Jatuh cinta

Disuatu siang dihari sabtu aku meminta izin kepada suamiku untuk kembali menginap dirumah ibu, ryan tak pernah marah ataupun memperlihatkan wajah tak suka saat aku meminta izin seperti itu, begitupula dengan mama dan ayah mertuaku, mereka seringkali menitipkan banyak makanan untuk diberikan kepada keluargaku, mereka bahkan sering mengantarku pergi menemui ibu dan bahkan sesekali mereka ikut menginap menghangatkan suasana.

"aku dan kak aini berjanji untuk memasak menu spesial untuk ibu, ibu pasti sangat kelelahan karena setiap hari harus mengurus rumah dan anak-anaknya, aku dan kak aini berjanji untuk membantu ibu setiap akhir pekan, apa kau tak keberatan?" tanyaku pada ryan sebelum pergi.

"tentu tidak sayang, bagaimana bisa aku keberatan? Saat luang aku akan berkunjung kesana, katakan padaku kapanpun kau membutuhkan aku, aku mencintaimu aina" ucap ryan seraya membelai rambut dan mengecup keningku seperti biasanya. Sikapnya tak pernah berubah sejak pertama kali kami bertemu dulu.

Aku berangkat diantar oleh papa mertua, ryan saat itu tengah sibuk menjalin kerjasama baru dengan seorang klien penting, begitupula dengan ibu, aku selalu kagum dengan keluarganya, mereka adalah pebisnis pebisnis handal yang tak pernah gagal memprioritaskan keluarga, hidup mereka selalu rukun dan hangat meski dengan segala kesibukan yang ada.

***

"aina, ayo kewarung, aku ingin membeli sesuatu untuk pelengkap masakan kita nanti, sambil kita duduk sebentar digubuk sana untuk mengenang masa lalu, sudah sangat lama kita tidak kesana, suasananya seperti apa ya sekarang" ajak kak aini padaku.

Sore itu aku dan kak aini duduk menikmati angin yang membelai wajah kami, rasa damainya tak pernah berubah, hanya saja kini gubuk ini terasa sangat kecil. Saat sedang menikmati angin mataku tak sengaja menangkap sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan. Aku melihat kak aini memandangi seorang pria yang tengah menanam padi, pandangannya lurus seolah ia tengah terkagum kagum pada suatu hal yang menakjubkan, senyumnya sesekali mengembang, pipinya memerah, selama beberapa saat aku hanya membiarkannya tenggelam dalam pandangannya sampai kemudian aku mengejutkannya dengan menepuk pundaknya.

"hei" kak aini terperanjat dan tertawa kecil sambil menoleh ke arahku.

"sepertinya ada sesuatu yang menarik dimatamu" godaku sambil menyenggol bahunya.

"apa sih, aku hanya melihat pemandangan yang begitu menakjubkan aina"

"sungguh?pemandangan seperti apa yang membuat pipimu memerah seperti ini?" godaku lagi sambil mencubit pipinya.

"ainaaaa" kakak terlihat panik dan mendorongku. Ditengah guyonan kami tiba-tiba seseorang menyapa kami, seorang pria dengan pakaian penuh lumpur, wajahnya tersenyum lebar, tubuhnya tak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang begitu menawan.

"sepertinya kalian bersenang-senang, kalau tak salah ingat kalian adalah aina dan aini bukan?" ucapnya sambil tertawa kecil.

"kalian masih sama seperti dulu, sangat akrab" lanjutnya berbicara.

Aku memandangnya ragu, seingatku aku tak mengenalnya, bagaimana bisa dia mengenal kami?.

"ini reihan aina, dia anak dari kakek pemilik kebun singkong" ucap kak aini padaku sambil berkedip.

"astaga, kak reihan, bukannya kakak berkuliah diluar kota? Sejak kapan kakak kembali? kakek dan nenek sudah pergi sejak lama, kukira kakak tak akan kembali ke desa ini" jawabku antusias.

"hahaha, tentu saja aku kembali, ini adalah tanah kelahiranku, semua peninggalan orangtuaku ada disini, disinilah rumahku" ucapnya sambil tersenyum.

Dulu kak rei hampir tak pernah berbaur dengan kami, kak rei bahkan disebut-sebut tak memilik teman karena saking jarangnya keluar rumah, teman-teman selalu membicarakannya sebagai orang yang angkuh dan sombong karena kekayaan orangtuanya, saat akan menginjak bangku SMA kak rei pindah keluar kota, terakhir kali dia datang adalah saat kakek pemilik kebun singkong meninggal, saat itu kupikir kak rei tak mungkin kembali lagi mengingat kedua orangtuanya telah tiada.

