperti itu suatu saat nanti pasti rahmi pun akan terpuruk dan jatuh sakit seperti ayah dulu. Meski aku membencinya namun rasanya aku sudah amat lelah mengalami perpisahan.

Disaat aku berusaha untuk membuatnya bangkit, rahmi justru mengamuk dan terus menerus berteriak padaku, dia menyalahkanku atas kematian ayah.

"LIHATLAH, APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN KEPADA SUAMIKU! karena mulutmu itu, karena kau terlalu banyak mengadu suamiku jatuh sakit dan meninggal! KAU BENAR-BENAR PEMBUNUH!" Teriak rahmi padaku disuatu sore saat aku baru saja pulang bekerja.

"kau itu kenapa? Kenapa kau terus menerus berteriak dan menyalahkanku? Sudah cukup! Selama ini aku diam karena aku merasa kasihan padamu! Dia itu ayahku! Bagaimana mungkin aku dengan sengaja ingin membunuhnya? aku juga sedih! aku juga terpuruk! kini aku tidak punya siapapun lagi selain kau yang terus-menerus membenciku!" balasku kesal.

"Tapi kalau kau tidak terlalu banyak mengadu, suamiku pasti masih ada sampai saat ini! dia tidak akan terlalu banyak berpikir karena itu yang membuatnya sakit! kau tahu itu bukan?!"

"Cukup bu! ini semua salahmu! Kau terlalu banyak membuatku menderita! Apakah salah jika seorang anak ingin mendapatkan perlindungan dari ayahnya? seharusnya kau tahu malu! kau yang membuat kekacauan pada keluargaku!"

"BERANINYA KAU BERKATA SEPERTI ITU PADAKU!" Teriaknya dengan nada yang semakin tinggi.

"apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan memukulku? aku tidak takut! Aku tidak akan membiarkan diriku diinjak-injak lagi olehmu!"

"Anak kurang ajar! Dengarkan aku, mulai sekarang pergi dari rumah ini! sejauh mungkin! Jangan pernah lagi memperlihatkan wajahmu di hadapanku! Aku tak mau melihatmu lagi! aku tak peduli apapun yang terjadi padamu! bahkan kau mati sekalipun aku tidak peduli! pergi dari rumah ini dan jangan membawa apapun!" ucapnya penuh amarah dan kebencian.

"Kau benar-benar jahat! sejak dulu sampai sekarang kau tidak pernah berubah! apapun yang kulakukan selalu salah di matamu! bahkan kini aku menanggung hidupmu, tapi kau masih tetap seperti ini. Aku tidak peduli tentang harta yang ditinggalkan oleh orang tuaku, jika kau ingin memakan dan merebutnya silakan, aku tak peduli, kau tahu? Awalnya aku khawatir melihatmu terus-menerus terpuruk, aku ingin kau bangkit, karena apapun yang terjadi kau harus terus melanjutkan hidupmu. Sama seperti aku yang sejak dulu kau siksa namun tetap melanjutkan hidup sampai saat ini. Tapi lihatlah apa yang kudapatkan? kau mengusirku dari rumahku sendiri"

"cukup dengan omong kosongmu, PERGI KAU DASAR PEMBUNUH! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!"

"Baik.. aku akan pergi.. aku juga sudah tidak tahan hidup denganmu, aku sudah tidak tahan dengan wanita jahat sepertimu, wanita yang benar-benar tidak bisa menghargai orang lain, sudah cukup aku menderita karenamu, silahkan kau nikmati harta kami dengan tenang dan bahagia" ucapku sambil berjalan menuju kamarku, aku masuk dan membanting pintu sekeras mungkin.

Aku mengepak beberapa pakaian dengan tas kecil seadanya, aku berniat untuk pergi dari rumah ini untuk selamanya, aku berdiri, mengambil nafas dalam-dalam dan membuka pintu kamarku. Namun betapa terkejutnya aku karena saat aku keluar dari kamar aku melihat rahmi telah tergeletak di lantai rumah kami, aku menghampirinya dan berusaha membangunkannya namun tak ada respon sama sekali, saat ku sentuh tubuhnya terasa panas, aku panik dan gemetar.

Aku segera berlari keluar mencari orang-orang, aku berteriak dan minta tolong, aku meminta mereka agar segera datang ke rumahku dan melihat kondisi rahmi, tetanggaku pun berhamburan datang ke rumahku, mereka segera mengecek kondisi rahmi, syukurnya rahmi masih hidup, seorang tetangga segera mengambil mobilnya lalu kami semua mengangkut rahmi ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.