Dikampungku begitu banyak anak tunggal sehingga ketika orangtua mereka meninggal, kebanyakan dari mereka akan pindah ketempat yang jauh untuk merantau. Orangtua terdahulu kamipun kebanyakan hanya memiliki 1 anak, mungkin karena keterbatasan ekonomi sehingga mereka tak pernah berkeinginan untuk memilik anak lebih dari satu, itulah yang menyebabkan kebanyakan orang akan pindah saat ditinggalkan oleh orangtuanya karena memang mereka tak memiliki lagi kerabat untuk dijumpai.

Kami berbincang-bincang cukup lama, rupanya sudah lumayan lama kak rei kembali kekampung ini, cukup banyak hal yang ia ketahui tentang keluarga kami.

"aku turut berduka atas apa yang telah terjadi kepada aidil, akan selalu kudoakan agar dia cepat sembuh seperti sedia kala, dan jika kalian membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk menghubungiku kapanpun itu, aku juga turut berbahagia atas keberhasilan kalian, juga untuk kebaikan ibu sambung kalian kini" ucapnya dengan senyum yang sangat menawan.

Aku kemudian melirik kearah kakakku, kak aini benar-benar tersipu, dan saat kualihkan pandanganku pada kak rei, kulihat rupanya dia juga menatap kak aini begitu dalam, sebuah harapan kini muncul dilubuk hatiku, akankah ini saatnya kak aini menemukan cinta sejatinya?.

"oia, kalian sedang apa disini?" tanya kak rei.

"kami hendak pergi kewarung, tapi kak aini memaksaku untuk mampir kemari sebentar, rupanya ada pemandangan yang begitu indah disini" jawabku sambil melirik kak aini yang salah tingkah.

Melihat wajah kak aini yang memerah, kak rei hanya tertawa kecil.

"oia, kami berencana untuk masak dan makan bersama dirumah ibu, bagaimana kalau kak rei juga ikut?"

"terimakasih aina, dengan senang hati aku akan ikut, tapi lain kali ya, hari ini aku ada rencana bertemu dengan seseorang"

"hmmm.. Apakah seseorang itu wanita?" ledekku terus menerus menggoda kak aini.

"ya, seorang wanita yang sangat menawan" ucapnya tertawa kecil sambil melihat kak aini.

Entah kenapa kak rei juga rasanya sedang menggoda kak aini, kurasa kak rei tahu bahwa kak aini menaruh perhatian padanya.

Setelah beberapa lama bersenda gurau aku dan kak aini pun segera kembali kerumah untuk memasak dan membantu ibu, sedangkan kak rei kembali menanam padi bersama beberapa warga lainnya.

***

"halo aina, aina dengarkan aku, tadi pagi rei mengajakku berkeliling melihat hasil panennya, luar biasa sekali, dia sangat bijaksana dan kurasa semua orang menyukainya" kak aini bercerita ditelepon dengan sangat antusias.

Setiap malam kak aini selalu meneleponku, jika dulu dia hanya mengabarkan tentang kak aidil, kini topik pembicaraan kami bertambah, yaitu tentang kak rei.

Awalnya kak aini menyangkal kalau ia memiliki perasaan terpendam untuk kak rei, namun aku terus menerus mendesaknya dan memintanya memperjuangkan perasaannya. Aku yakin kak rei adalah pria yang tepat untuk kak aini, ya tuhan aku benar-benar berharap kak aini akan menemukan cinta sejatinya.

Meski telah mengakui kedekatannya dengan kak rei, kak aini terus menerus meyakinkan bahwa kedekatannya hanya sebatas teman karena kak rei tak pernah mengungkapkan perasaannya.

"kak, apa kakak ingat, dulu ryan juga tak pernah berkata-kata manis"

"tak semua pria sama aina, lagipula kalau ryan sudah sangat jelas jatuh cinta padamu, sedangkan rei itu sejak awal mendekatiku karena dia memang mengenalku"

"ayolah kak, jangan pesimis begitu"

"ah sudahlah, aina bagaimana dengan hasil tesnya? Apakah baik?"

Akhir-akhir ini aku mengkhawatrikan diriku sendiri, karena setelah menikah bertahun-tahun aku tak kunjung hamil, aku tahu ryan sangat menginginkan seorang anak karena memang dia begitu mencintai anak-anak, aku yang mulai khawatir berkali-kali mengajak ryan untuk memeriksakan diri, tak ada yang aneh dengan beberapa hasil pemeriksaan kami, namun aku yang merasa bersalah tak pernah berhenti mengajak ryan untuk melakukan program ke dokter spesialis namun lagi-lagi programnya tak juga membuahkan hasil.