Sore hari, tergeletak, pergi kerumah sakit, harus berapa kali aku mengulangi masa-masa seperti ini? ayahku dan rahmi, keduanya kritis diwaktu yang sama.

Setibanya di rumah sakit kami langsung membawa rahmi ke UGD, dokter dan suster yang berjaga segera melakukan pemeriksaan kepada rahmi, lagi-lagi aku harus menunggu di ruang tunggu, menunggu kabar seseorang yang tengah kritis didalam sana. Apakah rahmi akan bertahan hidup ataukah dia ingin pergi menyusul ayahku.

tak berselang lama dokter keluar dari ruangan itu, dia berkata bahwa rahmi hanya stress dan kelelahan, sedangkan kondisinya saat itu tengah hamil dan lemah. Mendengar penjelasan dokter sontak mataku terbelalak, aku terperangah, aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangaku dengan tubuh yang hampir kehilangan keseimbangan.

hamil setelah kepergian ayah? Mana mungkin

"Sudah berapa bulan usia kandungannya dok?" tanyaku panik.

"Maaf apakah anda saudaranya?"

"Saya anaknya dok, sejak kapan ibu saya hamil?" tanyaku lagi.

"Apakah kalian tidak mengetahui kehamilan ini?"

"tidak sama sekali, 3 bulan yang lalu ayah saya meninggal dunia dok"

"pantas saja, saya rasa tidak biasa bagi wanita untuk hamil diusia seperti bu rahmi saat ini, saya turut berduka cita atas kepergian ayahmu, kandungan ibu rahmi saat ini sudah menginjak 2 bulan, mungkin ini kabar yang mengejutkan untuk ibumu, kau harus terus berada di sisinya dan menjaganya dengan baik, dia harus bahagia agar janinnya berkembang dengan baik dan tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan"

Kemudian dokter pergi meninggalkanku yang mematung tak percaya, rencana apalagi ini tuhan? kenapa rasanya begitu rumit. Sambil gemetar aku mengeluarkan handphoneku dan kutelepon ryan, aku memintanya segera datang ke rumah sakit.

Sambil menunggu ryan datang aku menemui rahmi, dia kini telah dipindahkan ke ruang perawatan, selang infus dan oksigen menempel di tubuhnya, rahmi tertidur cukup pulas, dan aku hanya duduk di samping ranjangnya sambil menatapnya dengan iba.

Bagaimana mungkin rahmi menjadi seorang ibu ketika suaminya telah meninggalkannya untuk selamanya?

Dengan siapa dia akan hidup? siapa yang akan membantunya merawat dirinya beserta bayinya? siapa yang akan memberinya makan?

apa yang harus kulakukan tuhan? Kenapa hidup ini begitu sulit? Apakah mungkin rahmi akan mengizinkanku berada disampingnya? Bukankah dia hanya akan semakin membenciku?

***

Aku duduk menyandarkan tubuhku di sebuah kursi di ruang tunggu, aku berpikir mungkin ini cara tuhan agar aku tak sendirian, mungkin ini cara tuhan untuk memberitahu rahmi bahwa dia membutuhkanku, namun aku tidak tahu apa yang akan rahmi lakukan saat dia tahu bahwa dia tengah hamil, apakah dia akan bersikukuh hidup sendiri? ataukah dia akan menerimaku kembali? aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri dalam situasi seperti ini. Kemudian saat sedang berpikir ryan datang. Ia terlihat panik dan bergegas menghampiriku.

"Ada apa lagi aina? Siapa yang sakit?"

"Ibu tiriku pingsan dan aku membawanya kemari"

"apa dia baik-baik saja?"

"Ibu tiriku hamil" aku menjawab dengan suara tercekat, rasanya ingin menangis dan berteriak.

Ryan yang membaca raut wajahku segera memelukku.

"tenanglah, semua akan baik-baik saja, kau sudah melewati banyak hal, bahkan sudah kau lewati hal terberat dalam hidupmu, maka kini kau juga pasti akan baik-baik saja" ucap ryan menenangkanku.

"Dokter bilang usia kandungannya sudah menginjak 2 bulan" jelasku lagi sambil mengusap air mataku.

"Hamil di saat suaminya telah tiada, ya tuhan.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya ibu rahmi"

"Itulah sebabnya.. Aku tidak tau apa sebenarnya rencana tuhan. sebelum pingsan kami sempat bertengkar dan dia mengusirku, dia menyalahkanku atas kematian ayah, dia bilang dia tak ingin melihatku lagi, namun melihat kondisinya sekarang bagaimana mungkin aku pergi" ucapku sambil terisak menahan tangis.