Saat aku kembali mengajak ryan untuk menemui dokter, ryan memintaku untuk berjanji bahwa ini adalah terakhir kalinya kami memeriksakan diri.

"hasilnya baik kak" jawabku lesu

"sudah kukatakan, kalian itu sehat, hanya saja belum waktunya, bersabarlah aina, ryan juga tak pernah mempermasalahkannya bukan?"

"iya kak, ryan memang tak pernah menanyakan apapun, ryan masih sama seperti dulu, dia begitu baik padaku. Namun semakin dia bersiap baik aku semakin merasa bersalah padanya"

"aina, memiliki seorang anak itu impian setiap wanita, namun bagaimanapun juga menghadirkan seorang anak itu bukanlah kehendak kita, bersyukurlah untuk apa yang kau miliki saat ini, jangan terus menerus mengejar sesuatu yang tidak ada hingga kau melupakan kebahagiaan yang kau miliki saat ini"

"kau benar kak, terimakasih telah mengingatkanku"

"baiklah, sekarang pergilah dan temui suamimu, katakan maaf padanya dan peluklah dia, percayalah padanya, dia tak akan kecewa padamu hanya karena kau belum kunjung hamil"

"baik kak, aku mencintaimu, dahh" tutupku dengan perasaan lebih baik.

Aku menuruti saran kakakku, aku segera menghampiri ryan yang sedang menonton tv, ryan tak pernah mau mengganggu waktuku dengan kak aini, dia selalu membiarkan aku menikmati setiap waktuku dengan keluargaku, dia tak pernah menghakimi ataupun ikut campur jika aku tak memintanya.

"ada apa sayang?" tanya ryan saat aku tiba-tiba memeluknya.

"maafkan aku yang tidak mempercayaimu, maafkan aku yang terus mengkhawatirkan tentang bagaimana perasaanmu karena tak kunjung memiliki anak, padahal kau selalu begitu baik padaku"

"sayang lihat aku, apa aku terlihat marah padamu sampai kau harus meminta maaf seperti ini? Tak ada yang perlu dimaafkan, aku mengerti perasaanmu, aku menikahimu karena aku mencintai dirimu, bukan karena hal lain, maka tak mungkin ada hal yang mampu melunturkan perasaanku padamu selama kau masih ada didunia ini, kau mengerti?" ucapnya sambil memegangi kedua pipiku. Ryan kemudian mengecup bibirku dan memelukku begitu hangat.

***

Beberapa bulan berlalu sejak kakak bertemu dengan kak rei, mereka semakin akrab seiring berlalunya waktu. Suatu ketika saat kami sedang berkumpul diruang keluarga tiba-tiba seorang ibu dan anak gadisnya datang kerumah ibu. Sang anak terlihat menangis tersedu sedu, sedangkan sang ibu terlihat menahan amarah.

Kami yang sedang bersantai menjadi panik dan bangkit dari duduk untuk melihat apa yang terjadi. Ibu mempersilahkan mereka masuk, namun tanpa ba bi bu sang ibu berkata sambil berteriak.

"dimana aini? Dimana dia?" aku sontak menatap ke arah kak aini, sedangkan kak aini sendiri terlihat kaget dan kebingungan. Kamipun segera menghampiri tamu tersebut.

"aku aini, ada apa ya?" tanya kak aini kebingungan.

"ada hubungan apa kau dengan reihan?" tanya ibu itu sambil berteriak marah.

"apa maksud anda?"

"jangan pura-pura tak tahu, hei aini, semua orang sudah tahu bahwa sinta anakku sedang menjalin hubungan dengan reihan, kenapa kau tiba-tiba datang dan bersikap ganjen dihadapannya? Kau mau merebutnya dari anakku? Katakan!" teriak ibu itu semakin memanas.

Tak ayal para tetanggapun keluar untuk menyaksikan keributan ini, ibu yang merasa tak enak memohon kepada kedua tamu itu untuk masuk.

"maaf apakah kita bisa berbicara didalam saja? Tidak enak ribut disini, kita bicarakan semuanya dengan baik"

"diam kau, jangan berlagak baik begitu, semua orang juga tahu kau itu ibu seperti apa! Kau itu hanya ibu tiri yang membuat anak suamimu sendiri menjadi gila!" kata ibu itu semakin tak terkendali.

"hentikan! Jaga ucapanmu! Kau tamu disini, kalau kau masih ingin melanjutkan pembicaraan ini dengarkan apa kata ibuku! Kalau tidak lebih baik kalian pergi!" ucapku kesal.

"diam kau, kau hanya bocah, biarkan semua orang disini tahu bahwa kakakmu aini itu seorang perusak hubungan oranglain"

"hubungan siapa yang kakakku rusak? Katakan!" ucapku semakin geram, aku hendak menghampiri dan menampar wajahnya namun ibu menghentikanku. Baru kali ini ada seseorang yang telah membuatku begitu marah.

"baik, silahkan jika kau ingin bicara sambil diperhatikan oleh banyak orang, silahkan katakan sejelas jelasnya apa maksud kedatanganmu kemari?" ucap ibu begitu tenang dan berwibawa.

"aini, berhenti mendekati reihan, dia itu calon menantuku, lihatlah anakku! Dia terus menerus menangis karena kini reihan telah mencampakkannya!" ujar wanita itu begitu tegas.

"maaf tapi hubunganku dan reihan hanya sebatas teman, jika anak anda merasa dicampakkan, datangi reihan, jangan datangi keluargaku!"

kak aini berkata sambil kemudian membanting pintu begitu kencang, dia meminta kami segera meinggalkan kedua tamu yang tak memiliki sopan santun itu, sang ibu terus menerus berteriak mengatakan hal-hal buruk tentang kakak, sementara sang anak tak berhenti menangis. Karena ucapannya tak kunjung kami respon akhirnya merekapun menyerah dan pergi, sementara kak aini termenung dan menangis didalam kamarnya.

Aku menghampiri kak aini dan mencoba menenangkannya.

"dasar brengsek, kalau dia akan menikah kenapa dia terus menerus menemuiku?! Dia telah membuat keluargaku malu! Laki-laki sialan itu!"

Kak aini benar-benar marah kali ini, aku sendiripun tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"kak, tenanglah.. Aku mengerti perasaanmu, kamu pasti kecewa. Tapi ingatlah betapa baiknya kak rei, aku rasa dia bukan laki-laki seperti itu, pasti ada alasan kenapa dia melakukannya, atau mungkin saja apa yang dikatakan wanita itu hanya bohong belaka"

"tapi aini lihatlah anaknya yang bernama sinta itu, dia menangis seperti itu, itu bukanlah kebohongan"

"tapi kak tidak baik kalau kita hanya mendengar dari satu sisi dan mempercayainya begitu saja, lebih baik kita dengar juga penjelasan dari kak rei"

Mendengar ucapaku itu kak aini tak lagi membantah, suasana menjadi hening, aku keluar kamar dan membiarkan kak aini sendiri untuk beberapa waktu.

"kak, aku akan pulang, ryan sudah menjemput. Jika kau sudah membaik segera kabari aku, jangan berlarut larut dalam fikiranmu sendiri, kau itu selalu kuat dan mencari kebenaran, kakakku bukan wanita yang lemah dan mudah runtuh" aku mengatakannya sambil berlalu meninggalkan kakakku.

***

Keesokan harinya aku dan ryan beserta keluarganya memutuskan untuk mengunjungi ibu, mama begitu khawatir ketika aku menceritakan kejadian kemarin kepadanya.

"keterlaluan sekali wanita itu, beraninya dia menghina besanku yang begitu baik" ucap mama saat aku bercerita padanya tadi malam.

Tak berselang lama kamipun sampai dirumah ibu.

"aku sudah menanyakan langsung kepada rei" ucap kak aini ketika kami semua berkumpul dan menanyakan kondisinya.

"lalu apa katanya?" tanyaku tak sabar.

"dia tidak memberikan jawaban, dia hanya bilang dia akan kemari dan menjelaskan semuanya kepada kita"

"baguslah, itu artinya dia pria yang bertanggungjawab" ucap mama menimpali.

Tak lama kemudian kak rei datang bersama dengan kedua tamu yang kemarin mengamuk disini, dan yang membuat kami sedikit heran kak rei datang bersama dengan kepala RT setempat dan juga beberapa warga. Apakah harus masalah seperti ini diselesaikan oleh begitu banyak orang? Begitu pikirku.

Setelah mempersilahkan duduk kami semua akhirnya berkumpul membentuk lingkaran seperti akan melakukan musyawarah.

"silahkan jelaskan bu" ucap kak rei membuka pembicaraan. Sedangkan kedua ibu dan anak itu hanya tertunduk.

"eee.. Begini.. Sebelumnya saya ingin minta maaf atas kegaduhan yang saya buat kemarin... Saya..."

"akulah yang harus meminta maaf, bukan ibu" tiba-tiba anak gadisnya yang diketahui bernama sinta itu buka suara memotong pembicaraan ibunya yang terbata-bata.