"Itu benar, sepertinya kau harus kembali bersabar, aku tahu kau memiliki hati yang begitu baik, bagaimanapun juga meninggalkan orang yang sedang kesulitan itu bukanlah dirimu. Tapi tetap saja kita harus tahu apa pendapat rahmi. Jika dia tetap memintamu pergi bagaimana? apa yang akan kau lakukan?"

"Mungkin aku akan mengawasinya dari jauh"

"pikiran kita sama, kau memang bagaikan malaikat" ucapnya sambil tersenyum menggodaku.

"Kau sedang memuji dirimu sendiri" aku menyanggah sambil tersenyum kecil.

"Ayo kita masuk, aku ingin menyapa ibu rahmi"

"Baiklah, semoga saja rahmi tidak histeris melihat kedatangan kita" kami berduapun saling bertatapan.

Kami berdua masuk kedalam ruangan tempat rahmi dirawat, kami menghampiri rahmi yang masih tertidur, saat kami hendak duduk entah kenapa aku berceloteh dan bilang pada ryan kalau mungkin bayi ini adalah keajaiban.

Tanpa diduga rahmi membuka matanya, dia langsung melihat sekeliling dan dia berusaha bangkit, kemudian dia bertanya apa yang terjadi dan kenapa dia berada di sini. Kamipun menjelaskan semuanya, kami memberitahunya bahwa dia tengah hamil dan usia kehamilannya sudah menginjak 2 bulan.

Mendengar itu rahmi menjerit histeris, dia menjerit sambil memegangi perutnya, dia menangis sekencang-kencangnya membuat dokter dan para perawat berlari menuju ruangan kami dan menanyakan apa yang telah terjadi.

Aku menjelaskan semuanya kepada dokter dan perawat yang datang, aku meminta maaf atas semua kekacauan ini dan mereka memaklumi itu mengingat kondisi yang dialami ibuku saat ini begitu berat. Tak lama kemudian mereka meninggalkan ruangan kami dan memberi kesempatan pada rahmi untuk menenangkan diri. Sementara itu rahmi masih dengan tangisnya, dia histeris sambil mengacak-ngacak rambutnya, dia terus-menerus berusaha melukai dirinya dan memanggil nama ayah tanpa henti.

***

Pagi itu aku hendak pergi bekerja, lagi-lagi aku melihat ibu berada di kamar mandi, sejak semalam dia muntah terus menerus, dan semakin menjadi saat pagi hari. Saat mencium bau masakan rahmi akan mengamuk dan menyuruhku membuangnya, rahmi tak bisa makan apapun selain roti dan buah-buahan.

Hari demi hari berlalu, dia terus-menerus berteriak dan menyuruhku pergi dari rumah ini, tapi kukatakan bahwa kini nyawa adikku pun dipertaruhkan di dalam tubuhnya dan aku tidak akan membiarkan adikku menderita sepertiku, mau tak mau akhirnya rahmi membiarkanku tetap dirumah ini dan membantu kehidupannya, demi bayi yang dikandungnya, bayi dari seorang suami yang sangat ia cintai.

Semakin hari tampaknya rahmi semakin sadar bahwa betapa keraspun dia ingin hidup sendiri, pada akhirnya dia tetap membutuhkan seseorang untuk bersamanya, dan tak ada pilihan lain baginya selain aku anak tirinya. Dikehamilannya saat ini dia benar-benar tak dapat melakukan apapun karena rasa mual yang hebat.

Perlahan rahmi mulai melunak, dia sudah tak lagi mengusirku, dia tak lagi bersikap kasar, mungkin tenaganya sudah habis. Begitu pula dengan air matanya, dia tak lagi meratap seperti dulu, meskipun sesekali dia melamun, namun kini hidupnya sudah lebih baik, dia bisa melakukan pekerjaan rumah, bertemu dan bercengkrama dengan tetangga dan pergi keluar untuk sekedar membeli beberapa cemilan yang dia sukai. Entah kenapa aku merasa lega melihatnya, kami berduapun mulai hidup berdampingan, meskipun tak menjadi dekat, meski tak menjadi akrab dan tetap tak saling menyayangi, namun setidaknya sudah tak ada lagi kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.