"aku sudah lama mencintai rei, bahkan kurasa semua orang juga mengetahuinya, aku sudah lama memperhatikannya, aku mengikutinya kemanapun dia pergi, berbagai macam cara aku lakukan untuk mendapat perhatiannya, namun bagaimanapun aku bersikap dihadapannya, tetap baginya aku hanyalah seorang kenalan, rei selalu bersikap acuh padaku. Aku iri padamu yang tanpa bersusah payah telah mendapatkan hati rei. Dia memperlakukanmu dengan spesial aini, karena kehadiranmu jarak antara aku dengan rei semakin menjauh, dia semakin tak mempedulikan aku" jelasnya sambil berlinang air mata. Begitupula sang ibu yang kini ikut menangis tersedu sedu.

"sebagai seorang anak aku mengadukan segalanya kepada ibu, aku memintanya untuk menjauhkanmu dari rei, akulah yang bersalah" lanjutnya.

"rei, apa kurangku bagimu? Aku sudah melakukan apapun untukmu, kenapa kau tak juga memperhatikanku?" lanjut sinta mengalihkan pandangannya kepada kak rei.

"maafkan aku sinta, maafkan aku juga ibu. Bagiku kau hanya teman, tak lebih dari itu, kau pasti tahu perasaan itu tak bisa dipaksakan. Terimakasih untuk perasaan kalian kepadaku, maaf aku tak bisa membalasnya, aku mohon jangan lagi melakukan hal seperti itu, masih banyak pria didunia ini, kau gadis yang baik sinta, suatu saat nanti kau akan menemukan pria yang lebih baik daripada aku" jawab kak rei begitu jelas dan tegas.

"maafkan aku rei, maafkan aku semuanya. Maafkan juga ibu, ibu sungguh tak bersalah"

Keduanya kemudian saling berpelukan dan menangis, aku sangat mengerti perasaan sinta, aku merasa iba kepadanya, tapi benar apa yang dikatakan kak rei, cinta tak bisa dipaksakan. Keduanya akhirnya berpamitan untuk pulang, mereka berkata bahwa untuk sementara mereka akan pergi dari kampung ini untuk memulihkan kondisi sinta, memang bagiku terlihat jelas bahwa luka yang dirasakan sinta sangatlah dalam.

Setelah keduanya pergi tiba-tiba kak rei melanjutkan pembicaraan.

"kemudian aini, aku membawa beberapa orang kemari untuk menjadi saksi bahwa aku melamarmu malam ini" ucap kak rei mengagetkan kami semua.

Kak rei berkata sambil menyodorkan sebuah kotak cincin kehadapan kami semua. Sontak aku menjerit tak percaya, aku menatap kak aini yang mematung tak berkedip. Lalu butiran air mata mulai berjatuhan disudut matanya.

"aini, apakah kau bersedia menjadi istriku?" tanya kak rei dengan lembut.

"kak jawab" aku mengguncang tubuh kak aini yang sedari tadi mematung sambil berurai air mata.

Seolah baru saja tersadar kak aini kemudian mengangguk, air matanya pecah, sedangkan kami semua bersorak dan menangis haru.

Kak rei segera menghampiri kak aini, ia kemudian mengambil sebuah cincin permata yang begitu berkilau dari dalam kotak perhiasan yang sejak tadi ia sodorkan kehadapan kami.

Tanpa diduga kak aidil yang sedari tadi bermain diruang keluarga bersama zidan mengampiri kami, ia kemudian mendekat dan memeluk kak aini sambil tertawa begitu bahagia, dia seperti seorang anak yang memeluk ibunya dengan bahagia, tak ayal pemandangan itupun membuat kami semakin menangis terharu.

"rei, kenapa kalian tak langsung menikah saja malam ini?" tiba-tiba perwakilan warga yang ada dirumah kami berbicara.

"ah itu ide yang bagus, kenapa kalian tidak langsung menikah saja?" ucap mama setuju.

Mendengar perkataan seperti itu kak rei kemudian menatap kak aini dan berkata.

"maukah kau menikah denganku malam ini? Aku akan menyiapkan pesta yang meriah untuk resepsi kita nanti aini, aku berjanji"

"aku bersedia rei, aku bersedia meski tanpa resepsi yang megah" jawab kak aini yang semakin menangis tersedu sedu.

Suasana semakin hangat, kami semua mempersiapkan segala sesuatunya malam itu juga. Acara berjalan lancar dan meriah meskipun tanpa sebuah pesta. Para warga sangat mendukung pernikahan kak aini dan kak rei, malam itu juga mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!