Bulan demi bulan kulalui dengan rahmi, semuanya seolah menjadi sangat tenang dan damai. Kami hanya tinggal menunggu kehadiran sang bayi didunia ini. Saat malam beberapa kali aku melihat rahmi berbicara dengan foto ayahku, dia berterima kasih karena ayahku telah menitipkan seorang malaikat kecil di rahimnya untuk menggantikan keberadaannya, sehingga kini dia tak lagi merana dan memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Mungkin karena ketulusannya pada ayah itulah yang membuatku tak bisa benar-benar membencinya.

Sekian lama kami tunggu akhirnya sang bayi telah lahir, bayi laki-laki yang begitu tampan dan mirip sekali dengan ayah, menatap wajahnya membuatku merasa bahwa ayah telah kembali ke dunia ini. Aku dan rahmi menyambut bayi itu dengan bahagia, aku bergantian dengan rahmi menggendong, memandikan, bahkan membawanya berjalan-jalan disekitar rumah untuk menghangatkan badannya dibawah sinar matahari pagi. Wajah rahmi semakin hari semakin terlihat berseri, tutur katanya semakin lembut dan tatapannya menjadi sangat teduh, sama seperti tatapan ibuku dulu.

Tak terasa kini usiaku sudah 20 tahun, aku dan rahmi mulai akur, kami sering berbincang layaknya ibu dan anak. Disuatu siang saat adikku sedang tertidur tiba-tiba rahmi meraih tanganku yang sedang memasak didapur. Dia mengajakku untuk duduk bersama di ruang tamu.

"Ada apa bu? zidan sudah tidur?"

"Iya zidan tidur"

Zidan adalah nama yang diberikan oleh ibuku untuk anak laki-lakinya, namanya Zidan Arsaka, menurut ibu itulah nama yang dulu diharapkan oleh ayah kalau suatu hari ibu hamil dan melahirkan anak laki-laki. Keinginan ayah kini sudah terkabul meski sayangnya kini ayah telah berada didunia yang berbeda dengan kami.

"Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku berterima kasih kepadamu aina, karena kau dengan begitu baiknya telah bersedia memaafkan kesalahanku yang begitu banyak, hatimu seluas samudra, setelah semua kejahatan yang kulakukan, kau masih mau berkorban untukku dan anakku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf dan berterima kasih padamu, jika ada sesuatu yang kau inginkan katakanlah, apapun itu aku akan mengabulkannya, aku harap aku dapat menembus semua kesalahanku di masa lalu dan menjadi ibumu yang sesungguhnya" ucap rahmi dengan air mata yang terjatuh membanjiri pipinya.

"ibu, zidan adalah hadiah terbaik untukku, terimakasih kau mau melahirkannya kedunia ini, kau juga telah mencintai ayah dengan sepenuh hati, tak ada yang lebih baik daripada itu, aku sudah melupakan semua hal buruk dimasa lalu, kuharap kini kita bisa hidup berdampingan dan rukun seperti layaknya sebuah keluarga, aku yakin kita akan bahagia, kita berdua telah banyak melewati masa sulit, kini waktunya kita berbahagia"

"Kau benar aina, mulai saat ini kau adalah anakku, sekali lagi tolong maafkan aku dan terima kasih untuk semua kebaikanmu"

Ibu memelukku dengan begitu erat, dia menangis dan tak henti berkata maaf. Namun sungguh, aku telah memaafkannya sebagai seorang manusia dan juga sebagai seorang anak.

Kini kami hidup bahagia dan damai, aku masih tetap bekerja dengan bu rahayu yang belakangan kuketahui bahwa beliau adalah ibu kandung ryan, kami sempat berselisih faham karena kebohongan ryan tentang pemilik toko itu, aku merasa sangat buruk karena telah banyak menyulitkan mereka, aku merasa malu sekaligus bersyukur karena tuhan telah mengirimkan banyak malaikat dalam hidupku.

Ryan kini mulai merintis usahanya, dia dan ibunya sering datang berkunjung ke rumah kami.

Selamat jalan ayah.. kini kau bisa tenang meninggalkan aku, istrimu dan anak laki-lakimu, kuharap kami akan hidup bahagia selamanya, tak lupa aku akan terus berdoa agar kedua kakakku kembali kerumah ini.

Kini kupahami beginilah kehidupan, segala sesuatunya berputar. Siap tak siap kita harus menerima takdir apapun yang datang menghampiri. Dan yakin bahwa kebahagiaan pasti akan datang. Meskipun mungkin masih banyak badai yang harus kita lalui dimasa depan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!